Rabu, 27 Agustus 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Memuliakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Senin, 07/02/2011 07:14
Ketika memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi SAW dengan berbagai cara, baik dengan cara yang sederhana maupun dengan cara yang cukup meriah. Pembacaan shalawat, barzanji dan pengajian­pengajian yang mengisahkan sejarah Nabi SAW menghiasi hari-hari bulan itu.

Sekitar lima abad yang lalu, pertanyaan seperti itu juga muncul. Dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849 H - 911 H) menjawab bahwa perayaan Maulid Nabi SAW boleh dilakukan. Sebagaimana dituturkan dalam Al-Hawi lil Fatawi:

"Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara'. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: Menurut saya bahwa asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmnti bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah al-hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka dta dan kegembiraan atas kelahiran Nnbi Muhammad SAW yang mulia". (Al-Hawi lil Fatawi, juz I, hal 251-252)

Jadi, sebetulnya hakikat perayaan Maulid Nabi SAW itu merupakan bentuk pengungkapan rasa senang dan syukur atas terutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini. Yang diwujudkan dengan cara mengumpulkan orang banyak. Lalu diisi dengan pengajian keimanan dan keislaman, mengkaji sejarah dan akhlaq Nabi SAW untuk diteladani. Pengungkapan rasa gembira itu memang dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah SWT :

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوا

Katakanlah (Muhammad), sebab fadhal dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian. (QS Yunus, 58)

Ayat ini, jelas-jelas menyuruh kita umat Islam untuk bergembira dengan adanya rahmat Allah SWT. Sementara Nabi Muhammad SAW adalah rahmat atau anugerah Tuhan kepada manusia yang tiadataranya. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. al-Anbiya',107)

Sesunggunya, perayaan maulid itu sudah ada dan telah lama dilakukan oleh umat Islam. Benihnya sudah ditanam sendiri oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, "Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR Muslim)

Betapa Rasulullah SAW begitu memuliakan hari kelahirannya. Beliau bersyukur kepada Allah SWT pada hari tersebut atas karunia Tuhan yang telah menyebabkan keberadaannya. Rasa syukur itu beliau ungkapkan dengan bentuk puasa.

Paparan ini menyiratkan bahwa merayakan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW termasuk sesuatu yang boleh dilakukan. Apalagi perayaan maulid itu isinya adalah bacaan shalawat, baik Barzanji atau Diba', sedekah dengan beraneka makanan, pengajian agama dan sebagainya, yang merupakan amalan-amalan yang memang dianjurkan oleh Syari' at Islam. Sayyid Muhammad' Alawi al-Maliki mengatakan:

"Pada pokoknya, berkumpul untuk mengadakan Maulid Nabi merupakan sesuatu yang sudah lumrah terjadi. Tapi hal itu termasuk kebiasaan yang baik yang mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang (akhirnya) kembali kepada umat sendiri dengan beberapa keutamaan (di dalamnya). Sebab, kebiasaan seperti itu memang dianjurkan oleh syara' secara parsial (bagian­bagiannya)”

“Sesungguhnya perkumpulan ini merupakan sarana yang baik untuk berdakwah. Sekaligus merupakan kesempatan emas yang seharusnya tidak boleh punah. Bahkan menjadi kewajiban para da'i dan ulama untuk mengingatkan umat kepada akhlaq, sopan santun, keadaan sehari-hari, sejarah, tata cara bergaul dan ibadah Nabi Muhammad SAW. Dan hendaknya mereka menasehati dan memberikan petunjuk untuk selalu melakukan kebaikan dan keberuntungan. Dan memperingatkan umat akan datangnya bala' (ujian), bid'ah, kejahatan dan berbagai fitnah". (Mafahim Yajib an Tushahhah, 224-226)

Hal ini diakui oleh Ibn Taimiyyah. Ibn Taimiyyah berkata, "Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAWakan diberi pahala. Begitulah yang dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana juga di temukan di kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS. Dalam Islam juga dilakukan oleh kaum muslimin sebagai rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid'ah yang mereka lakukan". (Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 399)

Maka sudah sewajarnya kalau umat Islam merayakan Maulid Nabi SAW sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan juga karena isi perbuatan tersebut secara satu persatu, yakni membaca shalawat, mengkaji sejarah Nabi SAW, sedekah, dan lain sebagainya merupakan amalan yang memang dianjurkan dalam syari'at Islam.

KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Rais Syuriyah PCNU Jember
Komentar(10 komentar)
Rabu, 10/06/2009 15:04
Nama: Ibnu
Maulid Nabi
Orang seperti Sdr Abu dll ini memang unik dan aneh... Kalau disindir anti mualid, anti tahlilan marah, dibilang wahabi marah.. Tapi kenyataannya begitu anti bahkan maaf kata ya, lebih dekat ke dengki, cemburu.. sementara tidaka ada ajaran nabi yang mengajarkan demikian.. Sementara dengki tsb akan membakar segala amalan apapun, sehingga diyaumil akhir akan menjadi orang yang bangkrut tanpa amalan..
Selasa, 28/04/2009 20:20
Nama: Ali
Maulid
perkara yang didebatkan tu ga akan memberikan manfaat,....orang yang merasa menang dalam perdebatan aj tidak melaksanakan apa yang dimenangkannya apalagi yang kalah....!!!bagi yang tidak suka dengan perkara maulid mbok yo menghormati yang suka, begitu juga dengan yang suka jangan memperdebatkan terus ....jadinya kpan mau ngibadahe (ora ikhlas terus to bos),,lagian sudah ta baca dari atas tu lucu ....kabeh njaluk benere dewe...???....wis mbok yo podo mondok mneh ben perkarane tambah ceto
Jumat, 24/04/2009 00:31
Nama: Syaifuddin Zuhri
Remaja Masjid
dasar hukuk remaja masjid apa ya menurut peraturan perundang undangan
Ahad, 12/04/2009 07:56
Nama: NU
jangan ngutip setengah2 ...
Maaf pak kiayi ... saya punya kitab Asli Ibnu tamiyah yang berjudul Istidha' Shirathal mustaqim ... dan kitab tersebutlah yang dikutip oleh Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq

