Sabtu, 20 September 2014
Language :
Find us on:
Warta 
Fatwa Haram Merokok MUI Tak Berlaku di Madura
Kamis, 29/01/2009 21:30
Pamekasan, NU Online
Fatwa haram merokok oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dipastikan tidak akan berlaku dan tidak akan ditaati oleh moyoritas warga masyarakat di Madura, Jawa Timur.

"Fatwa larangan merokok oleh MUI itu mungkin cocok bagi warga selain Madura. Tapi bagi warga Madura tidak akan berlaku fatwa itu," kata seorang petani tembakau di Desa Gagah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Misnadi, Rabu.

Menurut dia, fatwa haram MUI itu justru hanya akan merugikan petani tembakau di Madura di masa-masa yang akan datang. Sebab dengan adanya fatwa haram tersebut, akan banyak gudang tembakau dan pihak pabrikan di Madura yang akan mengurangi pembelian tembakaunya.

"Yang dirasakan orang Madura dengan adanya fatwa haram ini adalah dampak negatifnya terhadap petani Madura. padahal sejak dari dulu hukum rokok itu masih khilafiah. Ada yang menyatakan haram ada pula yang berpendapat makruh," katanya Misnadi.

Misnadi yang juga guru agama di salah satu MTs swasta di wilayah Kecamatan Kadur itu lebih lanjuta menyatakan, selain akan merugikan patani tembakau, warga Madura pada umumnya tidak akan mengindahkan fatwa haram tersebut. Sebab mayoritas warga Madura memang perokok, termasuk para kyai dan ulama.

Mayoritas ulama dan kyai pengasuh pondok pesantren di Madura memang merupakan perokok dan umumnya menganut pemahaman yang menyatakan bahwa hukum rokok adalah makruh bukan haram sebagaimana difatwakan MUI.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Pamekasan (APTP) Mohamad Tafrih menyatakan, fatwa haram merokok yang dikeluarkan oleh MUI itu terkesan mengabaikan kemaslahatan umat yang kebih besar dan hanya melihat persoalan secara kasuistik.

Mantan Kepala Desa Galis itu lebih lanjut menyatakan, secara tidak langsung MUI telah memaksa masyarakat Madura agar tidak menanam tembakau.

"Jika hukumnya rokok haram, secara otomatis kan produsen tembakau akan mengurangi produksinya," katanya.

Padahal, lanjut dia, bagi hasil bea cukai rokok di wilayah Madura akhir-akhir lumayan tinggi untuk menopang pemangunan di wilayah Madura.

Di Pamekasan saja, bagi hasil bea cukai rokok mencapai Rp4 miliar pada tahun 2007 dan menjadi Rp18 miliar pada tahun 2008 atau meningkat 350 persen dalam setahun.

Bupati Pamekasan, Drs.Kholilurrahman menyatakan, peningkatan bagi hasil bea cukai untuk Kabupaten Pamekasan tersebut karena akhir-akhir ini sudah banyak perusahaan rokok lintingan di Pamekasan yang legal disamping memang target pembelian oleh pihak pabrikan dan perusahaan rokok besar di Madura meningkat.(ant/din)
Komentar(6 komentar)
Jumat, 30/01/2009 15:58
Nama: S.Harist
Fatwa Haram Rokok
Ass.Wr.Wb.
Astaghfirullah, kenapa sih kita ini kok senengnya ngeyel, suka memfitnah, mengkambing hitamkan orang lain/kelompok lain, tdk dewasa dlm menyikapi perbedaan pendapat, suka mengaku kelompoknya atau dirinya yg paling bener dgn menghujat orang/kelompok lain yg tdk sependapat dgnnya. Kalau tau hukum rokok dari dulu sampai sekarang masih menjadi "ikhtilaf" di kalangan Ulama, ya sudah toh. Kalau MUI kebetulan pendapatnya termasuk yg mengharamkan ya sudah, jgn dipaksakan untuk sependapat dgn yg memakruhkan atau yg memubahkan, itu namanya bukan ikhtilaf lagi, sudah satu pendapat.

Cuman ingat kalau rokok itu makruh hukumnya, bukan meninggalkan yg makruh itu "lebih baik", ini yg dilakukan Ulama2 besar terdahulu, bukannya memaksakan orang untuk melakukan yg makruh. Cubalah kalau yg mengaku Kyai atau Ulama, contoh tingkah laku Ulama2 besar terdahulu, mereka tawadhu' sekali. Ajak umat ini berfikir sehat, logis, jgn emosi melulu yg ditonjolkan. Wassalam,
Jumat, 30/01/2009 14:30
Nama: niko
Silahkan merokok sampai .....
Ya udah sana ngrokok terus sampai sakit... mati... masuk surga (apa iya?)
Jumat, 30/01/2009 13:33
Nama: Abumusa
rokok haram
Kebanyakan umat Islam Indonesia ini tidak taat baik kepada ulama maupun pemerintah.

Pemerintah DKI Jakarta melarang warganya merokok di tempat umum. Ulama (MUI) menfatwakan rokok haram. Tapi kebanyakan umat Islam di Jakarta masih merokok ditempat umum.

Kalau tak taat kepada upemerintah dan ulama, mereka itu taat kepada siapa, ya?

Wallaahu a'lam.
Jumat, 30/01/2009 12:46
Nama: okok
menulis
kita harus ingat, bahwa status hukum merokok itu dari jaman ulama dulu masih khilafiyah. kalau memang asap rokok itu berbahaya bagi kesehatan yang dilarang oleh MUI?
Apakah berani MUI melarang Kendaraan Bermotor karena dari asap knalpotnya juga mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan kita. aku tunggu keberanian MUI biar kita sehat udara kita sehat kayak abad ke-19
Jumat, 30/01/2009 08:49
Nama: Abumusa
Rokok Haram
Dengan begitu, umat Islam di Madura tidak mengikuti ulama yang tergabung dalam MUI, tapi mengikuti ulama yang merokok.

Percayalah, umat islam tidak akan jaya kalau ulamanya senang mengerjakan yang makruh. Ulama sebaiknya meninggalkan yang makruh untuk mendapatkan keutamaan.
Kamis, 29/01/2009 21:45
Nama: daryadi
MUI menyesatkan
Bagusss....
malah kalo perlu gak cuma di madura aja fatwa ngawur itu di cuekin, di seluruh Indonesia bilamana perlu.

MUI gak usah dihiraukan, itu sekarang cuma jadi kaki tangan para wahabi utk melancarkan kepentingan politiknya, salah satunya ya PKS
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefSeptember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930    
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::