Selasa, 21 Oktober 2014
Language :
Find us on:
Daerah 
Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan
Ahad, 30/06/2013 21:00
Miftahul Ulum, Potret Perjuangan Madin Kota Bengawan

Solo, NU Online
Keberadaan Madrasah Diniyah (Madin) di Kota Solo mungkin tidak sebegitu populer dibandingkan dengan daerah yang menjadi basis pesantren. Di Kota Bengawan, usai menyelesaikan jenjang TPA/TPQ, anak pada umumnya kurang mendapat pendidikan Agama Islam secara intensif.

Hal itulah yang kemudian mendorong para pendiri Madin Miftahul Ulum, untuk menyelenggarakan pendidikan Agama di daerah pinggiran Bengawan Solo. “Di sini anak dewasa cenderung gengsi untuk mengikuti pendidikan agama, maka dari itu nama TPA, yang identik dengan anak-anak, diubah menjadi madrasah diniyah,” terang Durrotun Nasihin, Kepala Madin Miftahul Ulum, Jumat (28/6) Siang.

Pada tahun 2004, Nasihin bersama para temannya yang ditugaskan dari Pesantren Sidogiri Pasuruan, membantu berdirinya Miftahul Ulum yang diasuh Ustaz Munaji Jazuli itu. “Sebelumnya sudah ada Masyitah dan TPA yang didirikan NU tahun sekitar 1994, namun belum ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” lanjutnya.

Dari awal mula dua kelas, madrasah ini terus berkembang. Sampai saat ini siswa Madin yang terletak di Semanggi Pasar Kliwon Solo ini jumlah santrinya mencapai 140-an, dengan jenjang 8 kelas mulai dari tingkat TPA (2 tahun) kemudian Madin (6 tahun). “Kita sudah meluluskan dua kali angkatan,” Kata pemuda asal Madura tersebut.

Tidak hanya itu, sejumlah inovasi dan prestasi juga telah dihasilkan. Tambahan pelajaran seperti les Bahasa Inggris dan komputer diadakan. Bahkan, program tersebut pernah menarik minat siswa SMA MTA Solo, yang letaknya memang sangat berdekatan.

“Siswa mereka banyak yang ikut program kami, sekitar 50 peserta. Namun ketika didengar, kami menanamkan ideologi Ahlussunah, pimpinan MTA terus melarang,” ungkap Nasihin.

Sedangkan prestasi yang pernah diraih diantaranya lomba tingkat kota seperti kaligrafi, pidato, Al-Quran, dan baca kitab.

Kini, pada momentum Hari Lahir (Harlah) ke-9, Madin Miftahul Ulum semakin mantap untuk menatap masa depan. Cita-cita luhur para pendirinya untuk memperjuangkan Islam semakin kuat. Dari awalnya hanya dua kelas, Miftahul Ulum sekarang telah membuka dua cabang yakni di Mojosongo (Solo) dan Sukoharjo.

“Para alumninya juga bersemangat untuk terus mencari ilmu agama. “Sudah banyak yang meneruskan ke pesantren, itu aset (kaum Aswaja) ke depan,” pungkasnya.


Redaktur     : Abdullah Alawi
Kontributor : Ajie Najmuddin

Komentar(0 komentar)
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefOktober 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::