Rabu, 26 November 2014
Language :
Find us on:
Fragmen 
Hubungan Ideologis NU Soekarno
Jumat, 30/03/2007 14:35

Ketika masih menjadi aktivis pergerakan Bung Karno belum mengenal NU bahkan cenderung meremehkan orang Islam pesantren yang dianggap kolot. Apalagi saat itu ia sangat terpengaruh oleh ide-ide Amir Ali, Kemal Attaturk, Abdel Razik dan sebagainya. Dalam kenyataannya Soekarno bayak bersimpati dengan Islam modernis.

Begitu menjelang kemerdekaan Bung Barno baru mengenal kelompok pesantren ini secara lebih dekat, karena itu menunjukkan simpati yang besar. Di situ Bung Karno melihat NU adalah kelompok yang nasionalis dan kerakyatan berdasarkan ajaran Islam. Ini sanagat cok dengan ideologinya yang nasionalis dan marhaenis.

Sementara terhadap Islam modernis Bung Karno semakin lama semakin mengalami keretakan, terutama setelah kemerdekaan, ketika beberapa elemen kelompok  itu terlibat dalam pemberontakan DI-TII dan kemudian PRRI Permesta. Bung Karno merasa mereka bukan teman seideologi, terbukti bersekutu dengan kekuatan asing merongrong keutuhan republik, tidak sedikit di antara pemimpinnya yang ditahan.

Sementara NU merasa dekat dengan Bung Karno, bukan karena dia berkuasa tetapi ada kesamaan ideologi yang nasionalistis dan populis. Orang sering salah paham dengan prinsip dasar itu sehingga melihat NU oportunis, hanya mengikuti kebijakan Bung Karno. Padahal NU ikut Bung Karno karena mersa ideologi dan cita-citanya sama. Dalam kenyataannya NU tetap Kritis terhadap kebijakannya.

Kiai Waahab misalnya pernah mengatakan dalam pidatonya bahwa, ”Sukarno tanpa NO (NU) akan menjadi Sukar (susah) menjalankan program politiknya. Demikian juga Bung Karno tanpa NO (NU)  akan menjadi bongkar (didongkel orang).”

Ternyata pernyataan itu ada benarnya, ketika tuntutan NU pada Bung Karno untuk segera membubarkan PKI, karena partai itu selalu menimbulkan ketegangan gontok-gontokan dan konflik sosial di mana-mana. Hubungan NU Bung Karno menjadi renggang, maka saat itu Bung Karno bergerak tanpa NO akhirnya Bung Karno dijatuhkan oleh berbagai kekuatan termasuk kekuatan kolonialisme asing. (Mun’im)

