Berita Terkait
Tags:
300 x 80 Pixel
ORANG-ORANG yang dekat Gus Dur, bercerita. Jika tak ada teman yang diajak bicara dan beliau sendirian, maka dalam waktu yang sunyi sepi itu ia membaca surah al-Fatihah, entah berapa kali. Lalu membaca shalawat atas Nabi.
Gus Dur kemudian melanjutkannya dengan tawasul dan berdo’a untuk dirinya sendiri, kedua orangtua, keluarga, untuk para wali, para ulama yang telah wafat dan untuk bangsa dan negara yang dicintainya.
Ada juga orang yang bercerita begini. Jika tangan Gus Dur tak pernah berhenti bergerak-gerak, seperti mengetuk-ngetuk, sebenarnya dia sedang berzikir: Allah, Allah, Allah. Tangan itu menggantikan tasbih. Itulah, kata orang-orang dekat Gus Dur, jalan spiritual atau thariqatnya.
Saya sendiri tak pernah tahu atau mendengar dan tak pernah bertanya, apakah Gus Dur mengamalkan thariqat tertentu, seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Tijaniyah, Mawlawiyah, Rifa’iyyah atau yang lainnya. Saya mengira ia tak terikat pada satu thariqat. Boleh jadi ia juga tak mau berkomentar soal mu’tabarah (diakui) atau ghair mu’tabarah (tidak diakui) dalam hal ini. Baginya, mungkin, semua thariqat baik adanya. Sebab, ia adalah jalan spiritual yang ditemukan oleh seseorang dengan pengalamannya masing-masing.
Dalam sejumlah kesempatan, Gus Dur juga mengagumi cara-cara spiritual yang dijalani oleh para pengikut agama-agama yang ada di dunia.
Cerita seorang teman mengatakan bahwa ia telah memperoleh ijazah, semacam perkenan mengamalkan suatu thariqat, atau “pemberkatan” dari banyak sekali guru-guru atau “mursyid” thariqat. Bukan hanya dari dalam negeri, melainkan juga dari luar negeri. Gus Dur terlalu sering berziarah ke tempat-tempat peristirahatan para pendiri thariqat, seperti Syiekh Abd al-Qadir al-Jilani di Irak dan lain-lain.
Thariqat (thariqah) adalah cara atau jalan menuju Tuhan berdimensi esoterik, batin, spiritual. Thariqat adalah cara atau jalan menuju Tuhan berdimensi esoterik.
Para pengikut Thariqat biasanya menempuh perjalanan menuju Tuhan ini melalui aktifitas ritual-ritual dzikir (mengingat dan menyebut) Tuhan, permenungan dalam keheningan malam, ketika segala aktifitas manusia berhenti dan pintu-pintu rumah telah terkunci dan sepi. Dzikir-dzikir, biasa juga disebut wiridan, kepada Tuhan itu diucapkan mereka berkali-kali, puluhan dan ratusan kali, hingga Dia melekat di hatinya. Dia menjadi matanya, menjadi pendengarannya, tangan dan kakinya.
Dalam tradisi di kalangan masyarakat umum, dzikir-dzikir, doa-doa dan istighatsah (memohon pertolongan Tuhan), dilakukan sebagai upaya melepaskan segala kegalauan, kerisauan dan kemelut-kemelut kehidupan atau untuk meminta sesuatu yang diimpikannya. Ini berbeda dengan para kaum sufi. Doa dan segala zikir dipanjatkan lebih dalam rangka memohonkan ampunan Tuhan atas dosa dan kesalahan yang diperbuatnya sehingga segalanya diridhai dan ia menjadi orang yang dicintai-Nya. Bagi mereka apapun yang dilakukan dalam kehidupan, tak ada maknanya, tanpa kerelaan dan cinta Tuhan.
Pada tradisi masyarakat pesantren, disamping doa, mereka juga biasanya memulai dengan membaca shalawat atas Nabi dan menjadikan beliau sebagai wasilah (penengah/juru bicara) kepada Tuhan. Di berbagai negeri Muslim tradisi ini telah berlangsung sangat lama. Mereka memandang wasilah patut dilakukan. Karena berkat, atas peran dan melalui beliaulah manusia mengerti tentang Tuhan dan ajaran-ajaran-Nya. Bahkan dalam tradisi sufisme bahwa demi Nabi Muhammadlah Tuhan menciptakan semesta.
