Senin, 28 Juli 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Persoalan Hisab dan Rukyat
Kamis, 12/10/2006 15:41

Kami dari Lajnah Falakiyah Majlis Taklim Muroqobatillah, Desa Cikalong Sari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang-Jawa Barat, ingin mempertanyakan tentang hal yang berhubungan dengan penentuan Hari Raya Idul Fithri, bahwasanya di dalam almanak NU, tercatat waktu ijtima’ menjelang Hari Raya Idul Fithri, jatuh pada hari Ahad, 22 Oktober 2006 jam 12:07:30 WIB, sedangkan waktu Ghurub, ketinggian hilal 00 54’, sehingga Hari Raya jatuh pada Hari Selasa 24 Oktober 2006, hal ini yang akan kami pertanyakan, mengenai ketinggian hilal yang tidak sesuai dengan keterangan kitab Sullam al Nayyirain karangan Muhammad Manshur bin Abdul Hamid, Jakarta.

Menurut kitab tersebut peredaran bulan pada tiap-tiap satu jam, sama dengan 30 daqiqoh atau 1/20, sehingga apabila ijtima’ jam 12:07:30 WIB, maka sampai ghurub 6 jam x 1/20 = 30. Artinya hilal pasti bisa di-rukyah pada hari Ahad sore, dan hari Raya Idul Fithri jatuh pada hari Senin 23 Oktober 2006, kenapa almanak NU tercatat ketinggian hilal 00 54’, dan Hari Raya Idul Fithri jatuh pada hari Selasa 24 Oktober 2006, hal ini yang sangat tidak bisa dimengerti dan tidak mendasar.

Untuk bahan pertimbangannya, kami lampirkan Hisab Taqwim Hilali Syar’i, yang menjadi argumen kami.

Demikian hal ini kami sampaikan, selanjutnya besar harapan kami untuk bisa ditanggapi dan dijelaskan, mengingat pentingnya hukum yang mengatur tentang ibadah puasa, karena menyangkut kemaslahatan umat Islam, dan pasti akan diminta pertanggungjawabannya di Yaumil Jaza’.

(Pimpinan Lajnah Falakiyah Majlis Ta’lim Muroqobatillah Liahlisilsilah Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah, KH A Mahmud Amin)

Jawab:
Menjawab pertanyaan surat Tim Lajnah Falakiyah yang Bapak pimpin, perlu kami jelaskan sebagai berikut:

1. Dalam mengambil sikap mengenai kepastian awal bulan Qamariyah, khususnya awal Ramadan, awal Syawal, dan awal Dzulhijjah, NU mendasarkan pada rukyah, bukan pada hisab; sesuai dengan nash dan aqwalul ‘ulama’ yang dipegangi. Hal ini tercermin pada setiap penerbitan ikhbar mengenai hasil rukyatul hilal bil fi’li dan tercermin pula pada catatan kaki hisab almanak NU yang intinya penentuan awal bulan Qamariyah, khususnya awal Ramadan, awal Syawal, dan awal Dzulhijjah, menunggu hasil rukyatul hilal bil fi’li. Rukyah sebagai kata penentu, sedang hisab berfungsi sebagai pendukung dalam menyelenggarakan rukyatul hilal bil fi’li. Prinsip NU ini dikenal dengan asas ta’abbudiy atau asas taqdiimut ta’abbud ‘alat-ta’aqqul atau asas ikmaalut-ta’abbud bit-ta’aqqul.

2. Hisab almanak NU tidak mengacu pada metode Sullam al Nayyirain. Hisab almanak NU adalah hisab penyerasian NU dengan pendekatan rukyah yang diputuskan dalam musyawarah ‘ulama’ ahli hisab, ahli astronomi, dan ahli rukyah. Secara empirik, hisab penyerasian NU mempunyai tingkat akurasi yang sangat tinggi, lebih dari 90% sesuai dengan hasil rukyatul hilal bil fi’li. Kemudian Departemen Agama pun membuat semacam sistem penyerasian, untuk mengatasi perbedaan yang terdapat dalam berbagai metode hisab.

