Sabtu, 23 Agustus 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Melafalkan Niat dalam Shalat
Selasa, 12/02/2008 18:16
Sebenarnya tentang melafalkan atau mengucapkan niat, misalnya membaca “Ushalli fardla dzuhri arba’a raka’atin mustaqbilal kiblati ada’an lillahi ta’ala” (Saya berniat melakukan shalat fardlu dzuhur empat rakaat dengan menghadap kiblat dan tepat pada waktunya semata-mata karena Allah SWT) pada menjelang takbiratul ihram dalam shalat dzuhur adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan di kalangan warga NU (nahdliyin). Tetapi sepertinya menjadi asing dan sesuatu yang disoal oleh sebagian kalangan yang tidak sepemahaman dengan warga nahdliyin.

Adapun hukum melafalkan niat shalat pada saat menjelang takbiratul ihram menurut kesepakatan para pengikut mazhab Imam Syafi’iy (Syafi’iyah) dan pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hambal (Hanabilah) adalah sunnah, karena melafalkan niat sebelum takbir dapat membantu untuk mengingatkan hati sehingga membuat seseorang lebih khusyu’ dalam melaksanakan shalatnya.

Jika seseorang salah dalam melafalkan niat sehingga tidak sesuai dengan niatnya, seperti melafalkan niat shalat ‘Ashar tetapi niatnya shalat Dzuhur, maka yang dianggap adalah niatnya bukan lafal niatnya. Sebab apa yang diucapkan oleh mulut itu (shalat ‘Ashar) bukanlah niat, ia hanya membantu mengingatkan hati. Salah ucap tidak mempengaruhi niat dalam hati sepanjang niatnya itu masih benar.

Menurut pengikut mazhab Imam Malik (Malikiyah) dan pengikut Imam Abu Hanifah (Hanafiyah) bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbiratul ihram tidak disyari’atkan kecuali bagi orang yang terkena penyakit was-was (peragu terhadap niatnya sendiri). Menurut penjelasan Malikiyah, bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbir menyalahi keutamaan (khilaful aula), tetapi bagi orang yang terkena penyakit was-was hukum melafalkan niat sebelum shalat adalah sunnah. Sedangkan penjelasan al Hanafiyah bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbir adalah bid’ah, namun dianggap baik (istihsan) melafalkan niat bagi orang yang terkena penyakit was-was.

Sebenarnya tentang melafalkan niat dalam suatu ibadah wajib pernah dilakukan oleh Rasulullah saw pada saat melaksanakan ibadah haji.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّاً

Dari Anas r.a. berkata: Saya mendengar Rasullah saw mengucapkan, “Labbaika, aku sengaja mengerjakan umrah dan haji”." (HR. Muslim).

 Memang ketika Nabi Muhammad SAW  melafalkan niat itu dalam menjalankan ibadah haji, bukan shalat, wudlu’ atau ibadah puasa, tetapi tidak berarti selain haji tidak bisa diqiyaskan atau dianalogikan sama sekali atau ditutup sama sekali untuk melafalkan niat.

Memang tempatnya niat ada di hati, tetapi untuk sahnya niat dalam ibadah itu disyaratkan empat hal, yaitu Islam, berakal sehat (tamyiz), mengetahui sesuatu yang diniatkan dan tidak ada sesuatu yang merusak niat.  Syarat yang nomor tiga (mengetahui sesuatu yang diniatkan) menjadi tolok ukur tentang diwajibkannya niat. Menurut ulama fiqh, niat diwajibkan dalam dua hal. Pertama, untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan (adat), seperti membedakan orang yang beri’tikaf di masjid dengan orang yang beristirah di masjid. Kedua, untuk membedakan antara suatu ibadah dengan ibadah lainnya, seperti membedakan antara shalat Dzuhur dan shalat ‘Ashar.

