Selasa, 21 Oktober 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Fasal tentang Bid'ah (1)
Jumat, 23/02/2007 18:00

Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah "bid’ah" ini disandingkan dengan istilah "sunnah". Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda,”Setiap perkara baru adalah bid’ah”.

Menurut para ulama’, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’).

Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:

بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ
Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).

Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;

اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ
“Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
“Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَاوَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا. القائى, ج: 5ص: 76.
Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.

Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

Mari kita kembali kepada hadits.
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, حدف الصفة على الموصوف “membuang sifat dari benda yang bersifat”. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :
كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر

“Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

--(KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam "Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU)

Komentar(10 komentar)
Kamis, 15/01/2009 22:03
Nama: fedayeen
bidah
maaf lho sebelumnya...saya memahami sepintar apapun akal manusia ...ia tidak akan mampu memahami hakikat pencipta. lalu bagaimana akal yang sedemikian terbatas hendak menentukan cara berhubungan dengan pencipta? kita ikuti saja cara yang telah pencipta tentukan untuk berhubungan (ibadah) dengan-Nya. saya memahami wilayah ini adalah wilayah wahyu bukan wilayah akal. Baik buruk..terpuji tercela...biarlah syara' yang menentukan....apalagi wilayah ibadah ritual....apa masuk akal ketika akal manusia tidak memahami hakikat pencipta hendak menentukan cara untuk berhubungan dengan pencipta-Nya? tidak bisa diterima akal dan pasti amal tersebut sia-sia
Rabu, 12/11/2008 11:21
Nama: FARRIS dulunya MD & PERSIS
kalo dikit2 bid'ah ya....
kalo dikit2 dibilang bid'ah, dan semuanya itu sesat ya repot dunk.... Nanti Kitab Suci Al-Qur'an dibilang bid'ah dunk.... Karena waktu zaman Nabi masih dalam bentuk mushaf....
Senin, 10/11/2008 14:26
Nama: ABU FIKRI
kritik
yang antum katakan itu benar yaitu ada baik dan buruk, ada panjang dan pendek, dan ada gemuk dan kurus dan jangan lupa ada sunah dan ada bidah.
maksudnya : sunah : jalan yg ditempuh Rosul (mengikuti) dan bidah :lawan dari sunah tidak mengikuti atau membuat-buat hal yang baru.
Jumat, 10/10/2008 00:53
Nama: IMAM
fASAL TENTANG BI`AH (1)
Penjelasan Bp Kyai di atas dan masuk akal yang telah desertai dalil naqli dan aqli ( berupa pempaparan tentang bid`ah dalam ilmu Balaghoh ). Saya iadi jelas dan gamblang. Semoga orang NU tidak jadi ragu dalam mengikuti kyainya (ulama NU ). Allohumma baarik fiih.
Jumat, 05/09/2008 06:29
Nama: huda
Fasal tentang Bid'ah (1)
Assalammungalaikum....
Sudah ku bilang kalo HURUF HIJAIYAH ITU DARI "ALIF sampai YAK" jadi susah klo ngomong ma orang yg ilmunya cuma sampai "TAK" di tambah dia mempunyai sifat yg sok benar sendiri n seneng ngeyel or menyela orang mirip "BANI ISRAEL".
Ilmu ALLAH SWT itu luasnya ngak bisa dihitung begitu juga dalamnya
Jumat, 22/08/2008 10:37
Nama: yogi ndut
Kepad aktivis dakwah kampus UNNES
jayalah NU,jayalah NKRI,jayalah Pancasila......Ikhwan,Akhwat tlg jangan jangan meracuni anak muda NU agar berpaling dari amliyah NU....Biarlah kita hidup berdampingan...sesama muslim kan saudara
Kamis, 26/06/2008 12:09
Nama: Bejo
coment
Di Indonesia semua tidak ada standar. Ulama, Imam, Kyai, Ustad bahkan Syaikh bisa jadi julukan semua orang (bahkan hewan dan barang antik) dan sah-sah aja bikin fatwa dan bikin kitab. Oleh karena itu saatnya kita menganut ulama yang terakreditasi.
Selasa, 24/06/2008 19:07
Nama: hamba Allah
mohon semua
Mohon semua hadits yangmenjelaskan tentang bid'ah itu di teliti , mana yang shahih, naudhuu atau dhaif, maupunsanadnya, taudari segi ilmu haditsny , jangan asala mengambil hadits sembarangan, dan saya lihat semuat hadits yang dijelaskan disini nagak jelas dari mana dan periwayantanya dari mana, bukankah ada ilmu dalampemahamananya, Allahu a'lam
Ahad, 22/06/2008 12:57
Nama: abu abdirrahman ibnu mas'ud
perbedaan=rahamat?
"Perbedaan pendapat dikalangan umat ku adalah rahmat" ----> Haditts ini maudlu atau tidak ada asal usulnya sama sekali
lihat:
1.Dla’îf al-Jâmi’ karya Syaikh al-Albâniy, no.230
2.Silsilah al-Ahâdîts adl-Dla’îfah karya Syaikh al-Albâniy, no.57
Dari segi maknannya aja salah, kalau perbedaan dalam masalah agama adalah rahmat maka persatuan adalah laknat????
Kalau berbeda pendapat ulama dalam masalah ijtihadiyah adalah maklum karena mungkin kadang ulama pernah khilaf, namanya aja manusia. karena itu lah menuntut ilmu syar'i itu penting agar kita mengetahui kebenaran
Jumat, 06/06/2008 17:05
Nama: nuranie
pelangi=perbedaan
pelangi itu indah karena banyak warna yang memadukannya,,,perbedaan itu angurah yang harus kita rajut dengan ukhuwah islamiyah...
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefOktober 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::