Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Kemampuan apa yang paling penting dimiliki oleh jajaran kepengurusan tanfidziyah NU

Manajerial
Berdakwah atau orasi di lapangan
Keilmuan agama
Lobby-lobby politik
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Ubudiyyah

Mereka Bertanya tentang Barokah
04/12/2007

Barokah atau berkah oleh para ulama yang mula-mula menyebarkan Islam di Indonesia disimbolkan dengan “berkat” atau oleh-oleh yang dibawa dari acara hajatan atau tasyakuran. Di kalangan pesantren, barokah didefinisikan secara singkat dengan kata majemuk “jalbul khoir” atau sesuatu yang dapat membawa kebaikan. Definisi ini memang sangat umum dan belum bisa menjelaskan arti barokah. Uraian berikut semoga bisa memberikan penjelasan itu secara lebih gamblang. (red)

Ketika bayi Muhammad SAW lahir, ia disusui oleh seorang ibu dari Bani Sa'ad bemama Halimah Sa'diyah. Bani Sa' ad adalah salah satu marga dari suku Quraish di Makkah. Sebelum kehadiran bayi Muhammad SAW, kondisi kehidupan Bani Sa'ad dalam keadaan paceklik yang tergambarkan pada kurusnya binatang ternak, keringnya kantong susu, ketidak­suburan tanah dan minimnya hasil tanaman.

Setelah bayi Muhammad SAW dibawa oleh Halimah ke kampung Bani Sa'ad, ternak berangsur gemuk, kantong susu ternak pun menjadi penuh, dan tanah berubah menjadi subur. Terutama kehidupan keluarga Halimah menjadi sejahtera.

Perubahan kondisi yang terjadi, diakui bahwa kehadiran bayi Muhammad SAW di Bani Sa' ad telah membawa barokah. (Terjemahan singkat dari kitab Dalail An-­Nubuwwah, Baihaqy 1:107)

Sasok bayi, untuk duduk dan berdiri belum marnpu, untuk makan dan minum saja masih memerlukan bantuan orang lain. Secara logika matematik, bayi tidak mungkin melakukan perubahan yang terjadi seperti ini. Namun secara logika tauhid, perubahan di Bani Sa'ad ini dapat terjadi atas dasar kehendak Allah SWT yang ditandai dan diawali dengan kehadiran bayi tersebut. Untuk itulah, kehadiran bayi tersebut disebut barokah.

Al-Qur' an, awal surat Al-Mulk, menegaskan bahwa Allah SWT merupakan sumber barokah:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maha Suci (Maha Barokah) Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Di samping Allah SWT merupakan sumber barokah, menurut firnan-Nya dalam surat Al-An' am ayat 155 menyatakan bahwa Al-Qur'an juga merupakan sumber Barokah.

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al-Qur'an ini adalah kitab barokah (yang diberkati) yang Kami turunkan, maka ikutilah (ajaran)nya, dan bertaqwalah agar kamu disayangi (oleh Allah).

Dalam Al-Qur' an banyak contoh mahluk-mahluk-Nya yang dianugerahi barokah. Diantaranya: tempat (negeri, kota, kampung), manusia (keluarga, perorangan), waktu, benda (pohon, rizki, air, dll).

Barokah kepada Tempat

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah komi anugerahkan barokah pada negeri/tempat sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari landa-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isro' ayat 1)

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ

Sesunguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang dianugernhi barokah, dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imron ayat 96).

Barokah kepada Manusia

وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً

Dan Dia menjadikan aku (Nabi Isa as) seorang yang dianugerahi barokah dimana saja aku berada: dan dia memerintahkan kepadaku untuk (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. (QS. Maryam ayat 31)

Anugerah barokah yang diterima Nabi Isa as, menyebabkan sebuah keistimewaan, bahwa kemanapun ia pergj, maka tempat yang ia singgahi dan siapa pun yang bertemu dengannya mendapatkan manfaat barokah darinya, seperti orang yang sakit jadi sembuh, yang susah jadi mudah urusannya dan seterusnya.

Barokah kepada Keluarga

Dalam surat Al-Mu'minun ayat 29, Allah SWT mengajarkan doa, bagaimana memohon agar barokah dianugerahkan kepada keluarga / rumah tangga:

وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلاً مُّبَارَكاً وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ

Dan berdo'alah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada rumah yang dianugerahi barokah, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.

