Rabu, 01 Oktober 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Doa pada 7 atau 40 Hari Setelah Kematian
Selasa, 08/01/2008 07:43

Sudah menjadi tradisi orang NU, kalau ada keluarga yang meninggal, malam harinya ada tamu-tamu yang bersilaturrahim, baik tetangga dekat maupun jauh. Mereka ikut belasungkawa atas segala yang menimpa, sambil mendoakan untuk yang meninggal maupun yang ditinggalkan.

Selain bersiap menerima tamu, sanak keluarga, handai tolan, dan keluarga dekat, pada hari kedua sampai ketujuh, mereka akan mengadakan bacaan tahlil dan do’a yang dikirimkan kepada yang sudah meninggal dunia. Soal ada makanan atau tidak, bukan hal penting, tapi pemanfaatan pertemuan majelis silaturrahim itu akan terasa lebih berguna jika diisi dengan dzikir.

Sayang, bagi orang-orang awam yang kebetulan dari keluarga miskin, mereka memandang sajian makanan sebagai keharusan untuk disajikan kepada para tamu, padahal substansinya sebenarnya adalah bacaan tahlil dan do’a adalah untuk menambah bekal bagi si mayit.

Kemudian, peringatan demi peringatan itu menjadi tradisi yang seakan diharuskan, terutama setelah mencapai 40 hari, 100 hari, setahun (haul), dan 1000 hari. Semua itu berangkat dari keinginan untuk menghibur pada keluarga yang di tinggalkan sekaligus ingin mengambil iktibar bahwa kita juga akan menyusul (mati) di kemudian hari.

Dalil yang dapat dibuat pegangan dalam masalah ini adalah:

قَالَ طَاوُسَ: إنَّ الْمَوْتَى يُفْتِنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تَلْكَ اْلأيّاَمِ إلَى أنْ قَالَ عَنْ عُبَيْدِ ابْنِ عُمَيْرِ قَالَ: يُفْتِنُ رَجُلانِ مُؤمِنٌ وَمُنَافِقٌ فَأمَّا الْمُؤمِنُ فَيُفْتِنُ سَبْعًا وَأمَّا الْمُناَفِقُ فَيُفْتِنُ أرْبَعِيْنَ صَبَاحًا

Imam Thawus berkata: Seorang yang mati akan beroleh ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sahabat Ubaid ibn Umair berkata: “Seorang mukmin dan seorang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan beroleh ujian selam 7 hari, sedang seorang munafiq selama 40 hari di waktu pagi.”  (Al Hawi lil Fatawa as Suyuti, Juz II hal 178)

Jika suatu amaliyah atau ibadah sudah menjadi keputusan atau atsar atau amal sahabat (dalam hal ini Tاawus) maka hukumnya sama dengan hadits mursal yang sanadnya sampai kepada Tabi’in, dan dikatagorikan shahih dan telah dijadikan hujjah mutlak (tanpa syarat). Ini menurut tiga imam (Maliki, Hanafi, Hambali).

Sementara Imam Syafi’i hanya mau  berhujjah dengan hadits mursal jika dibantu atau dilengkapi dengan salah satu ketetapan yang terkait dengannya, seperti adanya hadits yang lain atau kesepakatan sahabat. Dalam hal ini, seperti disebut di atas, ada riwayat dari Mujahid dan dari Ubaid bin Umair yang keduanya dari golongan Tabi’in, meski mereka berdua bukan sahabat.

Maksud dari kalimat فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ  atau "sebaiknya mereka" dalam keterangan di atas adalah  bahwa orang-orang di zaman Nabi Muhammad SAW melaksanakan hal itu, sedang Nabi sendiri tahu dan mengafirmasinya. (Al Hawi lil Fatawa as Syuyuti, Juz II hal 183)

KH Munawwir Abdul Fattah
Pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta

