Rabu, 19 Juni 2013
Language :
Find us on:
Nasional 
PBNU Bicarakan Kedamaian dalam Keragaman dengan Pakistan
Rabu, 27/06/2012 07:41

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima kunjungan sebelas tokoh Pakistan, Selasa (26/6). Mereka diterima Wakil Ketua PBNU H. As’ad Said Ali, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi, dan Wakil Sekretaris PBNU Imdadun Rahmat di kantor PBNU, Jakarta.
Perwakilan Pakistan yang tiba di PBNU pukul 17.00 tersebut, mengajak bertukar pikiran mengenai bagaimana hidup damai dalam keragaman. 

Mereka bercerita bahwa negara mereka sedang berada dalam situasi kritis karena beberapa faktor, di antaranya masalah politik yang tak kunjung stabil. Sebabnya adalah agama menjdi ideologi negara, sehingga kepentingan politikus menjadi seolah-olah kepentingan agama.

Kedua, persoalan sekte keagamaan demikian tajam, “Di negara kami, masing-masing berpegang pada salah satu madzhab dengan fanatik. Di sisi lain, permasalahan ekonomi juga tidak bisa dianggap kecil,” ujar salah seorang perwakilan mereka. 

As’ad Said Ali memperkanalkan NU. Menurutnya, NU hidup di negara yang tidak berdasar agama. NU juga sangat menghargai perbedaan dengan berbagai golongan lain. Bahkan dalam NU sendiri membolehkan empat madzhab Fiqih. 

“Selain itu, NU menaungi puluhan tarekat, di antaranya Naqsyabandiyah, Tijaniyah, Qodiriyah, Syadziliyah, dan lain-lain,” ujanya. 

NU juga, sambung As’ad, memiliki lembaga-lembaga otonom yang bergerak sendiri. Sementara kehidupan keagamaan berkembang di pesantren-pesantren dan masjid.  

Kedua belah pihak berbicara dengan dua bahasa yaitu Inggris dan Arab selama 20 menit. Mereka berdialog sambil bersantap makanan yang dihidangkan. Sesekali mencatat, menyela, dan bertanya. Kadang gelak tawa juga muncul. 

Kesebelas tokoh Pakistan itu dia antaranya Noor-ul-Haq Qadri (Member National Assembly ofr Pakistan) Muhammad Yasir Zafat (Sekretaris General Wafaq-ul-Madaris al-Salafia Pakisatan), Attaullah Shihab (Advisor to prime Minister of Pakistan), Muhammad Hanif Jalandri,  Muhammad Rogib Husein Raimi, Maulana Abdul Haq.  

Mereka mengenakan pakaian tradisional Pakistan, sementara di pihak PBNU juga menggunakan pakaian ala NU yaitu batik dan peci hitam. 



Redaktur: A. Khoirul Anam
Penulis   : Abdullah Alawi 

Komentar(0 komentar)
Space Iklan
625 x 100 Pixel

Android

Blackberry

iPhone
Buletin Jumat
Senin, 27/02/2012 13:00
Secara bahasa Dzikir dapat dimaknai dengan mengingat Allah swt. Makna ini terkesan sangat abstrak sekali, lalu bagaimanakah dzikir itu sebenarnya?...
Polling
NU harus mengembangkan sektor dunia usaha untuk mendorong kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan. Menurut anda, siapa yang harus bergerak
NU sebagai organisasi yang membentuk badan usaha dan menjalankannya
Orang NU saja yang berbisnis, dan mendistribusikan sebagian keuntungannya untuk organisasi
Tidak tahu
Space Iklan
305 x 100 Pixel
Agenda
PrefJuni 2013Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
Space Iklan
305 x 120 Pixel
>>> PBNU turut berbelasungkawa atas meninggalnya Ketua MPR RI H. Taufiq Keimas. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT >>> Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email: redaksi@nu.or.id >>>