Barokah kepada Waktu

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qu'an) pada suahl malam yang dianugerahi barokah dan sesunggguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (QS. Ad-Dukhon ayat 3).

Barokah kepada Pohon

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, kaca itu seakan bintang (bercahaya) seperti mutiara, dinyalakan dengan minyak dari pohon yang dianugerahi barokah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia  kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nur ayat 35).

Barokah kepada Air

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit, air yang telah dianugerahi barokah. Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon dan biji­bijian. (QS. Qof ayat 9)

Barokah kepada Rizki

Rasul SAW mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdoa, memohon kepada Allah SWT agar diberi rizki yang barokah.

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَناَ فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, anugerahkanlah barokah kepada rizki kami, dan jagalah diri kami dari api neraka.

Barokah dalam Kehidupan

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk desa / negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami anugerahkan kepada (kehidupan) mereka barokah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS AI-A'rof ayat 96)

Allah SWT dan Al-Qur'an adalah merupakan sumber barokah. Bila nilai-nilai Al-Qur' an diamalkan dalam kehidupan, maka secara otomatis kehidupan di negeri, kota, desa, kelompok dan perorangan yang menerapkan nilai-nilai tersebut menjadi objek sasaran barokah.

Bila barokah dianugerahkan kepada kehidupan di negeri, kota, desa dan seterusnya, maka segala sesuatu yang diupayakan bakal mencapai hasil yang luar biasa diluar dugaan akal manusia, sesuai dengan karakter barokah itu sendiri yang melebihi perhitungan akal manusia.

KH Thonthowi Djauhari Musaddad
Pengasuh Pesantren Luhur Al Wasilah
Rais Syuriah PCNU Garut, Jawa Barat

« Kembali ke arsip Ubudiyyah | Print| Share


Komentar:


Nurisk menulis:
Di Jawa Tengah ada istilah "ngalap berkah" dari kyai. Para santri berebut bekas minumannya kyai dengan harapan dia dapat berkah dari kyai. Jadi apa yang disebut berkah? Berkah dari kyai atau berkah dari Allah? Padahal jangan-jangan kyainya punya penyakit TBC, alih-alih dapat berkah, yang didapat malah penyakit...
M Irfan Rianto menulis:
Nurisk nyang ane hormati,,

nyang namenye berkah itu ya dari gusti Alloh, kalo dari kyai mah namanya berkat,,

Ibarat ente cari duit dengan jalan ente berdagang, lalu karena ente kerja keras dan jujur dalam berdagang gusti Alloh ngasih keberkahan rejeki kpd ente dengan banyaknya pembeli.

Sekarang ane tanya nyang kasih rejeki ente, pembelinya ato gusti Alloh..?
(jawab ndiri ya, ente kan lebih pinter)

Jadi Kiyai itu hanyalah salah satu perantara gusti Alloh dalam menebarkan keberkahan. Palagi kyai-nya gurunya ndiri.

Masalah kyai-nya TBC mah urusah gusti Alloh, sebab gusti Alloh itu bagaimana prasangka hambanya, kalo prasangka santri gelas bekas kyai-nya mengadung keberkahan walopun kyainya TBC, ya Insya Alloh, nyang didapet dari santrinya ya keberkahan bukan penyakit TBC.

Mangnya ente nyang minum, jangankan bekas gelas kyai yang TBC, bekas gelas kyai nyang sehat aja ente Struk kalie, karena ente udah kurang ajar sama warosatul ambiya.

Makenye ngaji jangan digedung bertingkat, baru bisa baca iqro ja dah sombong.

Salam Kenal
Salam Silaturahmi
Jajang Asfarin menulis:
Berbicara berkah kita tidak bisa lepas dari tradisi pedesaan jawa timur,setiap ada kematian mulai hari 1 s/d 7,40,100 dan 1000 harinya selalu ada yang namanya tahlilan yang melibatkan sanak family tetangga dengan jumlah sesuai kemampuan sohibul hajat,habis tahlilan biasanya para pentahlil pulang dengan membawa berkat itu sebagai rasa terima kasih sohibul hajat atas kehadiran dan keihlasan para pentahlil, dan sohibul hajat mengharap agar doa yang di yang disampaikan oleh pentahlil itu dikabulkan oleh Alloh SWT. jadi sebenarnya berkah emang datang dari Alloh tapi aspek yang menyebabkan turunnya berkah itu ada seperti misal diatas (keihlasan pentahlil,kalo di pesantren keridloan ust atau kiyai karena kita sudah menyerap atau menempa ilmu pada beliau jadi sepantasnya kalo kita juga menghormati atau memulyakannya. dll) jd jangan diartikan yang memberi berkah itu pentahlil atau kiyai,itu hanya perantara karena kita berhubungan dengan mereka itu yang dinamakan tata krama atau adab. tp kalo kita ibadah sendiri yang tidak ada hubungan dengan orang lain ya monggo langsung mawon. jadi itu hanya masalah menset setiap orang dalam cara mendapatkan berkah.


