Kamis, 17 April 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Adzan untuk Bayi yang Baru Dilahirkan
Selasa, 20/05/2008 19:27
Anak merupakan karunia yang diberikan Allah SWT kepada sebuah keluarga. Namun anak juga merupakan amanah yang mesti dijaga, dirawat serta dididik oleh kedua orang tuanya. Mendidik anak sudah harus dimulai sebelum anak itu lahir kedunia, tidak hanya dilakukan setelah ia besar.

Salah satu bentuk pendidikan terhadap anak yang sering dilakukan dalam tradisi masyarakat kita adalah membacakan adzan dan iqamah ketika anak tersebut baru saja dilahirkan. Bagaimana hukumnya melakukan hal tersebut? Apakah pernah diajarkan Rasulullah SAW?

Para ulama sepakat bahwa sunnah hukumnya mengumandangkan adzan dan iqamah pada saat seorang bayi terlahir ke dunia.

Dalam Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, juz I, hal 61 dinyatakan bahwa adzan juga disunnahkan untuk perkara selain shalat. Di antaranya adalah adzan di telinga anak yang baru dilahirkan. Seperti halnya sunnnah untuk melakukan iqamah di telinga kirinya.

Kesunnahan ini dapat diketahui dari sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abi Rafi’ :

عَنْ أبِي رَافِعٍ أنَّهُ قَالَ, رَأيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أذَّنَ فِيْ أذُنِ الحُسَيْنِ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ --سنن أبي داود

Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ ia berkata: Aku melihat Rasulullah SAW mengumandangkan Adzan di telinga Husain ketika siti fatimah melahirkannya. (Yakni) dengan Adzan shalat. (HR Abi Dawud).

Lalu tentang fadhilah dan keutamaannya, Sayyid Alawi al-Maliki dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il menyatakan bahwa mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri hukumnya sunnah. Para ulama telah mengamalkan hal tersebut tanpa seorangpun mengingkarinya.

Sayyid Alawi menyatakan, perbuatan itu ada relevansinya untuk mengusir syaitan dari anak yang baru lahir tersebut. Karena syaitan akan lari terbirit-birit ketika mereka mendengar adzan sebagai mana yang keterangan yang ada dalam hadits.

Dengan demikian jelaslah hukun dan fungsi mengumandangkan adzan dan iqamah untuk anak yang bari lahir.


KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Ketua PCNU Jember
Komentar(10 komentar)
Jumat, 11/02/2011 10:24
Nama: Rizal
Perbedaan Pendapat
Saya kurang mendalami agama. Tapi dalam perbedaan pendapat, saya selalu teringat ayat terakhir Surah Al-Kafirun yang kalau ga salah artinya "Untukmu agamamu dan untukku agamaku." dan Sunnah Rosul (saya lupa pastinya) yang intinya adalah "Barang siapa yang menyakiti orang kafir dimmy adalah menyakiti hari rosul."

