:::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menjadi Pengajak yang Bijak

Menjadi Pengajak yang Bijak

Di tengah fanatisme suku-suku yang parah, kebejatan moral yang luar biasa, dan kendornya prinsip-prinsip tauhid, dalam jangka waktu hanya 23 tahun Rasulullah sukses membuat perubahan besar-besaran di tanah Arab. Bagaimana ini bisa dilakukan?
Menjadi Pengajak yang Bijak
Kamis, 01/09/2016 03:00Khotbah

Menjadi Pengajak yang Bijak

Di tengah fanatisme suku-suku yang parah, kebejatan moral yang luar biasa, dan kendornya prinsip-prinsip tauhid, dalam jangka waktu hanya 23 tahun Rasulullah sukses membuat perubahan besar-besaran di tanah Arab. Bagaimana ini bisa dilakukan?
Nonaktif Dulu dari NU Bagi Calon dan Tim Sukses Pilkada
Rabu, 31/08/2016 21:01Nasional

Nonaktif Dulu dari NU Bagi Calon dan Tim Sukses Pilkada

Hal itu, menurut Helmy, sebagai upaya NU untuk menghindari conflict of interest bagi warga NU yang memiliki hak pillih. “Nonaktif dulu agar tidak terjadi conflict interest di warga NU,” katanya selepas rapat perdana peringatan Hari Santri Nasional di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (31/8).
Berita Terkait
Memaknai Kalimat
Rabu, 31/08/2016 14:00Opini

Memaknai Kalimat "Tuhan Tidak Pernah Tidur"

Pada saat-saat tertentu, kalimat "Tuhan tidak pernah tidur" terdengar sangat teduh dan seolah mampu mencerabut hampir separuh beban hidup. Dalam alam bawah sadarnya, manusia beriman memang dapat dengan haqqul yaqin mengaktualisasikan kalimat ini dalam konteks keseharian. Yang menarik serta hampir bisa dipastikan, kemunculan kalimat itu dalam kesadaran diri manusia cenderung insidentil dan mencerminkan potensi psikologisnya yang khas.
Terkini
Jadi Mahasiswa, Mulailah Pikirkan Bangsa

Jadi Mahasiswa, Mulailah Pikirkan Bangsa

Ikhwanul yang juga kader PMII mengatakan, ketika menjadi mahasiswa seharusnya mulai memikirkan nasib bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mahasiswa harus berada dan membela kaum tertindas agar mengetahui nasib sebenarya. Jika hal itu yang dilakukan, maka mahasiswa akan menjadi ujung tombak bangsa. Namun jangan lupa untuk terus belajar dan terus belajar.