Senin, 24 November 2014
Language :
Find us on:
Daerah 
Penyesuaian Arah Kiblat Tak Perlu Bongkar Masjid
Kamis, 29/11/2012 20:27
Penyesuaian Arah Kiblat Tak Perlu Bongkar Masjid

Banyuwangi, NU Online
Kiblat salah, shalat pun tak sah. Itulah yang menjadi keyakinan umat Islam akan hukum syarat sah melaksanakan sholat. Kiblat sebagai bagian penting dari umat Islam inilah yang juga kerap menjadi perdebatan di masyarakat.

"Bagaimana kalau ada warga yang ingin masjidnya dibongkar, gara-gara masjid tersebut tak lagi menghadap tepat ke Ka'bah. Ini kan jadi persoalan yang serius di masyarakat," tanya Fatkhul Aziz salah satu peserta Sosialisasi Perhitungan Arah Kiblat di MI Maarif NU 1 Pageraji, Cilongok Kamis (28/11).

Menyikapi pertanyaan tersebut, pemateri dari Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, KH Mohammad Zuhdi menegaskan tokoh masyarakat dan tokoh agama harus bisa berkomunikasi dan jembatan perbedaan pendapat di antara warga. Hal ini penting agar persoalan kiblat sholat bukan menjadi masalah di masyarakat.

"Jangan dibongkar masjidnya, tetapi sesuaikan saja shaf (barisan) sholat di masjid tersebut. Jadi njenengan yang lebih tahu harus bisa memahamkan permasalahan ini, agar tidak menjadi masalah di masyarakat," jelasnya.

Mohammad Zuhdi menyebutkan setelah dihitung dengan rumus arah kiblat di wilayah Purwokerto adalah arah barat menyerong ke utara sekitar 25 derajat atau 65 derajat dari utara ke barat. Sementara itu untuk menemukan arah kiblat yang lurus bisa menggunakan berbagai alat dan cara dari yang canggih maupun sederhana. Mulai dengan menggunakan kompas, silet dan bayangan matahari.

"Dalam setahun ada waktu di mana matahari tegak di atas Ka'bah, yaitu 27 Mei dan 15 Juli waktu GMT. Cara sederhana untuk menentukan penunjuk kiblat adalah kita bisa menggunakan tali yang diberi pemberat untuk melihat bayangan matahari. Dari bayangan matahari dari benda inilah kita bisa menemukan garis penunjuk arah kiblat yang lurus," jelasnya.

Mohammad Zuhdi yang juga pakar astronomi dari Badan Hisab dan Ruqyat Kabupaten Banyumas juga menerangkan untuk memberikan kejelasan kiblat, warga juga bisa memberikan tanda sederhana tentang arah kiblat di pemakaman umum. Ini diperlukan agar proses pemakaman jenasah dapat sesuai dengan syariat dan benar-benar menghadap kiblat.

"Jadi kalau yang sudah terlanjur dimakamkan ya tidak apa-apa. Tapi kalau bisa kita berusaha agar memenuhi syarat sah menghadap kiblat. Di wilayah saya, Batuanten, warga biasanya membuat tanda dari bambu dan tali agar arah kiblat di pemakamanpun sesuai," jelasnya.

Tokoh Nahlatul Ulama dari Cilongok, Mujiburrohman mengharapkan dengan adanya sosialisasi Hisab Arah Kiblat ini, warga masyarakat dapat lebih khusyuk menjalankan ibadah sholatnya. Selain itu diharapkan forum ini dapat menjadi penjawab berbagai permasalahan yang timbul di masyarakat terkait kiblat.


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Susanto

Komentar(2 komentar)
Senin, 10/12/2012 11:47
Nama: AGUS D PRAYITNO
BANGUN MASJID BONGKAR PENG IMAMAN LAMA
DI TEMPAT KAMI SEDANG MEMBANGUN MASJID BARU SEDANG SEPEREMPAT BANGUNAN BARU MENGENAI MASJID SEHINGGA HARUS MEMBONGKAR MASJID LAMA PADAHAL DULUNYA MASJID LAMA TANAH DARI WAKOF WARGA. BAGAIMANA HUKUMNYA. ?
Jumat, 30/11/2012 10:26
Nama: h.jazim
penting niyat
ga usah bongkar masjid gara-gara kiblat , yang lebih penting saat niyat usholli
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefNovember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::