Karena melafalkan niat sebelum shalat tidak termasuk dalam dua kategori tersebut tetapi pernah dilakukan Nabi Muhammad dalam ibadah hajinya, maka hukum melafalkan niat adalah sunnah. Imam Ramli mengatakan:

وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ

Disunnahkan melafalkan niat menjelang takbir (shalat) agar mulut dapat membantu (kekhusyu’-an) hati, agar terhindar dari gangguan hati dank arena menghindar dari perbedaan pendapat yang mewajibkan melafalkan niat”. (Nihayatul Muhtaj, juz I,: 437)

Jadi, fungsi melafalkan niat adalah untuk mengingatkan hati agar lebih siap dalam melaksanakan shalat sehingga dapat mendorong pada kekhusyu’an. Karena melafalkan niat sebelum shalat hukumnya sunnah, maka jika dikerjakan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Adapun memfitnah, bertentangan dan perpecahan antar umat Islam karena masalah hukum sunnah adalah menyalahi syri’at Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.

H.M.Cholil Nafis, MA.
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU
Komentar(10 komentar)
Senin, 16/02/2009 19:48
Nama: wibi
Melafalkan Niat dalam Shalat
assalamu alaikum...
sebagai orang awam ane mo tanya....
klo orang baca niat apa udah masuk ke sholat apa belum yaa.. setahu ane belum x yaaa..., kok pd ribut seh... mo baca bismillah aja langsung takbir atau mo garuk2 dulu kan ga knp2 wong blm masuk dlm sholat...knp ribut gitu loh...udah lah yang penting sholatnya... mau atau tidaknya seseorang sholat setelah masuk waktu sholat begitu....apalagi yang wajib...
wassalam...
Sabtu, 14/02/2009 12:38
Nama: kartolo
mari berdoa mohon petunjuk Alloh SWT
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Setiap orang pasti merasa apa yang diyakininya adalah yang paling benar, jangankan kita orang Islam, orang kristen, budha, hindu pun merasa apa yang diyakininya adalah benar. Biarlah orang berkomentar, tidak usah ditanggapi secara berlebihan, sampai menuliskan kata-kata yg tdk sopan, menganggap orang lain ilmunya rendah, dll. Janganlah forum yang mulia ini dijadikan tempat berolok-olok. Marilah kita belajar menghargai pendapat orang lain dan berdo'a mohon petunjuk dari Alloh SWT agar kita bisa menerima kebenaran. Karena kebenaran datangnya hanya dari Alloh SWT.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Ahad, 18/01/2009 02:32
Nama: mahrizal
mesantren saja
buat Gus Nur:

membaca Ushalli dalam Madzhab Syafi'i ada pada "kitab Safinatun Najah "

silahkan dibuka
disitu diterangkan jelas
sebaiknya buat Gus Nur mesantren aja dulu
berguru pada kyai

