Selasa, 02 September 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (4-Habis)
Penjelasan Sahabat Umar Tentang Bid'ah yang Baik
Selasa, 31/08/2010 10:28
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa shalat malam pada bulan Ramadhan itu diperintahkan berdasarkan sabda Nabi SAW:

 عن ابي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلي الله عليه وسلم قال: من قام رمضان ايماناواحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه رواه البخاري

Barang siapa shalat pada malam Ramadhan karena iman dan semata-mata taat kepada Allah maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Al-Bukhari)

Nabi SAW melakukan shalat itu di rumahnya, hanya saja beliau shalat itu di masjid berjamaah pada beberapa malam saja. Dalam hadit yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim,

عن عائشة رضى الله عنها, إن النبي صلي الله عليه وسلم صلى في المسجد فصلى بصلاته ناس, ثم صلى الثاينة فكثر الناس, ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أو الرابعة فلم يخرج إليهم رسول الله صلعم, فلما أصبح قال: رأيت الذي صنعتم فلم يمنعنى من الخروج إليكم إلا أنى خشيت أن تفترض عليكم وذلك في رمضان. رواه البخارى)

bahwa Nabi SAW pernah shalat di masjid lalu diikuti oleh orang-orang banyak, kemudian shalat pada malam kedua lalu makin banyak para sahabat yang ikut shalat, kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat. Tetapi Nabi SAW tidak keluar kepada mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda, “Saya tahu apa yang kalian perbuat, tapi yang mencegah aku keluar kepada kalian hanyalah karena aku khawatir akan menjadi kewajiban bagi kalian”. Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan.

Dari uraian terdahulu kita tahu bahwa sunnah nabi dalam melaksanakan shalat Ramadhan ada dua macam:

a. Shalat di rumah sendirian, ini yang beliau biasakan
b. Shalat di masjid berjama’ah beberapa malam, hanya saja beliau meninggalkan yang akhir ini karena khawatir menjadi wajib bagi umatnya. Adapun bilangan rakaat shalat Nabi Muhammad Saw itu 11 rakaat dengan berdiri lama bacaan surahnya panjang atau 13 rakaat dengan dua rakaat ringan.

Sebagian ahli fiqh mengatakan, “Kemungkinan Nabi Muhammad Saw dan para shahabatnya menyempurnakan 20 rakaat di rumah masing-masing”. Namun kemungkinan semacam ini jauh karena tidak disandarkan kepada dalil.

Anjuran Umar ra.


Khalifah Umar bin Khottob r.a  masuk ke masjid, lalu melihat para shahabat berpencar-pencar berkelompok. Ada yang shalat sendirian dan ada yang shalat menjadi imam dari kelompoknya. Lalu Sayyidina Umar r.a berkata, “Menurut saya, seandainya mereka berkumpul dari satu pandangan tentu lebih baik”. Lalu ia berhasrat untuk mengumpulkan mereka di bawah Imam Ubay bin Ka’ab.

Setelah dia melihat mereka pada malam lain melaksanakan shalat malam dalam berjama’ah, Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah bid’ah seperti ini”. Maka dimana mereka tidur lebih baik daripada malam dimana mereka shalat, yakni akhir malam sedangkan orang-orang lain shalat di awalnya.” (Riwayat al-Bukhari).

Maksudnya dinamakan bid’ah itu karena  bentuk shalat, waktunya dan ketetapannya – bahkan bilangannya tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw dan tidak diperintahkannya secara langsung, walaupun beliau pernah shalat malam berjama’ah beberapa malam.

Maka anjuran Umar ra adalah perintah kepada publik umat untuk shalat malam Ramadhan di masjid secara berjama’ah pada awal malam. Ibnu al-Tin dan lainnya berkata, “Umar menetapkan hukum itu dari pengakuan Nabi Saw terhadap orang yang shalat bersama beliau pada malam-malam tersebut, walaupun beliau tidak senang hal itu bagi mereka, karena tidak senangnya itu lantaran khawatir menjadi kewajiban bagi mereka.

Tetapi setelah Nabi Saw wafat maka dinilai aman dari rasa khawatir tersebut dan hal itu menjadi pegangan bagi Umar, karena perbedaan dan menimbulkan perpecahan umat, dan karena persatuan akan lebih mempergiat banyak para umat yang menjalankan shalat.

