Kamis, 31 Juli 2014
Language :
Find us on:
Taushiyah 
Ceramah KH Said Aqil Siroj sebagai Ketua MWA UI
Ahad, 20/05/2012 05:05

 

Tugas Akademis dan Tanggung Jawab Sosial Perguruan Tinggi

---Perguruan tinggi dewasa ini dihadapkan pada situasi yang besar dan pelik. Untuk mengelola sebuah perguruan tinggi saat ini dibutuhkan pengetahuan dan tenaga ekstra, karena selain banyak menghadapi perkembangan baru di bidang ilmu pengetahuan yang begitu cepat dalam melakukan berbagai inovasi, juga dihadapkan pada berbagai persoalan sosial politik yang semakin rumit.

Sementara tugas tradisional untuk memajukan perkembangan ilmu pengetahuan dan mendorong perubahan sosial belum juga bisa dituntaskan oleh perguruan tinggi yang ada. Kesediaan saya menjadi anggota Majelis Wali Amanah bahkan sebagai ketuanya ini tidak lain merupakan bagian dari upaya untuk ikut membangun negara ini. Bagaimanapun universitas, apalagi Universitas Indonesia merupakan aset terpenting bangsa dan kebanggaan dari Republik ini.

Sebagai universitas terkemuka di Indonesia bahkan ternama di Asia Tenggara, UI ditantang untuk melakukan penggalian epistemologi, melakukan berbagai inovasi (pembaruan) bahkan perlu melakukan invensi (penemuan) di berbagai bidang pengetahuan. Bagaimanapun UI menjadi barometer bagi perguruan tinggi lain dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kehadiran UI memberikan kontribusi besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan di negeri ini.

Dengan penggalian epistemologi ini kita tidak hanya bersikap konsumtif dalam bidang teori dan pemikiran seperti sekarang ini, minimal dalam hal ini para ilmuwan Indonesia bisa melakukan indegenisasi (pribumisasi) ilmu pengetahuan  yang diperoleh dari luar, sehingga ilmu yang dikembangkan benar-benar relevan ketika diterapkan di Indonesia. Dengan tidak adanya upaya pribumisasi ini, semua kosakata ilmiah diambil dari bahasa asing sehingga bahasa Indonesia menjadi kacau karena kebanjiran bahasa asing.

Langkah pribumisasi itu semestinya dilanjutkan untuk menemukan teori-teori baru baik di bidang sosial, humaniora dan juga eksakta, sehingga ilmu pengetahuan yang kita kembangkan bisa melahirkan teknologi yang maju setara dengan penemuan dari bangsa-bangsa yang lain, dengan demikian akan mampu mendorong terjadinya industrialisasi. Perlu diingat bahwa teknologi hampir tidak pernah bisa dialihkan, tetapi perlu digali dan dikembangkan sendiri secara sungguh-sungguh. Contohnya Indonesia hingga saat ini tidak bisa mengembangkan industri otomotif.

Di sisi lain dalam situasi transisional seperti sekarang ini, tanggung jawab sosial perguruan tinggi juga tidak kalah besarnya. Dalam situasi pancaroba ini semuanya berubah, sementara masyarakat belum semuanya siap menghadapi perubahan, karena itu berbagai ketegangan sosial dan konflik politik terjadi. Juga terjadi kesenjangan kaya miskin. Situasi seperti ini mengharuskan perguruan tinggi melakukan langkah axiologis, melangkah keluar dari menara gading (kampus) untuk mengkaji dan menyediakan solusi berbagai persoalan sosial politik yang terjadi.

Perguruan tinggi tidak hanya menyiapkan lahirnya kaum profesional tetapi juga diharapkan mampu melahirkan leader, pemimpin. Mengingat tuntutan ini maka pendidikan tinggi perlu melakukan pendidikan dan pembentukan karakter. Dalam upaya pembentukan karakter, moral dan akhlak ini bisa mengambil pengalaman di dunia pesantren.

Perguruan tinggi modern tidak perlu malu belajar dari pesantren. Sebab jauh sebelum adanya pendidikan modern seluruh sumberdaya manusia, baik kalangan militer, kalangan bangsawan kerajaan dan priyayi, semuanya belajar di pesantren. Mereka tidak hanya belajar teknik kemiliteran atau manajemen pemerintahan tapi juga belajar agama dan dibentuk karakter mereka oleh para ulama atau kiai.

Dalam epistemologi pesantren tidak hanya mengenal ta’lim (pengajaran, kecerdasan), tetapi dilanjutkan dengan proses tadris (diamalkan) dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu dilengkapi dengan tahap ta'dib (melatih kedisiplinan) selanjutnya  disempurnakan dengan proses tarbiyah (mendidik, mengayomi). Dengan demikian ilmu tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi diterjemahkan menjadi sikap dan perilaku. Maka di situ terbentuklah karakter seorang santri atau mahasiswa. Dengan demikian mereka bisa menjadi pemimpin yang mumpuni dan berwibawa. 

Pendidikan karakter ini penting baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan sendiri, karena hal itu menjamin adanya objektivitas dan kejujuran. Selain itu sangat berguna untuk melahirkan pemimpin yang mampu menjadi pelopor terjadinya perubahan social. Karakter keindonesiaan ini menjadi penting dikembangkan karena dengan adanya intelektual dan pemimpin yang berkarakter itu bisa menjaga martabat bangsa.  Pemimpin yang berkarakter tidak mudah terseret oleh berbagai ideologi yang bertentangan dengan karakter bangsa ini baik yang berbasis pada radikalisme Islam maupun ideologi liberal kapitalis, yang telah mengacaukan tata kehidupan dan sistem ketatanegaraan kita sekarang ini.

