Senin, 24 November 2014
Language :
Find us on:
Halaqoh 
Kondisi PMII Mirip dengan NU Tahun 1973
Selasa, 12/05/2009 09:01
Kondisi PMII Mirip dengan NU Tahun 1973
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dideklarasikan pada 17 April 1960, dimotori oleh kalangan muda NU yang tergabung dalam Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Waktu itu mahasiswa NU sudah tidak nyaman di IPNU. Mungkin karena mereka sudah tidak berstatus pelajar lagi. Sementara organisasi kemahasiswaan yang ada  tidak cukup bisa menjadi saluran aspirasi mahasiswa NU. Maka melalui proses yang berliku, terbentuklah PMII.

Namun pada 14 Juli 1971 melalui Deklarasi Murnajati PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun, termasuk NU. Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. Inilah fase baru keterkaitan PMII dengan NU. PMII sudah bukan kepanjangan tangan NU; sudah tidak berkantor di PBNU. Hubungan PMII dan NU hanya sebatas kultural saja. Ada banyak sebab waktu itu, termasuk ketidakjelasan NU apakah sebagai ormas, atau partai politik. PMII tidak betah dengan itu. Sementara Orde Baru juga mulai melokalisir gerakan kemahasiswaan di dalam kampus masing-masing.

Masih dalam suasana peringatan hari lahir ke-49 PMII kemarin, A. Khoirul Anam dari NU Online sempat berbincang dengan salah seorang pendiri PMII M. Said Budairy di rumahnya Jl Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Sabtu (9/5). Said Budairy (73) adalah salah satu dari 13 tokoh mahasiswa dalam IPNU yang merintis pendirian PMII. Ia juga salah satu dari 3 orang perwakilan yang menghadap Ketua Umum PBNU KH Idham Kholid melaporkan rencana pendirian organisasi mahasiswa NU ini. Pada saat PMII dideklarasikan, Said Budairy menjabat sebagai sekretaris umumnya.

Bagaimana Anda melihat PMII sekarang?

Memang banyak kritik terhadap perkembangan PMII belakangan ini, terutama yang nampak di depan mata, di Jakarta dan sekitarnya, baik dari soal pemikiran keagaamaannya, juga soal pergerakannya. Sementara para seniornya yang sudah terjun ke masyarakat tidak cukup memberikan contoh yang baik. Nah karena Anda meminta hal ini, saya buka-buka kembali dokumen-dokumen yang saya punya terutama Deklarasi Tawangmangu. Dalam deklarasi itu lengkap mulai dari mau kema dan bagaimana PMII itu, hubungan dengan dengan NU dan sebagainya.

Ada keinginan sebagian kalangan tua agar PMII merapat lagi ke NU. Bagaimana menurut Anda?

Saya kira tidak perlu. Tarulah PMII terpotong pada tahun 73, di situ juga ada rumusan-rumusan tentang interdependensi PMII terhadap NU. Tapi di situ jelas sekali hubungan kulturalnya. Kalau kemudian terjadi penyimpangan itu nggak usah dari NU-nya lah, tapi penyimpangan-penyimpangan dari prinsip-prinsip yang dibangun oleh PMII sendiri. Nah kalau prinsip itu saja yang dipikirkan kembali dijadikan sarana untuk menyadarkan para sahabat PMII, mulai dari pengurus besarnya sampai ke tingkat bawah, saya kira ini salah satu jalan terbaik yang bisa ditempuh. Nah ini juga tergantung bagaimana PB PMII sekarang. Saya nggak tahu juga sikap mereka terhadap perkembangan para alumni PMII yang sekarang ada di berbagai organisasi politik.

Apa yang Anda amati dari para alumni PMII?

Saya terus terang aja risau. Ada dua mantan ketua Umum PB PMII yang membiarkan PKB kemasukan Artalita dan Sigid, gimana itu? Kemudian dua ketua umum ini berantem sendiri; antara Muhaimin sama Ali Masykur. Lalu, kalau merujuk kepada yang saya bilang tadi prinsip-prinsip dasar dan interdependensi PMII terhadap NU, mestinya tidak bisa membiarkan Nursyahbani itu. Kalau NU mendukung RUU Pornografi tapi Nursyahbani sebagai anggota fraksi PKB justru menentang itu. Ini kog bisa.

Itu yang di PKB. Lalu yang di PPP coba! Waktu itu Hamzah Haz mau mau digusur oleh Suryadharma bekerjasama dengan Bachtiar Chamsyah dari unsur Muslimin Indonesia (MI). Kemudian hamzah jatuh. Padahal bagaimanapun Hamzah itu ada hubungannya dengan PMII. Nah waktu itu Suryadharma maju dengan dukungan MI bersaing dengan Aris Mudatsir. Keduanya kader-kader utama PMII lah. Nah sekarang ini Arif Mudatsir membantu Bahtiar dari MI itu untuk memusuhi Suryadharma. Saya pikir mereka melakukan introspeksi begitu lah bagaimana membawa perahu PPP ini dengan warna yang dulu dirumuskan dalam PMII, ternyata tidak. Saya kira kalau mereka mau berangkat dari prinsip-prinsip PMII itu tidak akan terjadi.