KH Muhaimin Zen
Ketua Umum Pengurus Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) NU
Komentar(10 komentar)
Sabtu, 01/01/2011 17:13
Nama: budi doank
kalau mau ngaji
kalau ada waktu sekali-kali dengerin radio rodja di am 967
Kamis, 25/11/2010 19:44
Nama: musaddad
kepada mas imam yang belum tentu labih pintar dari kyai
assalam mas, saya justru merasa prihatin dengan jenengan, karena merasa lebih dari murid2 kyai.. namun sayang kami lebih percaya kyai sebagai sumber daripada buku2 yang belum tentu kebenarannya, dan apalagisekarang justru banyak pemuda2 yang tanpa paham bahasa arab sudah sok lebih tahu dari pada sesepuh kami.. alhamdulillah bendera kami masih kompak bersatu, daripada pemuda kebanyakan yang masih cari pembenaran kesana-kemari dan akhirnya banyak kekhawatiran, hasut-menghasut dan mempengaruhi sesama muslim, dll.. karena selain "ahli bid'ah" ada yang lebih berbahaya ialah ahli fitnah (golongan satu ini kerjaannya memfitnah syariat golongan lain yang elum tentu ia menguasai maksud dan tujuan golongan lain tersebut..) dan mestinya Anda yang banyak bacaan yang benar..
Rabu, 10/11/2010 09:36
Nama: toto
sunah
tarawih kan sunah kenapa harus diperdebatkan, yang penting yang lima waktu dah dilaksanakan dengan benar atau belum....
kadang kita hanya memperdebatkan hal yang sunah tapi kewajiban dilupakan...
Senin, 08/11/2010 14:24
Nama: bahoels
:(
sulit memang...yang pinter yg mana.....yg masih sy blum pd shalat fardhu....masih belajar sinkronisasi ucapan dan hati....
belum kefikir sunnah....sebab yang fardhu aja lom PD ..... takut pawaelul lilmusholin....
gak nyambung ya....:)
Jumat, 29/10/2010 21:18
Nama: ADIYANTO SAPUTRA WIJAYA
taqlid dan ta'lim
ass.baca buku 40 masalah agama karangan K.H sirajuddin abbas.KITA BOLEH TAQLID,TAPI HARUS TA'LIM
Ahad, 24/10/2010 23:39
Nama: TheLejji
Respon k Imam
saya setuju dg rekan imam,semuax butuh d kaji walau itu dr seorng ustad atau kiai sklipun(zaman skrg maksud saya),tp da hal yg kurang brkenan d hati saya
kata2 anda "ngajinya hanya berdasarkan apa kata Kiai, hormat Kiai, suwun Kiai" tdk shrusx anda lontarkan. yang namax ngaji ya seperti itu,itu namax ta'dzim terhadap mu'alim. itulah cara santri menghormati kiaix,krn santri d ajari untuk beradap sopan santun trhadap org tua.
menyoal materi yg d kaji ustad ato kiai,bs d telaAh lagi. tp urusan adabiyah ya seperti itu,nggeh yai,suwun yai.
trima ksih.
Ahad, 24/10/2010 07:49
Nama: Agus Maksum
11 atau 20 rekaat, gak akan selesai di bahas
Rasanya kok menghabiskan energi saja membahas lagi mana yg benar 11 atau 20...., sebaiknya pilih saja.... kalau mantap yg 11 ya monggo, mantap yang 20 ya monggo.... kan ada dalilnya sendiri-sendiri dan sama sama mengkalim yg paling baek, khan taraweh baek yang 11 maupun 20 sama sama bid'ah...., Bid'ah Hasanah, bahkan sebaik-baik bid'ah
Sabtu, 23/10/2010 10:00
Nama: rozi
wahabi
Syeikh Ibn Taymiyah (728 A.H.) menulis: Telah diterima bahwa Ubay Ibn Ka’b biasa mengimami sembahyang untuk jamaah dengan 20 rakaat di bulan ramadlan dan 3 rakaat witir. Dari sini, para ulama bersepakat 20 rakaat sebagai sunnat karena Ubay biasa mengimami jamaah yang terdiri atas Muhajirin dan Anshar dan tidak seorangpun di antara mereka menolaknya. (Fataawa Ibn Taymiyyah vol.23 hal.112)
Jumat, 22/10/2010 10:19
Nama: Mulyo Widodo
Undangan Kajian
Bismillah, hadirilah kajian islam ilmiah ahlus sunnah waljama'ah bulanan, setiap malam jum'at pekan terakir ba'da isyak, materi : kitab kuning Utsul Tsalatsah karangan Syaikh Muhammad bin Abdulwahab. Pemateri; Uatadz Rifai-hafidzohulloh. Tempat : Masjid Vyatra Cepu, Blora, Jawa Tengah.
Barokallohu fikum
Kamis, 21/10/2010 20:06
Nama: sastro jaya
sastro jaya
perbedaan masalah syar'i adalah nikmat,perbedaan masalah aqidah bisa jd musibah...
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefSeptember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930    
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::