Rabu, 23 Juli 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Ajaran Tasawuf dalam Puji-pujian Menjelang Shalat Fardlu
Senin, 06/12/2010 10:19
Puji-pujian didendangkan di mushalla, langgar atau masjid merupakan nyanyian puitis yang bernuansa keagamaan. Puji-pujian tersebut biasanya didendangkan  bersama-sama  oleh  para  jemaah menjelang shalat Subuh, Dzhur, Ashar, Maghrib atau  Isya sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan shalat berjamaah. Puji-pujian tersebut ada yang menggunakan bahasa Arab maupun bahasa daerah. Mungkin  berkat  susunannya  yang ritmis, puji-pujian ini mudah dihafal dan menyebar dari satu musala atau masjid ke musala lainnya.

Puji-pujian yang didendangkan para jemaah ini biasanya selalu didahului dengan salawatan atau membaca shalawat Nabi dan puji-pujian pada Nabi SAW. Meskipun puji-pujian tersebut berbahasa Jawa, puji-pujian ini selalu didahului shalawat nabi yang memiliki berbagia keutamaan.
t;
Dari Hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a ( dalam Assamarqandi, 1980: 619) Nabi SAW bersabda yang artinya: “Bacalah shalawat untukku, sebab bacaan shalawat itu membersihkan kekotoranmu (dosa-dosamu) dan mintalah kepada Allah untukku wasilah. Apakah wasilah itu ya Rasulullah? Jawabnya: Satu derajat yang tertinggi dalam sorga yang tidak akan dicapai kecuali oleh seorang, dan saya  berharap semoga sayalah orangnya”.

Orang mengenal pujian disebarkan oleh kalangan pesantren dan ada yang mengatakan puji-pujian ini diperkenalkan oleh para walisongo, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Seperti yang masyarakat kenal lewat sejarah bahwa pendekatan yang digunakan para Walisongo dalam menyebarkan agama Islan adalah  pendekatan persuasif yang bersifat kemasyarakatan sesuai dengan adat dan budaya masyarakat waktu itu.

Salah satu contohnya adalah Sunan Giri yang menciptakan Asmaradana dan Pucung. Sunan Giri jugalah yang menciptakan tembang-tembang dolanan anak-anak yang di dalamnya diberi unsur keislaman, misalnya Jamuran, Cublak-cublak Suweng, Jithungan dan Delikan (Rahimsyah, tanpa tahun: 54).

Selain Sunan Giri, ada lagi Sunan Bonang yang menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Suluk berasal dari bahasa Arab ”Salakattariiqa” , artinya menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat. Ilmu Suluk ini ajarannya biasanya disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid. Salah satu Suluk Wragul dari Sunan Bonang yang terkenal adalah Dhandanggula. Sebagian masyarakat (yang mengenal tarikat) mengatakan bahwa teks puji-pujian diciptakan oleh para pemimpin tarikat dan Syekh Abdul Qadir Jailani.

Puji-pujian yang diperdengarkan di musala berisi shalawatan, do’a-doa mustajabah, dan petuah-petuah hidup. Puji-pujian yang diperdengarkan di musala-musala atau masjid-masjid kental dengan ajaran Tasawuf.

Obat Hati Lima Perkara

Pedoman hidup muslim adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an diturunkan Allah melalui utusan-Nya , yakni Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya Al-Qur’an dan Al-Hadits ini menjadi jelaslah jalan lurus yang harus ditempuh manusia serta aliran yang benar yang harus diikuti untuk memahami pengertian-pengertian hukum yang tercantum di dalamnya. Hal ini pulalah yang merupakan pemisah antara yang halal dan haram. Fungsinya adalah sebagai cahaya yang cemerlang, dengan berpegang teguh itu akan selamatlah setiap manusia dari tipuan. Kandungannya penuh dengan penawar untuk menyembuhkan hati dan jiwa yang sakit.

Mengenai obat hati ini, dalam teks puji-pujian ditawarkan adanya lima hal yang mampu menjadi obat bagi hati manusia. Kelima hal tersebut adalah (1) membaca Alqur’an dengan mengendapkan maknanya, (2) memperbanyak melakukan shalat malam, (3) berkumpul dengan orang Shaleh atau bergaul dan berguru pada orang Shaleh, (4) mampu menahan lapar atau perbanyak berpuasa, dan (5) perbanyak berdzikir di malam hari. Berikut kutipannya.

