Ahad, 20 April 2014
Language :
Find us on:
Syariah 
Memakai Celana di Bawah Lutut
Senin, 02/11/2009 11:50
Seorang mahasiswa perguruan tinggi di Surabaya mempertanyakan, apakah bila kita memakai celana harus di atas mata kaki atau harus ditinggikan di bawah lutut? Pertanyaan ini disampikannya terkait anjuran sekelompok umat Muslim di Indonesia bagi kaum laki-laki untuk memakai celana yang tinggi, hampir di bawah lutut. Kelompok ini sudah berkembang di kampus-kampus.
 
Sepanjang yang kami ketahui, praktik memakai celana di atas mata kaki, ini merujuk pada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah. Bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَا أسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإزَارِ فَفِيْ النَّارِ
 
Sarung (celana) yang di bawah mata kaki akan ditempatkan di neraka

Dari hadits tersebut para ulama berpendapat bahwa sunnah memakai pakaian tidak melebihi kedua mata kaki. Sebagian ulama bahkan mengharamkan mengenakan pakaian sampai di bawah mata kaki jika dimaksudkan lil khulayah atau karena faktor kesombongan. Hal ini juga didasarkan pada hadits lain riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Umar. Rasulullah SAW bersabda,
 
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ
 
Allah tidak melihat orang yang merendahkan pakaiannya dengan penuh kesombongan.

Tentunya ini sesuai dengan konteks saat itu, bahwa merendahkan pakaian atau memakai pakaian di bawah lutut di daerah Arab waktu itu adalah identik dengan ria dan kesombongan.

Nah, secara fiqhiyah, atau menurut para ulama fikih, hadits ini difahami bahwa kain celana atau sarung di atas mata kaki dimaksudkan supaya terbebas dari kotoran atau najis. Artinya masalikul illat atau ihwal disunnahkan mengangkat celana adalah untuk menghindari najis yang mungkin ada di tanah atau jalanan yang kita lewati.

Berdasarkan ketentuan fikih ini, menurut kami, kita dipersilakan memakai pakaian sebatas mata kaki, tidak harus di atasnya, selama kita bisa memastikan akan bisa menjaga celana kita dari kotoran dan najis, misalnya dengan memakai sepatu atau sandal atau mengangkat atau menekuk celana kita pada saat jalanan hujan atau basah.

Perlu direnungkan bahwa berpakaian adalah bagian dari budaya. Dalam Islam kita mengenal istilah tahzin atau etika dalam berpenampilan yang selaras sesuai dengan adat lingkungan setempat. Kita dipersilakan mengikuti tren pakaian masa kini asal tetap mengikuti ketentuan yang wajib yakni untuk laki-laki harus menutupi bagian tubuh dari mulai pusar hingga lutut.

