Selasa, 21 Oktober 2014
Language :
Find us on:
Syariah 
Menghitung Zakat Profesi
Kamis, 23/08/2007 13:59

Zakat penghasilan atau zakat profesi (al-mal al-mustafad) adalah zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun bersama dengan orang/lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) halal yang memenuhi nisab (batas minimum untuk wajib zakat). Contohmya adalah pejabat, pegawai negeri atau swasta, dokter, konsultan, advokat, dosen, makelar, seniman dan sejenisnya.

Hukum zakat penghasilan berbeda pendapat antar ulama fiqh. Mayoritas ulama madzhab empat tidak mewajibkan zakat penghasilan pada saat menerima kecuali sudah mencapai nisab dan sudah sampai setahun (haul), namun para ulama mutaakhirin seperti Syekh Abdurrahman Hasan, Syekh Muhammad Abu Zahro, Syekh Abdul Wahhab Khallaf, Syekh Yusuf Al Qardlowi, Syekh Wahbah Az-Zuhaili, hasil kajian majma' fiqh dan fatwa MUI nomor 3 tahun 2003 menegaskan bahwa zakat penghasilan itu hukumnya wajib.gt;

Hal ini mengacu pada pendapat sebgian sahabat (Ibnu Abbas, Ibnu Masud dan Mu'awiyah), Tabiin ( Az-Zuhri, Al-Hasan Al-Bashri, dan Makhul) juga pendapat Umar bin Abdul Aziz dan beberpa ulama fiqh lainnya. (Al-fiqh Al-Islami wa ‘Adillatuh, 2/866)

Juga berdasarkan firman Allah SWT: "... Ambilah olehmu zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka..." ( QS. At-Taubah 9:103) dan firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman! nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik..." ( QS. Al-Baqarah. 2:267)

Juga berdasarkan sebuah hadits shahih riwayat Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Keluarkanlah olehmu sekalian zakat dari harta kamu sekalian," dan hadits dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah hanyalah dikelaurkan dari kelebihan/kebutuhan. tangan atas lebih baik daripada tangan dibawah. mulailah (dalam membelanjakan harta) dengan orang yang menjadi tanggung jawabmu." ( HR. Ahmad)

Dan juga bisa dijadikan bahan pertimbangan apa yang dijelaskan oleh penulis terkenal dari Mesir, Muhammad Ghazali dalam bukunya Al-Islam wal Audl' Aliqtishadiya: "Sangat tidak logik kalau tidak mewajibkan zakat kepada kalangan profesional seperti dokter yang penghasilannya sebulan bisa melebihi penghasilan petani setahun."

Jika kita mengikuti pendapat ulama yang mewajibkan zakat penghasilan, lalu bagaimana cara mengeluarkannya? Dikeluarkan penghasilan kotor  (bruto) atau penghasilan bersih (neto)? Ada tiga wacana tentang bruto atau neto seperti berikut ini.

Bruto atau Neto

Dalam buku fiqh zakat karya DR Yusuf Qaradlawi. bab zakat profesi dan penghasilan,  dijelaskan tentang cara mengeluarkan zakat penghasilan. Kalau kita klasifikasi ada tiga wacana:

1. Pengeluaran brotto, yaitu mengeluarkan zakat penghasilan kotor. Artinya, zakat penghasilan yang mencapai nisab 85 gr emas dalam jumlah setahun, dikeluarkan 2,5 % langsung ketika menerima sebelum dikurangi apapun. Jadi kalau dapat gaji atau honor dan penghasilan lainnya dalam sebulan mencapai 2 juta rupiah x 12 bulan = 24 juta, berarti dikeluarkan langsung 2,5 dari 2 juta tiap buan = 50 ribu atau dibayar di akhir tahun = 600 ribu.

