Selasa, 02 September 2014
Language :
Find us on:
Nasional 
Jangankan Orang Biasa, Para Sufi pun Bisa Tertipu
Rabu, 07/11/2012 09:21
Jangankan Orang Biasa, Para Sufi pun Bisa Tertipu

Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Saifuddin Amsir mengingatkan, berpaling dari Allah tak hanya dialami orang-orang kafir.

Kondisi yang disebut Imam al-Ghazali sebagai tertipu (maghrur) ini dapat menimpa siapa saja, termasuk para ulama, habib dan kaum sufi.

Umat Islam kerap tertipu dengan prestasi ibadah, ilmu pengetahuan atau kekayaan yang dicapai, seraya melupakan ketetapan batin bersama Tuhan, muara dari segala tujuan.

“Yang para sufi aja bisa kena tipu apalagi biasa-biasa aja,” terangnya saat mengurai kandungan kitab al-Kasyf wat Tabyin fi ghururil Khalqi Ajma’in karya Imam al-Ghazali di Jakarta, Selasa (6/11) sore. Kitab ini merupakan bacaan rutin Kiai Saifuddin bersama para mahasiswanya dalam sebuah forum pengajian.

Di bagian awal Imam al-Ghazali menjelaskan, selain orang kafir, ada empat jenis lain yang juga bisa tertipu. Mereka adalah orang-orang mukmin yang teridiri dari para cendekia (ulama), ahli ibadah, pemilik kekayaan, dan penggiat tasawuf.

“Pada akhirnya yang sudah dikira tidak tertipu, itu masih tertipu, yaitu para sufi yang telah melewati daerah maqamat, daerah ahwal. Yang sudah mengalami mukasyafah-mukasyafah sekalipun, ternyata pada gilirannya mereka tertipu,” imbuhnya.

Dengan kenyataan ini Kiai Saifuddin mengimbau setiap orang untuk ekstra hati-hati dengan seluruh sikapnya. Ketekunan ibadah, kepandaian, dan semangat perjuangan Islam tak menjamin mereka selamat dari ketertipuan.

Ia mencontohkan, betapa banyak umat Islam berbondong mengunjungi Baitullah ke Makkah dengan motivasi yang tidak tepat. Melalui baju ibadah, mereka terkadang membesitkan niat sekadar bersenang-senang atau mencari nafkah.

“Ada yang berhaji untuk piknik. Mereka sebut siyahah. Ada yang untuk meminta-minta. Dan itu realitas,” ungkapnya.




Redaktur  : A. Khoirul Anam
Penulis      : Mahbib Khoiron

Komentar(1 komentar)
Rabu, 07/11/2012 12:07
Nama: refrian
Waspada
Tasawuf,fikih,dan aqidah perlu dipahami secara komperhensif tidak sepotong-sepotong melalui seorang guru dan jangan hanya belajar melalui terjemahan karena imam syafii,imam baihaqi,dll nya pun menguasai berbagai ilmu yang tidak bisa didapat hanya melalui terjemahan seperti ushul fiqh,balaghah,mustalahah hadits,dsb. Intinya jangan mudah mengkafirkan orang sebelum melihat dulu seberapa luas keilmuan kita dan teladanilah kisah nabi musa dan khidir
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefSeptember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930    
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::