Ahad, 26 Oktober 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Ajaran Tasawuf dalam Puji-pujian Menjelang Shalat Fardlu
Senin, 06/12/2010 10:19
Puji-pujian didendangkan di mushalla, langgar atau masjid merupakan nyanyian puitis yang bernuansa keagamaan. Puji-pujian tersebut biasanya didendangkan  bersama-sama  oleh  para  jemaah menjelang shalat Subuh, Dzhur, Ashar, Maghrib atau  Isya sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan shalat berjamaah. Puji-pujian tersebut ada yang menggunakan bahasa Arab maupun bahasa daerah. Mungkin  berkat  susunannya  yang ritmis, puji-pujian ini mudah dihafal dan menyebar dari satu musala atau masjid ke musala lainnya.

Puji-pujian yang didendangkan para jemaah ini biasanya selalu didahului dengan salawatan atau membaca shalawat Nabi dan puji-pujian pada Nabi SAW. Meskipun puji-pujian tersebut berbahasa Jawa, puji-pujian ini selalu didahului shalawat nabi yang memiliki berbagia keutamaan.
t;
Dari Hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a ( dalam Assamarqandi, 1980: 619) Nabi SAW bersabda yang artinya: “Bacalah shalawat untukku, sebab bacaan shalawat itu membersihkan kekotoranmu (dosa-dosamu) dan mintalah kepada Allah untukku wasilah. Apakah wasilah itu ya Rasulullah? Jawabnya: Satu derajat yang tertinggi dalam sorga yang tidak akan dicapai kecuali oleh seorang, dan saya  berharap semoga sayalah orangnya”.

Orang mengenal pujian disebarkan oleh kalangan pesantren dan ada yang mengatakan puji-pujian ini diperkenalkan oleh para walisongo, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Seperti yang masyarakat kenal lewat sejarah bahwa pendekatan yang digunakan para Walisongo dalam menyebarkan agama Islan adalah  pendekatan persuasif yang bersifat kemasyarakatan sesuai dengan adat dan budaya masyarakat waktu itu.

Salah satu contohnya adalah Sunan Giri yang menciptakan Asmaradana dan Pucung. Sunan Giri jugalah yang menciptakan tembang-tembang dolanan anak-anak yang di dalamnya diberi unsur keislaman, misalnya Jamuran, Cublak-cublak Suweng, Jithungan dan Delikan (Rahimsyah, tanpa tahun: 54).

Selain Sunan Giri, ada lagi Sunan Bonang yang menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Suluk berasal dari bahasa Arab ”Salakattariiqa” , artinya menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat. Ilmu Suluk ini ajarannya biasanya disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid. Salah satu Suluk Wragul dari Sunan Bonang yang terkenal adalah Dhandanggula. Sebagian masyarakat (yang mengenal tarikat) mengatakan bahwa teks puji-pujian diciptakan oleh para pemimpin tarikat dan Syekh Abdul Qadir Jailani.

Puji-pujian yang diperdengarkan di musala berisi shalawatan, do’a-doa mustajabah, dan petuah-petuah hidup. Puji-pujian yang diperdengarkan di musala-musala atau masjid-masjid kental dengan ajaran Tasawuf.

Obat Hati Lima Perkara

Pedoman hidup muslim adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an diturunkan Allah melalui utusan-Nya , yakni Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya Al-Qur’an dan Al-Hadits ini menjadi jelaslah jalan lurus yang harus ditempuh manusia serta aliran yang benar yang harus diikuti untuk memahami pengertian-pengertian hukum yang tercantum di dalamnya. Hal ini pulalah yang merupakan pemisah antara yang halal dan haram. Fungsinya adalah sebagai cahaya yang cemerlang, dengan berpegang teguh itu akan selamatlah setiap manusia dari tipuan. Kandungannya penuh dengan penawar untuk menyembuhkan hati dan jiwa yang sakit.

