Kamis, 17 April 2014
Language :
Find us on:
Halaqoh 
Dialog Agama, Wacana Perdamaian Antar Umat Beragama
Senin, 04/02/2013 19:15
Dialog Agama, Wacana Perdamaian Antar Umat Beragama

Prof Dr Mariam Ait Ahmed adalah aktifis perempuan dari Maroko yang sangat terkenal. Beliau juga dikenal sebagai pakar perbandingan agama dan pemikiran Islam kontemporer. Saat ini beliau menjabat sebagai ketua riset dan pengembangan studi masa depan dan ketua jurusan perbandingan agama dan dialog peradaban serta ketua Asosiasi Persaudaraan Maroko-Indonesia.

Berikut ini petikan wawancaranya dengan Abdul Haq bin Rahmun:

Bagaimana pendapat anda mengenai gambaran Islam di tengah-tengah revolusi dunia Arab?

Salah satu hasil utama revolusi Arab saat ini adalah kembalinya  kontroversi dunia Internasional tentang Islam bukan sebagai agama akan tetapi sebagai pergerakan. Baik itu yang berhubungan dengan peranan yang memicu revolusi itu sendiri, atau pun masa depan politik dan pergerakan saat ini. Ada indikasi bahwa kekuatan Islam yang tumbuh dalam revolusi Arab mempengaruhi  para sekuler, liberal secara internal dan Barat dalam tingkatan  internasional yang berdampak kembalinya obsesi Islam phobia, kekhawatiran dan ketakutan sebagai hasil dari pada revolusi Arab, hal ini dijelaskan sebagian dari pada mereka dalam berbagai forum sebagai musuh demokrasi, perempuan, seni, kebebasan agama dan budaya.

Ada konflik intelektual antara agama dan ideologi, sementara Islam dijadikan sebagai target utama. Bagaimana umat Islam dapat memberikan peranan dalam berdialog dengan Barat tanpa fanatisme?

Saat ini Islam tentunya memainkan peranan yang dominan dalam perdebatan politis, kontroversi dalam ruang lingkup ideologi sejarah dan konflik agama dengan pihak-pihak yang berbeda. Baik itu di dalam maupun di luar daerah. Kontroversi antara skeptisme dan intimidasi menimbulkan kritikan terhadap kebijakan ajaran Islam untuk “mengkritik prinsip-prinsip agama secara global” dengan mengadopsi kebijakan yang inklusif dan menggapai pemberdayaan antara kontroversi ideologi.

Terdapat pertanyaan, bagaimana mungkin peradaban dikatakan sebagai produk budaya Islam yang jauh dari aksi dan reaksi yang terlahir dari fanatisme yang berkembang dalam corak fikir orang Barat. Dalam tahapan ini kita dituntut untuk mengaktifkan kembali segala komponen dialog peradaban yang seimbang, serta pemurnian mental masa depan dari keterbelakangan berlebihan yang mengasingkan mereka dari peranan kompetisi politik internal dan peradaban internasional. Hal tersebut dilakukan dengan mengambil jalan dialog yang mengedepankan pengetahuan, keilmuan, dan teknis, serta pengembangan sistem pendidikan dan pengajaran yang membentuk moral manusia, dan merencanakan program diplomasi organisasi dan sosial kemasyarakatan juga pengembangan media di tingkat regional maupun internasional. Disamping menjalin hubungan yang lebih erat antara pribadi dengan organisasi kebudayaan dan universitas-universitas di Barat dan Timur.

Baru-baru ini ada orang yang mencoba mendistorsi Islam dan mencorengnya, tetapi  dunia Arab dan Islam dengan tergesa membalasnya dengan kekerasan dan pertumpahan darah seperti yang baru-baru ini terjadi di Libya, yang menyebabkan terbunuhnya duta besar Amerika. Bagaimana pendapat anda tantang perilaku seperti itu yang menyebabkan bencana dan kedengkian?

