Ahad, 26 Oktober 2014
Language :
Find us on:
Syariah 
Fasal tentang Qurban
Senin, 17/12/2007 17:30

Hukum menyembelih hewan qurban adalah sunnah muakkad bagi muslim, yang baligh dan berakal. Tiga hal yang barusan juga menjadi syarat atas setiap perintah yang wajib dan yang sunnah. Khusus untuk melaksanakan ibadah Qurban, disyaratkan pula mampu secara ekonomi untuk melaksanakannya sebagaimana ibadah haji.

Rincian penjelasan mengenai siapa yang dianjurkan berqurban sebagai berikut. Pertama, anak yang telah dapat dikategorikan mumayyiz (anak yang mampu membedakan yang mudarat dan mafsadat) bahkan sudah tergolong murahiq (mendekati usia baligh) belum disunnahkan untuk beribadah qurban, tetapi sah bila melaksanakannya sebagaimana ia belum wajib melaksanakan puasa tetapi sah bila melaksanakannya.;

Kedua, anak kecil yang belum dapat digolongkan mumayyis termasuk juga anak balita tidak sah melaksanakan ibadah qurban, tetapi boleh dan sah bagi ayahnya meniatkan ibadah qurban untuknya.

Ketiga, orang yang dikategorikan mempunyai kemampuan untuk beribadah qurban adalah orang yang pada hari ke 10, 11, 12, 13 mempunyai kelebihan yang cukup untuk beribadah qurban dari kebutuhan primer hidupnya sendiri dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.

Penjelasan tersebut antara lain diperoleh dari kitab Muhnil Muhtaj karya Muhammad Khotib As Syarbini, Jilid II hal 283 dan Khowasyi Syrwani karya Abdul Hamid asy-Syarwani, Jilid IX hal 367.

Untuk Siapa Daging Qurban?

Bolehkah orang yang beribadah qurban memakan daging qurbannya sendiri? Menurut mazhab Syafi’ii, Maliki, dan Hanafi, orang yang beribadah qurban boleh hukumnya untuk memakan daging qurbannya sendiri, dan boleh pula bagi keluarganya yang menjadi tanggungjawabnya untuk ikut serta memakannya. Bahkan sunnah untuk memakan daging qurbannya sendiri. Sedangkan menurut mazhab Hanbali adalah wajib memakannya.

Syeikh Muhyiddin bin Syarf an-Nawawi dalam Syarh al-Muhadzab, Jilid I hal 306, mengutip dua pendapat Imam Syafi’i mengenai berapa bagian yang diperbolehkan bagi orang yang berqurban dan berapa bagian untuk disedekahkan.

Imam Syafi’i, pertama-tama menyatakan, diperbolehkan mengambil setengah bagiannya untuk yang berqurban dan keluarganya. Ini disarikan dari ayat Al-Qur’an:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS Al-Hajj 22: 28)

Pendapat itu diperbaharui oleh Imam Syafi’i (dalam qaul jadid-nya): Orang yang berkurban dan keluarganya hanya boleh mengambil sepertiga dari daging hewan qurbannya. Ini berdasarkan firman Alllah SWT:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرّ

Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. (QS Al-Hajj 22: 36).

Dalam Syarh al-Muhadzab dijelaskan, maksudh dari “al-qani’” dalam ayat diatas adalah warga sekitar rumah orang yang berqurban, sementara “al-mu’tar” adalah orang yang mengharap atau meminta daging qurban itu. Dengan demikian diperoleh tiga bagian dalam ayat di atas, yakni sepertiga untuk orang yang berkurban dan keluarganya, sementara dua pertiganya lagi untuk dibagikan kepada orang lain.

Daging qurban lebih dianjurkan untuk diberikan kepada warga muslim yang fakir dan miskin dengan niat shadaqah. Jikalau daging itu diberikan kepada muslim yang dapat dikategorikan kaya (cukup dan terpenuhi ekonominya) maka daging itu diberikan dengan niat memberikan hadiah, karena sedianya shadaqah atau sedekah itu bukan untuk orang yang sudah kaya.

Ditambahkan, menurut madzhab Syafi’i, tidak boleh memberikan daging qurban kepada selain muslim, sebagaimana zakat fitrah, karena ia tidak digolongkan termasuk orang yang berhak menerimanya. Demikian pula menurut matzhab Malikiyyah.

Daging Dibagikan Mentah atau Dimasak?

