Senin, 21 April 2014
Language :
Find us on:
Nasional 
Pengalaman PWNU Jatim “Memecat” Ketua Tanfidziyah
Rabu, 24/04/2013 14:15

Surabaya, NU Online
Tidak terasa, perjalanan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur akan segera berakhir. Akhir Mei nanti, perhelatan Konferensi Wilayah NU Jatim akan digelar di Pondok Pesantren Bhumi Sholawat Tulangan Sidoarjo.

Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Miftachul Akhyar sangat menyadari bahwa kewibawaan NU sangat bergantung kepada sosok kiai atau ulama. Karena itu, yang memegang amanah di syuriyah hendaknya diisi oleh kiai yang memiliki wawasan dan pandangan yang jauh ke depan.  

Bagi Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini, khusus untuk PWNU Jatim ternyata kolektifitas antar ulama itu dapat terjalin dengan baik. “Banyak lahir keputusan yang justru dihasilkan dari permusyawarahan antar ulama tersebut,” katanya, di Surabya, Selasa (23/4).

Kiai Miftah, sapaan akrabnya masih mengingat peristiwa tahun 2008 ketika dirinya mendapat amanat sebagai rais syuriyah dan bersanding dengan H DR Ali Maschan Moesa sebagai ketua tanfidziyah. Dalam perjalanannya, Ali Maschan akhirnya maju sebagai calon wakil gubernur Jatim. “Saat itu wibawa ulama sangat ditunggu, apakah memiliki ketegasan atau malah larut dengan kehendak ketua,” kenangnya.

Dan lewat pertimbangan sejumlah ulama yang terhimpun dalam kepengurusan syuriyah, akhirnya keputusan diambil yakni menganggap ketua tanfidziyah “berhalangan tetap” sehingga harus diganti. Dan tidak berlangsung lama, akhirnya dilakukan Konferwil dan tetap mendaulat Kiai Miftah sebagai rais dan KH M Hasan Mutawakkil Alallah sebagai ketua.

Bagi Kiai Miftah, pengalaman ini menjadi pelajaran sangat berharga agar dalam perjalanannya. NU harus tetap menjadikan ulama sebagai penentu keputusan bagi jalannya organisasi. “Karena itu, dibutuhkan kolektifitas kepemimpinan sehingga keputusannya tidak merugikan bagi jam’iyah,” tandasnya.

Intensitas komunikasi menjadi harga mati agar sejumlah permasalahan organisasi atau umat dapat dicarikan solusi yang tepat. “Karena itu saya sangat dibantu sejumlah ulama dan kawan aktifis organisasi yang mendukung kolektifitas tersebut,” tandasnya. 

Kiai Miftah berharap kolektifitas dan kewibawaan ulama yang selama ini menjadi ciri khas di PWNU Jatim dapat dipertahankan. “Bila memungkinkan dapat dinaikkan kualitas dan intensitasnya,” harapnya.



Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Syaifullah

Komentar(0 komentar)
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Space Iklan
305 x 100 Pixel
Agenda
PrefApril 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Maaf transaksi pembelian via web toko.nu.or.id belum bisa beroperasi karena ada sistem yang perlu disempurnakan ::::