Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Kemampuan apa yang paling penting dimiliki oleh jajaran kepengurusan tanfidziyah NU

Manajerial
Berdakwah atau orasi di lapangan
Keilmuan agama
Lobby-lobby politik
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Ubudiyyah

FASAL TENTANG WASILAH DAN TAWASSUL (4-habis)
Tawassul dengan para Sahabat dan Shalihin
18/09/2007

Dalam kitab Riyadlus-Shalihin bab Wadaais-shahib hadits no.3, Rasulullah SAW bertawassul supaya Umar jangan lupa untuk menyertakan Rasulullah dalam segala do’anya di Mekkah ketika umrah.

عَنْ عُمَرَبْنِ اْلخَطَّابِ رَضِىَاللهُ عَنْهُ قَالَ اِسْتَأْذَنْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى اْلعُمْرَةِ فَأذِنَ لىِ وَقَالَ: لاَتَنْسَنَا يَااُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ فَقَالَ كَلِمَةً مَايَسُرُّنِى اَنَّ لىِ بِهَاالدُّنْيَا. وَفِى رِوَايَةِ قَالَ اَشْرِكْنَا يَااُخَىَّ فِى دُعَائِكَ. رواه ابوداود والترمذى


Dari shahabat Umar Ibnul Khattab r.a. berkata: saya minta idzin kepada Nabi SAW untuk melakukan ibadah umrah, kemudian Nabi mengidzinkan saya dan Rasulullah SAW bersabda; wahai saudaraku! Jangan kau lupakan kami dalam do’amu; Umar berkata: suatu kalimat yang bagi saya lelah senang dari pada pendapat kekayaan dunia. Dalam riwayat lain; Rasulullah SAW bersabda: sertakanlah kami dalam do’amu”. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dan masih banyak lagi dalil-dalil tawassul, namun kiranya cukup apa yang telah disebutkan di atas.

Dalam hadits di atas Rasulullah meminta kepada sayyidina Umar untuk menyertakan Rasulullah dalam do’anya sayyidina Umar selama di Makkah, padahal kalau Rasulullah berdo’a sendiri tentu lebih diterima, tetapi beliau masih meminta do’a kepada sayyidinda Umar.

Sandaran lain untuk tawassul jenis ini seperti dalam kitab Sahhihul Bukhari jilid I, bahwa Sayyidina Umar Ibnul Khattab bertawassul dengan Rasulullah dan Sahabat Abbas ketika musim paceklik, sebagaimana disebutkan berikut ini:

عَنْ أَنَسٍ اَنَّ عُمَرَابْنَ اْلخَطَّابِ رَضِىَاللهُ عَنْهُ كاَنَ اِذَا قَحَطُوْا اِسْتَسْقىَ بِالعَبَّاسِْبنِ عَبْدِاْلمُطَلِّبِ فَقَالَ: الَّلهُمَّ اِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَاِنَّا نَتَوَسَّلُ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا, قَالَ: فَيُسْقَوْنَ. رواه البخارى

Dari sahabat Anas; bahwasannya Umar Ibnul Khattab r.a. apabila dalam keadaan paceklik (kekeringan) ia memohon hujan dengan wasilah Sahabat Abbas Ibn Abdil Muthalib, maka berdo’a sayyidina Umar : Yaa Allah sesungguhnya kami bertawassul kepada Engkau dengan wasilah paman Nabi kami (Sahabat Abbas) maka berilah kami hujan, berkata Sayyidina Umar kemudian diturunkan hujan”. (HR Bukhari)

Bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah seperti para nabi, rasul dan shalihin, bukan berarti meminta kepada mereka, tetapi memohon agar mereka ikut memohon kepada Allah agar permohonan do’a diterima Allah SWT. Sebab, seluruhnya juga adalah haq Allah, seperti disebutkan berikut ini:

لاَمَانِعَ لمِاَ أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لمِاَ مَنَعْتَ

Tiada ada yang mencegah kalau Allah mau memberi, dan tidak ada yang bisa memberi kalau Allah mencegahnya.”

قُلْ هُوَاللهُ اَحَدٌ, اَللهُ الصَّمَدُ

Katakanlah Dia Allah yang Maha Esa dan Allah tempat meminta.”

Dalam kitab Al-Kabir wal Awsath Al-Imam Thabrani meriwayatkan sejarah Fathimah binti Asad Ibu Sayyidina Ali bin Abi Thalib ketika wafat, Rasulullah SAW yang menggali kuburan dan membuang tanahnya dengan tangan beliau. Maka tatkala selesai, Rasulullah masuk ke kubur tadi dan berbaring sambil berdo’a :

اَللهُ الَّذِى يحُىِْ وَيمُيِتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَيَمُوْتُ اغْفِرْ لأُِ مّىِ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَلَقّنْهَا حُجَّتَهَا وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مَدْ خَلَهَا ِبحَقّ ِنَبِيّكَ وَاْلأَنْبِيَاءِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِى فَاءِنَّكَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ وَكَبَّرَأَرْبَعًا وَاَدْخَلُوْ هَا هُوَ وَاْلعَبَّاسُ وَاَبُوْ بَكْرٍ الّصِدّيِقِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ

“Allah yang menghidupkan dan yang mematikan dan Dia yang hidup tidak mati; Ampunilah! Untuk Ibu saya Fathimah binti Asad dan ajarkanlah kepadanya hujjah (jawaban ketika ditanya malaikat) kepadanya dan luaskan kuburnya dengan wasilah kebenaran Nabimu dan kebenaran para Anbiya’ sebelum saya, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Rasulullah takbir empat kali dan mereka memasukkan ke dalam kubur ia (Rasulullah), Sahabat Abbas Abu Bakar As-Shaddiq r.a.” (HR Thabrani).