Mengenai obat hati ini, dalam teks puji-pujian ditawarkan adanya lima hal yang mampu menjadi obat bagi hati manusia. Kelima hal tersebut adalah (1) membaca Alqur’an dengan mengendapkan maknanya, (2) memperbanyak melakukan shalat malam, (3) berkumpul dengan orang Shaleh atau bergaul dan berguru pada orang Shaleh, (4) mampu menahan lapar atau perbanyak berpuasa, dan (5) perbanyak berdzikir di malam hari. Berikut kutipannya.

Tombo ati iku limo sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindu shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang shaleh kumpulono
Kaping papat kudu weteng engkang luwe
Kaping limo dzikir wengi engkang sue
 

Syair obat hati ini kemudian diakhiri:

Insya Allah Gusti Allah ngijabahi
Insya Allah, Allah mengabulkan

Mengingat Kematian

Setiap yang hidup pasti akan mati, demikian halnya dengan manusia. Semua manusia di dunia ini akan mati. Untuk itu melalui salah satu puji-pujian manusia diingatkan akan datangnya kematian. Adapun teksnya adalah sebagai berikut.

Ilingono para timbalan
(Ingatlah jika sudah waktunya dipanggil)
Timbalane ora keno wakilan’
(Panggilannya tak bisa diwakilkan)
Timbalane kang maha mulya
(Panggilan dari Yang Maha Kuasa)
Gelem ora bakal lunga
(Mau-tak mau harus pergi)

Panggilan yang dimaksudkan adalah panggilan Yang Maha Kuasa.Tak ada satupun yang kuasa menghalanginya. Harta, tahta, ataupun kerabat dan keluarga takkan bisa menghentikannya.  Panggilan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia. Hendaknya selama masih hidup selalu ingat dan takut hanya pada Allah karena dengan rasa takut itu menjadikannya berhati-hati dan berusaha selalu di jalan yang benar.


Gambaran orang yang sudah mati dalam teks puji-pujian adalah sebagai berikut.
Klambine diganti putih
(Bajunya diganti putih)
Nek budal ora bisa mole
(Jika berangkat tak bisa kembali)
Tumpak ane kereto jowo
(Kendaraannya kereta Jawa)
Roda papat rupa menongsa
(Beroda empat berupa manusia)

Oma e rupa goa
(Rumahnya serupa Go’a)
Ora bantal ora keloso
(Tak ada bantal ataupun tikar)
Omah e gak nok lawange
(Rumahnya tidak ada pintunya)
Turu ijen gak nok rewange
(Tidur sendirian tak ada yang menemani)

Perintah untuk memperbanyak mengingat kematian dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Tirmidzi (dalam Addimasyqy, 1983: 1048) menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian)”. Selain itu, mengingat kematian dapat melebur dosa dan berzuhud. Dengan mengingat kematian maka kematian itu sendiri sebagai pengingat pada diri sendiri dan orang yang tercerdik adalah orang yang terbanyak mengingat kepada kematian sebagaimana makna hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abiddunnya berikut.

”Secerdik-cerdik manusia ialah  yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-banr cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan akhirat” (dalam Addimasyqy, 1983: 1049).

Ajaran Tasawuf yang salah satunya adalah ajakan untuk melakukan zuhud merupakan salah satu jalan untuk takut dan berusaha mendekatkan diri pada Allah. Menurut Imam Ahmad bin Hambal (dalam Dahlan, dkk, 1988: 324), seorang ahli fiqih, membagi zuhud menjadi tiga, yakni (1) meninggalkan yang haram (zuhud orang awam); (2) meninggalkan yang tak berguna dari yang halal (zuhud orang khawash, para aulia’); dan (3) meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan diri dari Allah SWT (zuhud orang Arifin, orang yang sangat dekat dan kenal benar pada Allah.