kalau mau bicara seharusnya hati-hati
Rabu, 26/11/2008 16:33
Nama: aconk82
Ushalli
To gus nur:Lafadz niat itu bertujuan baik untuk memantapkan hati,sesuatu yg bertujuan baik itu ga dilarang dalam agama,walaupun Nabi SAW tidak pernah mengajarkan ushalli...tapi beliau jg ga pernah ngelarang kita ngucapin ushalli kan?kalau ada larangan mengucap ushalli sebelum sholat tunjukkan dalilnya.....
Jumat, 17/10/2008 16:56
Nama: hanif
kalo
Cocok ama mas Nur :
Wong NU !! nii jadinya kalo umat berselisih di giring ke 4 Madzab coba kLo sampean kabeh kembali Kitabullah & As Sunnah pasti ngga akan ribut 2 dan bisa bertemu/duduk/membangun umat bersama Muhammadiyah/Persis/Ir Syad ..kembali pada niat adalah perbuatan hati tidak ada yang tahu kecuali Tuhan & yg punya niat lantas jika perbuatn hati orang lain bisa tau itu siih bukan niat lagi... udah katanya bermadzab tapi pakenya milih milih yg kira kira dapet dukungan dari jama'ahnya. maaf yee
Kamis, 04/09/2008 17:12
Nama: denbei
Niat di Kifayatul Akhyar
Al-Imam Taqiyudin Abubakar bin Muhammad al-Husaini al-Hisni asy-Syafi’i v, seorang ulama besar madzhab Syafi’i, di dalam Kifayatul Akhyar berkata,”
(وَفَرَائِضُ الصَّوْمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: النِّيَةُ وَالإِمْسَاكُ عَنِ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالجِْمَاعِ) لا يصح الصوم إلا بالنية للخبر، ومحلها القلب، ولا يشترط النطق بها بلا خلاف
“Dan kewajiban-kewajiban orang yang akan berpuasa ada lima: niat, menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh. Dan tidak sah puasa kecuali dengan disertai niat, berdasarkan hadits-hadits yang shahih. Niat letaknya di dalam hati dan tidak disyaratkan untuk dilafazhkan dengan lisan, tanpa ada khilaf di kalangan para ulama.” ( Kifayatul Akhyar : Kitab Shiyam)
Kamis, 04/09/2008 12:10
Nama: indah
Niat
Imam Asy-Syafi’i v: “Tidak sah seseorang berwudhu tanpa niat dan seseorang cukup dikatakan berniat bila ia melakukan wudhu’. (Al-Umm : Kitab Thaharah : Bab Kadar Air Berwudhu’) ”Niat tidak bisa gantikan takbir dan tidak sah niat itu kecuali dilakukan bersamaan dengan takbir. Tidak mendahului takbir dan tidak pula setelahnya” (Al-Umm : Kitab Shalat : Bab Niat dalam Shalat ) Jadi tidak mungkin melafazhkan niat jika harus bersamaan dengan bertakbir.
“Kewajiban orang puasa ada 5: niat, menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh. Tidak sah puasa kecuali dengan niat, berdasarkan hadits. Niat letaknya di dalam hati dan tidak disyaratkan untuk dilafazhkan dengan lisan, tanpa ada khilaf di kalangan ulama.” ( Kifayatul Akhyar : Kitab Shiyam)
“Rukun shalat itu ada 18 : Niat, yaitu memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatan. Tempat niat itu di dalam hati.” (Fathul Qarib : Kitab Ahkamus Shalat)
Jika lafazh niat itu ada dari Nabi b pasti telah ada pada kitab mereka.
Senin, 04/08/2008 08:28
Nama: Agus Abdul Hakim
Gus Nur
Wahabi..wahabi..tau ngga generasi wahabi adalah dimana kelompok yang pada jaman Nabi kelompok terbelakang, dan pada jaman Keemasan Islam merupakan kelompok yang paling sedikit menghaslkan Pemikir2 Islam, mana ada pada jaman keemasan datang dari kelompok2 puritan....ya seperti Gus Nur ini yang bari belajar Basmalah sama ustadz jenggotan langsung koar2, mana ngeri Gus Nur ini tentang sosoiolgi Dakwah? mana mungkin kaku mekuku
Selasa, 08/07/2008 19:14
Nama: Rido
podo tiru2ne
bojo siji, moco buku qur'an lan hadis bid'ah ? (alasane teknis?), lha wong ra pernah ngerti yo ngono, kabeh dewe ming tiru2 too,,, yen gak sepaham yo ora opo, sing ora apik kuwi nuduh wong liyo sesat/bid'ah, ngko nyesel. sampeyan yo tiru2 aku yo tiru2 seko guru, kitab, buku dll.., opo entuk ilmu seko ngimpi..?
Selasa, 08/07/2008 18:59
Nama: Rido
niat kapan
kanggo sing gak setuju usholli..., kapan sampean niat sholat, persis bareng mbek takbir opo ndek ngarepe takbir misal teko umah karo mlaku nuju mesjid opo ndek mburine takbir? Yen maslah usholli pasti sampeyan gak setuju, yo wis gak opo.
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefAgustus 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::