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dan Hakim dari shahabat Anas. Lalu, diriwayatkan pula Ibnu Abi Syaibah dari shahabat Jabir, dan diriwayatkan pula Ibnu Abdul Barr dari shahbat Ibnu Abbas.

Dengan demikian, bertawassul dengan berdo’a dan mempergunakan wasilah, baik dengan iman, amal shaleh dan dengan orang-orang yang dekat kepada Allah SWT jelas tidak disalahkan oleh agama bahkan dibenarkan. Lalu, bertawassul bukan berarti meminta kepada yang dijadikan wasilah, tetapi memohon agar yang dijadikan wasilah memberikan keberkahan untuk diterima do’a para pemohonnya. Selanjutnya, bertawassul dengan wasilah yang disenangi Allah, atau berdo’a dengan menyebut sesuatu yang disenangi Allah, tentu Allah akan menyenangi kita, dan meridloinya. Maka apa yang disenangi Allah, seyogyanya disebut dalam do’a

KH A Nuril Huda
Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

« Kembali ke arsip Ubudiyyah | Print| Share


Komentar:


shofwan aljauhari menulis:
ketika diskusi masalah tawassul saya sebagai orang desa ditanya tentang kwalitas hadith tentang twasul yang dilakukan nabi ketika meninggalnya ibunda Ali.bagaimana kwalitas hadith tersebut (tahrij haditnya), suwun?
DADAN BARDANSYAH menulis:
Menurut hemat saya, wacana tentang Wasilah/Tawassul akan gamblang ditemukan pada frame Thoriqoh. Bagi warga Nahdliyyin, term THORIQOH itu gak asing kan??? Badan Otonom Jamiyyah Ahlu Thoriqoh AlMutabaroh Annahdliyyah punya banyak referensi tentang itu kan???
abdullah menulis:
yang saya ketahui sampai saat ini adalah tawassul ada tiga ( nama-nama Allah swt -rasullulah saw-amal shaleh kita) terima kasih.
RATNA menulis:
Bagaimana dengan yang sekarang ini kita saksikan banyak orang bertawasul kepada orang yang telah mati ?
dan tidak pernah di contohkan bertawasul dengan org yg telah mati walaupun dia orang sholeh, dan sahabatpun tidak pernah bertawasul kpd rosululloh tatkal rosul telah wafat tapi dia meminta kepada paman rosul seperti hadist diatas.
muhammad khamdi menulis:
Yah......... semua persoalan kembalikan pada Alloh dan Rasul saw. Kalau ada perbedaan memahami text dalil naqli, maka UUD'45 saja juga dipahami berbeda pada zaman ORLA-ORBA- bahkan Reformasi. Jika ada 10 orang melihat kecelakaan di perempatan jalan maka akan ada sekurangnya 10 versi yang diceritakan, tentu dengan cerita yang berbeda bahkan plus bumbu-bumbu. Bukan peristiwa kecelakaannya yang salah tapi mungkin perowinya. Jadi mesti diteliti, janganlah kita ikuti hawa nafsu kita, inginnya benar sendiri. Tanyakan kepada hati kita apakah kita mukhlisiina lahuddiin..........
Ghanib_64 menulis:
Mba Ratna gak usah heran kalo menurut ulama NU itu org dah mati ato msh hidup yg yg penting gelar ama namanya aja itu sudah cukup bisa mengabulkan permintaan mereka karena mereka tidak pernah pede dgn amalannya sendiri (gitu aja kok repot kata pucuk tertinggi sesepuh NU) bener kan !!!
jadi yg dipake bukan otak tapi perasaan.
Wassalam

