Selasa, 21 Oktober 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Fasal Tentang Tahlil (2)
Selasa, 05/02/2008 20:42
Mereka yang mempunyai anggapan bahwa doa kepada mayit tidak sampai sepertinya hanya secara tekstual (harfiyah) memahami suatu dalil tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lainnya.

Sehingga kesimpulan yang mereka ambil mengenai do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang yang telah meninggal. Dalam ayat lain Allah SWT menyatakan bahwa orang yang telah meninggal dapat menerima manfaat doa yang dikirimkan oleh orang yang masih hidup. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلإخَْوَانِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإَْيْمَانِ......

Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

1. ٍAyat ini menunjunkkan bahwa doa generasi berikut bisa sampai kepada generasi pendahulunya yang telah meninggal. Begitu juga keterangan dalam kitab “At-Tawassul” karangan As-Syaikh Albani menyatakan: “Bertawassul yang diizinkan dalam syara’ adalah tawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah, tawassul dengan amalan soleh dan tawassul dengan doa orang shaleh.”

2. Mukjizat para nabi, karomah para wali dan ma’unah para ulama tidak terputus dengan kematian mereka. Dalam kitab Syawahidu al Haq, karya Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani: 118 dinyatakan:

وَيَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِهِمْ إلَى اللهِ تَعَالَى ، وَالإِسْتِغَاثَةُ بِالأنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ بَعْدَ مَوتِهِمْ لأَنَّ مُعْجِزَةَ الأَنْبِيَاءِ وَكَرَمَاتِ الأَولِيَاءِ لاَتَنْقَطِعُ بِالمَوتِ

Boleh bertawassul dengan mereka (para nabi dan wali) untuk memohon kepada Allah SWT dan boleh meminta pertolongan dengan perantara para Nabi, Rasul, para ulama dan orang-orang yang shalih setelah mereka wafat, karena mukjizat para Nabi dan karomah para wali itu tidaklah terputus sebab kematian.”(Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani, Syawahidul Haq, (Jakarta: Dinamika Berkah Utama, t.th), h. 118)

3. Dasar hukum yang menerangkan bahwa pahala dari bacaan yang dilakukan oleh keluarga mayit atau orang lain itu dapat sampai kepada si mayit yang dikirimi pahala dari bacaan tersebut adalah banyak sekali. Antara lain hadits yang dikemukakan oleh Dr. Ahmad as-Syarbashi, guru besar pada Universitas al-Azhar, dalam kitabnya, Yas`aluunaka fid Diini wal Hayaah juz 1 : 442, sebagai berikut:

وَقَدِ اسْتَدَلَّ الفُقَهَاءُ عَلَى هَذَا بِأَنَّ أَحَدَ الصَّحَابَةِ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَقَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَتَصَدَّقُ عَنْ مَوتَانَا وَنُحَجُّ عَنْهُمْ وَنَدعُو لَهُمْ هَلْْ يَصِلُ ذَلِكَ إِلَيْهِمْ؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَيْهِمْ وَإِنَّهُمْ لَيَفْرَحُوْنَ بِهِ كَمَا يَفْرَحُ اَحَدُكُم بِالطَّبَقِ إِذَا أُهْدِيَ إِلَيْهِ!

“Sungguh para ahli fiqh telah berargumentasi atas kiriman pahala ibadah itu dapat sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, dengan hadist bahwa sesungguhnya ada salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami bersedekah untuk keluarga kami yang sudah mati, kami melakukan haji untuk mereka dan kami berdoa bagi mereka; apakah hal tersebut pahalanya dapat sampai kepada mereka? Rasulullah saw bersabda: Ya! Sungguh pahala dari ibadah itu benar-benar akan sampai kepada mereka dan sesungguhnya mereka itu benar-benar bergembira dengan kiriman pahala tersebut, sebagaimana salah seorang dari kamu sekalian bergembira dengan hadiah apabila hadiah tersebut dikirimkan kepadanya!"

Sedangkan Memberi jamuan yang biasa diadakan ketika ada orang meninggal, hukumnya boleh (mubah), dan menurut mayoritas ulama bahwa memberi jamuan itu termasuk ibadah yang terpuji dan dianjurkan. Sebab, jika dilihat dari segi jamuannya termasuk sedekah yang dianjurkan oleh Islam yang pahalanya dihadiahkan pada orang telah meninggal. Dan lebih dari itu, ada tujuan lain yang ada di balik jamuan tersebut, yaitu ikramud dla`if (menghormati tamu), bersabar menghadapi musibah dan tidak menampakkan rasa susah dan gelisah kepada orang lain.

