Senin, 21 April 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Berdzikir dengan Pengeras Suara
Selasa, 04/03/2008 21:05
Dzikir adalah perintah Allah SWT yang harus kita laksanakan setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Allah selalu mendengar apapun yang kita ucapkan oleh mulut atau hati kita. Dzikir merupakan salah satu sarana komunikasi antara makhluk dengan khaliqnya. Dengan berdzikir seseorang dapat meraih ketenangan, karena pada saat berdzikir ia telah menemukan tempat berlindung dan kepasrahan total kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, dzikir harus dilaksanakan dengan sepenuh hati, jiwa yang tulus, dan hati yang khusyu' penuh khidmat. Untuk bisa berdzikir dengan hati yang khusyu' itu diperlukan perjuangan yang tidak ringan, masing-masing orang memiliki cara tersendiri. Bisa jadi satu orang lebih khusyu' kalau berdzikir dengan cara duduk menghadap kiblat, sementara yang lain akan lebih khusyu' dan khidmat jika wirid dzikir dengan cara berdiri atau berjalan, ada pula dengan cara mengeraskan dzikir atau dengan cara dzikir pelan dan hampir tidak bersuara untuk mendatangkan konsentrasi dan ke-khusyu'-an. Maka cara dzikir yang lebih utama adalah melakukan dzikir pada suasana dan cara yang dapat medatangkan ke-khusyu’-an.

Imam Zainuddin al-Malibari menegaskan: “Disunnahkan berzikir dan berdoa secara pelan seusai shalat. Maksudnya, hukumnya sunnah membaca dzikir dan doa secara pelan bagi orang yang shalat sendirian, berjema’ah, imam yang tidak bermaksud mengajarkannya dan tidak bermaksud pula untuk memperdengarkan doanya supaya diamini mereka." (Fathul Mu’in: 24). Berarti kalau berdzikir dan berdoa untuk mengajar dan membimbing jama’ah maka hukumnya boleh mengeraskan suara dzikir dan doa.

Memang ada banyak hadits yang menjelaskan keutamaan mengeraskan bacaan dzikir, sebagaimana juga banyak sabda Nabi SAW yang menganjurkan untuk berdzikir dengan suara yang pelan. Namun sebenarnya hadits itu tidak bertentangan, karena masing-masing memiliki tempatnya sendiri-sendiri. Yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Contoh hadits yang menganjurkan untuk mengeraskan dzikir riwayat Ibnu Abbas berikut ini: "Aku mengetahui dan mendengarnya (berdzikir dan berdoa dengan suara keras) apabila mereka selesai melaksanakan shalat dan hendak meninggalkan masjid.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Adra’ berkata: "Pernah Saya berjalan bersama Rasulullah SAW lalu bertemu dengan seorang laki-laki di Masjid yang sedang mengeraskan suaranya untuk berdzikir. Saya berkata, wahai Rasulullah mungkin dia (melakukan itu) dalam keadaan riya'. Rasulullah SAW menjawab: "Tidak, tapi dia sedang mencari ketenangan."

Hadits lainnya justru menjelaskan keutamaan berdzikir secara pelan. Sa'd bin Malik meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, "Keutamaan dzikir adalah yang pelan (sirr), dan sebaik rizki adalah sesuatu yang mencukupi." Bagaimana menyikapi dua hadits yang seakan-akan kontradiktif itu. berikut penjelasan Imam Nawawi:

وَقَدْ جَمَعَ النَّوَوِيُّ بَيْنَ الأَحَادِيْثِ الوَارِدَةِ فِيْ اسْتِحْبَابِ الجَهْرِ بِالذِّكْرِ وَالوَارِدَةِ فِيْ اسْتِحْبَابِ الإِسْرَارِ بِهِ بِأَنَّ الإِخْفَاءَ أَفْضَلُ حَيْثُ خَافَ الرِّياَءَ أَوْتَأَذَّى المُصَلُّوْنَ أَوْالنَّائِمُوْنَ. وَالجَهْرُ أَفْضَلُ فِيْ غَيْرِ ذَالِكَ لِأَنَّ العَمَلَ فِيْهِ أَكْثَرُ وَلِأَنََّ فَائِدَتَهُ تَتَعَدَّى إِلَى السَّامِعِيْنَ وَلِأَنَّهُ يُوْقِظُ قَلْبَ الذَّاكِرِ وَيَجْمَعُ هَمَّهُ إِلَى الفِكْرِ وَيُصَرِّفُ سَمْعَهُ إِلَيْهِ وَيُطَرِّدُ النَّوْمَ"

“Imam Nawawi menkompromikan (al jam’u wat taufiq) antara dua hadits yang mensunnahkan mengeraskan suara dzikir dan hadist yang mensunnahkan memelankan suara dzikir tersebut, bahwa memelankan dzikir itu lebih utama sekiranya ada kekhawatiran akan riya', mengganggu orang yang shalat atau orang tidur, dan mengeraskan dzikir lebih utama jika lebih banyak mendatangkan manfaat seperti agar kumandang dzikir itu bisa sampai kepada orang yang ingin mendengar, dapat mengingatkan hati orang yang lalai, terus merenungkan dan menghayati dzikir, mengkonsentrasikan pendengaran jama’ah, menghilangkan ngantuk serta menambah semangat." (Ruhul Bayan, Juz III: h. 306).

