Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Kemampuan apa yang paling penting dimiliki oleh jajaran kepengurusan tanfidziyah NU

Manajerial
Berdakwah atau orasi di lapangan
Keilmuan agama
Lobby-lobby politik
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Warta

Gus Dur Tolak Jadi Capres, Pilih Besarkan PKB
Jumat, 16 November 2007 07:27

Lebak, NU Online
Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kini menolak dicalonkan kembali menjadi Presiden pada pemilihan umum (pemilu) presiden tahun 2009 mendatang, karena merasa disakiti dengan dilengserkan saat menjabat presiden sebelumnya.

Gus Dur menjawab ribuan dukungan kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) DPW Provinsi Banten, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (15/11), menyatakan keengganan dicalonkan sebagai presiden kembali walaupun dukungan untuk itu cukup kuat.

Menurut Gus Dur, permintaan untuk kembali menjadi calon presiden pada Pemilu 2009 nanti cukup kuat mulai kepengurusan PKB tingkat PAC di kecamatan hingga DPW di provinsi. Namun dia menyatakan, menolak tawaran untuk menjadi calon presiden 2009-2014 itu.
Penolakan pencalonan presiden itu, menurut Gus Dur, selain karena mempertimbangkan kondisi kesehatannya, juga karena merasa tidak percaya dengan partai-partai politik lainnya.

Gus Dur menyatakan, sewaktu menjabat Presiden, merasa dizalimi hingga digulingkan dari kepemimpinan sebagai presiden oleh orang-orang partai politik tersebut.

Padahal saat itu, dia menyatakan memiliki legalitas yang sah secara hukum sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia. Oleh karena itu, lanjut Gus Dur, hingga saat ini dirinya sudah tidak memikirkan lagi untuk menjadi presiden.

"Lebih baik membesarkan PKB, karena sebagian besar berbasis di pelosok padesaan. Saya akan berupaya agar kader-kader PKB mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat," kata Gus Dur pula. (ant/sam)

« Kembali ke arsip Warta | Print| Share


Komentar:


Daryanto menulis:
Diakui atau tidak Gus Dur adalah Fenomena...ketika banyak orang mendorongnya dan banyak peluang yang bisa di terobos dari aturan pilpres 2009 nanti justru memilih tidak mau di calonkan....ini yang membedakan dengan tokoh lain...Gus Dur memang tak ada matinya selalu jadi sumber berita...ayo gus gasak politisi yang salah kalau tidak boleh dikatakan sesat....bangsa ini sudah diambang jurang kebangkrutan korupsi dimana-mana, pengangguran kayak gunung es, kejahatan merajalela bahkan kejahatan politik telah menggurita....rakyat desa makin miskin bodoh tapi tetap sombong....orang kota makin congkak dan kotor....pejabatnya makin narsis dan sok cari muka....penegak hukumnya suka main kayu dan main hakim sendiri...santrinya makin bingung karena semuanya sudah menjadi haram....kyai dan ustadnya makin asyik dengerin lagu dari ipot pemberian politisi bengal....moga2 ulamanya tetap istiqomah
mulut menulis:
Terlepas dari motif yang kurang baik, mulut mendukung apapun pilihan gus dur, semoga pilihan itu adalah yang terbaik dan membawa kebaikan bagi bangsa, negara, dan agama.

Marilah bersama kita merdekakan kembali bangsa ini dari segala bentuk penjajahan.

Jangan hanya mengandalkan gus dur saja, masa depan ada ditangan generasi muda.

