Rabu, 23 Juli 2014
Language :
Find us on:
Halaqoh 
Noor Achmad: Saatnya Mengembangkan Perguruan Tinggi NU
Selasa, 20/10/2009 10:13
Noor Achmad: Saatnya Mengembangkan Perguruan Tinggi NU
Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (APTINU) DR Noor Achmad MA menyatakan, salah satu garapan APTINU adalah mengembangkan perguruan tinggi NU terutama yang di daerah-daerah terpencil. Diharapkan semua elemen NU bisa mengenyam pendidikan tinggi.

APTINU sendiri telah dirintis sejak enam tahun yang lalu, pada 2003. Pertama kali APTINU diketuai oleh mantan Rektor Unisma Malang Prof Dr Ahmad Sodiki SH, kemudian digantikan DR Noor Achmad MA. Berikut petikan wawancara A. Khoirul Anam dari NU Online dengan Noor Achmad yang juga mantan rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, di sela Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) APTINU di Hotel Treva Jakarta 15 – 17 Oktober 2009.

Apa latar belakang pendirian APTINU?

Pertama untuk melakukan advokasi. Banyak persoalan yang dihadapi perguruan tinggi UN. Kita arahkan untuk perlindungan pada perguruan tinggi NU.

Kedua, menjalin kerjasama antar perguruan tingi NU. Ini Sangat dibutuhkan karena sebagai perguruan tinggi NU kurang maju. Kerjasama ini tidak hanya di bidang akademik tetapi bidang yang lain, terutama menyangkut Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Misalnya untuk penelitian kalau ada kerjasama yang baik pasti akan menghasilkan penelitian yang baik. Di Indonesia penelitian yang ada belum ada hasil yang signifikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Nah APTINU ingin mempelopori itu. Jangan sampai penelitian yang berangkat dari perguruan tinggi hanya untuk kebutuhan kenaikan pangkat atau KUM tapi untuk masyarakat.

Untuk pengabdian masyarakat, apa yang dicanangkan APTINU?


Untuk pengabdian masyarakat, kami punya satu keinginan kalau pengabdian masyarakat itu diarahkan pada pesantren-pesantren. Maka akan ada sinergi antara perguruan tinggi NU dengan pesantren sehingga pesantren itu maju dan perguruan tinggi juga punya kedekatan dengan pesantren. Pengabdian tidak hanya semata fisik tapi hal yang bersifat ilmiah seperti manageman atau life skill misal untuk koperasi dan lain sebagainya. Jika pengabdian itu dirahkan ke pesantren maka dua-duanya akan maju dan justru akan punya manfaat yang besar bagi umat.

Latar belakang pendirian APTINU yang ketiga adalah untuk pengembangan perguruan tinggi dalam kondisi keilmuan yang semakin berkembang. Ke depan kompetisi itu adalah keilmuan. Kami punya pemikiran bahwa di APTINU tiap tahun harus ada semacam seminar untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi NU dalam era global dari situ maka keilmuan di PT NU akan berkembang. Tapi ini yang penting tidak tercerabut dari akar budaya NU. Sebesar apapun yang diraih perguruan tinggi tetap harus kembali lepada budaya NU. Jadi ini pengembangan keilmuan berangkat dari budaya NU, ahlussunnah wal jamaah menghadapi persoalan global yang kompetitif.

Bangaimana dengan pengembangan PT NU di daerah terpencil?


Pengembangan PT NU sendiri memang terutama diarahkan di daerah-daerah terpencil sehingga diharapkan nanti semua elemen NU yang didaerah itu bisa mengenyam pendidikan tinggi, karena potensi NU sangat besar. Orang NU rata-rata cerdas. Banyak yang hafal Al-Qur’an; banyak yang pinter baca kitab; banyak yang punya teori macem-macem tapi tidak banyak yang punya kesempatan.