KH Arwanie Faishal
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU
Komentar(10 komentar)
Sabtu, 18/08/2012 00:31
Nama: Aneh Wae
Urun rembug
Saya kira masalah isbal cukup menarik dan sebenarnya masalah lama yang coba untuk diangkat kembali. Hanya saja, perbedaan pendapat dalam menghukumi isbal dari sudut lain yang sampai sekarang menjadi produk fikih dipahami golongan atau oknum tertentu menyalahkan orang lain (gol lain). Ngikut urun diskusi: 1. Adakah asbab wurud hadis-hadis rasulullah tentang isbal.... 2. Agak guyonan (mohon diperhatikan), apakah zaman rasul sudah ada sandal dan sepatu (atau), sehingga mayoritas shahabat memakai sepatu atau sandal ketika beribadah. Klo memang jaman dahulu tidak ada sandal atau sepatu, maka sudah barang tentu pakaian dan baju, jubah terkena najis. Itulah mungkin (meraba aja) yang menjadi dasar dilarangnya isbal pada masa itu dan dianggap sombong. 3. Apakah ketidakbolehan isbal itu juga berlaku untuk memakai kaos kaki dan sepatu.
Jumat, 16/03/2012 16:25
Nama: Drs.H.Fathur Rohman Ms.MH.
Kaos Kaki juga menutup Matakaki, bagaimana kalau jubah atau gamis...???
Izar (sarung) beda dengan kaos kaki, beda dengan celana, beda dengan gamis, beda dengan jubah... Illat hukumnya ada dimana..??? ada di "menutup matakaki" atau ada di "sombong".
Jumat, 16/03/2012 16:14
Nama: Drs.H.Fathur Rohman Ms.MH.
Dibawah Lutut maksudnya dibawah matakaki
"Tentunya ini sesuai dengan konteks saat itu, bahwa merendahkan pakaian atau memakai pakaian di bawah lutut di daerah Arab waktu itu adalah identik dengan ria dan kesombongan". Barangkali yang dimaksudkan adalah: "Tentunya ini sesuai dengan konteks saat itu, bahwa merendahkan pakaian atau memakai pakaian di bawah MATAKAKI di daerah Arab waktu itu adalah identik dengan ria dan kesombongan".
Rabu, 11/01/2012 01:02
Nama: BATAM
Masalah sepele
Salam... Saudaraku.. Setahuku dalam masalah ini para ulama telah berselisih faham da (masuk dalam khilafiyah) Jangankan kita.. Ulama ulama khibar taraf Internasional dan sepanjang Zaman aja telah berbeda pendapat, apalagi kita yang ilmunya masing sangat dangkal... Nah...Marilah kita dewasa dalam perbedaan selama masing masing punya dalil dan alasan yang jelas (daru Al-Quran dan Hadits) tidak semuanya harus sama.. Yang lebih penting ini kan dalam masyalah cabang (furu) dan masalah fiqih, sedang ada masalad aqidah yang lebih utama harus kita jaga, yakni Ukhwah Islamiyah, Perdebatan yang mengakibatkan sakithati dan perpecahan adalah telah merusak pondasi Islam dan melanggar Al-Quran (Tegas dan Jelas nashnya) Jangan kita merasa menjadi Tuhan yang merasa paling benar, tapi marilah kita merasa bodoh akan ilmu Allah..Bukankan kita senantiasa selalu meminta kpd Allah agar ditunjukiNya jalan yang lurus..berarti kita ini lemah yang selalu perlu bimbingan dan petunjukkNya...
Selasa, 10/01/2012 23:10
Nama: oman
Jimat kalimat sodo = kunci surga
wis-wis stop ributnya.. jangan kuatir semua dijamin masuk surga kok.. yang isbal maupun nggak sama2 dapet surga.. kan sudah pada pegang jimat kalimat sodo.. he,he,he.. gitu aja diributin
Selasa, 27/12/2011 16:49
Nama: sulthon marzuki
NU SABAR...
NU itu kan artinya kebangkitan para ulama` yg dulunya dikuyo2 dilecehkan, dibid`ahkan bahkan dikafirkan...akhir membentuk ormas yg bernama NU. Jadi NU tdk pernah menyerang tapi bertahan dan memegang prinsip ahlussunnah wal jamaah
Rabu, 21/12/2011 10:51
Nama: dEMANG
celana
gitu aja ribut,bukan kah berhati hati dengan najis kan baik
Selasa, 20/12/2011 12:26
Nama: Abah Yahya
Dogole Yukanza
Ndul Yukanza, Sampeyan pernah ke arab saudi belum tempat asalnya Wahabi? disana hanya orang-orang yang kerjanya nggak puguh kaya penganut faham wahabi di Indonesia aja yang pake celana ngatung, coba liat semua pegawai Pemerintah Arab Saudi dan para pelajar & Mahasiswanya, nggak aga yang pake celana ngatung. Sampeyan dibodohi aliran nggak puguh gelem bae toh? Kan pasangannya Celana ngatung, jenggot landung, jidat geseng, Nabi dan para sahabat dijamin ahli ibadah, tapi ga ada yang sampe jidatnya geseng, sebab kalo sujud ga di jedot-jedotin ke plesteran tempat sujud, he he he
Senin, 12/12/2011 05:13
Nama: Yukanza
Tata nilai yang berbeda
Mas kalau di Indonesia, sampean pakai celana melebihi mata kaki tidak ada yang menilai sombong, bahkan sebaliknya sampean dibilang orang gila ...... wkwkwkwkwk
Jumat, 09/12/2011 02:00
Nama: charis
Liat sikon
saya setuju kalo pakaian yg dilarang dibawah mata kaki tu adalah yg dimaksudkan untuk kesombongan,sekarang kalo kita,di indonesia yah..di indonesia ni,,,jaman sekarang n pake celana jeans trus maksudnya sombong,tu kan lucu,ya gak???yaelah so0b,di indonesia pake jeans dibilang sombong,mana ada?? jadi kalo di arab,ratusan tahun lalu,pakaian orang kaya yg serba lebar n panjang itu buat sombong2an dan dilarang,n gue rasa itu jubah,bukan celana,tapi sekarang,di indonesia,masa juga nyamain arab ratusan tahun lalu,,,jadi selain dalil itu kita pake dong ijma-nya atau qiyasnya,gue yakin ulama tu gak sembarangan kok ambil keputusan,karena itu tanggung jawab yg besar dan itu kepentingan umat,jadi kasusnya kayak denda pembunuhan yg dimaafkan keluarga korban,kalo di dalilnya ni dendanya 100 onta n 40 diantaranya hamil,,disini gak dikatakan kalo denda bisa diganti uang ,,gak ada,,,tapi berdasarkan keputusan ulama,sekarang bisa kan,,bisa bayangin gak kalo elo terpaku pada dalil itu,,brarti ya mutlak denda 100 onta trus yg 40 hamil,ya kan,di dalilnya kan gitu,gak pake tuker duit,ya elo mau gak mau lakuin itu seperti yg di dalil,,serius deh,hari gini beli onta 100,yg 40 hamil,mau cari dimana so000b,, jadi inget sama syiir gusdur: "poro sedulur,prio wanito,ojo mung ngaji syariat bloko...gur PINTER NDONGENG,NULIS LAN MOCO,tembe mburine bakal sangsoro"
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Space Iklan
305 x 100 Pixel
Agenda
PrefApril 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Maaf transaksi pembelian via web toko.nu.or.id belum bisa beroperasi karena ada sistem yang perlu disempurnakan ::::