::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH Luqman Hakim: Allah Tidak Mencintai Pesimisme dan Sinisme

KH Luqman Hakim: Allah Tidak Mencintai Pesimisme dan Sinisme

Pasalnya menurut Direktur Sufi Center Jakarta itu, sikap pesimisme dan sinisme dengan kata lain telah menilai Rahmat dan Nikmat Allah hanya sebatas buruk sangka dan kecurigaan.
KH Luqman Hakim: Allah Tidak Mencintai Pesimisme dan Sinisme
Kamis, 17/01/2019 11:05Nasional

KH Luqman Hakim: Allah Tidak Mencintai Pesimisme dan Sinisme

Pasalnya menurut Direktur Sufi Center Jakarta itu, sikap pesimisme dan sinisme dengan kata lain telah menilai Rahmat dan Nikmat Allah hanya sebatas buruk sangka dan kecurigaan.
Mahfud MD Luruskan Pemahaman tentang Pluralisme dan Pluralitas
Kamis, 17/01/2019 10:15Nasional

Mahfud MD Luruskan Pemahaman tentang Pluralisme dan Pluralitas

Sedangkan pluralisme adalah paham tentang bagaimana menyikapi dan menghayati fakta pluralitas itu dalam berhubungan dengan orang-orang yang berbeda dalam hidup. “Jadi pluralisme itu adalah penyikapan batin dan pikiran atas pluralitas,” tandasnya.
Mengenal Kitab Ushul Fiqh ‘Al-Mustashfa’  Karya Imam al-Ghazali
Rabu, 16/01/2019 20:30Pustaka

Mengenal Kitab Ushul Fiqh ‘Al-Mustashfa’ Karya Imam al-Ghazali

Kitab al-Mustashfa karya Imam al-Ghazali menjadi bukti kualitas dan kapabilitas sang pengarang di bidang fiqih. Di bagian akhir kitab al-Mustashfa, Imam al-Ghazâli menyebutkan bahwa kitab tersebut selesai ditulis pada tahun 503 H. Berbekal informasi ini dan bersandarkan pada publikasi ilmiah bahwa kitab tersebut ditulis selama tiga tahun, maka dapat disimpulkan bahwa beliau memulai proyek risetnya ini kurang lebih pada tahun 499 H. 
Terkini
Dakwah Perlu Mengakomodasi Budaya Lokal

Dakwah Perlu Mengakomodasi Budaya Lokal

"Sebelum Islam masuk ke Mojokerto, disini sudah ada kerajaan besar bernama Majapahit. Saat itu Majapahit sudah punya budaya yang hebat. Dan tentu bila kita syiarkan Islam dengan cara menghapus budaya lokal,  maka akan ditolak alias gagal. Dan Walisongo berdakwah dengan cara yang elegan," tambahnya.