al fajri menulis:
Untuk mas ghanib, tolong sopan sedikit kalo ngomong..... jangan kasar begitu. Kaya'nya sampeyan ini emang sudah terbiasa dididik untuk bicara kasar dan gak sopan ya...? Apa gak pernah makan sekolahan...? Kalo gak bisa komentar yang sopan lebih baik diam...
budi menulis:
Mohon maaf karena saya orang yang awam, tolong kalo kasih hadist yang jelas rowi dan kedudukannya........ kalo asal dapat hadist yang bisa dukung argumen kan orng2 seperti saya jadi bingung. mbok kasihan to. sama orang yang susah "mudengnya" kayak saya ini..... zaman sekarang yang penting HUJJAH, kalo hujjahnya aja ndak jelas (ROWI " dari a-z", kedudukan, dan penjelasan) ndak jelas trus kan ya LUCU. smoga NU lebih SMART.
Al-Bantany menulis:
mas Ghanib, anda sadar nggak kalo yg pake perasaan itu sebenarnya malah anda sendiri? Coba teliti ulang bunyi artikel di atas dengan komentar yg anda posting. Siapa yg pake fikiran dan akal dan siapa yg pake perasaan?
Mas Ghanib, dari setiap komentar yg anda posting, sangat mencerminkan kedangkalan dan kerendahan ilmu anda, jadi sebaiknya bekali diri dengan kemapanan ilmu, baru ajak orang lain untuk berdebat. Sebab yg anda ketengahkan di sini adalah perdebatan dan bukan mencari kebenaran. Jadi menanggapi setiap "provokasi" yg anda keluarkan lewat peratanyaan dan pernyataan, hanya bikin capek dan emosi. Dari awal anda memang sudah nggak mau menerima, buat apa anda komentar dan ikut bertanya. toh anda cuma cari perdebatan aja kan?
AL gilman menulis:
Orang yang pake otak komentarnya pasti
sopan.
joko menulis:
saudaraku seiman, perbedaan itu selalu ada sampai akhir zaman nanti, tapi tolong komentar yang sopan jangan sampai Agama lain "non Islam" tepuk tangan melihat kita tidak pernah akur dengan saudara kita seiman
syamsu menulis:
Jadi kalau kita sudah paham ilmunya masing masing kan hati jadi sejuk melihat perbedaan yang ada , ada yang ziarah gak bilang musrik gak pusing sebaliknya gak ziarah ya jangan maksa tuk ziarah pada masanya dia juga memahami. saling senyum dengan segala perbedaan yang ada
yossie menulis:
he he he klo ga tahu, klo ga bisa nerima diem aja ngapa?buat ghanib nich
diro menulis:
Buat mas / mba' Ghanib ..
Komentar anda ...basiiii...
Ifan LH menulis:
Selama ini, yang dilakukan oleh kebanyakan orang ziarah kubur adalah bukan tawasul kepada orang yg meninggal tetapi hanya untuk bertamasyah saja. Trus bagaimana hukumnya...?
Gadiza menulis:
Bismillah. Untuk landasan yan g kuat mengenai tawassul:
1. Melalui Asmaul Husna Allah SWT
2. Amal baik kita (seperti kisah ahkabul kahfi di Qur'an)
3. Orang sholeh YANG MASIH HIDUP.

Coba lihat dalil pertama artikel ini. Memang Rasul mencontohkan kepada orang yang mash HIDUP. BUKAN kepara orang yang SUDAH MENINGGAL. Sekarang sudah banyak bid'ah-bid'ah yang terjadi di kalangan masyarakat yang mempraktekkan tawassul kepada orang sholeh yang sudah meninggal. INI TIDAK PERNAH dicontohkan oleh Rasul dan para Khulafaurrasyidin.

Wallahu'alam
Irpan maulana menulis:
sdr/sdri Gadiza,coba artikelnya di baca lebih cermat lagi,Dri Hadist di atas ada kalimah WAL AMBIYAI'LLADINA MIN QABLI...ARTINYA PARA NABI SEBELUM RASULALLAH,berarti sudah meninggal kan.?nah kalau begitu berarti boleh dong bertawassul Kpd Nabi dan orang saleh yg sudah meninggal..jangan Asal bilang bid'ah ach apalagi mengatakan semua bid'ah tu sesat...ih sereeummmm
tiang_deso menulis:
untuk orang2 yg suka bid'ahkan orang lain apa anda tau enggak bahwa yg anda lakukan itu juga bid'ah [berbicara ndak sopan merasa benar sendiri dll]
aldo menulis:
mas ghanib anda tu bukan mau berkomentar tapi mau berdebat kaya yang paling bener aja saya perhatikan kata2mu itu terlalu menjurus dan memojokan silakan blajar bertatakrama dulu mas sebelum berkomentar alloh kariim
M.tohir bulak menulis:
Af ya,q bocah msh baru ngaji.
Lw bid'ah sktr qt bnyk,pa lagi qt jg sll memakai nama na bid'ah,ya mtor,hp,tv,mobil,sanyo,lampu pln.. Waduh,lw pd berantem yg pinter2 na yg dbwh yg td na pngn ngaji,jd g jd ngaji,krn sll musyawarah pke ego.. Mangga bareng2 niat ngurip2 islam aja..!

[1 of 2]   1, 2 >|

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) (02/02/2010)
» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1) (26/01/2010)
Arsip
» Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010)
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
Arsip
» Dari Peran Kebangsaan Menuju Peran Kesejagatan (25/01/2010)
» Fenomena Gus Dur (13/01/2010)
Arsip
» Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010)
» Pujian Muktamirin untuk H Zainul Arifin (25/11/2009)
Arsip
» Islah PKB Pasca Gus Dur (02/02/2010)
» Membaca Konflik al-Qaeda dan (Pemerintah) Yaman (26/01/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku