Jumat, 28 November 2014
Language :
Find us on:
Buku 
Berdamai dengan Kaum Sawah
Senin, 24/06/2013 14:35
Berdamai dengan Kaum Sawah

Ekstrimisme kaum Salafi Wahabi (Sawah) terhadap kalangan kaum penganut aliran sufi terus berlanjut hingga menjadi persoalan sosial dan disintegrasi yang kronis dalam diri agama Islam. Berbagai tuduhan kafir, pengamal bid’ah, dan bahkan musyrik kepada kaum sufi menjadi duri dalam daging umat Islam. Mau tidak mau kita harus menyikapinya dengan penuh dengan kesabaran, kecerdasan, dan kejernihan hati serta pikiran dalam menghadapi persoalan keyakinan-keagamaan ini. Karena tentu persoalan keagamaan semacam ini memiliki daya keyakinan masing-masing yang saling membentengi dengan dalil-dalil Islam.

Di Indonesia, keberadaan kaum Sawah tak lebih menjadi pseudo-enemies dalam agama Islam. Stigma negatif dan vonis buruk bertubi-tubi dilayangkan secara subyektif oleh salah satu sekte Islam (Sawah) yang merasa paling Qur’ani dan Sunni kepada ajaran tasawuf dan pengamal tarekatnya. Mulai dari label perintis bid’ah, pembela mimpi dan ilham setan, melenceng dari syariat, demen mistis dan wirid-wirid bid’ah, pecinta hadits lemah dan palsu, pemuja wali dan guru, dan macam ragam tuduhan lain yang variatif dan tak bersahabat (Hal. 4).

Kehadiran buku Nur Hidayat Muhammad ini bukan dalam rangka memusuhi kalangan kaum Sawah. Namun tak lain mau berdamai dan berdialog via buku secara ilmiah dengan kajian yang mendalam. Nah, uraian buku di atas kiranya memberikan pandangan tersendiri di mata publik. Bisa saja publik menganggap kaum sufi memang benar-benar kafir atau bisa saja mereka beranggapan kaum Sawah yang diktator dan ekstrim sesama lingkup rumpun agama yang sama (Islam).

Setidaknya publik akan memiliki pandangan tersendiri dalam menimbang siapa yang memusuhi dan berkawan di antara dua aliran yang tak sepaham tersebut. Menurut imam al-Nawawi, penulis syarah Shahih Muslim, dalam kitabnya, al-Maqashid menyebutkan bahwa asas dalam tasawuf yaitu; Pertama, bertakwa kepada Allah Swt., baik dalam hati atau lahiriyah. Kedua, mengikuti al-Sunnah, baik dalam perilaku atau ucapan. Ketiga, hatinya tidak terpasung melihat makhluk (dunia). Keempat, ridha kepada Allah Swt., baik sedikit atau banyak. Kelima, kembali kepada Allah Swt., baik saat lapang atau susah (Hal. 12-13).

Lima fondasi kaum sufi yang dinyatakan oleh imam al-Nawawi dalam buku ini cukup mewakili dari struktur keberadaan penganut aliran sufi yang ditodong dengan pisau kafir dan tali musyrik oleh aliran Sawah. Kejernihan dalam berpikir dan keluwesan hati perlu kita kelola seelok mungkin, utamanya dalam menghadapi persoalan aliran dan keyakinan dalam beragama agar tidak mencoreng agama itu sendiri sebagai agama satu-satunya yang diyakini memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi kehidupan umat manusia.

Berbagai doktrin keislaman yang beda aliran hingga beda persepsi dalam memandang suatu fenomena perlu diselesaikan melalui pendekatan khusus tanpa ekstrimisme dan tuduhan yang mencoreng agama. Karena secara tidak langsung hal tersebut akan membangun pandangan negatif dan stereotip publik. Dengan serta merta publik akan menyatakan bahwa Islam adalah agama konflik. Dan itu secara lambat laun akan mengubah ruh agama Islam dari eksistensinya di ranah global (lih. stereotip oleh A. Dardiri Zubairi, 2013:110-113).

Perseteruan antara aliran Salafi Wahabi dan kaum Sufi serta termasuk Ahlussunnah wal Jama’ah masih belum ada jalan terang yang bisa menerangi. Namun melalui jawaban sederhana yang mengena pada objek hukum syariat Islam oleh Nur Muhammad Hidayat ini akan memberikan sedikit cahaya terang benderang di antara dua aliran yang kontroversial tersebut. Secara jelas, pelurusan dengan cara yang fleksibel dan tegas mengenai hukum-hukum Islam kaitannya dengan adat istiadat di negeri ini juga harus menjadi pertimbangan yang tidak boleh dilupakan sebagaimana khittah Islam yang ajarannya selalu sesuai dengan situasi dan kondisi apapun.

Penyelesaian konflik kaum Sufi vs kaum Sawah harus berjalan dengan sikap moderat, fleksibel, kritis dan lembut dalam menyampaikan sebuah tanggapan. Serta dengan cara yang berdasar pada ranah damai berdasar pad timbangan hukum dan syari’at Islam. Misalkan dalam hal algorisme mengenai kaum Sufi dan hadits dhaif serta hadits palsu. Yang sangat mengesankan yaitu tuduhan Hartono Ahmad Jaiz dalam bukunya dengan judul “Tasawuf Besitan Iblis” yang menuduh kaum sufi menolak hadits shahih (Hal. 21-24).

