“Mengikuti kebiasaan kaum Muslimin itu penting!” kata Kyai Maemoen Zubair, “Contohnya: sarung. Dari asal-usulnya, itu merupakan pakaian tradisional orang Birma yang Buddha.
"Tapi di Indonesia ini sekarang sudah jadi pakaiannya kiyai dan santri. Ya nggak usah tanya dalilnya. Masak mau pakai sarung saja nyari dalil dulu?” lanjut Kyai Maemoen.
Seorang Mahasiswa Universitas Al Azhar asal Indonesia berkeliaran di kota Thanta, Mesir, dengan tetap mempertahankan kebiasaannya memakai sarung –barangkali penghayatannya akan hal itu telah mencapai taraf “ideologis”.
Maklum, dia itu murni makhluk pesantren yang tak pernah tersentuh pendidikan lainnya, hatta Sekolah Dasar. Ketika masuk sebuah pasar ia menjadi pusat perhatian semua orang. Mereka bisik-bisik dan ketawa-tawa. Bahkan sekumpulan anak muda meledeknya:
“Belum junub sudah keluyuran ke pasar!” teriak mereka. Santri Kendil kita merasa risih juga, tapi tak paham maksud mereka dan tak perduli.
Baginya, sarung adalah jati diri. Ia pun cuek saja saat Juma’atan seisi masjid memandanginya dengan tatapan penuh keheranan. Sampai kemudian seorang profesor dosennya menghampiri, lalu memberi nasehat,
“Kamu kalau kemana-mana mbok ya pakai celana, jangan pakai sarung,” kata profesor.
“Saya tahu, kalau di Indonesia itu adalah pakaian tholabul ‘ilmi-nya santri. Tapi kalau di sini, itu pakaian jima’!” terangnya.
Berkumpul singa mengaum, berkumpul kambing mengembik.
Tapi, mengaum ataupun mengembik perlu mawas diri juga.
Kang Ustad Darkum pegang mata pelajaran Fiqih di Madrasah Diniyah sore. Tapi murid-murid kelas tiga menamai pelajarannya: nonton wayang.
Kenapa?
Pintu ruang kelas itu menghadap ke Barat, menentang matahari sore. Dan Kang Darkum tak pernah mengenakan apa-apa dibalik kain sarungnya. (Yahya C. Staquf)
memang gitu..
namanya ajah humor... sah sah ajah ya... yang penting tidak humor yang "nakal;;;" hehehe... begitu kang...
Ada2 aja
Nyantri ya nyantri tp jangan salah masuk... hehehehe
lucu
lucu banget ha hya.....tradisi sarungan hrs di budayakn sampe ank cucu....
Gitu saja kok repot
Ya Allaaaahhhh,,,,,teman-teman itu kok repot banget siiiihhhh... pelitttt banget siiiiihhh.. wong Gus Yahyanya saja tidak protes, masa sampean repot begitu? Untung Gus Yahya tidak seperti sampean-sampean itu. Bagi saya, yang penting nama penulis, Gus Yahya, tidak dihapus, tidak diganti dengan NU Online kok. Gitu saja kok repot.
Koreksi
@Redaksi 1. Penyebutan penulis dalam tanda kurung di akhir tulisan kurang tepat sebab mengesankan bahwa Yahya C. Staquf adalah redaksi/admin, padahal bukan 2. Sumber seharusnya disebutkan kalau memang tulisan yang ditampilkan hasil copy-paste. Tulisan aslinya di sini: http://teronggosong.com/articles/staquf/sarung
maturnuwun
Gus Yahya..... kultur terbawa dalam kehidupan yang tak sengaja menjadi kenyamanan dalam kebiasaan untung sarung konotasi yang melekat pada santri tidak tergantikan oleh zaman... tapi sekarang banyak sarung berkeliaran gus,....hehehehe afwan...
Mbok ya yang jujur...
Seharusnya redaksi menyebutkan sumber copy paste artikel yang dimuat di atas.
625 x 100 Pixel
305 x 100 Pixel
305 x 120 Pixel



Print
Download
Send







Pref