Faiqotur Rosidah
Pengajar di P.P Darul ‘Ulum Peterongan Jombang, sedang menyelesaikan S-2 di Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
Komentar(10 komentar)
Rabu, 22/12/2010 16:39
Nama: faiz sahly
untuk Abufikri
@ Abufikri: Monggo kalau njenengan lebih setuju dengan Mas Ony. Tapi jangan lupa bahwa membaca pujian/doa antara iqamat dan adzan pun ada dasar hadits tuntunannya. Jadi ulama terdahulu juga tidak mengada-ada. Ini adalah salah satu metode dalam membumikan Islam kepada masyarakat. Matur nuwun.
Selasa, 21/12/2010 11:03
Nama: Nitnotzz
my 2 cents
saking "rajin" nya ke masjid ampe lupa pujian yang dulu hapal diluar kepala... thanks for the reminder! so proud of you sist! :)
Ahad, 19/12/2010 16:22
Nama: faiz sahly
Puji-pujian ..
Yang jelas hadits ttg dasar puji-pujian sudah pernah di bahas di situs ini. Kalau masih pingin baca, silakan baca " Fiqih Tradisionalis" yg disusun oleh Bpk. Muhyiddin Abdusshomad. Karena doa antara adzan dan iqamat tidak tertolak dan termasuk waktu yang ijabah.

Yang perlu diingat memang "cara membaca" pujian/shlawat/doa sblm iqamat tersebut harus khidmat dan sebisa mungkin tidak membuat gaduh dalam masjid karena ada orang lain yang sedang shalat.

Jadi untuk Mas Ony : Kenapa dilakukan sebelum shalat adalah agar orang tidak berbincang-2 yg tidak perlu dan merenungi makna puji-pujian tersebut, hingga waktu iqamat dikumandangkan. Dan bila pujia itu berupa doa, kita berharap semoga diterima oleh ALLAH SWT doa tersebut. Matur Nuwun
Jumat, 17/12/2010 00:15
Nama: Toto
tanya
Kalau pujian ini. yang sering didendangkan nenekku saat duduk di teras, diciptakan siapa?
Iyun-iyun badan
badan siji digowo mati
ning ndonya akeh dosa
ning akherat disikso
pundi-pundi dalan swargo
babad-ono paculono
pun babad-i nganggo gaman lan pacul
babad-ono nganggo tahlil lan zikir
Rabu, 15/12/2010 14:48
Nama: abufikri
Tasawuf
Bismillaah,

Saya setuju dengan Ony bahwa antara adzan dan iqomah sebaiknya digunakan untuk shalat sunnah baik tahiyatul masjid maupun rawatib dan lainnya. Kegiatan lain jangan sampai mengganggu orang yang sedang shalat sunnah.

Wallaahu a'lam.
Rabu, 15/12/2010 11:19
Nama: aji khotim munasir
kholil
ya betul,tu untuk membangkitkan kembali ghiroh terhadap para wali yang telah menyebarkan ajaran islam di pulau jawea khususnya.tapi jangan terlalu berlebihan dalam menyikapi adat istiadat.karena agama dengan adat harus dipisahkan tanpa saling bercampur.
Selasa, 14/12/2010 21:36
Nama: fariham
kagum
bu bagus sekali bu...yang saya kagumi dari setiap tulisan ibu adalah sebuah istilah yang kadang luput dari orang2 pada umumnya. dan ibuk selalu bisa melihat BLANK SPOT dari setiap karya ibu sendiri sehingga ibuk bisa merevisi dan melahirkan karya yang bahkan sumber2nya pun membuat saya benar2 heran "SEBENARNYA IUK PUNYA BUKU BERAPA?" hihihi saya suka buk....bagus brilian.bravooo
Senin, 13/12/2010 23:29
Nama: hilal
maju terus
iya jgn terpengaruh ama org2 yg ngaku2 pengikut salafussalih, mereka adalah orang pintar yg sdg dlm "kebodohan"......hasil buah pikir manusia biasa kok dianggap "menurut Rosul"...........sampai hati nuduh saudaranya muslim sebagai pelaku bid'ah sesat......padahal definisi bid'ahnya saja masih menurut hasil otak manusia biasa bukan menurut Rosululloh SAW
Senin, 13/12/2010 14:50
Nama: banyu
Ajaran Tasawuf dalam Puji-pujian Menjelang Shalat Fardlu
hmmm.... nice
Sabtu, 11/12/2010 09:20
Nama: faiq
tanggapan
thanks pak syamsul 'nd kafa: braVo NU, It 's present for Muhammad SAW, deal???
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefOktober 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::