Saat ini ketika orang Barat melihat kita, bahwasanya Muslim adalah orang terbelakang, barbar, dungu, biadab dan teroris. Itu memang tanggapan yang kita prediksikan, sementara sebagian dari kita terlihat melakukan kekerasan di jalan-jalan. Bahkan aksi tersebut sudah sampai kepada pembunuhan orang-orang tidak bersalah seperti yang terjadi di Libya dan membakar instansi- instansi pemerintah dan kedutaan. Dalam Islam kita memiliki keyakinan “bahwa setiap orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” seperti halnya kita menolak penghakiman universal terhadap seluruh umat Islam setelah peristiwa 11 September. Dan penetapan mereka terhadap kita akan perbuatan yang tidak dilakukan oleh kita. Sebagaimana diri kita sendiri tidak akan dapat menghakimi seluruh orang yang melakukan penyimpangan di rumahnya sendiri. Akan tetapi, kita kembalikan urusannya kepada hukum pidana yang berlaku. Saya mengira bahwa kekerasan dan tindakan emosional akan dapat menyeret kita ke masa depan yang penuh dengan peperangan antar agama, keyakinan, madzhab dan golongan. Sebagaimana yang baru-baru ini dirasakan orang Islam di Burma dengan Budha, sampai batasan membunuh manusia hidup-hidup yang disandarkan pada agama dan sekte. Nah, apakah kita akan ikut bergerak dalam proyek pembuatan film dan menyalakan sumbu perpecahan antara Koptik dan Muslim yang hidup damai di Mesir, dengan alasan mereka berkontribusi dalam pembuatan film!!!

Kita dalam ajaran Islam yang jauh dari kepentingan tertentu selalu ikut perintah Tuhan kepada kita ”katakan wahai ahli kitab marilah kita berpegang teguh kepada satu kalimat” yang dimulai dengan ajakan terhadap agama dan mengadakan dialog yang jauh dari perpecahan dan kekerasan. Saat ini, bahkan lebih dari sebelumnya, kita sangat perlu dengan dialog antar agama dan budaya untuk memperbaiki kembali dialog antara agama dan kebudayaan yang pernah terjadi, untuk mengembalikan apa yang hilang dari kedua belah pihak. Orang lain bukanlah satu-satunya dan tidak absolut, melainkan juga memiliki keberagaman, kontroversi, juga persilangan pendapat. Mereka juga memiliki orang-orang cendekia yang melakukan dialog dengan cendekiawan kita. Mereka juga memiliki orang-orang dungu dan fanatik, yang kadang selalu bertabrakan dengan yang sama-sama dungu dari semua penjuru dunia.

Apakah landasan Islam terhadap dialog agama, pentingnya dialog serta tujuannya? Yang dianggap sebagai asas untuk bertukar pengetahuan mendalam yang menjadikan kritikan yang membangun, jauh dari menjatuhkan dan menghina-hina. Sehingga dialog dan kritik bisa saling melengkapi bukan malah menimbulkan pertentangan?

Dalam konteks ini kita harus menentukan sikap kita akan dialog dan menyesuaikan dengan metode yang diajarkan Islam, tidak melalui perubahan situasi politik untuk mendeklarasikan penolakan atau penerimaan terhadap tekanan global. Dengan kata lain apakah kita berdialog dengan yang lain sesuai dengan metode  yang diajarkan Islam yang bersandarkan asas-asas dialog antara agama secara teoritis dan praktis, dan mengetahui perbedaan kebudayaan dan pengetahuan tentang berbagai peradaban, atau kita berdialog dengan menjustifikasi lawan kita ketika mereka tidak sejalan dengan kita dan memprovokasinya?

Saya telah membahas topik ini secara terperinci dalam buku saya yang berjudul “Dialetika Dialog: Wacana Islam Kontemporer” sebagai upaya menjalin dialog antara penganut agama Islam dengan yang lainnya dengan cara yang benar. Yang disandarkan kepada konteks Al-Quran dan Hadits yang jauh dari unsur politik dan propaganda yang menjadikan dialog agama sebagai tujuan  massa tertentu.  Saya jelaskan di dalam buku saya tentang anjuran dialog sebagaimana yang ada dalam ajaran Islam dialog antara agama dan budaya. Dari realitas sejarah, saya menyaksikan akan  lembaran yang begitu indah tentang peradaban kehidupan kita dengan non Muslim, jauh dari manipulasi dan kepentingan budaya Barat yang mana dialog dijadikan bagian dari agenda mereka.

Saya jelaskan dan saya tegaskan dalam buku saya bahwa pandangan terhadap fakta tatanan dunia saat ini, visi dan misi ke depannya sampai kepada keraguan akan kemampuan untuk berhasil berdasarkan berbagai konferensi terhadap dialog agama. Kerja sama internasional merupakan salah satu solusi terhadap problematika kita saat ini.