Hal ini juga berdasarkan pendapat Az-Zuhri dan 'Auza'i, beliau menjelaskan: "Bila seorang memperoleh penghasilan dan ingin membelanjakannya sebelum bulan wajib zakat datang, maka hendaknya ia segera mengeluarkan zakat itu terlebih dahulu dari membelanjakannya" (Ibnu Abi Syaibah, Al-mushannif, 4/30). Dan juga menqiyaskan dengan  beberapa harta zakat yang langsung dikeluarkan tanpa dikurangi apapun, seperti zakat ternak, emas perak, ma'dzan dan rikaz.
   

2. Dipotong oprasional kerja, yaitu setelah menerima penghasilan gaji atau honor yang mencapai nisab, maka dipotong dahulu dengan biaya oprasional kerja. Contohnya, seorang yang mendapat gaji 2 juta  rupiah sebulan, dikurangi biaya transport dan konsumsi harian di tempat kerja sebanyak 500 ribu, sisanya 1.500.000. maka zakatnya dikeluarkan 2,5 dari 1.500.000= 37.500,-

Hal ini dianalogikan dengan zakat hasil bumi dan kurma serta sejenisnya. Bahwa biaya dikeluarkan lebih dahulu baru zakat dikeluarkan dari sisanya. Itu adalah pendapat Imam Atho' dan lain-lain dari itu zakat hasil bumi ada perbedaan prosentase zakat antara yang diairi dengan hujan yaitu 10%  dan melalui irigasi 5%.
 
3. Pengeluaran neto atau zakat bersih, yaitu mengeluarkan zakat dari harta yang masih mencapai nisab setelah dikurangi untuk kebutuhan pokok sehari-hari, baik pangan, papan, hutang dan kebutuhan pokok lainnya untuk keperlua dirinya, keluarga dan yang menjadi tanggungannya. Jika penghasilan setelah dikurangi kebutuhan pokok masih mencapai nisab, maka wajib zakat, akan tetapi kalau tidak mencapai nisab ya tidak wajib zakat, karena dia bukan termasuk muzakki (orang yang wajib zakat) bahkan menjadi mustahiq (orang yang berhak menerima zakat)karena sudah menjadi miskin dengan tidak cukupnya penghasilan terhadap kebutuhan pokok sehari-hari.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat imam Al-Bukhari dari Hakim bin Hizam bahwa Rasulullah SAW bersabda: ".... dan paling baiknya zakat itu dikeluarkan dari kelebihan kebutuhan...". (lihat:  DR Yusuf Al-Qaradlawi. Fiqh Zakat, 486)

Kesimpulan, seorang yang mendapatkan penghasilan halal dan mencapai nisab (85 gr emas) wajib mengeluarkan zakat 2,5 %, boleh dikeluarkan setiap bulan atau di akhir tahun. Sebaiknya zakat dikeluarkan dari penghasilan kotor sebelum dikurangi kebutuhan yang lain. Ini lebih afdlal (utama) karena khawatir ada harta yang wajib zakat tapi tapi tidak dizakati, tentu akan mendapatkan adzab Allah baik di dunia dan di akhirat. Juga penjelasan Ibnu Rusd bahwa zakat itu ta’bbudi (pengabdian kepada Allah SWT) bukan hanya sekedar hak mustahiq. Tapi ada juga sebagian pendapat ulama membolehkan sebelum dikeluarkan zakat dikurangi dahulu biaya oprasional kerja atau kebutuhan pokok sehari-hari.

Semoga dengan zakat, harta menjadi bersih, berkemabang, berkah, bermanfaat dan meneyelamatkan pemiliknya dari siksa Allah SWT. Amiin ya mujibas sa`ilin.