3. Lebih dari dua puluh metode hisab tersebar di kalangan umat. Perbedaan dalam hasil hisab selalu ada; dari perbedaan yang masih dalam batas toleransi sampai pada perbedaan yang ekstrim. Sebagai contoh terjadinya perbedaan hisab dalam penentuan awal bulan Syawal 1427 H, sebagai berikut:
a. Ijtima’ menurut semua metode hisab jatuh pada hari Ahad, 22 Oktober 2006, tetapi beda mengenai waktunya:
- Enam Belas Metode Hisab: antara pukul 12:08 – 12:17 WIB; NU: 12:07:30 WIB
- Metode Fath al Rauf al Manan: pukul 11:14 WIB, Metode New Comb: pukul 11:56:38 WIB.
- Metode Sullam al Nayyirain: pukul 10:41 WIB
b. Tinggi hilal di Indonesia, menurut umumnya metode hisab antara –00 30’ sampai 10. Tinggi hilal di Jakarta pada waktu itu, menurut:
- Lima Belas Metode Hisab: antara 00 12’ – 00 58’ 32”; NU: 00 54’
- Metode Nurul Anwar: 10 1’ dan Metode Al-Qawa’id al Falakiyah: 10 48’
- Metode Fath al Rauf al Manan: 30 23’ dan Metode Sullam al Nayyirain: 30 39’ 30”

4. Perbedaan ukuran tinggi hilal tersebut dipengaruhi oleh faktor perbedaan sistem, alat yang digunakan, dan faktor hasib. Menurut astronomi, tinggi hilal mencapai imkanur rukyah, jika memenuhi kriteria tertentu, antara lain: tinggi hilal 20, umur bulan 8 jam sesudah ijtima’; ini berarti cara menghitung tinggi hilal ada rumus-rumus tertentu yang sangat rinci dan teliti sebagaimana dipaparkan oleh astronomi dan ilmu hisab ‘ashriy. Di antara metode

