Rabu, 26 November 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Memegang Tongkat pada Saat Khutbah
Selasa, 15/04/2008 17:05
Jumhur (mayoritas) ulama fiqh mengatakan bahwa sunnah hukumnya khatib memegang tongkat dengan tangan kirinya pada saat membaca khutbah. Dijelaskan oleh Imam Syafi'i di dalam kitab al-Umm:

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى) بَلَغَنَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ اِعْتَمَدَ عَلَى عَصَى. وَقَدْ قِيْلَ خَطَبَ مُعْتَمِدًا عَلَى عُنْزَةٍ وَعَلَى قَوْسٍ وَكُلُّ ذَالِكَ اِعْتِمَادًا. أَخْبَرَنَا الرَّبِيْعُ قَالَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ أَخْبَرَناَ إِبْرَاهِيْمُ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ يَعْتَمِدُ عَلَى عُنْزَتِهِ اِعْتِمَادًا
t;

Imam Syafi'i RA berkata: Telah sampai kepada kami (berita) bahwa ketika Rasulullah saw berkhuthbah, beliau berpegang pada tongkat. Ada yang mengatakan, beliau berkhutbah dengan memegang tongkat pendek dan anak panah. Semua benda-benda itu dijadikan tempat bertumpu (pegangan). Ar-Rabi' mengabarkan dari Imam Syafi'i dari Ibrahim, dari Laits dari 'Atha', bahwa Rasulullah SAW jika berkhutbah memegang tongkat pendeknya untuk dijadikan pegangan". (al-Umm, juz I, hal 272)

عَنْ شُعَيْبِ بْنِ زُرَيْقٍ الطَائِفِيِّ قَالَ شَهِدْناَ فِيْهَا الجُمْعَةَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصَا أَوْقَوْسٍ

Dari Syu'aib bin Zuraidj at-Tha'ifi ia berkata ''Kami menghadiri shalat jum'at pada suatu tempat bersama Rasulullah SAW. Maka  Beliau berdiri berpegangan pada sebuah tongkat atau busur". (Sunan Abi Dawud hal. 824).

As Shan’ani mengomentari hadits terserbut bahwa hadits itu menjelaskan tentang “sunnahnya khatib memegang pedang atan semacamnya pada waktu menyampaikan khutbahnya”. (Subululus Salam, juz II, hal 59)

فَإِذَا فَرَغَ المُؤَذِّّنُ قَامَ مُقْبِلاً عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ لاَ يَلْتَفِتُ يَمِيْنًا وَلاَشِمَالاً وَيُشْغِلُ يَدَيْهِ بِقَائِمِ السَّيْفِ أَوْ العُنْزَةِ وَالمِنْبَرِ كَيْ لاَ يَعْبَثَ بِهِمَا أَوْ يَضَعَ إِحْدَاهُمَا عَلَى الآخَرِ

Apabila muadzin telah selesai (adzan), maka khatib berdiri menghadap jama' ah dengan wajahnya. Tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan kedua tangannya memegang pedang yang ditegakkan atau tongkat pendek serta (tangan yang satunya memegang) mimbar. Supaya dia tidak mempermainkan kedua tangannya. (Kalau tidak begitu) atau dia menyatukan tangan yang satu dengan yang lain". (Ihya' 'Ulum al-Din, juz I, hal 180)

Hikmah dianjurkannya memegang tongkat adalah untuk mengikat hati (agar lebih konsentrasi) dan agar tidak mempermainkan tangannya. Demikian dalam kitab Subulus Salam, juz II, hal 59).

Jadi, seorang khatib disunnahkan memegang tongkat saat berkhutbah. Tujuannya, selain mengikuti jejak Rasulullah SAW juga agar khatib lebih konsentrasi (khusyu’) dalam membaca khuthbah. Wallahua’lam bishshawab.