Kesimpulannya, bahwa dzikir itu tidak mesti harus dengan suara keras atau pelan tetapi tergantung kepada situasi dan kondisi; jika dalam kondisi ingin mengajarkan, membimbing dan menambah ke-khusyu’-an maka mengeraskan suara dzikir itu hukumnya sunnah dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Bahkan dalam beberapa keadaan sangat dianjurkan untuk mengeraskan dzikir.

Namun disunnahkan memelankan suara dzikir jika sekiranya mengeraskan suara dzikir dapat menggangu ke-khusyu’-an diri sendiri dan orang lain, mengganggu orang orang tidur dan menyebabkan hati riya’. Bagi kita umat muslim hendaklah menghindari mengeraskan suara dzikir yang dapat mengganggu kenyamanan dan ketenangan masyarakat. Wallahu a’lam bis shawab.

H.M.Cholil Nafis, MA.
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU
Komentar(10 komentar)
Kamis, 08/05/2008 17:43
Nama: basudewa
Berdzikir dengan Pengeras Suara
SETAHU SAYA YANG TERGANGGU DENGAN SUARA ORANG YANG SEDANG BERDZIKIR ATAU MEMBACA AL-QURAN HANYALAH SYAITON.
Mari kita instrospeksi diri sejauh mana realisasi kita dalam mencontoh rosulullah dalam beribadah kepada Allah, apakah wudhu kita,shalat kita,puasa kita sudah persis seperti Rosullullah?? Lebih baik tidak menyalahkan orang lain karena saat kita memfonis salah kepada rang lain saat itu juga kita mengatakan "aku yang benar", ini lekat dengan sifat sombong....
Jumat, 25/04/2008 01:16
Nama: m. thoyib
kembali ke alqur'an dan al hadis
Hendahnya kita jangan berargumen menurut kehenda hati marilah kita berpegang kepada al qur'qn dan alsunnah
Selasa, 08/04/2008 15:09
Nama: faisol
dzikir...
saudara2ku yg tdk suka dzikir dgn suara keras,

terima kasih atas kritik2 sampean... hal ini akan lebih membuat kami warga NU mengaji lebih dalam lagi, serta lebih kritis menjadi seorang santri...

krn kurangnya ilmu saya, mohon pertanyaan2 saya ini dijawab bg yg anti dzikir dgn suara keras :
1. SHALAT termasuk DZIKIR (wa aqimish shalaata LIDZIKRII)
Menurut Imam Abu Hanifah, bacaan AMIN stlh Fatihah -> dibaca sirri... Apakah sampean semua juga membacanya scr sirri...?
2. Doa2 yg disampaikan oleh para khatib Jum'at, khatib Hari Raya dan da'i ketika ceramah -> KOQ MENGGUNAKAN PENGERAS SUARA...? Apa tdk seharusnya berdoa sendiri2 dgn sirri...?