Komentar(10 komentar)
Selasa, 16/06/2009 14:40
Nama: masrufin
tak ada garansi
ada sesuatu yang harus dicatat, bahwa NU, Muhammadiyah, salafi, wahabi, dan lain sebagainya yang mungkin terlalu panjang disebutkan di sini, semuanya tidak ada jaminan untuk mendapatkan surga. apalagi ditambah dengan menhinah, mencemooh, merasa benar sendiri, dan lain-lain. Saya yakin ada bukan untuk membesarkan hal-hal itu semua. Kita sama-sama
Kamis, 11/06/2009 09:35
Nama: Bahruddin
Saran
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Saya sangat prihatin akan kiprah NU di Kabupaten Tangerang khususnya umumnya di Banten, sampai hari ini tidak pernah terlihat harokah apapun terutama pembinaan keagamaan terhadap ummat, sementara didaerah lain subhanallah rutinitas keagamaan yang dilakukan jam'iyah NU begitu semarak, sementara di daerah kami sepi. Mengapa ini bisa terjadi ? bahkan yang menyedihkan NU hanya dijadikan sebagai kendaraan untuk menenuhi hajat pribadi saja. Kami mohon kepada PBNU untuk segera melakukan membinaan organisasi. Kami malu dalam sejarah dikatakan ruh NU itu berasal dari Banten, tetapi kenapa kenyataannya tidak berfungsi sebagimana harapan kita semua.
Rabu, 10/06/2009 01:09
Nama: iqbal
PERTANYAAN
saya ingin tau deal kontrak antara sby dan PKS...
saya bisa tebak, deal kontraknya adalah menteri agama dari partai PKs...
just guesting...if it's right, becareful.
Senin, 08/06/2009 07:55
Nama: Idris_Kutim
NU Lemah
Kalau saya melihat NU bukan organissi masyarakat, tetapi sebuah gerakan sosial yang kemudian akan bergerak apabila melihat keterpurukan masyakat tanpa ada sistem dan konsep yang jelas. sikap toleran yang dianutnya menjadikan NU lemah. sikap nanti-nanti menjadikan gerekannya juga terkesan sangat lambat. kesamaan visi,misi, tujuan,dan komando satu arah dari pusat, cabang, rayon, hinga ranting tidak ada. mereka saling bergerak sendiri sesuai dengan kebutuhan lokalitas.
dibeberapa daerah, NU hanya sebagai simbol yang sekertariatnya berdiri megah tetapi aktifitas dakwah keaswajaan dan pengembangan ilmu tidak ada. warga NU hari ini tidak lagi berjalan sesuai dengan khittohnya. berdakwah terkesan hanya sekedar untuk menunaikan kewajiban saja tanpa berpikir bagaimana cara membendung dan membebaskan ummat dari pengaruh orang-orang islam yang sok suci dan sok benar sendiri (HTI,PKS, IHWANUL MUSLIMIN, WAHABIAN, dan jenisnya)
Kamis, 07/05/2009 19:09
Nama: muhammad fatikhun
jurmiyyah fersi tasawwuf
para 'alim, para santri dan seluruh warga nahdliyyin yang saya hormati. saya sangat membutuhkan kitab jurmiyyah tapi yang pembahasannya masalah tasawwuf, bukan ilmu nahwu. apabila ada yang mengetahui, tolong saya dikasih tahu informasi dimana saya bisa mendapatkannya. kirim informasinya melalui e-mail : thunks.fatikhun@gmail.com
terima kasih atas bantuannya
Rabu, 06/05/2009 01:36
Nama: m fatikhun
harus bangkit
sudah banyak yang memberi tahu keberadaan PKS itu siapa dan bagaimana. namun kenyataannya warga nahdliyyin masih saja belum paham, dan kenyataannya PKS tambah besar. sudah hilangkah semangat kejuangan kita...? ingat bahwa hari ini akan menentukan 5 tahun yang akan datang. jangan sampai 5 atau 10 tahun yang akan datang, tiba-tiba muncul penyesalan.
maka kita harus betul-betul bangkit dengan semangat juang dan keikhlasan.
Senin, 20/04/2009 15:32
Nama: emsaleh_PAC IPNU Grujugan
generasi ipnu adalah masa depan nu
PAC IPNU Grujugan membeutuhkan motivasi yang sangat agar perkembangan PAc IPNU grujugan lebih di terima oleh masyarakat pada umumnya. apalagi ketum NU pusat bisa hadir ke kabupaten kami khususnya kecamatan grujugan,
sebab lahirnya PAC IPNU Grujugan Tidak lepas dari unsur perjuangan dan pengabdian kepada Nahdlatul ulama'
Sabtu, 18/04/2009 14:22
Nama: abdurrahman
to kang ibnu mi'raj
kenyataannya PSK eh PKS sekarang dah maulidan kok,kemarin juga ada tahlilan di rumah HNW.
jadi tidak terbukti PKS TIDAK menentang ajaran NU secara terang2an.
Tapi yang PkS tentang itu ajaran Sunnah.
Senin, 13/04/2009 11:08
Nama: m khoiruddin
NU perlu belajar sejarah
ass: mungkin itulah kata2 yang tepat yang harus diajarkan kepada generasi muda NU, biar kita paham NU itu seperti apa.kalau kita membaca sejarah dan membaca artikel memang tidak bisa dilepaskan antara Nu dan nasionalis, antara NU dan perjuangan bangsa Indonesia,tapi klau skrang kita tidak mau belajar sejarah, tidak mau memahami makna apa yang dibawa oleh KH Wahab HAsbullah dan KH Wahid Hasyim, maka NU akan ketinggalan zaman.maka dari itu mari komponen NU kita baca sejarah,pelajari sejarah mari kita benahi NU dan benahi partai yang memang memperjuangkan NU, Nu bukan parpol tapi NU lembaga sosial keagamaan dan sosialis,wadah politik ada sendiri mari kita bersatu bersama NU..
Ahad, 05/04/2009 16:03
Nama: Moch. Fardian
Pertahankan!
Aas. Saya penerus Nahdliyyin NU. Kita harus melawan si WAHABI,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,(PKS), kita perangi ideologi-nya bukan perang fisik! Hidup NU ! NU jaya,,,,,,!
By. Majelis Pemuda ASWAJA jakut.
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 269 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefNovember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::