Rabu, 01 Oktober 2014
Language :
Find us on:
Buku 
Tahlilan Yasinan itu Haram?
Senin, 02/04/2012 13:42
Tahlilan Yasinan itu Haram?

Judul : Benarkah Tahlilan & Kenduri Haram?

Penulis : Muhammad Idrus Romli

Editor: Achmad Ma’ruf Asrori

Penerbit: Khalista, Surabaya

Cetakan: I, 2012Tebal: v + 82 hlm.

Peresensi: Ach. Tirmidzi Munahwan



Buku kecil “Bernarkah Tahlilan dan Kenduri Haram”, yang sederhana ini ditulis oleh salah seorang anak muda NU dan sangat produktif menulis berasal dari Jember. Kehadiran buku ini dilatar belakangi saat penulis mengisi acara daurah pemantapan Ahlussunnah Waljama’ah di salah satu Pesantren di Yogyakarta. Ketika sampai dalam sesi tanya jawab, ada salah seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada penulis tentang hukum selamatan kematian, tahlilan dan yasinan. Selain itu penaya juga memberikan selebaran Manhaj Salaf, setebal 14 halaman dengan kumpulan artikel berjudul “Imam Syafi’i Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan dan Selamatan”.

Tradisi tahlilan, yasinan, dan tradisi memperingati 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari orang yang meninggal dunia adalah tradisi yang telah mengakar di tengah-tengah masyarakat kita khususnya di kalangan warga nahdliyin. Dan tradisi tersebut mulai dilestarikan sejak para sahabat hingga saat ini, di pesantrenpun tahlilan, yasinan merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap hari setelah shalat subuh oleh para santri. Sehingga tahlilan, yasinan merupakan budaya yang tak pernah hilang yang senantiasa selalu dilestarikan dan terus dijaga eksistensinya. 

Seiring dengan lahirnya aliran-aliran baru seperti aliran wahabi atau aliran salafi yang telah diceritakan oleh penulis, tradisi tahlilan dan yasinan hanyalah dianggap sebatas budaya nenek moyang yang pelaksanaannya tidak berdasarkan dalil-dalil hadits atau al-Qur’an yang mendasarinya. Sehingga aliran Wahabi dan Aliran Salafi menolak terhadap pelaksanaan tradisi tersebut, bahkan mereka menganggapnya perbuatan yang diharamkam. 

Tahlilan, yasinan  merupakan tradisi yang telah di anjurkan bahkan disunnahkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Yang di dalamnya membaca serangkaian ayat-ayat al-Qur’an, dan kalimah-kalimah tahmid, takbir, shalawat yang di awali dengan membaca al-Fatihah dengan meniatkan pahalanya untuk para arwah yang dimaksudkan oleh pembaca atau yang punyak hajat, dan kemudian ditutup dengan do’a. Inti dari bacaan tersebut ditujukan pada para arwah untuk dimohonkan ampun kepada Allah, atas dosa-dosa arwah tersebut.

Seringkali penolakan pelaksanaan tahlilan, yasinan, dikarenakan bahwa pahala yang ditujukan pada arwah tidak akan menolong terhadap orang yang meninggal. Padahal telah seringkali perdebatan mengenai pelaksanaan tahlil di gelar, namun tetap saja ada pihak-pihak yang tidak menerima terhadap adanya tradisi tahlil dan menganggap bahwa tahlilan, yasinan adalah perbuatan bid’ah. 

Para ulama sepakat untuk terus memelihara pelaksanaan tradisi tahlil tersebut berdasarkan dalil-dalil Hadits, al-Qur’an, serta kitab-kitab klasik yang menguatkannya. Dan tak sedikit manfaat yang dirasakan dalam pelaksanaan tahlil tersebut. Diantaranya adalah, sebagai ikhtiyar (usaha) bertaubat kepada Allah untuk diri sendiri dan saudara yang telah meninggal, mengikat tali persaudaraan antara yang hidup maupun yang telah meninggal, mengingat bahwa setelah kehidupan selalu ada kematian, mengisi rohani, serta media yang efektif untuk dakwah Islamiyah. 

Buku ini menguraikan secara rinci tentang hukum kenduri kematian, tahlilan, yasinan, dan menjelaskan khilafiyah ulama salaf memberikan makanan oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta’ziah. Karena dikalangan ulama salaf masih memperselisihkan bahwa, memberikan makanan kepada orang-orang yang berta’ziah, ada yang mengatakan makruh, mubah, dan sunnah. Namun dikalangan ulama salaf sendiri tidak ada yang berpendapat tahlilan, yasinan merupakan perbuatan yang diharamkan. Bahkan untuk selamatan selama tujuh hari, berdasarkan riwayat Imam Thawus, justru dianjurkan oleh kaum salaf sejak generasi sahabat dan berlangsung di Makkah dan Madinah hingga abad kesepuluh hijriah (hal. 13).

Menghadiahkan amal kepada orang yang telah meninggal dunia maupun kepada orang yang masih hidup adalah dengan media do’a, seperti tahlilan, yasinan, dan amalan-amalan yang lainnya. Karena do’a pahalanya jelas bermanfaat kepada orang yang sudah meninggal dan juga kepada orang yang masih hidup. Seorang pengikut madzhab Hambali dan murid terbesar Ibnu Taimiyah, yaitu Ibnul Qoyyim al-Jauziyah menegaskan pendapatnya, seutama-utama amal yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang meninggal adalah sedekah. 

Adapun membaca al-Qur’an, tahlil, tahmid, takbir, dan shalawat dengan tujuan dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia secara sukarela, ikhlas tanpa imbalan upah, maka hal yang demikian sampailah pahala itu kepadanya. Karena orang yang mengerjakan amalan yang baik atas dasar iman dan ikhlas telah dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan pahala. Artinya, pahala itu menjadi miliknya. Jika meniatkan amalan itu untuk orang lain, maka orang lain itulah yang menerima pahalanya, misalnya menghajikan, bersedekah atas nama orang tua dan lain sebagainya.