terima kasih saya haturkan atas pencerahannya..
Senin, 17/03/2008 14:22
Nama: wiyanto
ahlan
gusnur, ente kok pake titel " Gus " ngawur aja, itukan panggilan wong NU, ente wahabi ya? ene perhatiin tulisan ente nyela mulu percis kaya Hakim abdat dan yazid jawaz di jakarta. dalam alquran zikir boleh pelan maupun keras, jelas dan gamlang jika zikir tuk mengajarkan tak mengapa ! gitu aja kok repot
Ahad, 16/03/2008 16:13
Nama: TRIHARJIANTO
berdzikir dng pengeras suara
saudaraku seiman seagama semuanya, ingat iblis akan bertepuk tangan tanda kemenangan jika kita bertengkar bermusuhan, berarti upaya iblis berhasil menyeret kita anak cucu Adam As ke dalam golonganya...istighfar dan mempererat ukuwah islamiah lebih baik dari sikap yg berkembang diantara kita saat ini.
Sabtu, 15/03/2008 22:53
Nama: budi
semangat mas gus nur
q ngrasa kurang begitu paham juga dengan orang2 yang mendukung tentang doe dengan keras.... dasar yang diberikan mas gus-nur kan jelas juga toh.... kalau saudara-saudara sekalian mau lebih terbuka terhadap isllam secara KAFAH, maka dikalangan ulama ndak ada yang pke cara dzikir yang kuenceng2 kayak gtu.... tetap berikan pencerahan mas gus-nur, tenang ajach... yang masih suka ambil resiko ( melakukan ibadah karena dasar suka, bukan dengan nash yang kuat/ melakukan bid'ah-bid'ah semacam itu) ya biarkan saja..... ntar tinggal di lihat saja kok, kalo sunah ya alhamdulillah.... selamat!!!! tapi kalo bener2 bid'ah... ya rasakan sendiri.... yang jelas-jelas sunah kan masih banyak... ya kan saudara ku yanga mau terbuka dengan islam yang sebenarnya, bukan islam ala LIBERALIS. semoga kita selalu diberikan jalan yang lurus....
Sabtu, 15/03/2008 13:01
Nama: Arno
Masjid
Dulu masjid kami sepi sekali karena imamnya adalah sorang kayak siNur (yang suka membid'ahkan orang,& tidak senang kerja bakti,seakan-akan sorga miliknya sendiri),stlh dari pengurus menyelidiki sebabnya,mereka bilang habis solat kok kayak orang bertengkar,langsung pada pergi.Setelah imamnya ganti,dan sekarang habis solat ada dzikir bersama-sama,dan salaman Alhamdulillah sekarang jamaahnya ramai lagi.bisanya cuman 5orang dan orgnya itu-itu saja,skrg 50 orang.dan memang dzikir ini sangat banyak manfaatnya.
Kamis, 13/03/2008 10:17
Nama: el_afsol
dzikir
dzikir scr zahr ba'da sholat menurut saya sangat baik, coz msjd jd rame d samping itu sebagai tanda bahwa shlt berjamaah tlh selesai sebagaimana di rwytka oleh Ibn Abbas. dan Ibn taimiyahpun menjalankan dzikir ba,da sholat secara zahr bersama2 dgn jama'ahnya (baca al-a'lamul'aliyyah fi manaqib ibn taimiyah).
Rabu, 12/03/2008 07:20
Nama: Fanani
Utamakan Akhlak dalam Berpendapat
Sebenarnya Gus Nur merespon pendapat Saudara Slamet H Susanto dengan argumen yang wajar. Akan tetapi, semakin Gus Nur berargumen akan terlihat semakin kurang luas ilmunya (maaf ya Gus Nur). Kurang luas seperti apa maksud saya? Saudara Slamet H Susanto kan beropini tentang wirid yang hukumnya sunah dibenturkan oleh Gus Nur dengan shalat yang hukumnya wajib dan jelas tentang hukum kewajibannya.
Saya baca di beberapa artikel di situs ini, selalu ada Gus Nur yang selalu (hobi) menyinggung nahdliyyin (maaf sekali lagi lho ya Gus), mbok yao, kalimatnya diperhalus...Apa ngga' takut dosa tuh? Yang baca ribuan orang loh.... Terima kasih.
Selasa, 11/03/2008 18:01
Nama: aries
buat Gus nur

den bagus....nur,,
anda ini bagaimana tooh,,kami ini orang -orang yang mengikuti tradisi,,tapi bukan sembarang tradisi kami ikuti jelas kami filter,,mengenai zikir dengan suara keras,,itu maksudnya hanya sebatas untuk memberikan pelajaran...bukankah ubudiah diatas wis jelas dasar-dasarnya,, kami sepakat dengan ubudiah diatas,,kami juga tau berzikir yang bagaimana yang baik,,,apa yang kami sampaikan pada komentar sebelumnya hanya ingin mengajak damai,,,ampun ribut-ribut lagi,,toh semua punya dasar,,maksudku amaliah anda dan amaliah kami mungkin boleh sedikit berbeda tapi jangan sampai perbedaan itu membuat ukhuwah islamiah terpecah,,gitu loh den bagus
tolong jangan di generalisasikan,,tidak semua nahdiyin zdikirnya berkoar-koar seperti yang anda maksud,,saya pikir masih dalam batas kewajaran,,satu hal yang harus diingat tidak semua jamaah di masjid tau dan mengerti cara-cara berzdikir,,jelas beda dengan anda toh yang sudah mengerti bagi kami amal seseorang itu tergantung pada niat
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Space Iklan
305 x 100 Pixel
Agenda
PrefApril 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Maaf transaksi pembelian via web toko.nu.or.id belum bisa beroperasi karena ada sistem yang perlu disempurnakan ::::