Tidak boleh memberikan kepada fakir dan miskin daging qurban setelah dimasak atau dalam bentuk jamuan makan bersama secara keseluruhan karena hak mereka adalah hak kepemilikan dan bukan hak untuk makan, sehingga mereka akan dapat memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan, misalnya mereka butuh untuk menjualnya.

Akan tetapi, boleh juga memberikannya sebagiannya dalam bentuk daging mentah dan sebagian lainnya setelah dimasak atau dalam bentuk jamuan makan bersama. Hal ini berbeda dengan pemberian kepada orang kaya (cukup ekonominya), yakni boleh memberikan kepadanya daging qurban setelah dimasak atau dalam bentuk jamuan makan bersama.

Demikian penjelasan Syeikh Muhyiddin bin Syarf an-Nawawi dalam kitab Roudlotut Tholibin, Jilid III hal 222, dan Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Minhajul Qowim, I hal 631.

KH Arwani Faishal
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU

Komentar(9 komentar)
Rabu, 24/10/2012 07:40
Nama: mahmudi
DOA MENERIMA HEWAN QURBAN
Assalaamu'alaikum Kiai, mohon di tulliskan doa menerima hewan qurban dari shohibul qurban dan doa menyembelih hewan qurban, terimakasih
Senin, 18/10/2010 09:17
Nama: ali hamdi
KURBAN
Sebelum terlambat, aku mengucapkan selamat menyongsong hari raya idul adha 1424 H, tapi ingat jangan terkesan hari itu adalah hari pembantaian saja, laksanakan kurban dengan perikehewanaan
Selasa, 24/11/2009 11:13
Nama: Nono Suhartono
Pertanyaan seputar ibadah qurban.
Ass.Pa kiai boleh tdk kita berqurban untuk orang tua kita yg sudah meninggal?Minta penjelasan.Trimakasih
Rabu, 03/12/2008 14:10
Nama: taufqurrachman
fasal tentang qurban
kadangkala disekitar kita dapat dikatakan sedikit sekali orang fakir dan mungkin di lain tempat begitu banyak orang fakir dan tentu saja jumlah hewan qurbanpun berbandinglurus dengan sosial ekonominya, apalagi sekarang begitu banyak bencana ada banjir, tanah longsor, gempa bumi dll. Untuk lebih memanfaatkan daging qurban bagaimana seandainya daging diawetkan dan didistribusikan pada saat orang sangat membutuhkannya daripada hanya dijadikan pestapora sesaat, sebagai contoh dibuat kornet daging siap makan. Ini mungkin lebih bermanfaat dan betul2 mengena kepada yang membutuhkan,kalau yang berqurban dan orang kaya kan biasa makan daging toh ya hitung2 ngurangin lemak biar nggak kena sakit jantung
Jumat, 10/10/2008 15:10
Nama: sriyono
berqurban untuk yg sudah meninggal
pak ustad; kalo seorang anak berqurban untuk atas nama orang tuanya yang sudah meninggal boleh ngga?
Kamis, 20/12/2007 05:40
Nama: zen abduracman
untuk qorban
sebenarnya ada satu hal yang terbersit di benak saya ketika membaca kembali diskursus tenteng qurban.kalau memang di antara barang yang di korbankan ada hak kepemilikan untuk fakir, bolehkah mengganti bentuk qorban itu sendiri dengan disesuaikan kebutuhan atau nilai2 kefakiran masa kini? misalnya pendidikan, atau bentuk krisis ekonomi lainnya yangmana untuk masa kepemerintahan SBY sekarang ini dinilai paling bobrok dan mengalami penurunan drastis.
Rabu, 19/12/2007 12:38
Nama: yusufsuharto
qurban
Bapak Kiai, di desa kami, dengan maksud supaya dirasakan rata bersama,maka teman-teman yang bukan seagama pun ikut diberi daging Qurban. Dengan merujuk pada ijtihad Imam Abu Hanifah.
Kita rasa kebersamaan ini penting dan tidak ada efek negatif yang timbul.
yusufsuharto@yahoo.co.id
Senin, 17/12/2007 18:12
Nama: Eko Pramono
Tanya Doa Penyerahan Hewan dan Sebelum menyembelih
Mohon dituliskan doa yang harus dibaca ketika menerima hewan qurban dari shihibul qurban, dan ketika akan menyembelih hewan qurban. Terima kasih.
Sabtu, 15/12/2007 23:44
Nama: Muhammad Luqman Firmansyah
Met Idhul Adha
Aku Cuma mo ngucapin met idhul adha aja... hee..he..he... Jangan lupa bagi-bagi dagingnya....
Sekalian nitip link http://www.luqman.co.cc
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefOktober 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::