Tombo ati iku limo sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindu shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang shaleh kumpulono
Kaping papat kudu weteng engkang luwe
Kaping limo dzikir wengi engkang sue
 

Syair obat hati ini kemudian diakhiri:

Insya Allah Gusti Allah ngijabahi
Insya Allah, Allah mengabulkan

Mengingat Kematian

Setiap yang hidup pasti akan mati, demikian halnya dengan manusia. Semua manusia di dunia ini akan mati. Untuk itu melalui salah satu puji-pujian manusia diingatkan akan datangnya kematian. Adapun teksnya adalah sebagai berikut.

Ilingono para timbalan
(Ingatlah jika sudah waktunya dipanggil)
Timbalane ora keno wakilan’
(Panggilannya tak bisa diwakilkan)
Timbalane kang maha mulya
(Panggilan dari Yang Maha Kuasa)
Gelem ora bakal lunga
(Mau-tak mau harus pergi)

Panggilan yang dimaksudkan adalah panggilan Yang Maha Kuasa.Tak ada satupun yang kuasa menghalanginya. Harta, tahta, ataupun kerabat dan keluarga takkan bisa menghentikannya.  Panggilan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia. Hendaknya selama masih hidup selalu ingat dan takut hanya pada Allah karena dengan rasa takut itu menjadikannya berhati-hati dan berusaha selalu di jalan yang benar.


Gambaran orang yang sudah mati dalam teks puji-pujian adalah sebagai berikut.
Klambine diganti putih
(Bajunya diganti putih)
Nek budal ora bisa mole
(Jika berangkat tak bisa kembali)
Tumpak ane kereto jowo
(Kendaraannya kereta Jawa)
Roda papat rupa menongsa
(Beroda empat berupa manusia)

Oma e rupa goa
(Rumahnya serupa Go’a)
Ora bantal ora keloso
(Tak ada bantal ataupun tikar)
Omah e gak nok lawange
(Rumahnya tidak ada pintunya)
Turu ijen gak nok rewange
(Tidur sendirian tak ada yang menemani)

Perintah untuk memperbanyak mengingat kematian dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Tirmidzi (dalam Addimasyqy, 1983: 1048) menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian)”. Selain itu, mengingat kematian dapat melebur dosa dan berzuhud. Dengan mengingat kematian maka kematian itu sendiri sebagai pengingat pada diri sendiri dan orang yang tercerdik adalah orang yang terbanyak mengingat kepada kematian sebagaimana makna hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abiddunnya berikut.

”Secerdik-cerdik manusia ialah  yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-banr cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan akhirat” (dalam Addimasyqy, 1983: 1049).

Ajaran Tasawuf yang salah satunya adalah ajakan untuk melakukan zuhud merupakan salah satu jalan untuk takut dan berusaha mendekatkan diri pada Allah. Menurut Imam Ahmad bin Hambal (dalam Dahlan, dkk, 1988: 324), seorang ahli fiqih, membagi zuhud menjadi tiga, yakni (1) meninggalkan yang haram (zuhud orang awam); (2) meninggalkan yang tak berguna dari yang halal (zuhud orang khawash, para aulia’); dan (3) meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan diri dari Allah SWT (zuhud orang Arifin, orang yang sangat dekat dan kenal benar pada Allah.

Faiqotur Rosidah
Pengajar di P.P Darul ‘Ulum Peterongan Jombang, sedang menyelesaikan S-2 di Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
Komentar(10 komentar)
Senin, 24/01/2011 09:21
Nama: ali
ogah ikut
da stu pertnyaan yang muncul...apakah puji-pujian ni nah d lantunkn oleh rasul n sahabat diantara adzan n shalat....justru yg d prnthk rasulullah saw adalah memprbnyak istgfar kpd allah bukan pujia-pujian.....hingga mbuat org jd khusyu` stiap shalat isya,,,,tunduk,tenang,,itu lbh baik...perbanyak istgfar dintara adzn n iqomat merpkn waktu yg di ijabahi.....
Jumat, 21/01/2011 09:44
Nama: Abufikri
Nyanyian Pujian
Bila sudah mengakar dan mendarah daging, tradisi nyanyian pujian sulit dihilangkan meski sudah datang hadits yang jelas sebagai berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang beri’tikaf bersabda:
“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah sebagian dari kalian mengganggu yang lainnya.” (HR Ahmad, Abu Dawud)