Nah, kalau Qur'an dan rosul aja udah berpesan seperti itu (tidak menyakiti orang kafir), kenapa kita yang sama2 muslim saling pukul sendiri?
Sabtu, 04/12/2010 14:46
Nama: said zubairi
Wallohu a'lam
"Janganlah memanfaatkan dalil2 Tuhan untuk memperdebatkan keadaan Tuhan,
tetapi buktikan akan keberadaan segala hal adalah karena adanya Tuhan"
Rabu, 17/02/2010 06:23
Nama: djuned
Yakinkah?
Begitu aja kok pada repot... jangan terkungkung pada kebenaran logika mas.. apa anda yakin dengan keiman anda? apa anda yakin dengan amal-amal anda itu sudah pasti benarnya? apa anda yakin dengan keimanan anda SETELAH beribadah? adzan hanyalah proses menuju pada-Nya sobat... Na'udzubilah...
Kamis, 28/01/2010 10:37
Nama: Rosyid
Tambahan komentar
Mas Nur ga konsisten dengan dalilnya, berkelit dengan mengatakan azan awal menjelang subuh tuk persiapan shalat shubuh, lalu mengapa nabi tidak melarang azan awal subuh tersebut kalo azan hanya tuk shalat fardhu, bukannya yang azan awal itu bukan tuk shalat. Nabi itu ruhama banget ama umatnya sehingga tidak menganulir perbuatan sahabatnya tersebut apalagi menyalahkan.
lalu apa dasarnya ngazanin bayi baru lahir dilarang.
Mungkin kita hanya memahami nash islam secara literal sehingga kebutuhan umat islam yang kian komplek tak pernah terjawab oleh umat islam sendiri. islam yang luas kita buat sempit.
Selasa, 08/09/2009 17:01
Nama: dhoif
Ass wr wb
ini semua pengin jadi ahli fiqih ya???
orang masalah fiqih aja di ributin mulu
udah lah fiqih orang beda2 mau ikut fatwa mazhab ini boleh, mau mazhab wahabi boleh...
semuanya boleh
sikap kritis boleh, tapi buang jauh2 sikap sombong...
Jumat, 28/08/2009 11:22
Nama: Abu Rafi'
Perdalam Ilmu Agama
Kontroversi ini mudah-mudahan tidak membuat kita terpecah belah, tapi akan membuat kita terus mendalami ilmu melalui guru dan kitab2 fiqih yang di tulis oleh ulama2 yang sudah diakui kesolehannya. Jangan sampe kita menjadi orang yg taklid, dimana kita tidak pernah tahu sumber ibadah yang kita jalani. Mari kita perdalam ilmu agama kita dengan terus belajar dan belajar.
Senin, 20/07/2009 14:48
Nama: ibadul ghofur
sabar
Doakan saja mereka2 yg tdk suka dgn amaliah2 yg tdk sepaham,mereka2 kan blm tahu,semoga kembali ke jalan yg benar,Allahummahdii qoumii fa innahum laa ya'lamuuun...
Ahad, 28/12/2008 15:43
Nama: Ummi Fayyad
Ketidaktahuan landasan beramal menjadi tanggung jawab tokoh NU
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Betapa banyak orang model "Gus Nur" di negeri ini, dan ironis lagi betapa banyak orang NU yang beramal tanpa tahu dasarnya. Karena itu supaya ortang-orang NU tidak keblinger ikut yang tidak bener, maka sudah seharusnya para pemuka NU khususnya yang ada pada akar rumput bisa mengkomunikasikan. Hati-hati musholla - langgar, surau orang-orang NU mulai dijarah paham yang bertentangan dengan NU
Sabtu, 15/11/2008 18:41
Nama: MUSLIM PEKALONGAN
KOMENTAR

Sekarang kita berfikir jernih...

1. Apa hukum mengadzani bayi, wajib sunnah atau bahkan bid'ah?

2. Kalau kategori wajib jg pernah berdebat sejauh ini, sia-sia belaka

3. Kalau sunnah, klarifikasi sejauhmana kekuatan dalil/hadis-nya...shahih/dhaif. Apabila shahih, kita laksanakan sebagai ahli sunnah. Tapi kalau haditsnya dibawah shahih, ada dua pendapat yg kontroversional kebolehan pengamalannya

4. Kalau ada yg meninggalkan azan bayi, Insya Allah mereka akan menggunakan hadits shahih lain yg terkait dg bayi, spt mendoakan/aqiqah/menamai/mencukur dll, bukan mengganti dg lagu/musik

5. Tapi kalau menggunakan hadits shahih dan hadits lemah/palsu, bahkan tradisi terkait dg kelahiran bayi, apakah bersumber budaya setempat, mitos, dinamisme/animisme/hindu/budha, bahkan menjurus kesyirikan tanpa sepengetahuan dg dalih fadhail amal...ini yg membuat agama rusak dari substansinya

Untuk itu hati-hati beramal ibadah, pegang kuat sunnah dg kepastian hukumnya, bkn yg kontroversi
Ahad, 28/09/2008 02:08
Nama: yasin
Kasihan
Kasihan Gus Nur dkk.

Pembahasan jadi meluas, dari urusan adzan sampai ke urusan ngomentari 'si tukang vonis bid'ah'. Memang, saat ini banyak para 'pemalas' yang nggak mau melakukan ibadah-ibadah sunnah, parahnya malah mereka menilai ini bid'ah yang sesat. Mereka hanya percaya pada buku dan pedoman yang lemah, tak punya sikap arif dan tawadhu' kepada ulama dan waliyullah seperti yang dilakukan para santri. Cara mereka bersambung hati kepada Rasulullah SAW sudah salah. Sungguh kasihan mereka.

Kepada Gus Nur dkk., tolong hentikan sepak terjang Saudara jika memang Anda ingin mengobrak-abrik keyakinan warga NU. Sungguh, kami akan tetap teguh pendirian.
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Space Iklan
305 x 100 Pixel
Agenda
PrefApril 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Maaf transaksi pembelian via web toko.nu.or.id belum bisa beroperasi karena ada sistem yang perlu disempurnakan ::::