Jumat, 29 Agustus 2014
Language :
Find us on:
Warta 
Ramadhan di Tengah Teriknya Hadramaut
Jumat, 11/09/2009 14:23
Tareem, NU Online
Bulan Ramadhan 1430 H tahun ini suhu di Hadramaut, Yaman, naik menjadi 40 C. Tak aneh, jika semua aktivitas perdagangan di Hadramaut harus tutup di pagi dan siang hari dan baru menggeliat kembali setelah shalat Ashar. Kegiatan ekonomi di Indonesia yang sudah mulai bergerak sebelum subuh tiba tak akan dijumpai di Hadramaut.

Menurut penuturan Imam Nawawi, Ketua Umum Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman, pada bulan Ramadhan hampir seluruh kota di Hadramaut seperti kota mati karena hampir tak ada orang yang keluar di pagi dan siang hari. Bagi mahasiswa Indonesia, terlebih yang baru bermukim satu hingga dua tahun, suhu panas tersebut merupakan alasan yang cukup kuat untuk tidak keluar asrama.

”Biasanya, mereka menghabiskan hari libur Ramadhan dengan berdiam diri di kamar masing-masing sambil menghabiskan beberapa bacaan ringan, novel Arab, komik Arab, dan beberapa bulletin olah raga berbahasa Arab,” kata Imam Nawawi yang juag Mahasiswa tingkat III Fakultas Syariah Universitas Al Ahgaff Hadramaut Yaman dalam surat elektronik yang dikirimkan ke NU Online, Jum’at (11/9).

Baru setelah shalat Ashar, satu persatu mereka mulai keluar asrama dengan sepeda motor atau jalan kaki berkelompok untuk mengikuti beberapa Rohah (sejenis pengajian rutin Ramadhan) di beberapa Masjid. Karena jumlah masjid di kota Tarim begitu banyak dan hampir semua mengadakan rohah, maka mahasiswa bebas memilih ke masjid mana mereka akan berangkat.

Namun yang paling banyak diikuti oleh mayoritas mahasiswa Indonesia adalah rohah di masjid Jami' Tareem bersama Al-Habib Salim As-Syathiri, salah seorang tokoh Ulama' Yaman terkemuka pengasuh Rubath Tareem yang juga sering melakukan kunjungan da'wah ke Indonesia dan Asia Tenggara.

Ramadhan tahun ini beliau membacakan kitab Shohih Muslim dengan system bandongan, sama persis dengan system pengajian di pesantren-pesantren Indonesia pada umumnya. Biasanya, kegiatan rohah tersebut diakhiri pada pukul 17.00 waktu setempat. Lazimnya pengajian Ramadhan di Indonesia, rohah tersebut juga diahiri dengan membacakan doa bersama-sama.

“Usai mengikuti rohah, mahasiswa Indonesia yang terbiasa dengan budaya ngabuburit memanfaatkan waktu senggang sebelum bedug maghrib dengan duduk-duduk santai sambil berbincang-bincang membentuk kelompok-kelompok,” demikian Imam Nawawi.

Yang paling unik dari budaya Hadramaut saat bulan Ramadhan di banding dengan daerah berpenduduk muslim kebanyakan adalah budaya Tarawih bergiliran. Di kota Tareem, misalnya, shalat Tarawih didirikan sampai lima kali dalam semalam dengan cara bergantian dari masjid satu ke masjid lainnya.

Uniknya, banyak dari warga setempat dan mahasiswa dari berbagai negara mengikuti semua kegiatan tarawih tersebut. Sehingga dalam semalam, tak sedikit yang melakukan tarawih empat sampai lima kali dengan berpindah dari masjid satu ke masjid yang lain. Bagi sementara warga dan mahasiswa yang merasa cukup tarawih satu kali, bebas memilih jadwal shalat Tarawih yang mereka sukai. Konon, keunikan budaya tarawih bergilir itu dilatarbelakangi oleh jumlah masjid di kota Tareem yang jumlahnya sama dengan jumlah hari dalam satu tahun, 165.

Khusus mahasiswa Indonesia yang merasa cukup dengan satu kali tarawih, biasanya memilih melakukannya di Musholla Darul Mushtofa yang dalam sebulan penuh menghatamkan Al-Qur’an dua kali. Kegiatan tarawih di Darul Mushtofa dipimpin langsung oleh Habib Umar bin Hafidz, Rektor Darul Mushtofa yang juga sering melakukan kunjungan dakwah ke Indonesia dan Asia Tennggara.

Baru setelah sepuluh ahir bulan Ramadhan yang merupakan saat-saat lailatul qodar seperti ini, mereka melakukan tarawih berpindah-pindah sekaligus mengikuti kegiatan i'tikaf sampai waktu sahur tiba dan mengikuti makan sahur di masjid tempat mereka  beri'tikaf. 

Imam Nawawi menuturkan, Yaman sebelumnya terbagi menjadi dua negara, Yaman Syimal (utara) yang beribukota di Sana'a dan Yaman Janub (selatan) yang waktu itu beribukota di Aden. Namun pada tahun 1991 Yaman Syimal berhasil mengajak Yaman Janub untuk bersatu dalam negara kesatuan Republik Islam Yaman yang beribukota di Sana'a dan dipimpin Presiden Ali Abdullah Saleh yang sampai sekarang masih menduduki kursi kepresidenan.

Selain pada aspek budaya, ada dua perbedaan mendasar antara Yaman Selatan dan Yaman Utara. Pertama, kebanyakan kota di wilayah Yaman Utara beriklim dingin sementara Yaman Selatan beriklim Panas. Kedua, dibanding dengan Yaman Utara, Yaman Selatan jauh tertinggal dari aspek pembangunan infrastrukturnya. Oleh Karenanya, jika berkunjung ke Yaman Selatan, serta merta kita akan menemukannya sebagai daerah yang jauh dari kesan maju, modern, atau bahkan sama sekali tertinggal.

Meski Yaman Selatan jauh tertinggal dalam pembangunan infrastruktur dan beriklim jauh lebih panas dibanding Yaman Utara, namun ternyata kebanyakan Mahasiswa Indonesia yang belajar di Yaman justru lebih memilih belajar di Yaman Selatan daripada di Yaman Utara. Hal tersebut terbukti sampai sekarang tercatat ada lebih dari 800 mahasiswa Indonesia dari hampir 1400 jumlah total mahasiswa Indonesia di Yaman yang kebanyakan belajar di kota Tareem, sebuah kota kecil di Provinsi Hadramaut yang konon merupakan tanah kelahiran wali songo yang menyebarkan agama Islam di Nusantara.

Saking banyaknya mahasiswa Indonesia di kota Tareem, banyak kosa kata warga setempat dipengaruhi oleh bahasa Indonesia. Terlebih komoditi yang di jual di pasar-pasar kota seperti Istrika (setrika ), Qonbul (Kemul : -selimut jawa-), tirmus (termos), Shorung (sarung), biras (beras) dsb. Selain di Hadramaut, ada juga yang mahasiswa Indonesia yang belajar di Aden, bekas ibu kota Yaman selatan.

Kebanyakan mereka berada di Rubath yang diasuh oleh Al habib Abu bakar Al Adniy. Seorang da'i semenanjung Arabia yang sangat terkenal dengan pemikiran moderatnya. Namun sampai sekarang, mahasiswa Indonesia yang belajar di sana baru berjumlah belasan. (nam)
Komentar(0 komentar)
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefAgustus 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::