Apa yang perlu dilakukan sekarang?

Jadi saya mendukung pemikiran bagaimana PMII kembali ke Khittahnya lah. Caranya berangkat dari deklarasi Tawangmangu itu, lalu deklarasi tahun 73 itu.

Sekarang para alumni bergabung di IKA-PMII

Nah sedihnya itu sekarang ketua alumninya si Arif Mudatsir, gimana jadinya itu. Sibuk boleh tapi kan dia ikut berantem. Kan ngeri juga. Saya harapkan back to basic-lah. Banyak perubahan karena sistem penyelenggaraan pemerintahan sudah berubah, tapi substansi yang ada di situ itu masih sangat relevan untuk dipegangi.

Sebagai senior apakah anda sempat menjadi semacam pengengah begitu?

Saya sendiri pernah memanfaatkan posisi sebagai orang tua ketika PKB pecah. Saya kirim SMS kepada Muhaimin, Ali Masykur dan Efendy Choiri. Saya melihat memang Gus Dur waktu itu sudah tidak bener. Saya SMS tiga orang itu, sudahlah bergabung saja sama Muhaimin. Saya yakin muhaimin bisa melindungi anda. Nah yang mau mengikuti saran saya itu sepertinya Effendy, meskipun dia tiadk balas SMS saya tapi saya perhatikan perilakunya. Ali Masykur tidak menjawab. Hanya Muhaimin yang menjawab, terimakasih begitu. Nah itu pernah saya lakukan. Nah kalau sekarang ini ada krisis yang baru lagi ini di PPP, mungkin saya perlu juga melakukan hal yang sama, namun mungkin sesudah proses pertarungannya selesai nanti.

Sepertinya fragmentasi di tingkat alumni ini menurun sampai ke bawah

Ini karena mereka kehilangan pegangan awalnya, prinsip yang dulu dijadikan bergerak. Sekarang mereka semaunya sendiri. Idealismenya sudah tertutup jadi pragmatis. PMII ini sudah 49 tahun. Insyaaallah sekarang ini mirip dengan kondisi NU pada tahun 1973. Waktu itu warga NU terombang-ambing; apakah NU ini ormas apa partai. Akhirnya kiai-kiai bergerak sampai kemudian terfikir untuk kembali ke khittah NU 1926. Saya pikir kalu pendekatan itu yang dilakukan di PMII saya kira bisa juga.

PMII kembali ke Khittah yang mana?

Jadi ada sekian banyak pokok-pokok pikiran yang ada di PMII, mulai Deklarasi Tawangmangu, Sepuluh Kesimpulan Ponorogo, Pernyataan Yogyakarta, Penegasan Yogyakarta, Gelora Mega Mendung, Panca Norma Kopri, Tri Sikap Jakarta. Ada juga Memorandum Politik, Deklarasi Munarjati, Manifes Independensi Pmii, Pola Kepemimpinan, Pernyataan Ciloto, Pokok-pokok Pikiran Ciloto, Pokok Pikiran Tentang Pemilu, Penegasan Cikogo, Pokok-pokok Pikiran Mubes ke-4 PMII, Rekomendasi Mubes IV PMII, Pokok-pokok Pikiran Kongres ke-10, Pernyataan Politik Kongres ke-10, Keputusan Pondok Gede, Deklarasi Interdependensi PMII dengan NU, Implementasi Interdependensi PMII NU, Pokok-pokok pikiran rekomendasi Musyawarah I, Rekomendasi Kongres ke-11, dan lain-lain. Saya kira dari perumusan ulang dari membaca kembali dokumen dokumen ini bisa menjadi perumusan Khittah PMII.

Dalam kontek para alumni PMII pada berantem tadi, apa yang bisa Anda sampaikan sebagai orang tua kepada kader PMII sekarang?

Jadi begini, kadang-kadang yang tua itu sudah lupa bagaimana perjalannya sebelumnya. Yang masih fresh ingat itu justru yang masih di lapangan, yang sekarang ini aktif. Saya kog ingin supaya PB PMII menyurati mereka itu. Ungkapkan yang saya sampaikan tadi itu demi kehormatan PMII, supaya masalah itu bisa teratasi. Supaya alumni PMI itu menjadi satu kekuatan meskipun dalam wadah yang berbeda beda. Itu yang saya pikirkan. Sebab kalau PBNU yang ngingetin juga sudah tidak relevan lagi. Kalau perorangan seperti saya juga tidak. Tapi kalau PB PMII nya kan pantes-pantes saja. Dan juga supaya diingat agar dalam kaderisasi itu berantem seperti itu jangan sampai terjadi pada masa yang akan datang.

