Sabtu, 01 November 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Berdzikir dengan Pengeras Suara
Selasa, 04/03/2008 21:05
Dzikir adalah perintah Allah SWT yang harus kita laksanakan setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Allah selalu mendengar apapun yang kita ucapkan oleh mulut atau hati kita. Dzikir merupakan salah satu sarana komunikasi antara makhluk dengan khaliqnya. Dengan berdzikir seseorang dapat meraih ketenangan, karena pada saat berdzikir ia telah menemukan tempat berlindung dan kepasrahan total kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, dzikir harus dilaksanakan dengan sepenuh hati, jiwa yang tulus, dan hati yang khusyu' penuh khidmat. Untuk bisa berdzikir dengan hati yang khusyu' itu diperlukan perjuangan yang tidak ringan, masing-masing orang memiliki cara tersendiri. Bisa jadi satu orang lebih khusyu' kalau berdzikir dengan cara duduk menghadap kiblat, sementara yang lain akan lebih khusyu' dan khidmat jika wirid dzikir dengan cara berdiri atau berjalan, ada pula dengan cara mengeraskan dzikir atau dengan cara dzikir pelan dan hampir tidak bersuara untuk mendatangkan konsentrasi dan ke-khusyu'-an. Maka cara dzikir yang lebih utama adalah melakukan dzikir pada suasana dan cara yang dapat medatangkan ke-khusyu’-an.

Imam Zainuddin al-Malibari menegaskan: “Disunnahkan berzikir dan berdoa secara pelan seusai shalat. Maksudnya, hukumnya sunnah membaca dzikir dan doa secara pelan bagi orang yang shalat sendirian, berjema’ah, imam yang tidak bermaksud mengajarkannya dan tidak bermaksud pula untuk memperdengarkan doanya supaya diamini mereka." (Fathul Mu’in: 24). Berarti kalau berdzikir dan berdoa untuk mengajar dan membimbing jama’ah maka hukumnya boleh mengeraskan suara dzikir dan doa.

Memang ada banyak hadits yang menjelaskan keutamaan mengeraskan bacaan dzikir, sebagaimana juga banyak sabda Nabi SAW yang menganjurkan untuk berdzikir dengan suara yang pelan. Namun sebenarnya hadits itu tidak bertentangan, karena masing-masing memiliki tempatnya sendiri-sendiri. Yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Contoh hadits yang menganjurkan untuk mengeraskan dzikir riwayat Ibnu Abbas berikut ini: "Aku mengetahui dan mendengarnya (berdzikir dan berdoa dengan suara keras) apabila mereka selesai melaksanakan shalat dan hendak meninggalkan masjid.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Adra’ berkata: "Pernah Saya berjalan bersama Rasulullah SAW lalu bertemu dengan seorang laki-laki di Masjid yang sedang mengeraskan suaranya untuk berdzikir. Saya berkata, wahai Rasulullah mungkin dia (melakukan itu) dalam keadaan riya'. Rasulullah SAW menjawab: "Tidak, tapi dia sedang mencari ketenangan."

Hadits lainnya justru menjelaskan keutamaan berdzikir secara pelan. Sa'd bin Malik meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, "Keutamaan dzikir adalah yang pelan (sirr), dan sebaik rizki adalah sesuatu yang mencukupi." Bagaimana menyikapi dua hadits yang seakan-akan kontradiktif itu. berikut penjelasan Imam Nawawi:

وَقَدْ جَمَعَ النَّوَوِيُّ بَيْنَ الأَحَادِيْثِ الوَارِدَةِ فِيْ اسْتِحْبَابِ الجَهْرِ بِالذِّكْرِ وَالوَارِدَةِ فِيْ اسْتِحْبَابِ الإِسْرَارِ بِهِ بِأَنَّ الإِخْفَاءَ أَفْضَلُ حَيْثُ خَافَ الرِّياَءَ أَوْتَأَذَّى المُصَلُّوْنَ أَوْالنَّائِمُوْنَ. وَالجَهْرُ أَفْضَلُ فِيْ غَيْرِ ذَالِكَ لِأَنَّ العَمَلَ فِيْهِ أَكْثَرُ وَلِأَنََّ فَائِدَتَهُ تَتَعَدَّى إِلَى السَّامِعِيْنَ وَلِأَنَّهُ يُوْقِظُ قَلْبَ الذَّاكِرِ وَيَجْمَعُ هَمَّهُ إِلَى الفِكْرِ وَيُصَرِّفُ سَمْعَهُ إِلَيْهِ وَيُطَرِّدُ النَّوْمَ"

