Rabu, 30 Juli 2014
Language :
Find us on:
Buku 
Panduan Praktis Merawat Jenazah
Senin, 05/11/2012 16:55
Panduan Praktis Merawat Jenazah

Judul Buku: Panduan Memandikan dan Menguburkan Jenazah
Penulis: Abdul Waid
Penerbit : Diva Press Jogjakarta 
Cetakan: Pertama, Oktober 2012 
Tebal : 212 halaman
ISBN : 978-602-7723-07-8
Peresensi: Oleh Suhairi Rachmad*

Tidak semua orang bisa merawat jenazah dengan benar. Kemampuan seperti ini hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Apalagi, kegiatan merawat jenazah tidak dilakukan setiap hari sebagaimana kita melaksanakan solat fardu lima kali sehari. Kenyataan seperti inilah yang memunculkan image bahwa merawat jenazah itu sulit.

Seseorang yang tidak bersentuhan langsung dengan proses merawat jenazah pasti akan kewalahan jika diberi tugas melakukan hal itu. Apalagi, ia tidak pernah belajar dari kitab-kitab cara melakukannya. Bagi Anda yang ingin memperluas wawasan bagaimana cara merawat jenazah, buku Panduan Memandikan dan Menguburkan Jenazah karya Abdul Waid patut dijadian pedoman. Selain bahasanya lugas, buku ini mudah dipahami oleh kalangan awam sekalipun.

Setiap manusia akan berhadapan dengan maut. Ketika ajal menjemput, kewajiban pertama yang harus dilakukan kaum muslimin adalah mengurusnya. Hingga saat ini, masih ada di antara kaum muslimin yang belum bisa memandikan jenazah dengan benar. 

Abdul Waid dalam buku ini menuturkan definisi memandikan jenazah. Menurutnya, memandikan jenazah adalah membersihkan seluruh tubuh jenazah dari segala kotoran yang berupa najis maupun hadas agar ketika jenazah tersebut menghadap atau bertemu dengan Allah SWT. dalam keadaan bersih dan suci. Sebagian besar ulama salaf berpendapat bahwa memandikan jenazah hukumya fardu kifayah atas kaum muslim lain yang masih hidup (hal. 73-74).

Orang yang mampu memandikan jenazah dengan benar tergolong langka. Biasanya, tugas ini hanya dibebankan kepada kiai, tokoh masyarakat, atau santri. Sedangkan masyarakat awam jarang menguasai kegiatan ini. Ironisnya, ketika unsur-unsur penting dalam masyarakat itu berhalangan hadir, maka yang akan mengisi tugas merawat jenazah akan terhambat.

Ternyata, tidak semua jenazah harus dimandikan ketika ajal tiba. Buku ini juga menjelaskan beberapa kelompok orang yang tidak wajib dimandikan, seperti orang yang mati syahid karena perang di jalan Allah, orang yang mati saat ihram, dan bayi yang baru lahir dan belum mengeluarkan suara.  

Proses selanjutnya setelah jenazah dimandikan adalah mengafani jenazah atau membungkus jenazah. Maksud dari membungkus jenazah adalah menggunakan kain kafan yang diperoleh dari harta peninggalan atau warisan jenazah (jika ada). Apabila si jenazah tidak meninggalkan harta sama sekali, maka keluarga dekat jenazah yang berkewajiban menyediakan kain kafan beserta keperluan-keperluan lainnya (hal. 93).

Kita tentu bukan saja melihat secara langsung jenazah yang meninggal dunia secara wajar. Sejumlah stasiun televisi seringkali menayangkan adanya korban kecelakaan atau korban penembakan. Bahkan, terdapat jenazah yang sekujur tubuhnya hancur karena terbentur dengan benda keras atau karena ledakan bom bunuh diri. Buku ini membahas secara rinci cara merawat jenazah yang hancur lebur. Tentu saja hal ini dikaitkan dengan latar belakang penyebab kondisi jenazah menjadi hancur.

Sebagai persembahan terakhir, jenazah masih diwajibkan untuk disholati. Sebagaimana memandikan dan mengafani, kegiatan sholat terhadap jenazah juga fardu kifayah. Shalat jenazah bisa dilaksanakan di dalam mesjid maupun di luar mesjid. Imam berdiri di posisi kepala mayat laki-laki, dan di posisi pertengahan jika mayatnya perempuan (hal. 129-131).

Ketentuan ini tentu hanya adab dan etika melaksanakan sholat jenazah. Dalam artian, jika hal ini diabaikan, maka sholat jenazah tetap sah asalkan syarat dan rukunnya terpenuhi. Namun menjadi lebih afdol, jika adab dan etika tersebut juga diperhatikan oleh orang yang ikut melaksanakan sholat untuk si jenazah.

Kewajiban umat Islam yang terakhir ketika merawat jenazah adalah menguburkannya. Menguburkan jenazah termasuk ibadah yang disyariatkan dalam Islam; baik jenazah muslim maupun jenazah non muslim. Bahkan, Rosulullah tetap memerintahkan Sayyidina Ali untuk mengubur paman nabi bernama Abu Thalib, walaupun Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan tidak masuk Islam (hal 175).

Buku ini juga membahas tata cara menggali kubur, bentuk dan ukuran kuburan, tata cara memikul jenazah, tata cara memasukkan jenazah ke liang kubur, posisi jenazah dan doa meletakkan jenazah, hingga tata cara menguburkan jenazah di laut. Buku setebal 212 halaman ini sangat lengkap dan sangat cocok untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin mengetahui tata cara merawat jenazah dengan baik dan benar.

*Suhairi Rachmad, alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan dan pecinta buku, kini tinggal di Ganding Sumenep Madura

Komentar(7 komentar)
Selasa, 16/07/2013 17:43
Nama: zadid
info pemesanan
assalamu'alaikum mohon info cara mendaatkan buku nya terimakasih
Sabtu, 25/05/2013 01:00
Nama: mahin
nanya nih?
belinya dimana ya?
Jumat, 24/05/2013 15:49
Nama: Kang Syam
pesan buku
cara peroleh buku?
Ahad, 19/05/2013 20:57
Nama: Arif
gimana cara memperoleh buku Panduan Praktis Merawat Jenazah
di mana saya bisa membeli buku tersebut untuk wlayah jakarta timur?
Jumat, 10/05/2013 16:44
Nama: rihdha
panduan praktis
tolong tampilkan panduan kesimpulan memandikan dan mengkafani jenazah
Ahad, 23/12/2012 15:14
Nama: masyadi
pertanyaan
jika ingin pesan buku ini bagaimana caranya....??
Selasa, 06/11/2012 10:33
Nama: Khoirul Amin
bagaimana kami bisa Memesannya.
mohon kami yang dari luar jawa ini di beri tahu bagaimana cara memesan buku tersebut. mohon menghubungi nomer saya 081334340933
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefJuli 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
::::Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah melalui LAZISNU. Rekening zakat: BCA 6340161473 MANDIRI 1230004838951. Infaq: BCA 6340161481 MANDIRI 1230004838977 :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Transaksi pembelian di Toko NU Online untuk sementara ditutup per 24 Juli-13 Agustus 2014::::