H Abdurrahman Navis Lc
Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Timur

Komentar(10 komentar)
Sabtu, 22/09/2012 18:28
Nama: ATORI
permohonan/saran
asslamualaikum wr wb. saya bangga NU punya sittus resmi.Tetapi saya erharap bahasan fiqih tentang apa saja mohon di cantumkan dalil naqli tersebut dengan hurup arabiknya. terimasih anyak suksesselalu. terimakasih tori guru PAI SMPN 2 Bojongpicung Cianjur Jabar
Senin, 07/05/2012 06:19
Nama: Putra
Fatwa resmi NU
Adakah fatwa resmi dari NU tentang zakat profesi? kalau ada, mohon di-share..
Jumat, 06/04/2012 08:03
Nama: Mohammad Sayidin
Mari belajar lagi
assalamualaikum wr.wb. hanya berbagi, sebelumnya saya juga kaget, dan baru tahu ketika dah kerja. selama ngaji gak ada tuh istilah zakat profesi. tapi setelah ku pelajari semua alhamdulillah tahu deh maksudnya. ku simpulkan sebenarnya zakat profesi ini adalah pecahan dari zakat mal yang banyak komponennya. coba aja kita cermati di item zakat mal adakan tabungan (sisa hasil pengeluaran dari penghasilan kita). itulah menurut saya. yang perlu dikaji adalah bagaimana memahamkan setiap orang cara melakukan zakat profesi ini. karena cara menghitungnya tetep dengan metode zakat mal menurutku yang pas kenapa karena di fatwa MUI dan kitab Kyai Yusuf Qordhawi cara mengitungnya tetep dengan cara zakat mal dari apa yang ku cermati. mohon koreksinya kalau salah. terima kasih.
Kamis, 02/02/2012 13:36
Nama: Wahyu
Zakat Profesi atao Sodaqoh Profesi?
Zakat Profesi atao Sodaqoh Profesi? Implikasinya beda jauh. Yah, berarti ini memecah NU dong menjadi dua golongan ... yang setuju zakat profesi sama yang nggak setuju. Hmmmm .... Ada hasil bahtsul masail NU tentang zakat prfesi nggak ya? Hasilnya gmn??
Rabu, 14/12/2011 17:46
Nama: abi najwa
Tak kenal maka tak sayang
Ustad abdurahman navis beliau itu Kiai dan ulama NU tulen di kota pahlawan surabaya, beliau bergelar Lc, karena lulusan Univ. Ummul quro makkah, se almamater dengan KH. said aqil siraj. Meski begitu beliau tidak terpengaruh Wahhabi. Mengenai penukilan pendapat dari ulama mutaakhirin timur tengah ( seperti syaikh qordowi, syaikh DR Wahbah Zuhayli, ataupun syaikh Said ramadan albuti ), saya kira bukanlah suatu masalah. Jika anda mau mengeksplorasi situs NU ini banyak artikel yang menukil khususnya dari syaikh qordhowi maupun syaikh Wahbah zhayli. seperti syaikh yusuf qordhowi, memang ia bukan ulama yang merepresantasikan satu madhab, namun beliau ( Syaikh qordhowi ) adalah ULAMA SUNNI NON WAHABI ( kelahiran mesir ) yang sudah kaliber internasional, buku-bukunya banyak dijadikan rujukan ulama-ulama sunni didunia. Adapun syaikh wahbah yang dikenal dengan bukunya Fiqhul islami wa adillatuhu, banyak yang mengatakan beliau bermadhab syafii. Jadi titik temunya adalah para ulama mutaakhirin tersebut pada hakekatnya ASWAJA juga. Sebagai perbandingan tidak sedikit para ulama NU juga menyitir pendapat-pendapat dari Imam ibnu taymiyah ( soko gurunya WAHABI , karena sebenarnya Imam Ibnu Taymiyah itu bermadhab HAMBALI, madhab yang di akui dalam NU. Wal Hasil Zakat profesi itu adalah suatu keniscayaan untuk bisa diterima warga NU. Terbukti PBNU mendirikan lembaga amil zakat LAZISNU, saya kira juga bertujuan mengakomodasi warga NU yang mensetujui adanya zakat profesi, dari pada zakat tersebut dibayarkan kepada lembaga yang tak jelas jluntrungnya apalagi yang bkan NU, eman khan. jadi pendapat hadaitullah saya kira bagus, yang menolak ya monngo, yang mensetujui ya monngo namun bayarkan zakat anda lewat LAZISNU...
Senin, 01/08/2011 04:20
Nama: wildan
katakan haq haq, jangan mengada-ada
pada zaman rosuluLlah sudah ada orang buruh/jual jasa, sudah ada emas perak sebagai harta simpanan/perhiasan, sudah ada mata uang dinar dan dirham sebagai alat pembayaran. kanjeng nabi selalu membayar dan bahkan menganjurkan membayar upah kerja sebelum keringat kering. bahkan kanjeng nabi memerintahkan membayar gaji budak dengan wajar tidak boleh semena-mena, tapi tidak ada perintah kanjeng nabi untuk mengambil zakat dari bagian upah itu,... kalo dilihat dari sini sepahaman saya maka zakat profesi adalah mengada-ada. uang atau harta yang terkumpul dari gaji atau dari usaha apapun yang belum terzakati bila mncapai nisob dan haul maka kena kewajiban zakat, maka hemat saya kalau memang sejak zaman kanjeng nabi, sahabat dan imam madzhab tidak ada istilah zakat profesi yang jangan disbut begitu [mengada-ngada namanya]kalo mo motong gaji tarik aja zakat mal dengan menggunakan nisob emas. secara upah itu dibayar dengan duit yang setara dgn dinar, khan ada hadis "bila engkau mempunyai uang 20 dinar kluarkan yang setengah dinar", kecuali kita dapet gaji berupa sereal... tp mana ada dokter dibayar jagung atau gandum
Rabu, 06/04/2011 08:31
Nama: Strong
orang miskin boleh ambil harta orang kaya
zakat adalah salah satu instrumen yang baik untuk melakukan distrubusi ekonomi, dari yang kaya ke yang miskin. jika tidak, instrumen apalagi???
Sabtu, 12/12/2009 13:01
Nama: hadaitullah
Zakat
tidak usah bingung dg NU, Insya Allah menolak dan menerima zakat profesi bukan dosa besar.