“Imam Nawawi menkompromikan (al jam’u wat taufiq) antara dua hadits yang mensunnahkan mengeraskan suara dzikir dan hadist yang mensunnahkan memelankan suara dzikir tersebut, bahwa memelankan dzikir itu lebih utama sekiranya ada kekhawatiran akan riya', mengganggu orang yang shalat atau orang tidur, dan mengeraskan dzikir lebih utama jika lebih banyak mendatangkan manfaat seperti agar kumandang dzikir itu bisa sampai kepada orang yang ingin mendengar, dapat mengingatkan hati orang yang lalai, terus merenungkan dan menghayati dzikir, mengkonsentrasikan pendengaran jama’ah, menghilangkan ngantuk serta menambah semangat." (Ruhul Bayan, Juz III: h. 306).

Kesimpulannya, bahwa dzikir itu tidak mesti harus dengan suara keras atau pelan tetapi tergantung kepada situasi dan kondisi; jika dalam kondisi ingin mengajarkan, membimbing dan menambah ke-khusyu’-an maka mengeraskan suara dzikir itu hukumnya sunnah dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Bahkan dalam beberapa keadaan sangat dianjurkan untuk mengeraskan dzikir.

Namun disunnahkan memelankan suara dzikir jika sekiranya mengeraskan suara dzikir dapat menggangu ke-khusyu’-an diri sendiri dan orang lain, mengganggu orang orang tidur dan menyebabkan hati riya’. Bagi kita umat muslim hendaklah menghindari mengeraskan suara dzikir yang dapat mengganggu kenyamanan dan ketenangan masyarakat. Wallahu a’lam bis shawab.

H.M.Cholil Nafis, MA.
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU
Komentar(10 komentar)
Sabtu, 05/11/2011 21:00
Nama: Ari Wicaksono
hukum berdzikir suara keras
bagaimana akhirnya, berdzikir dengan suara keras?
Selasa, 24/08/2010 11:29
Nama: jahid
kelebutan
saudara2ku seiman janganlah hawa nafsu memimpin tp marilah jadikan nafsu dibawah kekuasaan kita, saling debat kusir karena perbedaan yang tidak pokok danmenyebabkan kegundahan hati adalah bid'ah, marilah kita saling menghormati satu sama lain ndak usah kita menganggap yang paling benar, pelihara ukhuwah, terus mengaji agar kita lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan. Semoga Allah memerikan kelembutan pada hati kita semuanya. Amin
Rabu, 21/10/2009 13:00
Nama: nano
aku bingung
aku heran...knapa banyaknya mahasiswa yg kuliah di madinah achir2 ini,membuat umat Islam indonesia smakin sentimen....,mbok iya sapaikan dakwahmu scara lembut,bijaksana...jgn mudah mengkafirkan orang,mem bid ahkan smua amalan orang N U....,jgn kaku...sehingga membuat mngambang orang spt aku ini...,
Kamis, 05/03/2009 07:49
Nama: setanjail
harus sopan
Rekan-rekan pengamal dzikir, saya berharap dalam mengomentari setiap tanggapan, tidak harus provokativ, melainkan dengan bahasa yang santun, dan tidak terkesan menyalahkan yang lain, lakum dinukum waliyadin, jadi kalau memang pendapat kita berlainan dan setelahnya marah saya rasa bukan di forum ini tempatnya, karena perbedaan adalah rahmat,mungkin kalau tunjuk hidung ya,,,kalimat yang memojokkan gus nur karena beda pendapatnya, karena yang menyalahkan orang lain juga belum tentu ilmunya lebih tinggi, ibarat orang buta masuk ke hutan dan disuruh menjelaskan bagaimana gajah?orang buta1 mengatakan gajah itu tipis dan lebar, yang ke2 panjang dan ada rambutnya, yang3 bulat dan agak panjang, dan yang4 agak lembek dan bau banget, padahal yang dimaksud gajah tidak itu semua, tapi satu kesatuan.ya ada belalai,ekor,kaki,tai nya juga, tapi kalo mereka jawabanya sudah tidak sesuai tapi juga menyalahkan yang lain kan tidak bagus juga, hanya Allah yang Maha tahu.
Selasa, 17/02/2009 01:46
Nama: ibnu ridwan
dzikir
sy spndapt dgn ms tri,tapi slm umat islam di peluk org2 yg sok paling ngerti islam,org yg brbeda pndpt dgnnya dianggap syirik dan kafir,d jamin deh islam gk akan damai.drpd ngributin dzikir jhr atau sirr lbh baik pkrkan tuh sdr2 seiman yg mskin n lom bs mengeyam pndidikan.
Ahad, 25/01/2009 17:56
Nama: zainul arifin
dzikir jahr
Allah tidak membebankan kepada manusia. melakukan segala sesuatu atas kemampuan dirinya. selagi tetap berpegang dengan al-Qur'an atau al-hadits. mohon dengan sangat bagi yang tidak berkenan dengan dalil-dalil diatas, jangan sampai kita saling menjelekkan. hargai pendapat orang. rubrik Nu online sudah memaparkan dalil yang benar. bagi yang tidak suka jangan menyalahkan.
jangankan kita saling menyalahkan orang lain, belum tentu yang kita salahkan itu lebih jelek dari yang berkomentar.
Senin, 12/01/2009 17:44
Nama: setanjail
wirid
kalo musti sirr...jadi mending mikrofon yang ada di masjid masjid itu di lelang saja, kalo niatnya syiar apa salahnya????dan saya melihatnya sebenarnya implementasinya, mungkin saudara-saudara juga pernah membaca kisah sufi jalaludin rumy seperti apa. kalo kita masih berdebat antara sirr dan gak sirr, tar kayak sholat subuh pake qunut dan gak pake qunut, kalo saya melihatnya dari tujuan dan essensinya, toh dr jaman nabi juga gak ada dakwah pake gamelan atopun wayang kulit, asal ada dasarnya dan anda semua meyakini hal itu jalani saja, kan dalam al quran disebutkan juga bahwa Allah Pasti tahu apa yang ada di hati hambanya, dalam satu ayat juga disebutkan ud 'u ila sabili robbika bil hikmah wa mauidhotil hasanah, saya berharap semuanya bisa mengerti hal itu, matur sembah nuwun juga ke gus nur, yang termasuk tokoh yang secara pribadi saya kagumi, kalo kita yakin bahwa keringat, suara ataupun gerak tubuh kita akan ada bobot pahalanya, kenapa tidak digunakan untuk mengingat Allah????
Rabu, 31/12/2008 13:45
Nama: moslem jawa
serahkan segalanya pada allah
mengeraskan suara dzikir yang bertujuan untuk mengajari makmum itu baik!!!
dzikir dengar melirihkan suara agar tidak mengangu makmum lain itu juga baik!!!
apa yang tidak baik ???
orang yang terbiasa mengeraskan suara dzikirnya lalu jengkel melihat orang yang melirihkan suara dzikirnya
begitupun sebaliknya orang yang biasa melirihkan suara dzikirnya jengkel melihat orang yang mengeraskan suara dzikirnya
akhirnya rasa jengkel itu yang membuatnya tidak khusuk!!!
apa yang baik ????
dzikir dengan khusuk dan merendahkan diri di hadapan allah.
jika hati sudah khusuk suasana ramaipun akan terasa hening.
benahi hati kita dan jangan saling menyalahkan.



