Sabtu, 01 November 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Ajaran Tasawuf dalam Puji-pujian Menjelang Shalat Fardlu
Senin, 06/12/2010 10:19
Puji-pujian didendangkan di mushalla, langgar atau masjid merupakan nyanyian puitis yang bernuansa keagamaan. Puji-pujian tersebut biasanya didendangkan  bersama-sama  oleh  para  jemaah menjelang shalat Subuh, Dzhur, Ashar, Maghrib atau  Isya sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan shalat berjamaah. Puji-pujian tersebut ada yang menggunakan bahasa Arab maupun bahasa daerah. Mungkin  berkat  susunannya  yang ritmis, puji-pujian ini mudah dihafal dan menyebar dari satu musala atau masjid ke musala lainnya.

Puji-pujian yang didendangkan para jemaah ini biasanya selalu didahului dengan salawatan atau membaca shalawat Nabi dan puji-pujian pada Nabi SAW. Meskipun puji-pujian tersebut berbahasa Jawa, puji-pujian ini selalu didahului shalawat nabi yang memiliki berbagia keutamaan.
t;
Dari Hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a ( dalam Assamarqandi, 1980: 619) Nabi SAW bersabda yang artinya: “Bacalah shalawat untukku, sebab bacaan shalawat itu membersihkan kekotoranmu (dosa-dosamu) dan mintalah kepada Allah untukku wasilah. Apakah wasilah itu ya Rasulullah? Jawabnya: Satu derajat yang tertinggi dalam sorga yang tidak akan dicapai kecuali oleh seorang, dan saya  berharap semoga sayalah orangnya”.

Orang mengenal pujian disebarkan oleh kalangan pesantren dan ada yang mengatakan puji-pujian ini diperkenalkan oleh para walisongo, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Seperti yang masyarakat kenal lewat sejarah bahwa pendekatan yang digunakan para Walisongo dalam menyebarkan agama Islan adalah  pendekatan persuasif yang bersifat kemasyarakatan sesuai dengan adat dan budaya masyarakat waktu itu.

Salah satu contohnya adalah Sunan Giri yang menciptakan Asmaradana dan Pucung. Sunan Giri jugalah yang menciptakan tembang-tembang dolanan anak-anak yang di dalamnya diberi unsur keislaman, misalnya Jamuran, Cublak-cublak Suweng, Jithungan dan Delikan (Rahimsyah, tanpa tahun: 54).

Selain Sunan Giri, ada lagi Sunan Bonang yang menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Suluk berasal dari bahasa Arab ”Salakattariiqa” , artinya menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat. Ilmu Suluk ini ajarannya biasanya disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid. Salah satu Suluk Wragul dari Sunan Bonang yang terkenal adalah Dhandanggula. Sebagian masyarakat (yang mengenal tarikat) mengatakan bahwa teks puji-pujian diciptakan oleh para pemimpin tarikat dan Syekh Abdul Qadir Jailani.

Puji-pujian yang diperdengarkan di musala berisi shalawatan, do’a-doa mustajabah, dan petuah-petuah hidup. Puji-pujian yang diperdengarkan di musala-musala atau masjid-masjid kental dengan ajaran Tasawuf.

Obat Hati Lima Perkara

Pedoman hidup muslim adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an diturunkan Allah melalui utusan-Nya , yakni Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya Al-Qur’an dan Al-Hadits ini menjadi jelaslah jalan lurus yang harus ditempuh manusia serta aliran yang benar yang harus diikuti untuk memahami pengertian-pengertian hukum yang tercantum di dalamnya. Hal ini pulalah yang merupakan pemisah antara yang halal dan haram. Fungsinya adalah sebagai cahaya yang cemerlang, dengan berpegang teguh itu akan selamatlah setiap manusia dari tipuan. Kandungannya penuh dengan penawar untuk menyembuhkan hati dan jiwa yang sakit.