Mereka menyebutkan kata-kata Tuhan dalam hadits Qudsi, “Lawlaka Lawlaka Ma Khalaqtu al-Aflak” (Andai tak karena kamu (Muhammad), ya, Andai tak karena kamu, Aku tak Menciptakan cakrawala). Maka masih menurut mereka, “Awwal Ma Khalaqa Allah, Nur Muhammad” (Ciptaan Tuhan yang pertama adalah “Nur (cahaya) Muhammad.”
Mereka juga meyakini bahwa Nabi Saw adalah al-Syafi’ (sang penolong), sebagaimana beliau menolong umat manusia ketika dalam kegelapan zaman Jahiliyah. Berkat beliaulah umat manusia mendapatkan cahaya. Al-Qur’an menyatakan hal ini:
هُوَ الَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُم وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ. وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْن رَحِيْماً
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu (Muhammad) dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan (membebaskan) mereka dari kegelapan (kebodohan kepada cahaya (ilmu pengetahuan). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab, [33]:43). (Bersambung)
Oleh: Husein Muhammad, Pengasuh Pesantren Dar al-Tauhid Cirebon, Jawa Barat
Luar Biasa
Saya kagum dengan artikel Mbah Husein, yang telah memberikan pencerahan tentang thoriqoh dengan mengambil sampel Thoriqoh Gusdur, walaupun beliau mungkin tidak menyebutkan thoriqoh apa yang dipakai Gusdur...Guru kami Mbah KH. Abdul Karim Fanani(Mbah Manaf) hanya memerintahkan kepada muridnya "Yang penting Thoriqoh Kita Ta'lim wa Muta'lim ) Ngaji...... Ngaji...Belajar dan mengajar...Kami menangkap dari Mbah Husein tentang artikel itu...bahwa thoriqoh itu umum...asal bisa mendekatkan diri dan bisa menuju Allah...Wallahu A'lamu.
TOREQOT GUS DUR
TOREQOT GUS DUR ADLAH QODIRIAH MURSYID BELIAU KYAI SONHAJI KEBUMEN. WALAUPUN BELIAU TDK MENAMPAKKAN TOREQOT BELIAU.......TP PERJALANAN RIYADOH TOREQOT BELIAU BS DIBACA DI BUKU AUTOBIOGRASFO BELIAU
sedang ungkap fakta Gus Dur
baca tulisan kang husen ini, nampak niat awalnya hanya mau ungkap siapa Gusdur terkait soal tarikat dengan cara merangkum apa yang diketahui orang orang tentang gusdur, juga apa yang diketahui kang husen tentang gusdur. sayangnya tidak konsisten, ya kang husen suka melanglang buana sendiri, atau berpendapat juga, atau apalah. ini jenis tulisan campur aduk tah?
Thoriqot Gus Dur
Thoriqot pada hakekatnya adalah pengalaman spiritual dari seorang alim dan abid yang telah menemukan jalannya dalam mencari jalan akhirat. Bagi para murid thoriqoh, bermaksud mengikuti jalan yang sudah ketemu itu. So, maksudnya merasa tak mampu mencari jalan sendiri, mengikuti jejak jalan yang sudah pernah ditemukan. Logis sekali ....
Kagem Fukiha
LA TAHSABANNAL LADZI QUTILUU FI SABILILLAHI AMWATAN, BAL AHYAUN INDA ROBBIHIM YURZAQUNA Artinya : Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (QS. 3:169)
untuk saudara/i Fukiha
ULAMA DAN PARA NABI TIDAK PERNAH MENINGGAL
Sedikit Rancu
Assalamu 'alaykum wa rohmatulloh. Mohon maaf sebelumnya, kepada Admin. Saya agak rancu dengan kata "mereka" yang sering diulang dalam paragraf-paragraf terakhir dari artikel ini.. Mungkin hanya tentang perkara niat/pemahaman/hati saja, sih, tetapi sangat pokok. Jika pemahaman saya benar, di situ disebutkan (salah satunya) bahwa mereka menganggap Muhammad Rasululloh yang telah meninggal sebagai juru bicara kepada Allah ketika berdoa. Bukankah yang seperti itu adalah dilarang oleh Allah?
TIAP ORANG PUNYA JALAN MENUJU PINTU PINTU TUHAN
Secara esoteris memang banyak pintu-pintu menuju Tuhan, boleh jadi pintunya beda-beda tapi tapi tujuannya sama, yaitu ridho Tuhan.Semoga kita semua dapat menemukan pintu-pintu menuju Tuhandengan selamat, amin
625 x 100 Pixel
305 x 100 Pixel
305 x 120 Pixel



Print
Download
Send






Pref