Rokok yang jelas2 merugikan dan tidak ada dalilnya aja dihalalkan, mengapa kita menolak zakat profesi yang jelas2 menguntungkan bagi perkembangan perekonomian umat..?
yang sependapat silahkan melaksanakan, yang menolak silahkan bershodaqoh dengan nama selain zakat profesi... yang jelas kita semua berlomba2 dlm bershodaqoh.
Selasa, 29/09/2009 16:37
Nama: dinda
???
Saya bingung dg NU jaman sekarang, hiks...hiks...

sdr. Nafa : alhamdulillah, trmksh atas komentar Anda,
dan Kepada Ustadz A. Navis yang terhormat, tolong sempatkan waktu untuk menjawab pertanyaan kami. Pertanyaan saya sama dengan pertanyaan sdr. Nafa. Saya sebagai warga NU, merasa sangat butuh penjelesan tentang hal ini.
Terimakasih...
Selasa, 21/04/2009 11:49
Nama: reza pahlevi
Pake logika donk
Ini tulisan dari http://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg07875.html, "Lain halnya dengan masa sekarang ini. Yang kita sebut sebagai profesional di
masa kita hidup ini bisa jadi orang yang sangat kaya dan teramat kaya. Jauh
melebih kekayaan para petani dan peternak. "

Jelas kalo miskin gak kena zakat masak orang miskin kena zakat, kan jelas zakat untuk orang kaya, logika yang amburadul. Jangan membandingkan dengan 'profesional kaya' kayak dokter kaya, konsultan kaya, pengacara kaya, dlll. Kenapa yang ekstrim ini yang selalu dibandingkan untuk meligitamasi adanya zakat profesi????? Kalo zakat profesi ini dipaksakan diterapkan, gak cuma yang kaya yang terjaring, tetapi juga profesional miskin kayak buruh bergaji 1-2 juta sebulan. Jangan lupa, mereka juga profesional lho, tapi buruh. Nyampe gak nih logikanya????
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefOktober 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::