Komentar(8 komentar)
Selasa, 28/09/2010 19:00
Nama: rofi
Tayammum pake susu murni?
@sawiji: kalo teknologi disia-siakan hanya karena kita harus merujuk "contoh rasul" ya berhentilah islam disini.
'setuju, tapi apakah yang syara' ditinggalkan?.. berarti karna jaman sudah maju tayammum ga lagi pake debu, tapi pake susu murni.. sumu liru'yatihi mas, bukan lihisabihi..'
Rabu, 18/03/2009 03:17
Nama: yusron
selalu bisa bikin heboh
hasil hisab dan rukyat pada hari2 tertentu selalu bikin heboh , masalahnya ngitung kelebihan satu atau kurang satu hari doang , yakinlah itu nggak ape ape , inna iddata asyuhuri indallah isnenasyarah , sama sama diitung ya nggak apa apa to ... apalagi tilmidun sekarang kan udah pada pinter , udah pada dapat geografi tau bulan dan matahari ...duanya diciptakan oleh Alloh untuk dikenal dan dimengerti bahasa sononya solar system dipakai , lunar sistem juga dipakai , gitu aja koq repot ,kita kan pada umum kalo ngasih tanggal di surat pake dua penanggalan he...he......
Jumat, 16/03/2007 14:48
Nama: sawiji
gunakan teknologi untuk mempertebal iman
kalo teknologi disia-siakan hanya karena kita harus merujuk "contoh rasul" ya berhentilah islam disini. tidak ada dokter bedah, tidak ada astronot tidak ada mobil. Naik aja unta, kalau sakit cukup berdo'a (karena rasul tidak pernah ke dokter untuk suntik, dan safar pakai unta) gitu khan????
wong kalokita mau shalat aja tanya "jam berapa" koq bukan "matahari sudah setinggi apa ya?"
Senin, 13/11/2006 16:32
Nama: Abu Cholid
Menentukan Hari Raya Islam
Lagi-lagi Penentuan Hari Raya Islam Hampir beberapa tahun sekali selalu terjadi perbedaan tentang penentuan jatuhnya Hari Raya terutama hari raya yang penting, Idhul Fitri dan Idhul Adha. Kali ini hari Raya Idhul Fitri dimana yang berpendapat dengan Hisab menentukan jatuh pada hari Senin 23 Oktober 2006 sedangkan memakai Ru’yat jatuh pada keesokan harinya tanggal 24 Oktober 2006. Situasi ini memang sesuatu yang menyebalkan, merisaukan sekaligus memprihatinkan. Membuat suasana jadi panas terlebih jika dikaitkan dengan politik maka bisa saja terjadi perpecahan. Apalagi hampir kebanyakan orang berasumsi bahwa yang memegang Ru’yat kebanyakan pro NU sedangkan yang Hisab didominasi oleh Muhamadiyah. Disuatu tempat terjadi satu Mesjid sedang Tarawih sedangkan Mesjid tetangganya melaksanakan Takbiran. Ada Mesjid yang diam saja tetapi ada juga yang melakukan perlawanan dengan cara mengumumkan berulang-ulang supaya tetap untuk Lebaran di tanggal 24 Oktober 2006. Anehnya banyak juga basis Muhamadiyah yang memilih tanggal 24 tetapi buka puasa di tanggal 23. Dan sebaliknya banyak juga yang berbasis NU memilih tangal 23. Memang semuanya mempunyai dalil atau pegangan masing-masing yang kuat. Sepertinya kondisi ini selalu akan berulang sampai hari kiamat hingga salah satu nya mengalah. Tetapi apakah sampai harus begitu ? Disamping itu kebanyakan orang menganggap bahwa keputusan yang terbaik adalah yang diputuskan oleh pemerintah. Dengan kata lain mereka ingin selalu mengikuti apa yang diputuskan pemerintah. Padahal apa yang terjadi adalah pemerintah nyatanya tidak menetapkan jatuhnya Hari Raya. Pada prakteknya pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada badan Hisab dan Ru’yat yang dikoordinasi oleh Departemen Agama yang langsung dipimpin oleh Menteri Agama. Buat Pemerintah yang berkuasa bukan berdasarkan mayoritas tunggal seperti saat ini penetapan oleh pemerintah tentang jatuhnya Hari Raya bisa jadi menjadi masalah yang bisa jadi merugikan pemerintah. Pilihan terhadap salah satu metode akan mengurangi dukungan terhadap massa yang menggunakan metode lainnya. Dewan Hisab dan Ru’yat menerima masukan-masukan dari mana-mana diseluruh Indonesia yang disebut saksi-saksi. Masukan-masukan dari saksi-saksi itulah yang diolah dan dipadukan serta dikonfrontir dengan ahli-ahli Hisab yang pada akhirnya diputuskan dan ditetapkan dan disahkan oleh Menteri Agama. Tentu saja terkadang terjadi keputusan yang menyakitkan dan tidak bermutu karena terjadi pertarungan antara yang ”ilmiah” (Ihisab) dengan yang bersandarkan jumlah saksi (ru’yat) yang berakhir dengan adu banyak suara. Kalau sudah begini bisa saja yang benar karena