Rabu, 23 Juli 2014
Language :
Find us on:
Ubudiyah 
Fasal tentang Bid'ah (1)
Jumat, 23/02/2007 18:00

Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah "bid’ah" ini disandingkan dengan istilah "sunnah". Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda,”Setiap perkara baru adalah bid’ah”.

Menurut para ulama’, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’).

Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:

بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ
Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).

Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;

اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ
“Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
“Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَاوَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا. القائى, ج: 5ص: 76.
Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.

Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

Mari kita kembali kepada hadits.
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, حدف الصفة على الموصوف “membuang sifat dari benda yang bersifat”. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :
كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر

“Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

--(KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam "Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU)

Komentar(10 komentar)
Kamis, 29/05/2008 17:25
Nama: mahsina
sisin
SIMPULANNYA: NU Mengedepankan IJTIHAD untuk perkara yang sifatnya TIDAK JELAS agar Menjadi JELAS Sesuai Sunnah Rosulullah. TIDAK JELAS ini secara sederhana karena KULTUR BERBEDA, dengan Tujuan KULTURISASI YANG ISLAMI..........
Sabtu, 17/05/2008 16:26
Nama: MAS POER
JANGAN SALING MENGHUJAT
jangan karena kita beda pendapat,kita,aku dan kamu,sampeyan karo dewekke jadi musuh yg saling iri dengki,saling hasad,bangga jadi RAJA HUJAT,ketawa ngakak nuding saudaranya sesat..jangan!!stop kawan,jangan lakukan!!!umat kanjeng NABI itu satu tubuh kan??ayo sadari,...mas poer,085645208962,salam kenal,..monggo
Rabu, 23/04/2008 16:59
Nama: mamad
Kita sama dihadapan Allah!
jangan membesarkan perbedaan2, tp lihatlah persamaan kita sebagai Makhluk Allah. Hanya Allah Yang Maha Benar!
Rabu, 02/04/2008 09:37
Nama: Daldiri
Yakin
Saya yakin NU top top deeh... karena apa yang dia sampaikan bagi aku sempurna, tapi bagi yg. bingunk ya mangga, yang dasarnya jelas keterangan yang disampaikan mudah dimengerti ngapain bingung jadi orang kok bingungan, lebih renung, tafakur bid'ah? ingat pada zaman para wali kalau berdakwah apa seperti dakwahnya para nabi tidak khan? sunan dengan wejangan, dengan gamelan dengan sedekah kenduri, tapi tujuannya kan dakwah dan hasilnya sudah kita nikmati sampai sekarang, gitu aja kok repot dan bingung.
Kamis, 21/02/2008 02:27
Nama: gasgusgasgus
thx
o... gitu alasan bidah hasanah tu. matur nuwun
Rabu, 20/02/2008 17:02
Nama: murni
cape deh
mmmmm....ribut lagi...capee deehhh
Ahad, 10/02/2008 00:45
Nama: andi Bahairan
Bid'ah
Imam Syafi'i r.a. berkata: "Inovasi dalam agama ada dua. Pertama yang
bertentangan dengan kitab, hadist dan ijma', inilah yang sesat. Kedua
inovasi dalam agama yang baik, inilah yang tidak tercela."

jika melakukan inovasi yang baik-baik aja mengapa disebut bid'ah seperti mendirikan madrasah-madrasah islam,jika merubah lafadz.
al-Quran sehingga keluar dari bahasa Arab
itu yang diharamkan.
Amaliah Nu..suadh ada sebelum saya lahir didunia,sampai sekarangpun tetap mengamalkan..tetap abadi. Wassalam.
Selasa, 05/02/2008 16:29
Nama: finitely infinity
mantep gus
mantep gus balaghohnya ... argumen kayak gini yang guwe cari2...
Jumat, 01/02/2008 21:14
Nama: Gin Gin Ginawan
Komentar
Untuk Saudara Ichsan yang dirohmati Allah,
Jangan seperti itu Akhi Ichsan, debat itu berguna untuk melatih cara da'wah agar lebih bersemangat dan menimbulkan semangat untuk mencari ilmu. Justru dengan itu orang yang mabuk,judi,dan pemerrkosa bisa kita da'wahi. Rohmat Allah semoga untukmu..
Ahad, 27/01/2008 01:10
Nama: Dandra
maulod nabi muhammad saw
kepada saudara-saudara yang kontra dengan perayaan muludan,yasinan,dll dan mengatakan semua itu adalah bid'ah...saya rasa kita harus belajar dulu apa itu bid'ah.
setiap 12 rabiul awal saya memperingati maulid nabi sebagai semarak syiar islam dan bukti cinta pada beliau rosul,kalau "anda" mentahkim itu adalah bid'ah,biarlah anda tahu saya adalah pelaku bid'ah yang mencintai rosululloh.....sholu ala muhammad.
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefJuli 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
::::Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah melalui LAZISNU. Rekening zakat: BCA 6340161473 MANDIRI 1230004838951. Infaq: BCA 6340161481 MANDIRI 1230004838977 :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Transaksi pembelian di Toko NU Online bisa dilakukan via SMS (083807382750) atau PIN BBM (742CE570) ::::