Generasi mudalah penentu masa depan.
Melanjutkan perjuanan dan tidak membiarkan setiap pengorbanan yang telah diberikan oleh generasi sebelumnya adalah wujud dari rasa syukur pada ALLoh SWT

Sekali Merdeka tetap merdeka
aceng muhyi menulis:
sy sangat setuju dengan sikap gusdur dan sbg catatan bersama saya minta kepada para pembisiknya untuk tidak menyampaikan sesuatu yang merusak fenomena politik bangsa
Mukti S.Pd.I menulis:
Saya kira gusdur memang tokoh fenomenal yang sering disalah artikan oleh banyak pihak baik yang tidak mengerti ataupun mereka yang pura-pura tidak mengerti, apa yang dilakukannya menurut hemat saya tidak lebih dari sekedar upaya untuk MENCERDASKAN anak bangsa ini misalnya ketika beliau mencalonkan diri untuk jadi presiden pada pilpres yang lalu banyak kalangan menolak bahkan menghujat dengan berbagai alasan tetapi ternyata undang-undang yang menjadi aturan main tidak melarang pencalonan tersebut. gusdur membubarkan departemen sosial juga dianggap kontroversi tetapi baru sekarang orang menyadari bahwa depsos ternyata sarang korupsi inilah yang menjadi alasan gusdur untuk melakukan tindakan tersebut. Kalau untuk yang jelek-jelek gusdur jadi sasaran tapi kalau yang baik-baik misalnya membuka kebebasan beragama, pencabutan tap MPR tentang Partai Komunis Indonesia, menaikkan gaji PNS dan TNI/ Plri sampai lebih dari 100 % malah tidak diingat. melalui komentar ini saya menghimbau kepada semua pihak terutama saudaraku warga nahdliyin untuk terus memberikan pencerahan kepada semua pihak tentang Gusdur, bukan malah menghujat dan mencaci maki bagaimanapun beliau adalah mantan Ketua PBNU dan guru bangsa yang justru lebih dikagumi oleh bangsa lain ketimbang bangsa sendiri. Terus berjuang GUSDUR bangsa ini membutuhkan dirimu, semoga Allah SWT senantiasa menyertai kita semua. amin
muhammad makhzum menulis:
Asssalam....

" siapapun Presidenya bagi saya Gus Dur tetap Presiden saya "

Wasssalam
Achmad menulis:
Banyak alasan kenapa banyak orang suka Beliau....ataupun sebaliknya. Di tengah situasi saudara kita yang masih sangat feodal, Kita butuh sesuatu yang fresh. Apakah sebagian dari kita ada yang sadar dan paham akan semua komentar yang keluar dari Gus Dur....Terlepas setuju dan nggak setuju. Pada akhirnya kita menjadi sadar akan Hak kita yang selama ini di bungkam. Baik yang pro atau kontra Gus Dur sama - sama mendapat pelajaran yang berharga, Kenapa Ternyata kita di bikin otomatis untuk berpikir dengan komentar Beliau. Terima kasih Gus Berpikirlah terus demi kemajuan bangsa ini.
hassan menulis:
saya sangat setuju dng GD karena jadi ulama itu justru jabatan (baca:amanah) yang paling mulia kalo dilandasi dengan taqwa, tapi sagat disayangkan klo menolaknya karna sakit hati.....itu berarti dulu tidak amanah, lha wong yang namanya amanah itu titipan jee...,jadi kalo diambil ya harus legowo to...,wallohualam bishowab
Rahman Hamsy menulis:
itu saya sgt suka.... soalnye telinga aku tadak tahan dengar Gus Dur dimaki-maki dan disalahin orang terus....
terus berjuang Gus untuk indonesia ! mengabdi tidak mesti jadi presiden !

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) (02/02/2010)
» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1) (26/01/2010)
Arsip
» Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010)
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
Arsip
» Dari Peran Kebangsaan Menuju Peran Kesejagatan (25/01/2010)
» Fenomena Gus Dur (13/01/2010)
Arsip
» Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010)
» Pujian Muktamirin untuk H Zainul Arifin (25/11/2009)
Arsip
» Islah PKB Pasca Gus Dur (02/02/2010)
» Membaca Konflik al-Qaeda dan (Pemerintah) Yaman (26/01/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku