Selasa, 23 September 2014
Language :
Find us on:
Buku 
Sejarah Tahlil
Senin, 25/02/2013 10:14
Sejarah Tahlil

Judul Buku : Sejarah Tahlil
Penulis : KH Muhammad Danial Royyan
Tebal : viii, 72
Penerbit : LTN NU Kendal bekerjasama dengan Pustaka Amanah Kendal
Cetakan : pertama, 17 Februari 2013
Peresensi : Fahroji

Munculnya kembali ideologi dan faham Salafi Wahabi dengan berbagai bentuk organisasinya yang telah menyebar ke tengah masyarakat lintas bangsa dan negara (ideologi transnasional) sekarang ini yang cenderung memusyrikkan dan membid’ahkan amaliah yang sudah ada, maka, mau tidak mau semua hal yang berkaitan dengan amaliah agama harus diketahui lengkap dengan dalil-dalilnya.

Kondisi tersebut telah menimbul keprihatinan di kalangan ulama dan pengurus NU di berbagai wilayah dan cabang, salah satunya PCNU Kendal. KH Muhammad Danial Royyan penulis buku ini yang juga ketua tanfidziyah PCNU Kendal periode 2012-2017 menuangkan kegelisahannya dengan menulis buku Sejarah Tahlil. Tradisi Tahlilan yang merupakan salah satu sasaran tembak bagi kaum salafi wahabi perlu mendapatkan pembelaan agar kaum Nahdliyyin tidak menjadi ragu atas amaliah yang dilakukan secara turun-temurun dan masih berkembang di masyarakat hingga saat ini.

Buku Sejarah Tahlil yang dicetak dalam ukuran saku tersebut memaparkan bagaimana tradisi bacaan Tahlil sebagaimana yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini tidak terdapat secara khusus pada zaman nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Tetapi tradisi itu mulai ada sejak zaman ulama muta’akhirin sekitar abad sebelas hijriyah yang mereka lakukan berdasarkan istimbath dari Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW, lalu mereka menyusun rangkaian bacaan tahlil, mengamalkannya secara rutin dan mengajarkannya kepada kaum muslimin.

Dalam buku tersebut juga diulas siapa sebenarnya yang pertama kali menyusun rangkaian bacaan tahlil dan mentradisikannya. Menurut penulis buku ini, hal tersebut pernah dibahas dalam forum Bahtsul Masail oleh para kyai Ahli Thariqah. Sebagian mereka berpendapat bahwa yang pertama menyusun tahlil adalah Sayyid Ja’far Al- Barzanji. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa yang menyusun tahlil pertama kali adalah Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Dari dua pendapat tersebut, pendapat yang paling kuat tentang siapa penyusun pertama tahlil adalah Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Hal itu didasarkan pada argumentasi bahwa Imam Al- Haddad yang wafat pada tahun 1132 H lebih dahulu daripada Sayyid Ja’far Al – Barzanji yang wafat pada tahun 1177 H.

Pendapat tersebut diperkuat oleh tulisan Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam syarah Ratib Al Haddad, bahwa kebiasaan imam Abdullah Al Haddad sesudah membaca Ratib adalah bacaan tahlil. Para hadirin yang hadir dalam majlis Imam Al Haddad ikut membaca tahlil secara bersama-sama tidak ada yang saling mendahului sampai dengan 500 kali.

Disamping mengulas sejarah tahlil, buku setebal 72 hal itu juga membahas argumentasi tahlil dan pahala bacaanya yang diyakini bisa sampai kepada mayyit. Pada bab-bab berikutnya penulis juga mengupas tentang talqin dan ziarah kubur lengkap dengan pengertian, tatacara dan argumentasi pelaksanaannya. Buku ini wajib dibaca oleh warga Nahdliyyin di Kendal karena memang diterbitkan dalam rangka penggalian dana NU Kendal dan menggantikan model penggalian dana dengan lewat stiker. Sungguhpun demikian buku ini juga perlu dibaca oleh warga NU dimana saja berada.

