Kamis, 17 April 2014
Language :
Find us on:
Tokoh 
Abuya Dimyati, Keramat dari Barat
Rabu, 05/12/2012 09:12

Ulama dan guru tarekat yang ‘alim dan wara’ di Banten. Nama lengkapnya adalah KH. Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin al-Banteni yang biasa dipanggil dengan Abuya Dimyati, atau oleh kalangan santri Jawa akrab dipanggil “Mbah Dim”. 

Lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan H. Amin dan Hj. Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyati sudah menampakan kecerdasan dan keshalihannya. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya, menjelajah tanah Jawa hingga ke pulau Lombok demi memenuhi pundi-pundi keilmuannya.

Kepopuleran Mbah Dim setara dengan Abuya Busthomi (Cisantri) dan kiai Munfasir (Cihomas). Mbah Dim adalah tokoh yang senantiasa menjadi pusat perhatian, yang justru ketika dia lebih ingin “menyedikitkan” bergaul dengan makhluk demi mengisi sebagian besar waktunya dengan ngaji dan ber-tawajjuh ke hadratillah.

Sebagai misal, siapakah yang tidak kecil nyalinya, ketika begitu para santri keluar dari shalat jama’ah shubuh, ternyata di luar telah menanti dan berdesak-desakan para tamu (sepanjang 100 meter lebih) yang ingin bertemu Mbah Dim. Hal ini terjadi hampir setiap hari.

Para peziarah Walisanga yang tour keliling Jawa, semisal para peziarah dari Malang, Jember, ataupun Madura, merasa seakan belum lengkap jika belum mengunjungi ulama Cidahu ini, untuk sekadar melihat wajah Mbah Dim; untuk sekadar ber-mushafahah (bersalaman), atau meminta air dan berkah doa.

Mbah Dim menekankan pada pentingnya ngaji dan belajar, yang itu sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim kepada para santri dan kiai adalah jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain ataupun karena umur. Sebab, ngaji tidak dibatasi umur. Sampai-sampai, kata Mbah Dim, thariqah aing mah ngaji!, yang artinya ngaji dan belajar adalah thariqahku.

Bahkan kepada putera-puterinya (termasuk juga kepada santri-santrinya) Mbah Dim menekankan arti penting jama’ah dan ngaji sehingga seakan-akan mencapai derajat wajib. Artinya, tidak boleh ditawar bagi santri, apalagi putera-puterinya.

Mbah Dim tidak akan memulai shalat dan ngaji, kecuali putera-puterinya—yang seluruhnya adalah seorang hafidz (hafal Al-Qur’an) itu sudah berada rapi, berjajar di barisan (shaf) shalat. Jika belum dating, maka kentongan sebagai isyarat waktu shalat pun dipukul lagi bertalu-talu. Sampai semua hadir, dan shalat jama’ah pun dimulai.

Mbah Dim merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965, dan telah banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin Ja’far Assegaf yang sekarang memimpin Majelis Nurul Musthofa di Jakarta. Dalam bidang tasawuf, Mbah Dim menganut tarekat Qodiriyyah-Naqsabandiyyah dari Syeikh Abdul Halim Kalahan. Tetapi praktik suluk dan tarekat, kepada jama’ah-jama’ah Mbah Dim hanya mengajarkan Thariqah Syadziliyah dari syekh Dalhar.

Itu sebabnya, dalam perilaku sehari-hari ia tampak tawadhu’, zuhud dan ikhlas. 

Banyak dari beberapa pihak maupun wartawan yang coba untuk mempublikasikan kegiatannya di pesantren selalu di tolak dengan halus oleh Mbah Dim, begitu pun ketika ia diberi sumbangan oleh para pejabat selalu ditolak dan dikembalikan sumbangan tersebut. Hal ini pernah menimpa Mbak Tutut (Anak Mantan presiden Soeharto) yang member sumbangan sebesar 1 milyar, tetapi oleh Mbah Dim dikembalikan.

Tanggal 3 Oktober 2003 tepat hari Jum’at dini hari Mbah Dim dipanggil oleh Allah SWT ke haribaan-Nya. Banten telah kehilangan sosok ulama kharismatik dan tawadhu’ yang menjadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihat. 

Bukan hanya masyarakat Banten, tapi juga umat Islam pada umumnya merasa kehilangan. Ia di makamkan tidak jauh dari rumahnya di Cidahu Pandeglang, dan hingga kini makamnya selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di Tanah Air. (Ensiklopedi NU)

Komentar(10 komentar)
Sabtu, 29/12/2012 02:01
Nama: nani
abuya Dimyati
Beliau dan Abuya Bustomi (Cisantri) berikut Abuya Damanhuri (yang mukim di Mekkah) merupakan murid-murid dari abuya Armin Kadubale
Ahad, 23/12/2012 21:48
Nama: sofyanwin
ada juga di semarang
di semarang juga ada Al Ulama seperti beliau ........ tidak ada hari libur mengaji
Sabtu, 22/12/2012 16:57
Nama: bagus
alfatehah
ila ruhi mbah Dim , alfatehah
Jumat, 21/12/2012 11:46
Nama: Arif Rohman
kerinduanku
kerinduanku kepada mbah dim sampai hari ini belum terpenuhi.bahkan ingin berziarah kesana saja belum bisa.semoga nanti bisa terwujud
Jumat, 21/12/2012 02:05
Nama: kk wey
salam takdzim
Mbah dim ternyata besanan dgn kyai maani menes,
Senin, 17/12/2012 23:08
Nama: rijal
our froud
mbah dim adalah kebanggan masyarakat banten...semoga akan terus lahir abuya abuya yang lain dari banten
Sabtu, 15/12/2012 08:41
Nama: Yusuf KM
ingt
inget dlu pas mau jamaah datangnya aku cpt bgt,trus tiba2 Abuya memanggil smbil ngendiko,aku bingung soale pake bahasa sunda,untg ada kak Moh.ternyata suruh bawa sesuatu dari majlis ke dapur :)
Kamis, 13/12/2012 07:35
Nama: heri handoko jogja
keluarga
salah satu istri mbah dim adalah putri mbah KH nawawi jejeran bantul jogjakarta
Selasa, 11/12/2012 23:49
Nama: msc
Abuya Dimyathi Cidahu
Abuya Mufasir pernah berguru pada Abuya Dimyathi, termasuk Abuya Bustomi juga berguru pada beliau. Tariqat yang dipegang Abuya adalah Saydziliyah.
Rabu, 05/12/2012 10:35
Nama: Abi Madyan
Ngaji
Jadwal waktu utama Ngaji di Pondok Mbah Dim adalah malam hari yang di mulai pukul 21:00 sampai dini hari pukul 03:00. Tanpa istirahat. Dan di Pondok beliau tidak mengenal libur ngaji, hatta malam Idul Fitri atau Adha tetap Ngaji.
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Space Iklan
305 x 100 Pixel
Agenda
PrefApril 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Maaf transaksi pembelian via web toko.nu.or.id belum bisa beroperasi karena ada sistem yang perlu disempurnakan ::::