Kerjasama perguruan tinggi dengan pihak lain yang ada di masyarakat seperti kalangan ulama, kalangan usaha bahkan kalangan tokoh politik diperlukan dalam hal ini. Demikian juga kerjasama dengan kalangan industriawan lembaga riset juga sangat diperlukan guna pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, sehingga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan dalam upaya perubahan sosial perguruan tinggi tidak sendiri, tetapi bermitra dengan masyarakat luas, sebagai penopang dan pengguna dari perguruan tinggi yang ada. 

Dengan demikian diharapkan perguruan tinggi tidak terpisah dari masyarakat, sebaliknya menjadi bagian integral dari masyarakat secara keseluruhan. Proses integrasi ini tampaknya sedang berlangsung saat ini. 



Jakarta, 15 Mei 2012


Dr. KH Said Aqil Siroj, MA


*Disampaikan dalam acara tasyakuran terpilihnya KH Said Said Aqil Siroj sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) yang dihadiri sejumlah tokoh nasional dan civitas akademika UI, di aula kantor PBNU lt.8, Jl. Kramat raya 164 Jakarta Pusat, Selasa (15/5) malam.

Komentar(10 komentar)
Sabtu, 25/08/2012 03:09
Nama: Abdullah, S .IP
Selamat dan Sukses
Dengan diangkatnya KH Said Aqil sbg Ketua MWI Universitas Indonesia menunjukkan otoritas tinggi keilmuannya diakui dunia akademik. Tinggal kembali ke haliyah beliau sendiri semoga ulama, semoga dapat membawa NU dengan IKHLAS,jika nantinya dpt memberikan kuliah terbuka di Balairung UI merupakan bentuk apresiasi komunitas akademik terhadapnya. Amin.
Ahad, 24/06/2012 12:02
Nama: alimin karyadi
kader gusdur
alhamdulillah saya .kami sbgai warga NU pekalongan sangat bangga atas prestasi yg telah di torehkan seorang KH SAID AGIL SIRAJ tsb......dan kami tdk lupa beliau adalah anak didik GUSDUR yang sangat taat dan bersabar maka jadilah kang said sep. sekarang dan akan datang.amin
Rabu, 13/06/2012 08:38
Nama: taid
barokalloh
barokalloh, kesabaran di era orba saat NU dibumi hanguskan ata dipinggirkan melalui alat ormas muslim lain, telah jadi pelajaran berharga, kenyataan kader2nya subhanalloh lebih modern dibanding kader ormas yang ngaku modern/dianggap modern. syukur Bapak2 Prof Din Syamsudin, Sutrisno Bachir, Yunahar ilyas dll mau kembali ke kandang sj minimal mereka ingat perlunya kebersamaan dlm berhukum islam.
Senin, 11/06/2012 13:20
Nama: H.ujang sihabudin, MSI
'ajib
alhamd pak kyai segenaf santriwan wati pondok pesantren al-qura'an Jamiyyatul Qurro Magelang, sangat senang karna paling tida. lulusan UI yang muslim, tidak buta baca tulis Al-Qur'an. amin
Ahad, 10/06/2012 07:10
Nama: chairul thamrin, SP
Selamat for Yai Said tuk WMA UI
Assalamualaikum wr.wb saya awalnya kaget kirain pak yai dilantik jadi KWI ituloh.. yang komunitas waligereja. ternyata infonya salah.. akhirnya ana mahfum yai said merupakan ulama sekaligus intelektual kesohor di negara kita ini. Yang lebih penting juga adalah memikirkan kaum nahdhiyyin ini agar tidak terombang-ambing bagaikan rombongan kambing di tengah padang serigala yang buas,tandus dan gersang gracefull for yai Kang Said wassalamualaikum
Sabtu, 09/06/2012 18:32
Nama: HANSON,S.Pd
ceramah Prof.Dr.Said Aqil Siradj,MA
Sebagai Nahdiyin, sangat bangga dengan terpilihnya, Ketua PBNU, Prof.Dr.H.Said Aqil Sirad,MA sebagai ketua MWA universitas Indonesia ini membuktikan bahwa kader NU banyak yang berpotensi,....
Selasa, 29/05/2012 11:33
Nama: nu
Tepat sekali
UI memang harus dimasukki orang NU yg moderat, krn di sini banyak lahir mahasiswa yang cenderung berpaham tertutup dan cenderung radikal
Jumat, 25/05/2012 21:41
Nama: Love NU
Barfo NU
Alhamdulillah.... ikut senang dng kabar terpilihnya Pak Yai Said sbg ketua WMA. pesan saya pak.. tolong perkecil langkah orang2 wahabi ala Mahasiswa di UI khususnya masjid MUI. bnyak mahasiswa yg sudah terdoktrin oleh faham Wahabi. ini sngt meresahkan ummat kedepannya. syukran Pak Yai... :) Merdeka NU
Jumat, 25/05/2012 19:06
Nama: M Muji
Semoga Amanah
Amanah wajib dijaga
Jumat, 25/05/2012 11:07
Nama: afiv
Kang Said for NU
Hidup terus Tokoh dan Ulama' NU..... alhamdulillah bangsa ini aKan lebih terkendali dan makmur bila di pegang oleh ulama'-ulama' NU, oleh sebab itu bibit terus genaerasi NU agar bisa menjadi pemimpin bangsa ini di semua aspek. terima kasih HIDUP NU FOREVER............
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefJuli 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
::::Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah melalui LAZISNU. Rekening zakat: BCA 6340161473 MANDIRI 1230004838951. Infaq: BCA 6340161481 MANDIRI 1230004838977 :::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Transaksi pembelian di Toko NU Online untuk sementara ditutup per 24 Juli-13 Agustus 2014::::