Penegasian dalam menyelesaikan suatu problem bukan jalan utama. Karena dibalik itu akan bermunculan tanggapan saling todong dan bunuh hingga akhirnya kedua belah pihak (Sufi dan Sawah) akan sama-sama mengalami keruntuhannya. Bahkan bisa saja meruntuhkan peradaban kayakinan serta agama yang dibanggakannya. Maka dari itu, sebuah afiliasi dalam menyelesaikan problem yang membelit kaum Sufi dan Sawah perlu digiring ke ranah yang lebih damai dan mendamaikan. Sebagai aliran yang mendapat pandangan tersendiri dari publik, maka perlu memikirkan hal tersebut.

Dari segala variasi tuduhan dan ekstrimisme kaum Sawah terhadap kaum Sufi dalam buku ini dicoba untuk diluweskan melalui pendakatan hukum syariat Islam. Elaborasi dalam dua aliran tersebut perlu menjadi hal yang sangat urgen dalam menimbang dan memutuskan suatu pendapat guna menjaga eksistensi dan reputasi agama Islam. Karena tak dapat disangkal kedua aliran tersebut berada dalam jalur mengikuti pantulan cahaya agama yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw. Sehingga tak layak kiranya dalam jalur yang sama terjadi ekstrimisme dan tuduhan negatif terhadap aliran tertentu tanpa memandang ke depan melalui argumen yang valid dan mencerahkan ummat.

Judul: Tarekat dalam Timbangan Syariat – Jawaban atas Salafi Wahabi
Penulis : Nur Hidayat Muhammad
Penerbit: Muara Progresif
Cetakan: I, Mei 2013
Tebal: x + 175 hlm. 14,5 x 21 cm
ISBN: 978-602-17206-5-3
Peresensi: Junaidi Khab, santri Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura

Komentar(5 komentar)
Rabu, 10/07/2013 14:22
Nama: ocvan
tanya
apakah buku ini sudah tersedia di toko-toko buku seperti Gramedia..? trimakasiih
Senin, 08/07/2013 10:18
Nama: HM
Semangat
Penerbitan buku2 anti gerakan salafy wahhaby perlu digencarkan lg sgai klarifikasi tuduhan sesat dan main klaim sepihak. Mosok ada buku mnyesat2kan thariqah tapi di satu sisi mengklaim bahwa syaikh tahriqahnya aqidahnya seperti yg dianut salafy wahhaby. Intinya menurut mereka pengikut thariqah salah paham terhadap ajaran pendiri thariqah. Tapi ya itu nulisnya berdasar pemahaman buku2 doang tidak dikomparasikan dgn tokoh thariqahnya termasuk cucu/keturunan sang pendiri thariqah yg sampai skrang masih ada. aneh memang....nulis buku bukan mencerahkan tapi menimbulkan fitnah dan menyesatkan pembacanya yg anti taklid tapi sebanrnya mereka jg mengamalkan taklid yg diperhalus dgn kata ittiba'.
Selasa, 25/06/2013 06:25
Nama: Muara Progresif
Ingin Memiliki Buku
Jika berminat mimilki buku TAREKAT DALAM TIMBANGAN SYARI'AT, Jawaban Atas Keritik Salafi Wahabi, bisa menghubungi Noviana Herliyanti 085230702045 / 082334115077
Senin, 24/06/2013 15:59
Nama: m.suryadi anwar
trimks dengan terbitnya buku ini
mari kita perkuat ahlusunnah waljama,ah jangan terkecoh dengan wahaby yang ekstrimis ,mari kita kuatkan aqidah dengan mempelajari kitab kuning yang muktabar ,karena kalau wahabi ini masuk ke desa-desa orang yang berzikir, tahilan ,bertarikat, yasinan , ziarah kubur bid'ah semua bahkan syirik jadi yang betul dia ,syukran
Senin, 24/06/2013 15:45
Nama: Arwan
Sawah dan Israel
Ketika saya melihat konflik di Suriah, terkadang saya hampir mau menangis.Apakah Bangsa yang begitu elok toleransi terhadap sesama bangsa dan bangsa lain suatu saat akan sperti Suriah. Sawah di indonesia , memilki fasilitas syiar yang besar dan canggih. Fasilitas media Ada Rodja Tv, Insan TV, Wesel TV. Pertanyaan nya Ada enggak NU TV? Melihat sumbangsih NU pada bangsa ini, seharusnya Kalau NU belum mampu memilki TV, pemerintah akan memberikan jam tayang, pada NU di TVRI pusat. Kembali pada sawah dan Israel, dokttin yang keras pada kaum sawah, untuk mengkafirkan mereka yang tdk sepaham dg mereka, inilah yang menjadu kehawatiran umat saat ini. Namun yang aneh dalam pandangan saya begitu keras nya kaum sawah, terhadap pemerintah kafir, tapi mereka. justru negara negara itu (Saudy Arabia cs) selalu seia sekata dg AMERIKA dan negara barat lainnya. Sekarang kalau saja ada Amerika di Timor Tengah, apakah tidk akan ada Israel. Jawabnya. wajib hukumnnya ada Israel. Induk Sawah. atau Salafi Wahabi ini ada di Arab Saudi, pertanyaannya, mengapa kaum sawah tidak melakukan koreksi diri, Bolehkan kah berahabat dg kapir untuk menjayuhkan pemerintahan sesama islam. Ingat Pemerintah Suriah juga bahkan hingga sekarang, berperang dg Israel. Lantas Arab Saudi cs berani dak Israel.
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 269 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefNovember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::