Berita Terkait
Tags:
300 x 80 Pixel
Jakarta, NU Online
Penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah di Indonesia tergolong cukup rumit. Beberapa ormas Islam atau kelompok masyarakat tertentu menetapkan awal bulan sendiri-sendiri yang berbeda dengan ketetapan pemerintah. Dialog antara berbagai ormas untuk menetapkan satu kriteria terus dilakukan, namun belum mencapai hasil.
“Seingat saya, kurang lebih sudah 12 tahun diadakan pertemuan. Namun hasilnya ‘kita sepakat untuk berbeda’,” kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri saat memberikan pengajian di radio.nu.or.id dari ruang redaksi NU Online, Jakarta, Jum’at (10/8) sore lalu.
Meski belum menuai hasil, dialog harus terus dilakukan. “Semua ormas kalau berfikir bahwa perbedaan ini dapat merisaukan umat, pasti akan melakukan upaya-upaya untuk mencari titik temu. Betapapun kita tidak boleh patah semangat. Dan NU selalu terbuka untuk dialog,” katanya.
Menurutnya, titik temu itu bisa dimulai dengan koridor pembahasan mengenai hilal. “Semua punya hilal, tapi ma huwa al-hilal (apa itu hilal: Red). Maka di sini pentingnya tinjauan secara bahasa, lalu tinjauan Al-Qur’an, sunnah dan sains,” katanya.
Ditambahkan, pada bulan Syawal direncanakan akan ada pertemuan lagi untuk membahas penyatuan kriteria awal bulan qamariyah antar berbagai ormas yang difasilitasi oleh Kementerian Agama. Pemerintah dalam hal ini tetap diharapkan untuk dapat menjadi fasilitator untuk menyamakan persepsi mengenai penetapan awal bulan.
Redaktur: A. Khoirul Anam
Penulis : Alhafiz Kurniawan
jangan egois
janganlah merasa lebih pintar.ummat harus diutamakan. pemerintah sudah bijaksana namun tokoh ummat mementingkan diri sendiri. apa salahnya sich duduk bareng2 cari solusi. terus kemenag berusaha agar penetapan ramadhan.syawal, zulhijah berjalan bersama-sam
Beda Kok Terus
YG Gak mau Datang Sidang Istbat Itu Mbok Yo Ngaca Dulu....
625 x 100 Pixel
305 x 100 Pixel
305 x 120 Pixel



Print
Download
Send






Pref