Juga kita akan kembangkan program studi yang belum banyak dikembangkan NU ciontohnya kedokteran. Di propinsi ditargetkan tidap provinsi punya kedokteran, semantara ini hanya Unisma. Juga kita ingin mengembangkan perguruan tinggi di satu provinsi yang belum ada PT NU-nya, terutama di luar Jawa. Kita arahkan ke sana. Kita akan bekerjasama dengan pemerintah, terutama daerah yang banyak lahan. Saya yakin kehadiran NU sangat dibutuhkan di Indonesia karena selama ini NU adalah organisasai keagamaan yang selalu mengawal Pancasila dan NKRI dan punya komitmen yang besar terhadap faham kebangsaan ini yang berdasar Pancasila dan UUD 1945

Bagaimana dengan persaingan antar perguruan tinggi NU?

Ada satu kebutuhan antara perguruan tinggi NU yang satu dengan yang lain yakni adanya silaturrahim, karena memang ternyata sering ada persaingan. Dengan silaturrahim ini diharapkan akan muncul saling pengertian. Sehingga antar NU tidak saling mendahului tapi saling meningkatkan. Oleh karena itu barangkali nanti juga bisa dipilih kalau di satu daerah sudah ada program studi yang dikembangkan perguruan tingi NU maka kalau ada perguruan tinggi NU yang lain program studinya harus sama, ini sedang kita bicarakan.

Secara kelembagaan APTINU berada di Ma’arif? Atau ingin menjadi lembaga tersendiri?

Sekarang memang di bawah Ma’arif, dan sementara ini kantor kita bareng PP Ma’arif di Matraman, Jakarta. Kita harapkan ke depan APTINU menjadi lembaga sendiri sehingga pada muktamar nanti kita arahkan ke sana. Ada dua agenda yang kita usulkan di muktamar itu. Pertama APTINU menjadi lembaga sendiri di bawah NU. Kemudian PBNU yang akan datang itu harus menaruh perhatian lebih pada pendiidkan tinggi karena saya pikir untuk pesantren sudah cukup, artinya berjalan sesuai dengan apa yang berlangsung di pesantren itu. Tapi yang perlu dorongan adalah perguruan tinggi sehingga harapan kita kalau apa yang dilakukan APTINU dan nanti apa yang menjadi political will dan good will dari PBNU itu sama maka nanti akan kita akan bareng-bareng mengembangkan PT NU.

Bagaimana cara mengidentivikasi PT NU, mengingat tidak semua PT NU menyertakan nama atau lambang NU?

Ada istilah stelsel aktif dan pasif. Jadi ada yang kita daftar, ada yang mendaftarkan diri. Yang kita daftar itu kriterianya memang itu adalah milik NU. Yang kedua didirikan oleh orang NU, kemudian ketiga di bawah yayasan NU. Dan ternyata mereka punya perhatian dan umumnya mereka juga senang punya wadah.

Berapa anggota APTINU yang telah terdaftar?

Sementara ini ada 163. Sebenarnya data awal kami ada 174 perguruan tinggi NU, Cuma yang lainnya belum terdata dengan baik. Di Sulawesi Barat itu juga ada tapi kami kelupaan.

Apa rencana APTINU untuk megembangkan PT NU di luar Jawa?


Memang luar Jawa yang ingin kita prioritaskan, karena di sana di setiap provinsi hanya satu atau dua. Di Jawa ini cukup banyak, misalnya di Jawa Timur ada 74, di Jawa Barat ada 54, di Jawa Tengah ada 34. Nah dari jumlah 173 itu sisanya ada di luar Jawa. Arahnya kita memang harus ke luar Jawa. Di Papua itu ada dan mereka ngotot supaya sering diundang dan ada beberapa daerah yang lain di luar Jawa yang perlu dibantu perguruan tingginya. (*)
Komentar(0 komentar)
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefJuli 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
::::Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah melalui LAZISNU. Rekening zakat: BCA 6340161473 MANDIRI 1230004838951. Infaq: BCA 6340161481 MANDIRI 1230004838977 :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Transaksi pembelian di Toko NU Online bisa dilakukan via SMS (083807382750) atau PIN BBM (742CE570) ::::