Bagaimana Anda melihat Kiprah dari Ketua Umum PB PMII sekarang?

Saya sering melihatnya di Face Book. Ini memang jadi sebuah sarana berkomunikasi yang lebih terbuka. Tapi saya kira wibawa sebagai ketua umum itu perlu dijaga. Aktivitas macem-macem nggak perlulah itu ditunjukkan di Face Book. ***
Komentar(10 komentar)
Selasa, 19/04/2011 09:01
Nama: samsuri
ASPIRASI
selalu aktifkan saluran komunikasi, semua pasti klar kok, gak usah risau, terus saja berjuang dalam bingkai aswaja
Kamis, 02/09/2010 10:44
Nama: hr mANSHUR mU'THI a kHAYYI
-
mUNGKIN PARA SAHABAT MASIH TERBUAI MARS PMIIYANG LAMA YAITU bANGUN TERSENTAK (BUKAN SERENTAK), SEHINGGA TAK PERNAH BISA SERENTAK TETAPI TERSENTAK SENTAK TERUS.
Rabu, 19/05/2010 11:03
Nama: Orang awam
rukun2 sajalah
PMII boleh lah mengurusi masalah pemerintahan, ato apalah namanya, tapi yang jelas, antara PMII sma NU hrus tetep mempertahankan islam ala ASWAJA dngan tetep koordinasi, karena skrg d msjd2 kmpus jd bkn ASWAJA lgi (pendapat orang awam)
Sabtu, 20/03/2010 10:31
Nama: Romel Masykuri
PMII VS NU
Semuga NU dan PMII tetap selaras dan Maju demi tegaknya kesejahteraan bangsa Indonesia> Amin!!!
Rabu, 03/02/2010 12:03
Nama: lutfi
pendapat
alangkah lebih baiknya jika ada tuntutan hak masing-masing yang hruz d seimbangkan agar ga ada ketimpangan antara pmii dgn NU cndri... mngkn slma ini pmii cm d anggp mnjadi ank tiri olh NU.....
garis koordinasina di jlazkan lg...
Senin, 04/01/2010 14:54
Nama: mantan Sekret. PMII Cabang Malang 87an
keniscayaan kini dan akan datang
Esensi PMII ada pada Nilai Dasar Perjuangannya dan itu adalah metode dalam ASWAJA. Jadi keniscayaan kader di masa kini dan akan datang terletak sejauhmana ilmunya tentang NDP itu. Kecenderungan terhadap politik saja akan mempersempit sepak terjang kader. Merumuskannya itu cara jama'i saja, kapan..........
Senin, 28/12/2009 10:52
Nama: mantan sekret. cabang PMII Malang 86-7an
kader dan pengkaderan
bila yang sedang terjadi dimasyarakat banyak aspek, kemuadian anggota PMII saat ini dikader bagaimana? saya kira kelemahannya adalah semua aspek kehidupan dalam koridor Islam yang ASWAJA; sudahkah dirumuskan dalam NDP PMII kini dan yang akan datang? Keniscayaan masa kini dan mendatang tergantung kader itu sendiri.........
Ahad, 27/12/2009 08:26
Nama: abdul rachman PMII Pati
sudah saatnya pmii kembali ke khittoh
sudah saatnya pmii kembali ke khittoh sebagaimana yang disampaikan bapak PMII kita Said Budairy,dari pusat sampai rayon,kader-kader pmii banyak yang bingung,kalau kita kader NU kenapa pengetahuan agamanya minim,apalagi penghayatannya, keadaan saat ini bisa disebut "gajah di pelupuk mata tak tampak,semut di pesisir pantai tampak menyilaukan". kader gak tau lagi ruh pmii,karena sibuk dengan permasalahan pemerintah.
Rabu, 21/10/2009 17:29
Nama: Mama Mughni
JANGAN LUPA
memang jika sudah punya kekuasaan, Orang itu suka lupa sama khittahnya. yang tadinya ingin menolong Mustad affin, malah jadi menindas. jangan sampai lantaran masalah itu membuat PMII gontok-gontokan.
Sabtu, 26/09/2009 14:58
Nama: Fathur Rahman Ma'ruf
Coment tu' Sahabatku di PMII
Kalo memang bisa mandiri kenapa tidak !!!, tapi yaa.. harus diinget betul2, lahirnya PMII adalah dari para Pelajar NU (IPNU gitu...),jadi yaa..harus bareng2 melestarikan budaya dan Aqidah Islam ala Aswaja.........
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefNovember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::