Peresensi adalah kontributor NU Online Kendal

Komentar(10 komentar)
Sabtu, 09/03/2013 14:21
Nama: shodiq kamal
ingin beli buku ini
smoga sgr terbit bk ttg sholawat Tunjina maupun Nariyah dan amalan2 lain NU dlm buku yang mudah di bawa2, drpd hanya dengarkan pulang dah lupa lagi. kapan,bagaimana dan dimana saya dpt beli buku Sejerah Tahlil tsb?
Sabtu, 09/03/2013 06:56
Nama: Masjkur
Sejarah Tahlil
mohon informasinya dimana kami bisa mendapatkan buku tersebut dan berapa harganya, saya dari Palembang.
Jumat, 08/03/2013 22:05
Nama: edy suprayogi
sejarah tahlil
pengen dapat bukunya
Jumat, 08/03/2013 13:28
Nama: dikhyah
jawab
KH.Danial tidak cuma mengaang buku sejarah tahlil tetapi juga menarang sebuah kitab kuning yang mengpas tuntas sejarah tahlil, ziarah kubur, tawasul dan lain-lain. nah bagi yang mampu membaca kitab kuning silahkan baca kitab "hakikat ahli sunnah wal Jamaah" karangan beliau. bagi yang belum mampu bergelut dengan kitab kuning kami sedang berusaha menghbungi yang bersangkutan tetapi karena beliau sangat sibukdengan kegiatan NU dan sosialisasi keNUan, maka sampai saat ini belum bisa terhubung. pembaca dan pemerhati harap sabar menunggu jawabannya.
Jumat, 08/03/2013 10:12
Nama: achmad sari
sejarah tahlil
alhamdulillah dng trbitnya buku sejarah tahlil ini saya sngt bersyukur,tp dngan kebiasaan masyarakrt kt yg budaya membacanya kurang, kmi mohon untuk mensosialisasikan dngn gencar bila perlu pada majlis2 khaul ato pada saat warga nahdiyin ada yg meninggal
Kamis, 07/03/2013 15:21
Nama: isharyanto
Sejarah tahlil
Alhamdulillah..cape juga jawab kalo tahlil itu Bid'ah Khasanah terus tanpa tahu sejarah dan dasarnya..tapi dapat buku ini dimana ya?trus Berapa?
Kamis, 07/03/2013 14:45
Nama: RUKHIYAT
alhamdulillah
semoga allah memberkahi penulis,saya sangat gembira mendengar kemunculan buka ini,saudaaraku,wahabi hanya akan menyerang umat yang bodoh,maka hiasilah hari kita dengan ilmu dan amal yang baik..mari kita kembali kepada Ahlussunnah wal jama'ah...semoga allah memberkahi kita.
Kamis, 07/03/2013 01:51
Nama: sugiono
tahlil sudah di hati dan sudah mejadi kebutuhan kami
tahlilan sngat kami butuhkan, dengan ada nya tahlil kita menjadi dekat degan apa yg kita tuju, y itu Allah swt.
Kamis, 07/03/2013 00:03
Nama: danang nugroho
Buku sejarah Tahlil
Mf.. saya ingin pesan, emagnya bisa pesan dmn?
Rabu, 06/03/2013 22:47
Nama: Musthaf
Jaman Imam Ghozali
Dalam Buku FILSAFAT UMUM Dari Metodologi Sampai Teofilosofi, Drs. karya Atang Abdul Hakim, MA terbitan I Pustaka Setia Bandung, pada halaman 465 diterangkan bahwa pada masa Imam Al Ghozali ( 450-505 H)telah dibangun sarana diskusi keagamaan seperti majelis2 yg didirikan di setiap kota (Irak dan Kurusam) di dalam halaman buku itu pula ditulis: Abdul Wahid Al Baji, berkata, \"Sudah menjadi tradisi di kota Baghdad, yaitu apabila ada yg tertimpa musibah seperti meninggalnya tokoh masyarakat yg terkemuka, maka diantara keluarganya beserta teman-temannya dan tetangganya tinggal di masjid jami dg jamaahnya beberapa hari disibukkan dg berbagai bacaan Al-Quran, berdzikir, dan berdiskusi dg para ulama yg faqih dlm berbagai masalah dg tujuan menghibur diri atas keluarga yg ditimpa musibah. Dan setelah lewat beberapa hari, mereka kembali bekerja sesuai dg kebiasaan dan profesinya masing-masing. Melihat fakta seperti di atas, sepertinya tradisi tahlil pada kematian sudah ada sejak tahun 450 H.
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefSeptember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930    
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::