Mengenai obat hati ini, dalam teks puji-pujian ditawarkan adanya lima hal yang mampu menjadi obat bagi hati manusia. Kelima hal tersebut adalah (1) membaca Alqur’an dengan mengendapkan maknanya, (2) memperbanyak melakukan shalat malam, (3) berkumpul dengan orang Shaleh atau bergaul dan berguru pada orang Shaleh, (4) mampu menahan lapar atau perbanyak berpuasa, dan (5) perbanyak berdzikir di malam hari. Berikut kutipannya.

Tombo ati iku limo sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindu shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang shaleh kumpulono
Kaping papat kudu weteng engkang luwe
Kaping limo dzikir wengi engkang sue
 

Syair obat hati ini kemudian diakhiri:

Insya Allah Gusti Allah ngijabahi
Insya Allah, Allah mengabulkan

Mengingat Kematian

Setiap yang hidup pasti akan mati, demikian halnya dengan manusia. Semua manusia di dunia ini akan mati. Untuk itu melalui salah satu puji-pujian manusia diingatkan akan datangnya kematian. Adapun teksnya adalah sebagai berikut.

Ilingono para timbalan
(Ingatlah jika sudah waktunya dipanggil)
Timbalane ora keno wakilan’
(Panggilannya tak bisa diwakilkan)
Timbalane kang maha mulya
(Panggilan dari Yang Maha Kuasa)
Gelem ora bakal lunga
(Mau-tak mau harus pergi)

Panggilan yang dimaksudkan adalah panggilan Yang Maha Kuasa.Tak ada satupun yang kuasa menghalanginya. Harta, tahta, ataupun kerabat dan keluarga takkan bisa menghentikannya.  Panggilan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia. Hendaknya selama masih hidup selalu ingat dan takut hanya pada Allah karena dengan rasa takut itu menjadikannya berhati-hati dan berusaha selalu di jalan yang benar.


Gambaran orang yang sudah mati dalam teks puji-pujian adalah sebagai berikut.
Klambine diganti putih
(Bajunya diganti putih)
Nek budal ora bisa mole
(Jika berangkat tak bisa kembali)
Tumpak ane kereto jowo
(Kendaraannya kereta Jawa)
Roda papat rupa menongsa
(Beroda empat berupa manusia)

Oma e rupa goa
(Rumahnya serupa Go’a)
Ora bantal ora keloso
(Tak ada bantal ataupun tikar)
Omah e gak nok lawange
(Rumahnya tidak ada pintunya)
Turu ijen gak nok rewange
(Tidur sendirian tak ada yang menemani)

Perintah untuk memperbanyak mengingat kematian dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Tirmidzi (dalam Addimasyqy, 1983: 1048) menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian)”. Selain itu, mengingat kematian dapat melebur dosa dan berzuhud. Dengan mengingat kematian maka kematian itu sendiri sebagai pengingat pada diri sendiri dan orang yang tercerdik adalah orang yang terbanyak mengingat kepada kematian sebagaimana makna hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abiddunnya berikut.

”Secerdik-cerdik manusia ialah  yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-banr cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan akhirat” (dalam Addimasyqy, 1983: 1049).

Ajaran Tasawuf yang salah satunya adalah ajakan untuk melakukan zuhud merupakan salah satu jalan untuk takut dan berusaha mendekatkan diri pada Allah. Menurut Imam Ahmad bin Hambal (dalam Dahlan, dkk, 1988: 324), seorang ahli fiqih, membagi zuhud menjadi tiga, yakni (1) meninggalkan yang haram (zuhud orang awam); (2) meninggalkan yang tak berguna dari yang halal (zuhud orang khawash, para aulia’); dan (3) meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan diri dari Allah SWT (zuhud orang Arifin, orang yang sangat dekat dan kenal benar pada Allah.