Allah lah yang maha tau segala kebenaran.







Sabtu, 27/12/2008 15:10
Nama: Thiqul
fadhil bersalam
Dzikir dg keras adakalanya digunakan agar yang hadir ikut terhanyut sehingga fikiran bisa larut dlm dzikir. Dzikir dengan pelan dlm hati agar konsentrasi pada hati or titik lathif dlm diri kita. Pelan Alloh juga dengar. keras Alloh juga Gak Grebegan. yang jadi masalah kita yang komentar dzikir apa tidak? kita menulis agar kita berkasihsayang apa utk menghancurkan org lain?
Sabtu, 05/07/2008 20:15
Nama: habib mustofa
Allah menciptakan perbedaan
Perbedaan penafsiran Al - Qur'an dan Hadits sangat mustahil dihindari. Ndak ada yang salah, jika ada orang amalanya berbeda. Yang salah adalah orang yang punya keyakinan amalan "A" itu benar tapi malah melakukan amalan "B" yang tidak ia yakini kebenarannya. Perbedaan sudut pandang dan pemahaman terjadi karena perbedaan penguasaan ilmu yang dimiliki, perbedaan latar belakang, perbedaan lingkungan, sosial ekonomi dan banyak sebab lainya. Kalau ada yang beda kenapa kita protes.... Para ulama besar pelopor madhab fiqih aja ndak protes ketika ada pendapat yang berbeda dengan pendapatnya. Lha kita kok geger hanya masalah suara dzikir. Menghabiskan energi sia - sia tak ada manfaatnya. Kita pake adab yang diajarkan Imam Syafi'i aja "Meyakini bahwa pendapatnya yang paling benar tetapi mungkin salah dan pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.". Jangan taasub/fanatis dengan pendapat kelompok kita.
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefNovember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
::::Ikuti siaran lagsung Munas-Konbes NU 2014 di radio.nu.or.id :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::