Terdapat berbagai sebab ketegangan terhadap aturan atau tatanan yang ada ialah karena kesombongan etnis, fanatisme agama yang  merupakan hasil dari ketidaktahuan akan agama, budaya dan peradaban lain, dan dibalik semua itu menyebabkan krisis yang harus diatasi dengan dialog, saling mengenal, dan adanya akulturasi, sehingga jauh dari pada pemberangusan dan pengingkaran terhadap yang lain, dan tidak mau menerima perbedaan budaya yang  ada. Salah satu solusinya yakni dengan berdialog secara terbuka dan dengan kemitraan, dengan demikian akan membentuk manusia dengan peradaban.

Islam dijadikan sebagai target pelecehan sebagai mana yang terjadi belakangan ini melalui film Amerika Kebebasan Islam  dan kartun dalam majalah Perancis, Sebagaimana yang telah terjadi masa lalu terdapat pelecehan terhadap Islam dalam sebagian buku-buku sastra bahkan ada yang menawarkan untuk membakar Al Quran, jadi langkah apa yang paling tepat untuk menanggapi penghinaan tersebut dengan cara membangun peradaban?

Lebih tepat untuk para pengacara Muslim di Barat dan para pemikir untuk mengangkat masalah ini melalui jalan hukum, para wartawan  dengan media, penulis dengan  bukunya, dan perfilman dengan produksi, mereka bersama-sama meminta maaf terhadap apa yang menyakiti  jutaan umat Islam, dan jaminan perlindungan akan keamanan jiwa serta kebebasan beragama milyaran umat Islam, perkara ini ketika diselesaikan dengan jalur hukum,  mendorong opini umum untuk mengikuti perkembangan kasus dan penyebabnya, khususnya saat ini dengan berbagai media informasi mengajak kepada penyelesaian masalah fanatik agama dan ajakan kepada perdamaian dengan perjanjian dan menepiskan  hal-hal yang berbau pelecehan agama dan menghormati para penganut agama samawi.

Saya fikir dengan cara ini akan dapat  memberikan kekuatan bagi umat Islam dalam keyakinan dan perlindungan agama mereka, saat ini kita dalam kondisi dua pilihan, menuntut balik dengan kekerasan dan menyukseskan proyek orang-orang yang fanatik di Barat. Tentu hal ini akan sangat membahayakan terhadap agama kita, atau mencari langkah yang efektif dengan membantah apa yang dituduhkan golongan fanatik di Barat, dan memberikan pemahaman kepada para cendekia akan kesantunan agama ini,  menepiskan praduga mereka untuk memproduksi sebuah film untuk skala internasional, dan ini mengarah kepada capaian masa depan untuk dunia Islam dalam peradaban umat, dengan logika berfikir yang benar, dengan adanya timbal balik kemaslahatan kita dalam media-media elektronik dan komunikasi dunia internasional.

Dialetika dialog wacana Islam kontemporer  yang merupakan ruang lingkup anda dalam dunia akademik itu, apa konteks, syarat dan metode dalam dialog antara agama?

Ajakan terhadap dialog antara agama, dari orang Islam sangat erat kaitannya dengan pertukaran antar wacana. Dialog dan kritik dalam membentuk wacana masa depan dunia Islam kontemporer, berawal dari pertanyaan apakah definisi dan batasan dalam pembentukan wacana yang realistis dan efektifitasnya dalam pemikiran Islam kontemporer?

Pertama harus dengan membedakan antara tiga tahapan dialog antara pengikut agama yang berbeda, yaitu gesekan yang ada dalam kehidupan sehari-hari, pertemuan dalam kesempatan-kesempatan atau kepentingan bersama, dan wacana yang mengarah kepada kesulitan tiap golongan. Bukan berarti segala gesekan, pertemuan atau wacana antara umat Islam tentang agama yang berbeda termasuk dialog antara agama, terkadang gesekan akan menghasilkan bentrokan, terkadang pertemuan menyebabkan pada penolakan, dan wacana kadang berdampak pada kesalahpahaman jika ketiga syarat dan rukun dialog itu sendiri tidak terpenuhi, yakni:
Dialog kehidupan, apa yang ada dalam realitas saat ini bahwa agama bermacam-macam, yang dibangun atas pondasi kehidupan bersama dalam masyarakat yang didalamnya terdapat syarat- syarat tertentu yang memberikan aturan pertemuan antara orang Islam.