Faiqotur Rosidah
Pengajar di P.P Darul ‘Ulum Peterongan Jombang, sedang menyelesaikan S-2 di Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
Komentar(10 komentar)
Ahad, 22/01/2012 00:05
Nama: yayat hidayat
nikmatilah puji pujian
kalo dibawakan dg suara yang lembut justru akan nambah kekhusuan, asal jangan dengan teriak teriak . terlebih lagi klo kita meyimak isi syair2nya, coba pada Istighfar : Astaghfirullah robbal barooya Astaghfirullah minal khothooya.......
Senin, 02/01/2012 08:45
Nama: and
?
Jadi kesimpulannya hukumnya gmn ya? boleh2 saja, dianjurkan atau gmn?
Sabtu, 03/12/2011 14:07
Nama: muchrojikin
siar
denger puji-pujian,mudah-mudahan banyak yang tersentuh hatinya ,iman jadi kuat...inget,tobat,inget mati,inget dosa,pokoknya menambah semangat beribadah...mantap artikelya ..
Sabtu, 02/04/2011 12:52
Nama: muhammad saiful rohman
usul
jika tidak ada puji-pujian setelah adzan,, maka seseorang terkadang tidak tau sudah iqamah to belum,, jadi faedahnya,, yg tdk dnger adzan jadi tau kalo lom iqamah jadi bisa bergegas ke mushola to masjid tuk jamaah,,
Senin, 07/03/2011 11:09
Nama: alf@n
ilahii
Ilahii lastu lilfirdausi ahlaa
wa laa aqwa 'ala naaril jakhiimi
fa hab lii taubatan waghfir dzunuubii
fa innaka ghoofirudz dzanbil 'adziimi.

Duh pengeran, kulo sanes ahli suargo
nanging kulo mboten kiat sikso neroko
mugi Alloh paring kulo pangreksomo
soho paring pengapuro sekatahing duso.

amin7x Ya Alloh Robbal 'Alamiin
Selasa, 08/02/2011 16:34
Nama: abu aas
mengganggu
Menganggu ???? ya gak apa lah.justru sengaja biar mengganggu. Biar terganggu orang yang lagi asyik nonton TV, nyangkul, atao main bola,..internetan ,..main kartu,..berdagang dan pekerjaan lainnya.

Gak percaya deh kalo pas azdan udah ada yang mulai shalat. Sholat sunnat ??? ya iyalah semua orang juga tau,shalat sunnat itu penting.Cuma kan gak mungkin terganggu,..emang puji2annya sambil joged apa.
Sabtu, 29/01/2011 18:46
Nama: adhitya
Ijin copas
ijin copas nyi
Kamis, 27/01/2011 14:20
Nama: n4jm4
@joko
@joko:
Saya perhatikan bhw setiap kali dari ASWAJA bisa menunjukkan dalil/alasan dari amalan-2 yg biasa menjadi tradisi mereka, maka wahaby-2 yg sdh ketelanjuran menuduh amalan tsb sbg bid’ah, merasa kecele dan malu (kalaupun mereka masih punya rasa malu). Di suatu saat saya pernah mendengar dengan telinga sendiri ketika seorang ustadz wahaby sedang membid’ahkan “amalan-pujian” ini dlm salah satu ceramahnya. Dan kini setelah wahaby kecele dan wahaby tahu bhw amalan ini punya dalil syara’, maka serta merta diserang dengan cara lain, isunya mereka ubah, Yaitu “amalan-puijian” bisa mengganggu orang lain. Seandainya “amalan puji-an” tadi terbukti mengganggu masyarakat sejak lama, tentlulah dakwah para kyai zaman dulu tdk mendapat respon positif dari masyarakatnya. Dan kalaulah dkwah para kyai jaman dulu tdk diterima masyarakatnya (yg notabene adalah nenek-moyang kita), maka ketahuilah wahai wahaby, bahwa bisa dipastikan kalian saat ini masih menyembah batu.
Allahu a’lam.
Selasa, 25/01/2011 10:14
Nama: Nasrul..
TANYA...
banyak banget kalangan yang tidak setuju dengan adanya pujipujian... lo menurut ku itu baik2 aja.... itukan juga termasuk metode dakwah yang asyik..... gimana nih tuk naggepi berbagai pendapat2 yang ada...???? sukron
Senin, 24/01/2011 15:05
Nama: Yanto
puji2an / doa
Boleh2 saja pujian2an / doa tetapi menurut aturan syari'at. Lihat Qs. al Araaf(7):55,205
Semoga bisa digunakan
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefNovember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
::::Ikuti siaran lagsung Munas-Konbes NU 2014 di radio.nu.or.id :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::