Jajang Asafarin(santri Al Ma'ruf Lamongan)
Alumni T.Sipil ITS Surabaya (08881312027)



anggit menulis:
Mas irfan,..... anda sangat cerdas sekali ya,....
saya salut dengan anda. di pesantren sudah lama ya,....mungkin seumur hidup kali ya. ilmunya kok tinggi kali. saya sich baru bisa baca bahasa arab sedikit sedikit. tapi saya akan berusaha komit kok dengan Alquran dan hadist. kapan ya saya bisa minum dari bekasnya anda. biar ketularan pinter kali ya,....... setahu saya dalam Alquran dan hadist itu nggak ada ya yang namanya "Gusti Allah". salam kenal
ilay menulis:
heee2 git, cari gusti Allah jgn di Quran!!!
Yaaa....tanya aja anak TK di jawa timur pasti tahu! gitu aja repot
Wawan Hidayat menulis:
Pak Kyai kalo boleh saya mau minta alamat email Pak Kyai...Syukron

Wawan
(wahid_ag@telkom.net)
M Irfan Rianto menulis:

Saudaraku anggit..

Terus terang sy tdk pernah belajar agama dipesantren, apalagi seumur hidup nyang anggit kira..

Jadi kalau ada kesalahan pemahaman atau pemikiran mohon dimaafkan apalagi sampai menyakiti sesama makhluk gusti Alloh SWT, mohon dimaafkan segala kesalahan sy..

Namun itu hanya bentuk kekecewaan saya kpd sdr-sdrku nyang tdk sefaham namun berani mengejek bahkan melecehkan keyakinan orang lain dg dalil Al Qur'an dan Al Hadist.

Padahal itu hanyalah pemahaman dari akal manusia yang "mengaku" didasarkan kpd Al Qur'an dan Al Hadist.

Kalau kita telusuri di dalam Al Qur'an dan Al Hadist, apakah ada larangan meminum minuman bekas kyai atau guru..?

Bahkan salah satu sahabat rosululloh SAW pernah meminum darah bekas berbekam Rosululloh SAW dengan harapan mendapatkan keberkahan dari gusti Alloh dengan perantara kekasihnya gusti Alloh tersebut.

Sebagaimana juga Sayidina Ali mencium lutut Sayidina Abbas karena sangat hormat2nya kepada sayidina Abbas dgn harapan mendapatkan keridhoan dan keberkahan dari Gusti Alloh dengan perantara sahabat Rosululloh SAW.

Ingat saudara ku anggit, Al Qur'an dan Al Hadist itu tidak hanya tersurat namun juga tersirat.

"Hanya gusti Alloh yang maha tahu".

Sy menulis ini bukan karena marah atau merasa diejek oleh anggit atau siapa pun, namun untuk mengingatkan sesama muslim, bahwa saat ini musuh kita bukanlah perbedaan mazhab ataupun perbedaan pemikiran, namun musuh kita saat ini adl orang diluar Islam bahkan orang Islam sendiri nyang ingin menghancurkan islam dengan politik pecah belah.

Bagaimana bisa bersatu sedangkan gara2 gelas bekas minum kyai saja sdh ribut.

Wallohu'a'lam bi showab..