H.M.Cholil Nafis, MA.
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PBNU
Komentar(10 komentar)
Ahad, 03/06/2012 09:57
Nama: aBUka Akhuka Hamuka
Fungsi Tongkat
Kalau soal sunnahnya memegang tongkat itu sudah PASTI, karena ada banyak hadits yang menyatakan ihwal Rasul tersebut. Yang masih mau berdebat saya yakin : HANYA MEMPERTAHANKAN EGO DENGAN BERKEDOK KEMBALI KEPADA AL-QUR'AN DAN SUNNAH.Yang kayak gitu...pasti neraka tongkatnya, itu masuk " MAN KADZZABA 'AlAYYA" membohongi nabi bukan dengan membuat hadits palsu, tapi membuat motif palsu...na'udzubillah. Untuk yang yakin bahwa memegang tongkat itu sunnah, sudah tahu kan FUNGSI LAIN dari tongkat itu ?? fungsinya adalah untuk DIPUKULKAN KE DAHI ORANG-ORANG YANG MEMBOHONGI NABI...patok ka cetakkah ma' le ancor, mon parloh jujjuagi ka colo'en se ngocak bid'ah maloloh jiyeh
Jumat, 24/07/2009 17:59
Nama: A Singgih S
mBok Jangan Eker2an
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim...... mbok ya jgn bertengkar, ngurusi bid'ah-khilafiah rasanya nggak ada habisnya. Eeee mbok ayo kita membantu saudara2 kita yang msh berada dalam kemiskinan dengan program yang nyata......zakat, shadaqah, atau lainnya. Buanyak sekali, bahkan tak terbatas, ladang untuk bertanam-berdagang dengan Allah. Beberapa organisasi "pendanaan Islam" ternyata belum bisa menyentuh semua muslim yang memerlukan bantuan, krn mereka masih sibuk dengan jamaahnya sendiri. Sementara yang "abangan" ndak tahu harus lari ke "imam" yang mana. Sebagian saudara2 kita yang abangan dan miskin membutuhkan bantuan nyata, tidak cuma didakwahi doang, apalagi lihat "eker2an". Nggak patut dicontoh. Yo wis lah ayo sing NU yo menggunakan cara NU, yang lainnya ya pakai cara masing2. Ora usah engkel2an, ora apik!!!
Jumat, 09/01/2009 18:55
Nama: fulan bin fulan
buat semua
menyalahkan pendapat itu sampai gus nur mampu memebrikan dalil yg tepat yg menyatakan bahwa pendapat itu salah dengan hadist yg benar2 berhubungan dengan hadist itu, jgn hanya berpatokan pada dalil bahwa apa yg tidak dilakukan nabi itu adalah bid'ah. jika kita berpendapat bahwa khotib sunnah bertongkat saat khutbah, jika salah, tunjukkan pada kami dalil dengan referensi yg jelas bahwa membawa tongkat itu tidak boleh atau bid'ah. sama dengan pendapat2 kami yg lain tentang amaliah, jika mengcounter, sebutkan dalil dengan referensi yg jelas bahwa pendapat kami itu salah. karena kita juga selalu memberikan dalil dengan referensi yg jelas tentang semua hal yg menurut pendapat kami benar.
untuk semua : mohon kita bisa memberikan pendapat yg santun, walau bagaimanapun, gus nur atau yg lainnya juga saudara kita sesama muslim. jgn saling mengolok, dan jgn menganggap pendapat kita paling benar. hargai pendapat yg lain. KARENA PERBEDAAN ADALAH RAHMAT.
Kamis, 16/10/2008 14:32
Nama: hanif
HANIF
ass.Menilai sesuatu bukan di ukur dari lamanya belajar banyak kok kyai yang keblinger buktinya ada seorang kyai yang seneng bela agama kafir /bela porno aksi/aliran sesat /bela yahudi ketimbang umatnya jadi lama belajar/mondok bukan ukuran menjadi benar
Kamis, 28/08/2008 18:23
Nama: Aeng
menulis
Saya sangat setuju dengan mas isfhani, di NU itu sangat ditekan kan sekali adab seorang pelajar terhadap guru, kitab, dan hal lain yang berkaitan dengan ilmu, itu semua bukan untuk mengkultuskan tapi untuk mengharapkan ilmu yg bermanfaat dari Alloh. biarlah orang-orang itu menghujat NU, emas akan tetap emas.