Ketiga hal tersebut, semuanaya termasuk ibadah dan perbuatan taat yang diridlai oleh Allah AWT. Syaikh Nawawi dan Syaikh Isma’il menyatakan: "Bersedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sunnah (matlub), tetapi hal itu tidak harus dikaitkan dengan hari-hari yang telah mentradisi di suatu komunitas masyarakat dan acara tersebut dimaksudkan untuk meratapi mayit.

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ المَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍ مَطْلُوْبٌ وَلاَ يَتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِىْ سَبْعَةِ أَيَّامٍ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ وَتَقْيِيْدُ بَعْضِ الأَيَّامِ مِنَ العَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا أَفْتىَ بِذَالِكَ السَيِّدُ اَحْمَد دَحْلاَنْ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ المَيِّتِ فِىْثاَلِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِىْسَابِعٍ وَفِىْ تَمَامِ العِشْرِيْنَ وَفِى الأَرْبَعِيْنَ وَفِى المِائَةِ وَبَعْدَ ذَالِكَ يَفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلاً فِىْ يَوْمِ المَوْتِ

"Memberi jamuan secara syara’ (yang pahalanya) diberikan kepada mayyit dianjurkan (sunnah). Acara tersebut tidak terikat dengan waktu tertentu seperti tujuh hari. Maka memberi jamuan pada hari ketiga, ketujuh, kedua puluh, ke empat puluh, dan tahunan (hawl) dari kematian mayyit merupakat kebiasaan (adat) saja. (Nihayatuz Zain: 281 , I’anatuth-thalibin, Juz II: 166)

HM Cholil Nafis MA
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU
Komentar(10 komentar)
Senin, 03/09/2012 15:13
Nama: janu
Aku Nahdliyin cinta Damai
aku nahdliyin.. kalau engkau tidak suka padaku, sukailah aku karena kita satu agama.. kalau kita tidak satu agama, sukailah aku karena kita satu negara... kalau kita beda negara, sukailah aku karena kita satu planet... kalau kita beda planet, sukailah aku karena kita ciptaan-Nya... tapi kalau tetep tidak suka... "لكم دينكم ولي دين"
Ahad, 10/07/2011 20:22
Nama: Abdul Mughni
Nah kiye likuh
nah ini dia yang lagi saaya cari buat pegangan kader IPNU yg masih awam... maturnuwun...
Rabu, 18/08/2010 06:42
Nama: al_bantani
SESAMA MUSLIM BERSAUDARA
Assalamu'alaikum
salam sejahtera & pissssssss

hari gini msh ngributin tahlilan aja..... sepertinya masing perkuat & rajin ibdh
banyakin amalan.....tetangga kita masih banyak yang kelaparan...

mau tahlilan or tidak udalah..ga usah mengaku NU...MD- lah. anda NU...anda MD.. allah tdk menyuruh....!!!! qt adalah satu dinul islam

seolah2 perdebatan antara yahudi & islam...

keilmuan anda bukan untuk debat kusir....

islam sudah remuk..... krn ulah org..orang islam sendiri...

bid'ah...... wah kayaknya ga perlu dbhs

yang harus dbhs tetangga kita masih bnyk yang kelaparan...
banyak yang mabok2an...korupsi merajalela......bunuh diri.......!!!

bagaiman orang yg cerdas seperti anda2 menmukan formulanya....!!!!????

anda udah thfid al-qur'an?...tahfid hadist? menjalankan & mengamalkan isinya????

saya rasa kita belum mengamalkan satupun dari isi al-qur'an & hadist.