Dengan demikian, buku ini layak dibaca oleh semua kalangan manapun baik yang pro maupun yang kontra terhadap adanya tradisi tahlilan dan yasinan. Agar supaya tradisi tahlilan dan yasinan yang sudah akrab ditengah-tengah masyarakat tidak lagi terus dipertanyakan mengenai kekuatan dalilnya. Sehingga agar tumbuh saling pengertian dan membangun solidaritas antar sesama muslim. Membaca buku kecil dan sederhana ini, pembaca akan mengetahui secara jelas terhadap dalil-dalil bacaan tahlilan, yasinan yang selama ini dikatakan haram dan perbuatan bid’ah. Wallahu a’lam

* Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Komentar(10 komentar)
Selasa, 15/01/2013 17:36
Nama: Mustafa
komentar
kalo saya perhatikan kebanyakan dari ajaran wahabi seperti menggembosi Islam, seperti tahlilan yg merupakan salah satu metoda dakwah yg tepat dikala kita sedang diingatkan langsung akan alam kubur oleh adanya kematian, yg dg diadakan tahlilan dan pesan2 & nasihat2 ulama/ustadz saat kita hadir dlm acara itu, malah oleh wahabi dianggap bid'ah sesat yg harus ditinggalkan.
Senin, 31/12/2012 12:31
Nama: Penerbit Muara Progresif
Komenmtar
Jika Berminat buku Benarkah Tahlilan Kenduri Itu haram bisa pesan melalui kami Penerbit MUARA PROGRESIF SURABAYA, Rp.12.000, luat kota tambah ongkos kirim. hp.08175162564 / 082332604722
Senin, 03/12/2012 08:34
Nama: muhammad rasyid ridho
saya setuju dengan adanya tahlilan selagi tidak bertentangan dengan al-qur'an dan hadits knp?
karena dengan adanya tahlilan, selain terjalinnya silaturahim, persaudaraan juga mengingatkan bagi orang yang masih hidup bahwa hidup itu hanya sementara dan setelah mati ada kehidupan abadi.
Sabtu, 01/12/2012 07:21
Nama: Jasrifan
Apa bisa peasan
Saya pesan 10
Kamis, 29/11/2012 23:42
Nama: fuad hasyim
mari kt lestarikan bersama
saudara"ku sy setuju dg pendapat" anda.menurut sy tahlilan,yasinan adl ibadah yg sangat baik.ibadah yg punya nilai ganda,adapun mengenai pendapat saudara" kita yg membidahkan ibadah ini, biarkan aja.toh kita ga merugikan mereka,ga usah emosi.mari kita lestarikan ibadah ini& sekaligus utk didik anak ccu kita. '
Jumat, 23/11/2012 09:01
Nama: fredy agung saputra
assalamualaikum
menurut saya yasinan itu baik..,karna yasinan itu baik banyak manfaat,karna kita juga bisa bersilahturami,ke saudara muslim kita..sehingga kita dapat mempeerat rasa persaudara.an,,,
Kamis, 01/11/2012 17:30
Nama: Heriadi
Alloohu akbarr
Assalamu'alaikum saudara - saudaraku Marilah kita saling berbagi dalam hal kebaikan, seperti hal nya buku tersebut, sebaiknya jangan di komersilkan. Sampaikanlah kepada seluruh ummat Muslim di dunia dengan jalan apapun yang baik, termasuk media ini.
Selasa, 30/10/2012 10:40
Nama: wildan askuri
pemahaman,tujuan yang ingin dicapai
jika msh ada umat yg menganggap itu bidah,menurut sya wajar,karena relitanya sekarang byk warga yg melaksanakn tradisi ini jg kurang memahami tujuan dan inti pelaksanaan tradisi ini.merka hy sekedar menghadiri undangan,bukan niat mendoakan dan silaturrokhim.saya jg melaksanakan tahlilan,yasinan,dan saya ingin d setiap daerah (kelurahan) ada kegiatan seperti pembekalan yang baku tentang dasar,tujuan.cara penyampain yang baik agar tradisi ini bisa di terima dan benar-benar manfaat baik bagi yang sdh meninggal maupun yang melaksanakanya.
Kamis, 25/10/2012 12:21
Nama: BANG WAYAN
YANG BENAR ADALAH
MAAF SERIBU MAAF YA SEORANG MUALAF YG MULAI BELAJAR TENTANG ISLAM SAYA TELAH MEMPELAJARI DARI SEMUA ALIRAN ISLAM YG ADA,DAN MENURUT SAYA PRIBADI TAHLILAN ,YASHIN,ADALAH SESUATU YG BAIK.BAIK DI HADAPAN ALLOH MAUPUN ANTAR SESAMA MANUSIA.INIPUR BERDASARKAN ALQUR'AN DAN HADIS2 YANG KU PELAJARI.SAYAPUN TIDAK HANYA BERGURU PADA SATU ALIRAN ISLIM SAJA.NAMUN HAMPIR SEMUA AGAR SAYA PRIBADI MENGETAHUI JELAS TENTANG ISLAM.
Kamis, 25/10/2012 04:31
Nama: Faisal
Where to buy ?
Assalamualaikum, wahai para sahabat. Dimanakah saya bisa membeli buku ini untuk daerah Jogja? Terus terang saya selalu berdebat dengan adik saya sendiri masalah bid'ah tahlilan. Terima Kasih. Bagi yang tau bisa diinfokan ke : faisal_stembayo*at*yahoo*dot*com
Space Iklan
625 x 100 Pixel
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::