Selasa, 27/05/2008 13:26
Nama: imron
Memegang Tongkat pada Saat Khutbah
pernah waktu SMA, sy debat masalah amaliah NU dengan rohis sekolah, debat terjadi abis2an sampe2 kitab2 nya pun sy bawa. yang sy kehendaki sih biar dia ada sedikit kelunakan dalam memahami amaliah NU sekaligus tau dasar pengerjaanya. eh, ampe otot leher mau keluar, kalimat terahir yang dikeluarkan rohis sekolah itu adalah "ya pokoknya begitu, itu ajaran rosul". padahal dia klo solat make celana, t4 khotbah jumat make podium gk bw tongkat lagi....
di kampus juga gt....aih gmn yak cara enak mempopulerkan/mengetren kan NU ke kalangan sekolah or kampus yang dah terlanjur banyak orang2 nyang kyk gt. minta tanggapanya deh?
matur suwun...
nah untuk gus nur n pren sendiri ikut forum diskusi ini benernya untuk apa? dikasih dalil- ngeles.
ya maksudnya sih dewasa aja, lana a'maluna walakum a'malukum.
wallahu a'lam.
Sabtu, 24/05/2008 21:13
Nama: muhamad akbar ramadhan
khotbah jum'at membawa tongkat
apakah ada hadist lain yang menerangkan alasan Rasullulloh SAW.membawa tongkat atau busur pada khutbah jum'at
Selasa, 20/05/2008 02:49
Nama: RAMA
Gus Nur & Abu_Rey, pake nama Arab bukan ukuran keIslaman seseorang
Assalam. wr wb.
Mmg benar, kita selayaknya mengikuti Qur'an & Hadist. tapi jangan di telan mentah2.klo mengikuti Qur'an & Hadist, brati harus memahaminya. Utk memahaminya, memerlukan ilmu. Ilmu itu kita cari dari para Kyai,itu sebutan orang jawa tuk memuliakan alim ulama.Lha kalo asal belajar sj tanpa ada gurunya ya bahaya,akhirnya menafsirkan sendiri asal2an, ya merusak itu namanya.Jd klo ada orang bilang, gak perlu menghormati Kyai, itu keblinger,itu wong gak ngerti sejarah, ra ngerti tata krama, murang tata kuwi jenenge. seperti ujar ini : "lagake kaya jendral jebule mung kopral".Ustadz itu kan istilah dlm bahasa arab, artinya:guru.Lha klo orang Indonesia misalnya pake istilah Kyai ya gpp ta, yg lbh penting itu kan hakikatnya, bhw beliau adl sumber ilmu.Klo pake bhs jawa ya wajar, wong orang jawa.klo orang banjar ya pake bhs banjar. Wah, Gus Nur sama si Abu_Rey itu kok picik ya cara berpikirnya. (mhn maaf)
Sdhlah jgn terbiasa tuk mencaci pemahaman kelompok lain.hargailah.mhn maaf
Sabtu, 17/05/2008 21:10
Nama: Bjnjtm
Ora bar2
Ass,
Kok heran ya, sudah tahu semua kalau masalah madzah ga bakal selesai sampai kiamat, masih diributin. Sekarang yang jelas 2 banyak muslim yang belum sholat, kenapa itu kok didiemin.
Urus itu.
Sabtu, 17/05/2008 19:59
Nama: Jimmy
Bersatulah semua
To : Semua
Sorry gue mau cerita dikit.
Sejak SMP s/d SMA gue sekolah di Perg. Wahabi. dan disana gue dapat pelajaran tentang wahabi yang intinya rata-2 guruku menjelek-jelekkan amalan NU dampaknya gue tidak bisa qunut dan menjauhi amalan yang kata mereka tidak boleh. Setelah gue lulus SMA apa yang pernah gue dapat, gue tanyakan ke temen-2 alumni pondok dan ternyata mendapat jawaban yang santun dan didasari dengan bukti-2 kuat yang bersumber dari Qur'an dan Hadist n gue tidak langsung percaya tp gue harus cari sumber yang lain termasuk guru Sekolah gue.. terus dan terus dengan berbagai pertimbangan akhir gue n keluarga mengamalkan apa yang gue nyakini bermanfaat dunia akhirat.
Ma'af ceritanya begitu sampai gue menemukan situs ini untuk belajar lainnya..
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 269 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefNovember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::