Wallaahu a'lam.
Rabu, 19/01/2011 15:33
Nama: MUKHLIS
sejarah tdk dmkian
adabnyak pertnyaan,,,,,terkait dengan bernyanyimendendamgkan syair antar adzan n iqomah....justru rasulullah saw memerinthkan kt diantara adzan n iqomah tuk memperbnyak doa, dan istgfr kpd Allah bukn dgn nyanyi-nyanyian...bnyk org yng mrs trgngu konsntrasinya org ktk hndk shalt tahiyyatul masjid...lbh baik kt nyari selamatnya perbnyk doa n istgfar karn tu waktu2 yang di ijabahi
Selasa, 18/01/2011 17:53
Nama: isfhan
lanjutan
kenapa harus puji pujian?
ini disesuaikan dengan karakter orang indonesia bahkan karkater kebanyakan manusia.mengajak dan mencegah dengan puji pujian akan lebih diterima, apalagi kalo lewat pengeras suara.bayangkan kalo mengajak orang shalat lewat pengeras suara dengan teriak teriak .sedangkan mengajak itu fardu kifayah, . memang sih bagusnya didatangi kerumah-rumah .tapi kan kurang efektif juga,lagian kan udah ada teknologi pengeras suara.

dengan adanya orang yang puji pujian berarti semua orang sekampung terlepas dari kewajiban amar makruf nahi munkar..

atur2 aja dah..

Selasa, 18/01/2011 17:40
Nama: isfhan
kata guru
Assalmu'alaikum.
pernah dengar dari seorang ajengan bahwa puji pujian menjelang shalat kalo dicermati itu fardu kifayah.

alasan?..bukankah mengajak orang berbuat baik dan mencegah dari berbuat mungkar itu fardu kifayah.akan berdosa orang sekampung apabila tidak ada satupun yang melakukannya.
kenapa harus puji pujian?...lanjut

Senin, 17/01/2011 09:57
Nama: Abufikri
Pujian
Bukankah ada hadits bahwa Rasulullaah melongok dari bilik i'tikafnya untuk menegur orang yang membaca Qur'an dengan keras saat saudaranya sedang shalat?

Kalau membaca Qur'an saja dianggap menganggu orang yang sedang shalat, apalagi menyenandungkan nyanyian pujian.

Wallaahu a'lam.

Sabtu, 15/01/2011 23:13
Nama: Achmad Wahyu S
Puji-Pujian Menjelang Sholat
Ass. Wr. Wb. Lha wong dengar pujian, selawatan, ajakan mengingat mati sebagai orang islam kok merasa terganggu itu bagaimana???Tidak benar juga kalau banyak yang merasa terganggu karena melalui pujian-pujian dari pengeras suara masjid itulah sebagian kaidah dan ajaran agama bisa kami ingat sampai tua. Saya slah satunya yang merasakan pengamalan ini. Kalau penataan sound sistemnya barang kali perlu diperbaiki, itu mungkin saja. Wass. Wr. Wb
Rabu, 12/01/2011 20:39
Nama: muslih
ss
Ada yang komentar : ya memang bagus tetapi jangan sebelum sholat, kartena mengganggu orang yang sedang sholat sunnah.
PADAHAL tidak mengganggu sama sekali,.. bahkan yang sedang sholat apakah ada pada keheningan malam atau pada keramaian, mereka juga tidak khusuk.
INI ajaran para ulama sholih yang sudah matang keislamannya.
JADI lebih baik pujian untuk mengingatkan orang lain dari pada yang terdengar suara radio atau musik, atau bahkan menunggu sholat sambil baca koran.
KLIK namaku
Selasa, 11/01/2011 21:59
Nama: Satria
Puji2an
Ya Allah kaule nyo on sepora
Sedejena dusa kaule
Mon dusana oreng sepoh kaule
Dusa umat islam sedeje ....amin.
Senin, 10/01/2011 14:31
Nama: satria
Buat yang terganggu...
Jika disebutkan nama Tuhannya maka bergetar hatinya dan apabila disebutkan nama rosulnya munculah kerinduan cinta padanya...
Astagfirulloh...hanya syaitan yang merasa terganggu dengan kalimat thayibah dan asma ulhusna dan hanya orang munafik yang terganggu dengan pujian kepada Rosul Muhammad...

Terganggu karena tak suka... seperti saya yang merasa terganggu bila ada yang memutar musik, radio, atau tv dengan keras makanya saya gak suka dugem...

Buat yang shalat sunah lakukan itu d rumah karena yang dianjurkan berjamaah d masjid itu shalat 5 waktu dan hiasilah rumahmu dengan dzikir qur'an dan qiyamul lail....

kalo mau shalat thahiyat mesjid dahuluilah orang yg membaca shalawat, dijamin gangguan itu dak ada

Wassalam..
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefJuli 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
::::Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah melalui LAZISNU. Rekening zakat: BCA 6340161473 MANDIRI 1230004838951. Infaq: BCA 6340161481 MANDIRI 1230004838977 :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Transaksi pembelian di Toko NU Online bisa dilakukan via SMS (083807382750) atau PIN BBM (742CE570) ::::