Muhammad Irfan Rianto Amd Kom, SE. Ak
rianto_irvan@yahoo.com
08567 1123 60
Tri menulis:
Jangan gitu dong mas anggit,........
jenengan itu kepripun tho,...... saya mungkin paham maksud jenengan dan mas mas yang lain agar kita selalu berhati hati dalam beribadah. saya sekarng juga ikut prihatin kok,.... kemarin di musholla saya denger sebelum sholat mahgrib ada yang nyanyi nyanyi lagunya itu pake lagu jablai kalo nggak salah itu ya seperti pak jepry yg di tv itu. saya sedih karena saya tidak bisa berbuat apa apa,..... tapi yang lebih sedih lagi Imam mushola itu kok diem aja ya,..... itu kepiye mas,..... jangan jangan nanti 100 tahun ke depan sebelum sholat pake acara karaoke dulu ya,......
zenabdurracman menulis:
eiiit!!! ne kok jadinya pada mbahasa gusti alloh ya?
masa hari gini masih ribut masalah gituan?!yang di bahas kan barokah?alloh biarlah tetap dalam 'keadaan-Nya'..ngapain diributkan?
apa tidak sebaiknya kita mencoba sebisa mungkin mengambil 'ziyadah al-khoir' dari fenomena2 yang terjadi di masyarakat mengenai persepsi tentang barokah. so, dengan begitu kita bisa dapet barokah dengan menjadikan apa yang ada di sekitar kita sebagai pemicu semangat menuju 'khoirot' yang lain.
Muhammad Kurtubi menulis:
Mas kalau seandainya layak tayang artikel saya di blogini monggo untuk didiskusikan di sini... :)

Siti Jenang menulis:
ikut ngalap berkah pakde... mari...
wahid, se,akt menulis:
mas irfan, kalo masalah minum kita ya kembalinya ke sunatullah yaitu bidang medis, kalo emang kyainya tbc ya insya Allah yang minum dari bekasnya ya kena tbc juga, huznudlon boleh tapi logika ya tetap nomor satu, banyak cara untuk menghormati guru/kyai kita tanpa harus minum bekas minumannya
aifull menulis:
Alhamdulillah,,,bener2 khilaful 'ulama rohmatun yo kang? bener ngene iki kang sehingga pemahaman tentang agama ini bisa lebih gamblang dan jelas bagi golongan mu'taridhin(penentang),,,matur nuwun kabeh,,,atas forum ini,,, semoga ALLOh SWT selalu berkahi kita smua,,,amiiin,,
Muntaha Ihsan menulis:
Sebagai mana yang telah di sampaikan oleh KH Thonthowi Djauhari Allah telah memberi berkah pada makhlukNya (malam2 tertentu, Tempat2 tertentu dsb) serta pada yang dikehendakiNya seperti Kalamullah Al Qur'an. Kita pasti tidak ragu dengan kabar dari Al Quran.

Berkah tersebut tentu pada akhirnya ditujukan untuk manusia supaya memperoleh keberkahan dalam hidupnya .
Masalahnya, pembahasan tidak berhenti pada Allah memberkahi malam-malam tertentu, al qur'an, tempat-tempat tertentu, dsb. Akan tetapi permasalahan lebih pada bagaimana cara memperoleh berkah atau dalam pesantren di sebut tabarukan/ngalap berkah, karena di Indonesia sebagian masyarakat tidak tahu cara tabarukan yang sesuai syariah. Atau sudah tahu tapi tidak puas dengan cara tabarukan yang diajarkan Rosulullah sollallohu alaihi wasallam, sehingga mencari atau membuat tabarukan diluar yang diajarkan islam,Hal itu disebabkan karena warisan tradisi nenek moyang yang dipengaruhi oleh ajaran animisme dan dinamisme yang hingga kini masih membekas di masyarakat. misalnya mengkeramatkan hari, malam, atau tanggal tertentu dengan melakukan ritual tertentu.

Di salah satu kota di Jjawa Tengah setiap 10 syuro di adakan upacara di makam yang dianggap makam waliyullah di mana di situ dibagi-bagikan kan nasi bungkus pada pengunjung. Para pengunjungt berebut nasi tersebut dan percaya nasi tersebut bisa memberi berkah. Tentu saja upacara dan keyakinan semacam itu tidak memiliki dasar yang benar dalam islam. islam mengajarkan untuk memperoleh keberkahan hari asyuro adalah dengan berpuasa asyuro, bersedekah, dll. dengan berebut nasi bungkus tersebut bagaimana akan menjalankan puasa?

Sebenarnya banyak sekali tuntunan yang sesuai syariah untuk bisa memperoleh keberkahan. Antara lain, untuk memperoleh keberkahan umur dengan bersilatur rohim. Keberkahan dan kelapangan rizki dengan banyak sedekah, sholat dhuha, menyambung silaturrohim, dan istighfar. Untuk melapangkan hati dan memperlancar urusan dengan membaca Al quran, istighfar, berzikir, dan menghadiri majlis ilmu. Untuk keberkahan ilmu dengan belajar dan menjahui maksiat, dsb.