Tapi justru Ibnu Taimiyah membid'ahkannya .. dan mencelanya ... kakaykanya kutipannya tidak amanah ya ..
Kamis, 09/04/2009 09:00
Nama: aziz muslim
kang abu yg erorr in conection
Saudara2ku skalian..!kang abu itu ibarat orang lapar masuk warung sate kambing yang lezat n nikmat itu(tentu bagi yang sehat).ketika si pelayan datang dan bertanya " pesen satenya berapa tusuk?.minumnya apa?.jawab kang abu "saya pesen sayur asem.Minumnya es degan.."
Jawab si pelayan(sambil ketawa)wah ...wah sampean tersesat kang..apa sampean gak baca papan yang besar di depan itu?Ini warung sate spesial.klo mo makan sayur asem,di warteg dan minumnya di kaki lima itu.
Wah... kang abu bener - bener selera rendah.ngakunya ahli puasa senen kemis lagi..padahal saya yakin ini orang gak pernah puasa senen kemis.
hai kang......... abu pak kyai di atas lg bicara maulid NABI bukan lg nerangin puasa senen kemis.ini bukan Warteg!!!!!
Sabtu, 04/04/2009 23:28
Nama: hadi
wsdf
@ bukanu
imam jalaludin assuyuti berpendapat tanpa dalil bicara tanpa disertai dalil???yang bener mas klo ngomong,,beliau tuh ahli tafsir mas hapal alquran n ribuan hadist..

bicaranya imam/ulama jelas beda dgn anda, mereka paham alquran & hadist jadi omongannya sangat bijaksana & tidak asal jeplak..

ulama saja seperti imam assuyuti yg jelas2 diakui ketokohannya oleh msyarakat muslim dunia aja anda remehin lalu kpd siapa anda belajar islam???

sikap meremehkan ulama yg sudah diakui sama/mirip dgn strategi kampanye misionaris untuk menjauhkan umat islam dgn panutan-panutannya sehingga umat islam akan jauh dari pemahaman islam yang baik dan benar. dan cara spt itu juga agar umat islam terpecah belah..
Jumat, 03/04/2009 17:26
Nama: Yoga
Buat mas abu musa
Begitu banyak yang dapat kita ambil dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Kita akan lebih mencintai Rasulullah, Ada Tausiah agamanya, ada pembacaan kitab cuci alquran, ada berjanji, maulid azam dll yang aku pingin tanya sama MAS ABU , APA ADA DALIL YANG MELARANG UNTUK MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW. Tolong jawab mas, klo di Alquran surat apa juz berapa ayat berapa, kalu di hadist hadistnya gimana bunyinya dan siapa yang merawinya, tanks mas, suqron , tak tunggu jawabane
Jumat, 03/04/2009 12:41
Nama: faisol
Imam as-Suyuthi...
saudaraku bukanu yg baik,

sampean menulis :
"Kalo gitu saya jg bisa komentar dong, menurut saya..."

saudaraku,
sampean ingin menyamakan diri dg Imam as-Suyuthi...? Bagai anak TK ingin menyamakan diri dg seorang DOKTOR (S3)...

lha wong ustadz-ustadz salafy saja sering merujuk ke Imam as-Suyuthi, koq...

cobalah sampean tanya ustadz2 salafy (tentunya yg bergelar Lc, MA atau DR) ttg siapakah Imam as-Suyuthi itu...

lalu, adakah hadits yg melarang berkumpul u/ silaturrahim...? melarang membaca Al-Qur'an...? melarang membaca kisah hidup Rasul...? melarang menghidangkan makanan bagi orang lain...? tolong sampean tunjukkan haditsnya...

begitu dulu, saudaraku... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin...
Jumat, 03/04/2009 10:03
Nama: Abumusa
Maulid
Akh Faisol,

Saya hanya menyarankan puasa pada hari Senin diantaranya untuk mengingat hari kelahiran Rasulullaah (bermaulid) seminggu sekali. Bila pada hari Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Ahad, kita lupa mengingat hari kelahiran beliau, maka pada hari Seninnya, kita ingat lagi. Begitu seterusnya.

Kalau Akh Faisol dan kawan-kawan lainnya mengingat hari kelahiran Rasulullaah (bermaulid) hanya pada 12 Rabiul Awal, silahkan.

Mengingat hari kelahiran Rasulullaah seminggu sekali tentu lebih baik daripada setahun sekali.

Wallaahu a'lam.
Rabu, 01/04/2009 11:47
Nama: bukanu
menurut saya
Sekitar lima abad yang lalu, pertanyaan seperti itu juga muncul. Dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849 H - 911 H) menjawab bahwa perayaan Maulid Nabi SAW boleh dilakukan. Sebagaimana dituturkan dalam Al-Hawi lil Fatawi:

"Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara'. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: Menurut saya bahwa asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmnti bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah al-hasanah.

Cuman "menurut saya" aja kok gak disertai hadist yg mendukungnya.

Kalo gitu saya jg bisa komentar dong, menurut saya nabi itu masih hidup gak mati2. Kalo perkara ayat & hadist nya gak ada emang gw pikirin.

Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefAgustus 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::