Komentar(10 komentar)
Senin, 28/11/2011 23:55
Nama: daranto
Saran
mohon untuk artikel tentang fikih dapat di donwload dalam bentuk winrar. sukron
Sabtu, 05/11/2011 21:11
Nama: Ari Wicaksono
hukum tahlilan
bagaimana hukum tahlilan bagi orang yang sudah meninggal?
Selasa, 22/06/2010 12:14
Nama: matran
mengkritisi tradisi arwah
saya sangat sepakat dengan pendapat yang mengatakan sampainya hadiah pahala untuk si Mayyit, namun pengkhususan pada hari-hari tertentu seperti 25, 40, 100, haulan dan 1000 hari kurang sepakat, alasannya :
1. Penetapan hari-hari tersebut terkesan di masyarakat bahwa memberikan hadiah kepada mayyit tertentu hanya pada hari-hari tersebut.
2. TIDAK ADA makna hari-hari tersebut bagi si Mayyit ?
Menurut saya memberikan hadiah pada si Mayyit minimal setiap malam / hari JUm'at , bahkan terlebih baik lagi setiap habis shalat lima waktu.
Memberikan hadiah pahala minimal dengan bacaan :
1. ASTAGFIRULLAH LI WALIL MU'MINIINA WAL MU'MINAT AL-AHYAI MINHUM WAL AMWAAT.3 KALI
2. SURAH AL-IKHLASH 3 KALI
3. SHALAWAT 3 KALI
4. TASBIH, TAHMID, TAHLIL, TAKBIR 3 KALI
Wallahu a'lam
Kamis, 25/03/2010 12:55
Nama: Herri Mu'min
MANYAK MDARATNYA DARIPADA MANFAATNYA
Hal-hal yang dimurkai/tidak disukai oleh Allah adalah membicarakan maslah agama oleh orang-orang yang ilmunya kurang (sedikit) karena malah menimbulkan fitnah/perselisihan....
Senin, 30/11/2009 03:34
Nama: Muhammad Iman
Niat saja tidak cukup
Mungkin niat awal dari "budaya" ini baik, namun tetap saja yg tidak ada tuntunan dalam hal ibadah mahdhoh dari Rasulullah tertolak, (jadi yg bilang pake speaker termasuk bid'ah itu sih mengada-ada mas).

Kalau memang yg melakukan menyadari bahwa hal ini bukan contoh dari Rosul mengapa harus "selalu" (ini yg saya lihat di masyarakat kita) dilakukan pada hari tertentu (7,40,100,dll), mengapa selalu ada hidangan makanan bahkan rokok yg makruh/haram?? dikhawatirkan inilah yg menyebabkan budaya ini menjadi termasuk bid'ah karena telah membudaya, bukan esensi yg seharusnya dalam mendoakan mayit dan membantu keluarga yg berduka.

Lebih baik kita tidak menggampangkan urusan agama. Wallahu'alam.
Selasa, 06/10/2009 13:57
Nama: Abi Abda
Tahilil dikelola RT
Tahlil bagus, mendoakan sesama muslim yang meninggal. tapi tidak harus hari ke 3,7 dst. tidak mutlak. lebih baiknya agar tidak membebani keluarga mayit, tahlil dikoordinir RT misalkn. sehingga u/ logistik bisa diambil dari iuran RT. kan lebih maslahat.
Jumat, 25/09/2009 07:58
Nama: ali mansur
Do'a dibayar?
Assalamualaikum wr.wb

Buar saudaraku cak Manaf
maaf sebelumnya,pinjam komentar yang pernah disampaikan oleh cak faisol di bab ubudiyah yang lain , bahwa kalau menemukan pak kiyai, pak ustad yang doanya dikomersilkan , silakan diDEMO SAJA
Senin, 07/09/2009 14:23
Nama: Andul Mahfudin Alim
Islam bersatulah
kita adalah satu tujuan yaitu untuk Allah, yang kecil jangan lah dipermasalahkan. Yang bermaanfaat lah yang diambil..., SAYA tidak bisa berkomentar banyak apalagi tentang mazhab2. yang jelas umat Islam harus bersatu...
Selasa, 01/09/2009 14:33
Nama: Anshor
Salah KAprah Tenan
buat "nur aja" & mgkn yg sependapat dg "nur":
ajarkan anak anda berdoa buat anda mulai skrg biar saat anda meninggal anak anda bisa mendoakan anda tanpa bantuan orang laen yg lebih bisa... moga anda orang yg ahli ibadah shg mdh mngajarkan kpd anak anda yg namanya berdoa.... shg orang tuanya akan slu mdptkn doa saat di alam kuburnya.....
Selasa, 02/06/2009 19:29
Nama: solah yang asli
tanggapan bagi solah yang sebelumnya
wah mas solah yang diatas saya... nama kita sama2 solah.. tapi berbeda pemikiran..... mas bilang setiap amalan yang tidak dicontohkan Rasulullah adalah bidah... anh dulu Rasulullah ketika haji pake unta..... nah kalo kita pake pesawat bid'ah donk?itu termasuk amalan loh.... karena perjalanan menuju haji pun sudah menjadi amalan....

selain itu zaman rasulullah gak ada pengeras suara mas.. nah sekarang hampir diseluruh masjid pake speaker.... itu amalan juga mas..... gmn? ehehehehehehee...... salam dari solah yang lain
Space Iklan
625 x 100 Pixel
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::