Dialog kemanusiaan, yakni dengan menanamkan nilai moralitas antara umat beragama untuk menggapai keadilan sosial dan mengangkat hak asasi manusia dan menolak perjualbelian manusia, pelecehan seksual, perang senjata, kemiskinan dan polusi. Tahapan ini sangat penting khususnya dalam menyingkap moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam setiap agama karena setiap agama berusaha untuk melindungi atau  membela haknya.

Dialog agama, yang mana para pemuka agama atau pakarnya saling bertemu untuk bertukar pendapat dengan metode yang tepat tentang kepercayaan agama mereka. Dengan saling menghormati satu sama lain.

Apa pendapat anda mengenai hambatan dan keterbelakangan dalam membentuk peradaban. Apakah semua itu diperlukan pengetahuan terhadap kasus-kasus dan problematika internal, dan perkembangan sejarah peradaban dunia Arab dan Islam, dan mengaitkannya dengan kepentingan agama, budaya, ekonomi, politik dengan ketentuan yang berlaku saat ini?

Saya kira keluarnya para pemikir Arab dari kekangan, emosional dan keadaan psikologis keluarga, menuntut kita saat ini dengan revolusi komunikasi universal. Pengkaderan para pemuda ikut berpartisipasi merevitalisasi peradaban dengan kemauan sebagai syarat utama, dan membekali mereka dengan pengetahuan  mendalam akan diri dan pengetahuan untuk mengakses pondasi dan prinsip-prinsip intelektual, filsafat, agama, politik, dan ekonomi, Karena pijakan menuju langkah ke depan merupakan keseimbangan kemaslahatan yang berhubungan dengan intelektual dan peradaban lain, yang menuntut dasar kemampuan pengetahuan komponen diri, dan kemampuan menanamkan keotentikan nilainya, yang tidak dapat terpengaruh oleh situasi peristiwa.

Mungkin kita dapat bekerja melalui kebijakan dan kepentingan dan membangun pusat-pusat pendidikan dalam rangka mencari agenda budaya, dan mempersiapkan strategi ke depan yang efektif dalam rangka mengeksplorasi wacana dunia Islam kontemporer untuk peradaban kita yang berinteraksi dengan realitas agama, budaya, kepercayaan yang bertentangan dengan arus dunia?

Ini semua pertanyaan yang kita miliki untuk dipikirkan secara dalam dan detail guna membangun dialog masa depan untuk peradaban kita dengan pondasi agama dan perjalanan sejarah, tidak dikaitkan dengan polemik dan peristiwa yang ada, mengakhiri kekerasan dan kembali menerima dengan terbuka pemahaman peradaban silam dan dialog agama harus kita bina, karena kita diperintahkan “wahai ahli kitab kemarilah” dan menerapkan metode dialog Al-Quran “Ajaklah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan mauidoh hasanah dan berdebatlah dengan cara terbaik” yang mana disyaratkan dialog dengan akal dan pikiran, bukan dengan emosi dan menyandarkan hukum terhadap prasangka, aksi dan reaksi.

Pada akhirnya permasalahan terarah untuk membentuk kesatuan pikiran, dan menguatkan identitas agama dan budaya kita, dan mengangkat sejarah serta peradaban kita. Dan memperbaiki  konflik-konflik serta tantangan- tantangan yang kita hadapi untuk memberi pencerahan di masa depan yang mengangkat keberadaan kita, sebagai jati diri dan afiliasi dalam perubahan dunia dibekali dengan revolusi komunikasi, dan informasi untuk menuju pada keterbukaan dan interaksi budaya.

Diterjemahkan oleh Dewi Anggraeni (mahasiswi S2 Univ. Hassan Tsani, Casablanca-Maroko)

Komentar(1 komentar)
Sabtu, 04/05/2013 11:23
Nama: imtaq
Islam Agama Damai
Sangat setuju dengan pemikiran beliau... semangat bu!!!!!!!!!
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Space Iklan
305 x 100 Pixel
Agenda
PrefApril 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Maaf transaksi pembelian via web toko.nu.or.id belum bisa beroperasi karena ada sistem yang perlu disempurnakan ::::