Sabtu, 29/05/2010 09:14
Nama: Namikaze firmansyah
setuju tahlil
asslm,,, wr.wb
buat mas agus, gus nur dan org2 yg anti tahlilan.
Saya hnyalah org awam yg hnya tau sdkit ttg agama. Tpi saya prnah bca ayat Al Qur'an klw tdk salh artinya ''... Smua prbuatan baik/buruk wlaupun sbsar bji dzarrah akan mndptkn balasan msing2...''.
Kalau prbuatan yg sbsar bji dzarrah sdah mndptkan balasan apalgi org2 brkmpul utk mmbca Al Qur'an, dzikir dll utk mndo'akn org yg sudah mninggal. Apakah Allah tdk mmbrikn balasan phala utk prbuatan itu?...
Jumat, 13/11/2009 16:06
Nama: Alfin
Ahli Maksiat Bisa Masuk Surga
Assalamua'alaikum, Ustadz2 sekalian. Saya juga orang NU, tapi untuk masalah Tahlilan ini saya tidak setuju, selain karena tidak ada contoh juga secara akal : Kalo memang kirim pahala sampe berarti Allah tidak adil, karena pernah suatu saat ditempat saya seorang yang miskin meninggal dunia, karena tidak punya duit Ia hanya memanggil beberapa orang saja, sementara ditempat lain seorang kaya yang meninggal keluarganya memanggil orang sekampung untuk tahlilan, padahal kita tahu semasa hidup itu dia orang yang banyak berbuat maksiat(mabuk, malak, dan main cewek). apakah dengan dikirimi pahala orang itu jadi masuk surga??
Jumat, 16/10/2009 23:03
Nama: imron
sejarah 3,7,40,100,1000
jika dasar dari hadits rosul tentang nigahari, nujuhari sampai nyeribu hari tidak pernah ditemukan, lalu ada tidak yang bisa menjelaskan dari segi sejarah sejak kapan awal tradisi ini di dilakukan umat islam indonesia yang mungkin satu-satunya di dunia? adakah hubungannya dengan agama jawa kuno...???
Sabtu, 22/08/2009 06:37
Nama: muchyi
Tansfer Pahala
Pengumuman: Bagi mereka yang tidak percaya soal transfer pahala, mati aja duluan aku mu bacain surat fatihah. Kalau gak nyampe balik lagi. Ok...
Jumat, 08/05/2009 02:57
Nama: Suf
klarifikasi muktamar NU 1
assalamu'alaikum wr wb..
mohon maaf sebelumnya kpd saudara" sekalian, saya hanya sekedar meneruskan pertanyaan dari saudara Dody di kolom paling atas... tolong dijawab ya!
kalo dalam kitab Ahkamul Fuqaha sendiri kenapa disebutkan bahwa menjamu makan untuk pentakziah adalah makruh bukan mubah, berdasar kepada kitab I'anatuttholin dan al fatawa al kubro...
hal tsb tertulis di ahkamul fuqaha
Keputusan Muktamar NU ke 1 di Surabaya 13 rabi’uts tsaani 1345 H/21 okktober 1926, fatwa no 18 tentang keluarga mayit menyediakan makan kepada pentakziah.
bagaimana yang benar ttg hal tsb, apakah fatwa tsb sudah dimansukh atau gimana...
mohon penjelasannya...
terima kasih..mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan..
wassalam...
Rabu, 08/04/2009 12:14
Nama: Ahmad Nashir
ada beberapa titik tolak
1. Dari dulu para ulama berbeda pendapat mengenai mengirim do'a kepada orang yang sudah meninggal, satu pendapat bisa dan satu pendapat tidak bisa. yang diikuti oleh warga NU yang bisa nya. jadi di sini pendapat seperti yg diutarakan oleh Gus Nur dan lain-lainnya sudah ada dari dulu, jadi ga usah heran.
2. Mengenai tahlilan yang ke 3,5,7 dst. Mungkin kaum anti tahlil tidak pernah bersinggungan peribadatan langsung dengan warga NU, karena saya saja yang sudah tidak memiliki orang tua selalu mendo'akan mereka setiap habis sholat, dan hal itu lazim dilakukan oleh warga NU. Dan kaum anti tahlil tidak melihat dan mendengarkan do'a kami setiap habis sholat. sehingga mereka menggap bahwa tahlilan / mendo'a yg sudah mati itu hanya pada moment2 tersebut. moment2 itu diadakan toh tidak menyalahi syari'at, sama dengan pengajian Training ESQ, liqo'at, Taaroful Islamiyah, Training MQ dll yg diantaranya harus berbayar dengan cukup mahal

SALAM

Senin, 09/02/2009 16:31
Nama: jangkung
Baca Diri ..bukan Rasa Diri
Asswrwb,
Ikhwan-ikhwan semua, saya sangat setuju dengan pemikiran Gus Nur.
Sangat simple saja; karena TIDAK ADA CONTOH akan Rasullalah serta para sahabatnya melakukan acara Tahlil.
..Mengapa kita harus mengacu kepada hal-hal yang tidak dicontohkan Rasul ALLAH tersebut ?....mohon agar dapat menahan diri dan membaca Qur'an dan Hadits dengan Akal ..bukan dengan rasa.
Mengapa tiada satupun dari keempat para Sahabat Rasul yang melakukan acara Tahlil ?
Bagi semua Ikhwan, ..Ibadah mempunyai DALIL dan tiada lain contoh yang baik adalah Rasul kita Muhammad SAW.
BILA memang Tahlil ada DALIL nya , kembali lagi MENGAPA Rasullalah dan para Sahabatnya tidak berbuat itu ?....mohon telaah dengan Akal tidak dengan rasa akan hal ini.
Mohon maaf apabila tidak berkenan
Wasswrwb
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefOktober 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::