Jumat, 24 Oktober 2014
Language :
Find us on:
Daerah 
Santri Putri Ponpes Lirboyo Asal Medan Dilaporkan Menghilang
Kamis, 03/03/2005 04:21

Kediri, NU Online
Seorang santri putri Ponpes Anak Ar Risalah, Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Hefebriana Dewi Rizky (16) asal Medan, Sumatera Utara dilaporkan menghilang dari kompleks pondok yang pernah menjadi lokasi Muktamar NU ke-30 tahun 1999. 

Suharni Susiana (45), ibu korban, menyatakan sejak 8 bulan terakhir ini anaknya tidak pernah mengirimkan kabar beritanya. "Perasaan saya jadi tidak enak, sehingga saya pun memutuskan untuk pergi ke Kediri menengok anak saya," tutur Suharni di Kediri, Rabu.

Menurut wanita yang sebelumnya bekerja sebagai TKW di Malaysia itu, setiap bulan dirinya tidak pernah terlambat mengirim uang dengan ditransfer melalui bank kepada anaknya yang ’mondok’ di Lirboyo sejak tiga tahun lalu itu. "Hanya sebulan terakhir ini saya terlambat mengirimkan uang, karena ada masalah keluarga," ujarnya.

Suharni menyayangkan pihak pengurus ponpes yang tidak menceritakan masalah tersebut kepada dirinya, baik ketika berada di Medan maupun saat di Kediri.Begitu tiba di Kediri dan mengetahui anaknya tidak ditemukan, Suharni langsung  mengadu ke DPRD Kota Kediri.

Informasi yang diterima Suharni dari para teman anaknya sesama santri Ponpes Ar Risalah, Rizky menghilang sejak bulan Juli 2004 lalu. "Saya sudah mencarinya kemana-mana, tapi belum ketemu juga. Saya mohon kepada bapak anggota dewan, agar sudi membantu menemukan anak saya," pinta Suharni.

Menanggapi hal itu Ketua Komisi A DPRD Kota Kediri Heru Ansori berjanji akan membantu mencari Rizky dengan terlebih dulu meminta klarifikasi kepada pengurus Ponpes Ar Risalah.        

Informasi yang diperoleh dari pengurus Ponpes Ar-Risalah, Zakaria, Rizky kini berada di rumah seorang warga tak jauh dari ponpes. "Kami sudah maksimal melakukan pencarian di rumah seorang warga bernama Mbok Jah. Tetapi ada sebagian warga yang berusaha menghalang-halangi kami saat berusaha menjemputnya," ujar Zakaria.

Pihaknya pernah berniat melaporkan kejadian itu kepada polisi, namun karena berbagai pertimbangan niat tersebut urung dilakukan. Menurut Zakaria pihak pondok menerapkan aturan ketat kepada semua santri, diantaranya larangan menerima telepon dari keluarga, kecuali memang mendesak seperti ada keluarga yang meninggal dunia.
 
Hal itu dimaksudkan untuk mengajarkan anak santri disiplin dan aktifitas belajarnya selama di pondok tidak terganggu oleh masalah keluarga."Semua peraturan yang ditetapkan di pondok sudah dipahami dan disetujui oleh para wali santri saat mendaftar dulu," imbuhnya.(ant/mkf)

 


 

Komentar(3 komentar)
Rabu, 30/04/2008 22:12
Nama: imdad Al-Hakim
penambahan coment
ass yaa ustadz... saya setuju dengan pendapat pak suwarjono, ya walaupun saya kurang begitu tahu permasalahan yang sebenarnya, dan mungkin ustadz dan pengasuh pondok pun sudah mencarikan solusi yang tepat untuk menindaklanjuti masalah mba rizky tersebut. tapi, harusnya pihak pondok kudu mengklarifikasikan kepada keluarganya mba rizky setelah dia menghilang, kan tidak hanya menggunakan hp atau ponsel untuk menghubungi keluarganya, apa pada saat pendaftaran dulu tidak diberikan alamat rumahnya? jadi kan bisa mengabari lewat pos. sekian dari saya. moga dapat diambil manfaatnya. dan moga tidak ada keteledoran lagi di masa yang akan datang. amin.
matur nembah nuwun.
wass.
Ahad, 13/01/2008 20:20
Nama: suwarjono
mohon untuk lebih arif
mohon untuk tidak menomorsatukan uang dalam menangani permasalahan santri dan wali santri. bagaimanapun tetap berupaya menemukan wali santri agar tidak terjadi kepada santri yang mungkin ortunya meninggal dalam sebuah kecelakaan dan tidak diketahui orang lain. terima kasih
Selasa, 22/03/2005 22:44
Nama: Zakariya al-Anshori
kami dari
kami dari pihak pondok perlu klarifikasikan. Anak dimaksud meninggalkan pondok, setelah orang tua lama sekali tidak ada kontak dengan pondok ataupun anaknya baik biaya pendidikan maupun informasi. tercatat sekitar Rp. 7.400.000 tunggakan selama sekitar satu tahun. Anak dimaksud keluar tanpa ijin waktu liburan sekolah dimana semua santri dijemput orang tuanya/walinya untuk pulang. Dua nomor hp dan telpon yang diberikan ke pondok tidak bisa dihubungi baik dengan telpon maupun sms.
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefOktober 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::