Sabtu, 01 November 2014
Language :
Find us on:
Warta 
Amaliyah Warga NU Perlu Standarisasi
Senin, 01/03/2010 14:44
Jombang, NU Online
KH Masdar Farid Mas'udi, Ketua PBNU melontarkan pentingnya upaya membuat konsep standarisasi amaliah nahdhiyah. Amaliah khas jamaah NU itu antara lain membaca talqin, qunut, manaqib, membaca puji-pujian sebelum salat, wiridan serta membaca usolli sebelum salat. Tanpa standarisasi rujukan dalam hukum Islam, tradisi amaliah itu bisa goyah akibat ''serangan'' pihak luar.

''Ini pekerjaan rumah kecil dan tidak remeh. Tapi, sangat penting bagi warga NU,'' kata Masdar Farid Mas'udi saat menjadi pembicara dalam seminar dan bahtsul masail di pesantren Al Aziziyah Desa Denanyar, Sabtu (27/2).

Kandidat Ketua Umum PBNU dalam Muktamar Maret mendatang ini mengakui, jika sejumlah pemimpin NU di tingkat bawah mengalami kegundahan menyikapi polemik dalam praktik beribadah di masyarakat. Sebab, saat ditanya umat tentang rujukan amaliah tersebut, kerap tidak bisa menjawab akurat. Yang sering terjadi, pemimpin NU menjawab bahwa dasar hukum amaliah itu karena tradisi yang diajarkan oleh guru-guru  sebelumnya. Meski, sumber hukum yang diyakini adalah Alquran, Hadist, Ijma dan Qiyas.

''Kondisi labil ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut,'' tutur Masdar seperti dilansir harian radar mojokerto.

Masdar juga menyebut salah satu kelemahan NU dan umat Islam di dunia. Yakni, lemahnya pengorganisasian. Tiga kelompok yang dianggap Masdar memiliki manajemen organisasi cukup bagus antara lain Syiah, Khawarij dan Ahmadiyah. Sunni, kelompok dalam Islam yang paling tidak terorganisir. Padahal, tiga perempat penduduk muslim dunia berafiliasi ke sunni.

''NU adalah elemen dalam kelompok sunni yang pengorganisasiannya belum bagus. Diluar Indonesia, tidak ada kelompok sunni yang penganutnya sebesar NU.''

Akibat lemahnya pengorganisasian itu, jamiiyah NU kerap terombang-ambing. Termasuk dalam pengambilan keputusan di tingkat nasional. ''Yang jamaahnya besar seperti NU, kalah dengan kelompok kecil yang terorganisir.''

Bahtsul Masail kali ini membahas dua hal. Yakni, khitan bagi perempuan serta dam, denda bagi jamaah haji yang melanggar rukun haji. Materi khitan perempuan disampaikan oleh Prof Dr Hj Huzaemah T. Yanggo dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dr Hj Fatni Suyatni, Direktur Bina Kesehatan Depkes.

Selain dihadiri kiai Jombang, forum itu juga dihadiri KH Hanif Muslich dari Ponpes Futuhiyah Mranggen, Semarang; KH Mujib Imron dari Pasuruan; Asnawi Muhammadiyah dari Depag Pusat; Dirjen Pekapontren Depag, Choirul Fuad Yusuf serta Imam Haromain, Kakanwil Depag Jatim. (lal)
Komentar(3 komentar)
Jumat, 05/03/2010 14:34
Nama: ahmad
MENULIS
pak masdar betul sekali, dalam sejarahnya NU memang lemah dalam pengorganisasian yang baik, tapi kenapa dalam rentang waktu yang lama itu kita tidak bisa memperbaiki, semoga akan munculgenerasi yang bisa mengemban atau membawa NU menjadi organisasi yang tertata bagus yang nantinya bisa membawa ummat munuju ummat yang baik dan sejahtera,,amin,,,
Senin, 01/03/2010 23:58
Nama: ISKANDAR
Tanggapan.......
LP Ma'arif terjebak pada istilah modernisasi yang malah menggiring pada penciptaan rasa malu pada warga NU yang notabene amaliyahnya dipandang kuno (lama). Akhirnya bangunan megah dan mewah, pengorganisasian bagus, tapi lebih mirip dengan gaya orang-orang non-NU. Mungkin mereka berkiblat dari non-NU sampai-sampai lupa untuk memodifikasinya sesuai amaliyah NU. Ingat, NU bisa diterima oleh ummat melalui pendekatan budaya dan "mereka" sekarang menyerang pula dengan budaya. Budaya yang lebih lama pasti akan terkesan kuno dan kata "kuno" sangat tidak disukai oleh generasi muda. Adanya budaya2x baru yang "islami" lebih menarik dari budaya NU yang tanpa modifikasi pasti akan disebut kuno. Apa beda sholawatan dengan nashit, apa beda kopiah dengan koko dan gamis. Itulah budaya. Semoga para pemimpin NU cepat bisa menemukan formula ampuh menghadapi pengikisan amaliyah warga NU yang sebenarnya telah menjadi budaya "status quo" ummat islam Indonesia. Ami...n.
Senin, 01/03/2010 15:25
Nama: achmad nur asikin riyadh-KSA
setuju
asssalm.wr.wb....sy sangat sependpat dgn pak Masdar, krn kesan yg muncul selama ini wrga nadliyin hy terkesan taklid buta..sajikan hujjah yg detail dan jujur,..andaikan trpksa mmakai hadits yg dhoif hrs disertakn pula keterangan/alasanya. krn pihak2 lain mengkomplain bhw hadits yg jd dsar refrensi wrga nadhiyin byk yg dhoif bhkn maudluk, akibtya byk remaja putra/i warga NU berbalik ikut2an"menyerang" org tuanya, guru ngajinya yg mmbimbing wktu kecil...tdk berahlakulkarimah...astaghfirulloh.....wassalm
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefNovember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
::::Ikuti siaran lagsung Munas-Konbes NU 2014 di radio.nu.or.id :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::