sedikit dikalahkan oleh yang salah karena banyak pendukung. Masalah yang kedua ialah seringkali dan sepanjang pengetahuan kita apa yang tertulis dalam kalendar selalu mendapat dukungan dari penganut Ru’yat. Karena penganut Ru’yat itu lebih dominan dari penganut Hisab tentu saja orang-orang yang memiliki kepentingan dengan hal itu akan tidak segan-segan untuk memberikan dukungan finansial demi terselenggaranya kepentingan mereka. Misalnya banyak sekali acara-acara yang sudah dijadwalkan sedemikian rupa dengan investasi yang tidak kecil yang apabila dibatalkan atau dimajukan akan merupakan suatu kerugian besar. Sebagai contoh barangkali banyak stasiun-stasiun Televisi yang sudah memprogramkan acara-acara spesial pada tanggal tertentu dalam hal ini tanggal 24 Oktober 2006. Dengan demikian perubahan jadwal dengan memajukan atau memundurkan acara yang ”langsung”(live) akan sangat meresahkan para pelaku yang terlibat disana. Untuk bisa memahami duduk perkaranya marilah kita dengan kepala dingin mengamati uraian berikut. RU’YAT Ru’yat dalam pemahaman disini adalah melihat bulan pada posisi tertentu yang menunjukan bahwa hari tanggalan akan berakhir atau menjelang tanggalan baru seperti Tahun/Hari/Bulan baru seperti 1 Syawal 1427 Hijriah misalnya. Jadi pada ghalibnya atau afdolnya kita ingin merayakan Hari Lebaran itu tepat pada wa
Ahad, 22/10/2006 17:58
Nama: MUALLIM CH
Melihat hilal dengan Teropong?
Di Zaman Rasulullah tidak ada teropong..? <<betul>> Di zaman Rasulullah kurang canggih? <<Masya Allah .... Semua Ilmu dari Allah, Rasulullah menetapkan awal dan akhir bulan berdasarkan "kemampuan manusia" sehingga beliau bersabda "..... fa in ghumma 'alaikum...."; kalau mau menafikan kemampuan manusia bisa saja Rasulullah menetapkan awal dan akhir bulan berdasarkan wahyu!!! tanpa ru'yah!!!. >> Bersabarlah dan bertakwalah... kembali kepada Alqur'an dan Hadits/sunah Rasulullah yang sebenarnya...
Sabtu, 21/10/2006 09:22
Nama: Akhmad rifai
teknologi utk rukyah
Kalau jaman rosulullah dulu, karena belum ditemukan teropong yang canggih, maka rosulullah menggunakan mata telanjang sehingga hilal yang kurang dari 2 derajat tidak akan terlihat. Islam adalah agama yang tidak menafikkan dengan kemajuan teknologi dan menyuruh umatnya utk mengembangkan teknologi. Kalau sekarang ini sudah ada teropong yang mampu melihat hilal kurang dari 2 derajat, kenapa kita tidak menggunakan alat canggih tersebut utk melihat hilal dari pada menggunakan mata telanjang. satu hal lagi, salah satu diciptakannya matahari dan bulan adalah supaya kita bisa menghitung waktu dengan hisab, jadi kalau hisab sudah menentukan bahwa setelah matahari terbenam dan bulan masih di atas ufuk meski hanya nol koma sekian derajat maka sudah cukup valid utk dikatakan masuk bulan baru. utk memperkuatnya silakan dilihat dengan bantuan alat yang canggih, tapi jangan menggunakan mata telanjang.
Jumat, 20/10/2006 22:54
Nama: santri warnet
agama dan science
Teknologi boleh berkembang tapi dalam menjalakan syariat agama tetap berpegang pada nash2 yang ada. Jadi semaju apapun teknologi, tetap saja dia sebagai alat bantu. Patokannya dalam menjalankan syariat sudah jelas, Alqura, Alhadist, Ijma ulama... Kalo memahami agama......... percaya dulu baru berpikir ......sedangkan kalo memajami science........ berpikir dulu baru percaya.... karena pikiran kadang tidak mampu memahami hal2 yang telah di"create" oleh Allah...
Kamis, 19/10/2006 09:02
Nama: elhasan
Teknologi terus berkembang
Dalam hisabnya, sudah seharusnya NU juga memperbaharui dengan metode terbaru, dengan data-data yang lebih akurat. saya kira untuk saat ini hasil perhitungan modern selisihnya tidak ada satu menit. Yang jadi masalah adalah: pada level berapa derajat HILAL DAPAT DILIHAT!!!.
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefJuli 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
::::Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah melalui LAZISNU. Rekening zakat: BCA 6340161473 MANDIRI 1230004838951. Infaq: BCA 6340161481 MANDIRI 1230004838977 :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Transaksi pembelian di Toko NU Online untuk sementara ditutup per 24 Juli-13 Agustus 2014::::