Jumat, 01 Agustus 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Bagaimana Hukumnya Taqlid?
Selasa, 27/11/2007 10:47

Bagi orang awam taqlid atau mengikuti ulama mujtahid yang telah memahami agama secara mendalam hukumnya wajib, sebab tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk mempelajari agama secara mendalam. Allah SWT berfirman :

وَمَاكَانَ اْلمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْاكَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِيْنِ وَلِيُنْدِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَارَجَعُوْا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Tidak pantas orang beriman pergi ke medan perang semua, hendaknya ada sekelompok dari tiap golongan dari mereka ditinggal untuk memperdalam agama dan memberikan peringatan kepada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, mudah-mudahan mereka itu takut.” (QS At-Taubah: 122)

Dalam ayat ini jelas Allah SWT menyuruh kita untuk mengikuti orang yang telah memperdalam agama. Dalam ayat lain secara lebih tegas Allah SWT berfirman:

فَسْئَلُوْااَهْلَ الذِكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

Maka hendaknya kamu bertanya kepada orang-orang yang ahli Ilmu Pengetahuan jika kamu tidak mengerti.” (An-Nahl: 43)

Kepada siapakah kita bertaqlid? Kita bertaqlid kepada salah satu dari madzhab empat yang telah dimaklumi oleh seluruh Ahli Ilmu, tentang keahlian dan kemampuan mereka dalam Ilmu Fiqih.

Di samping itu telah dimaklumi pula ketinggian akhlaq dan taqwa mereka yang tidak akan menyesatkan umat. Mereka adalah orang yang takut kepada Allah SWT dan telah meletakkan hukum bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas. Namun, ketika kita boleh bertaqlid, bukan kemudian kita bertaqlid kepada sembarang orang yang belum mutawatir kemasyhurannya. Tentu taqlid semcam itu justru akan membawa kesesatan. Kita bertaqlid kepada ulama yang telah diakui umat, baik akhlaq dan sikapnya sehari-hari, di mana fatwa mereka diyakini berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an :

 اِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ اْلعُلَمؤُا

Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah para Ulama.” (Fathir: 28)

Taqlid buta, atau taqlid kepada sembarang orang tentu dilarang oleh agama. Bagi mereka yang ada kesempatan dan kemampuan tentu wajib mengetahui seluk beluk dalil yang dipergunakan oleh para fuqaha'. Namun, untuk mencapai derajat mujtahid barangkali sulit, walaupun kemungkinan selalu ada.

KH Nuril Huda
Ketua PP LDNU

Komentar(5 komentar)
Jumat, 26/03/2010 18:38
Nama: Ibnu Abi Irfan
definisi taqlid
Taqlid secara etimologi berarti mengalungkan sesuatu pada leher. gambarannya, orang yang taqlid seperti binatang ternak yang dikalungkan sesuatu pada lehernya.

sedangkan secara terminologi, taqlid adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjahnya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad [Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/993 dan l’lamul Muwaqqi’in 2/178]

Ibnu Abdil barr berkata: "Taqlid adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang dalam keadaan engkau tidak tahu segi dan makna perkataannya” [Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/787]
Jumat, 31/10/2008 19:09
Nama: dudung solahudin
a
taklid haram bagi orang yang bisa ijtihad seperti level para pengarang kitab....... beliau-beliau juga mengikuti pendapat para ulama pendahulunya. apalagi kita yang jauhnya berapa ribu kilometer keilmuan kita dengan mereka para ulama. jadi taklid boleh, dan kita tingkatkan menjadi ittiba'' okay
Selasa, 11/12/2007 19:03
Nama: Jajang Asfarin
taqlid
Zaman sekarang insyaalloh kita sudah pada bisa membaca,menganalisa yang pada akhirnya memilih.
saya sangat setuju taqlid buta itu tidak boleh tapi untuk menguasai semua bidang kita juga mengalami kesulitan apalagi kita disibukan oleh aktivitas kerja sudah tentu untuk bidang tertentu kita tidak bisa karena hal tersebut saya juga setuju bahwa taqlid diperbolehkan bahkan wajib tapi taqlid yang cerdas.
Contoh kasus hukum bunga bank,ada sebagian ulama yang hasil ijtihadnya halal dan ada yang haram,kita tinggal melihat dasar ijtihad yang halal dan dasar yang haram,setelah itu kita pilih mana yang lebih mantap dan mendekatkan diri kita pada Alloh,insyaalloh itu yang selamat.
jadi insyaalloh NU tidak menganjurkan warga nahdliyin untuk taqlid buta tapi taqlid yang cerdas.semoga perbedaan yang ada lebih membawa berkah.amin

Jajang Asfarin (santri Al Ma'ruf lamongan)
Alumni T.Sipil ITS Surabaya (08881312027)
Jumat, 07/12/2007 15:53
Nama: Nurisk
Taqlid?
Taqlid=tuturut munding (sunda)
Taqlid=ela-elu anut grubug (Jawa)
Taqlid hanya untuk anak kecil yang belum balig, tidak perlu dalil-dalilan yang penting ikut-ikut ibadah, taqlid kepada orang tuanya atau gurunya. Taqlid juga boleh bagi orang yang-maaf-memiliki IQ di bawah standar. Tidak mampu mencerna dalil, apalagi memahami, membacapun susah. Kalau yang merasa masih bisa berfikir dan memiliki akal, janganlah taqlid, tapi jadilah muttabi', cari tau alasan dan dalilnya, baca dan kaji. Insya Allah selamat dunia akhirat...
Selasa, 04/12/2007 16:48
Nama: saifuddin zuhri
taqlid buta ?
mengapa kita hanya taqlid kepada empat madzhab tersebut ? padahal banyak ulama' lain yang pada saat itu atau saat yang lain juga mempunyai pengetahuan ilmu yang cukup mendalam, dengan kata lain tidak jauh dengan mereka. ya kalau mereka memang sebagai imam kita, tetapi tidak semua permasalahan dikembalikan kepada pemikiran mereka, bukan kah begitu? taqlid buta ada yang mengatakan " melaksanakan tanpa tahu dasar dan tujuannya". Nah, permasalahannya banyak orang yang seperti itu. sehingga besar peluang untuk kelompok yang lain yang ingin mengajaknya masuk dalam golongan mereka. ya kalau mereka golongan yang benar, kalau sesat, bagaimana? apa yang harus dilakukan masyarakat sebagai objeknya?
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefAgustus 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      
::::Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah melalui LAZISNU. Rekening zakat: BCA 6340161473 MANDIRI 1230004838951. Infaq: BCA 6340161481 MANDIRI 1230004838977 :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Transaksi pembelian di Toko NU Online untuk sementara ditutup per 24 Juli-13 Agustus 2014::::