Pidato Kebudayaan D. Zawawi Imron dilaksanakan dalam rangka hari lahir Lesbumi yang ke-50 tahun (28/3) dan slametan atas penghargaan Sea Writer Award dari Kerajaan Thailand untuk D. Zawawi Imron. Zawawi menyampaikan pidato dengan tema vitalitas pesantren.
"Dengan percikan-percikan ilham yang menyala seperti itu semangat untuk hidup bermakna menjadi sangat penting. Yaitu menjadi manusia khalifah yang pantas menjadi penjaga dan perawat peradaban di dunia ini. Antara lain mewujudkan cita-cita mulia, dan kata-kata mutiara yang menjadi nilai dan karakter manusia yang membedakan dirinya dengan binatang, karena ilmu dan cita mulia yang tidak menjadi tindakan nyata sama dengan pohon yang tidak berbuah." Demikian salah satu poin yang disampaikan kata Zawawi.
Sementara Abd. Mun'im DZ dalam sambutanya mengatakan, “Pidato kebudayaan semacam ini menjadi penting di tengah kesibukan politik dan sepinya gerakan kebudayaan. Pidato kebudayaan diadakan tanpa nafsu. Artinya pidato kebudayaan menjadi sebentuk gerakan kerohanian.” Sastrawan kenamaan Ahmad Tohari dan Jamal D Rahman juga turut menyampaikan semacam kesaksian untuk D. Zawawi Imron.
Siang hari sebelum acara pidato diselenggarakan pula Jagongan Sastra dan Budaya di kantor redaksi NU Online. Budayawan dan sastrawan muda berlatar belakang pesantren urun rembug untuk memajukan gerakan kebudayaan. Di antara yang hadir dalam kesempatan itu Rais Syuriah Muhammad Machasin, Ahmad Tohari, Alamsyah M Dja'far, Ahmad Murtajib dari Kebumen, Acep da Sukabumi, dan lain-lain. (Foto: Alhafiz Kurniawan dan Mahbib. Teks Hamzah Sahal
625 x 100 Pixel
305 x 100 Pixel
305 x 120 Pixel










Pref