Dengan ketidaktahuan itulah, orang lebih getol mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya dari pada mengamalkan yang sudah ada dalilnya, Untuk memperlancar rizki orang lebih yakin dengan membayar mahar jimat yang mahal dari pada bersedekah. Orang lebih suka bergadang semalam merapal wirid (shg jama'ah subuhnya ketinggalan) dari pada jama'ah subuh. Orang lebih mantap mengunjungi makam tertentu dari pada menziarahi/silaturohim ke orang tua (padahal rodho Allah tergantung ridho orang tua). Orang lebih mantap menyimpan barang2 dari kyainya dari pada melaksanakan ilmu yang diajarkan kyainya.

Permasalahan akan rumit ketika suatu cara tabarukan yang bukan dari ajaran islam telah dianggap ajaran islam, Atau yang bukan dari islam dicampur adukkan dengan islam. maka disinilah peran ulama untuk menjelaskan kebenarannya sesuai dengan al quran, hadits, ijma' ulama, dan qiyas.
Dody menulis:
Saya nggak ingin bertanya atau berdebat kepada semua hadirin yang ada di sini baik yang pro atau kontra...
saya cuma ingin langsung bertanya kepada bapak kyai, mohon maaf pak kyai sekedar menyambung lidah, sebagian kalangan Islam yang lain seperti muhammadiyah atau wahabi/salafi mengatakan bahwa masalah berkah pada sesuatu waktu, tempat tertentu, atau pada diri seseorang tertentu harus berdasar dalil yang shohih baik Qur'an dan Hadits, seperti keberkahan masjidil haram, hajar aswadz, air zam-zam yang memang jelas ada dalilnya, di luar daripada itu seperti maaf air berkat dari kyai dsb harus ada dalil khusus yang shohih....demikian kurang lebih pendapat mereka maaf apabila salah mengutip...
bagaimana pak kyai mohon tanggapan..mungkin hal ini khilafiyah ulama, tapi ada baiknya kita perjelas masalah ini...
itu aja sementara kalo ada pertanyaan lagi nanti akan saya sambung...
oya pak kyai kalo boleh saya ingin minta alamat email pak kyai biar saya bisa rutin menuntut ilmu kepada bapak...terima kasih..
Wassalam...
isa menulis:
nurisk tu pernah ngaji ga seh???
Gin Gin Ginawan menulis:
Untuk Nurisk,
Di Jawa Tengah istilah "ngalap berkah" dari kyai adalah sebuah doa di mana ada harapan bahwa dia berharap Allah memberikan ilmu yang telah diberikan kepada sang kiyai untuknya. Bukan berarti berkah dari kiyai. Kiyai hanya manusia biasa. Untuk penyakit TBC, saya kira anda harus melakukan penelitian terlebih dahulu. Tidak bisa langsung memvonis seperti itu. Janganlah kita emosi hanya perbedaan pendapat marilah kita saling menghargai sesama muslim. Semoga berkah Allah untukmu.
Gin Gin Ginawan menulis:
Untuk Saudara Anggit,
Istilah "Gusti " adalah istilah bahasa. Istilah itu berasal dari bahasa Jawa dan Sunda yang kalau dalam bahasa Indonesia artinya Tuhan. Di Sunda ada juga istilah "Pangeran" yang artinya bisa Tuhan Juga. Dalam bahasa Inggris itu "God". Allah nama Tuhan itu sendiri. Wassalam dari saudaramu yang mencintai karena Allah. Marilah kita da'wah dengan bijak.
ginginginawan@yahoo.co.id
Gin Gin Ginawan menulis:
Untuk Saudara Muntaha Ihsan,
Mengkeramatkan hari, malam, atau tanggal tertentu dengan melakukan ritual tertentu bukan berarti menganggap hari itu sebagai hari yang sangat istimewa, tapi di situ berdoa dan berharap agar doanya dan harapannya terkabul karena pada momen tersebut banyak berkumpul orang-orang, di mana akan tercipta rasa kebersamaan untuk mencari ridlo Allah.
Upacara di makam yang dianggap makam waliyullah di mana di situ dibagi-bagikan kan nasi bungkus pada pengunjung itu ada berkahnya rasa kebersamaan dan persaudaraan muslim, yaitu berkah saling mencintai karena ridlo Allah. Tentu saja upacara dan keyakinan semacam itu memiliki dasar yang benar dalam islam, yaitu memupuk tali persaudaraan. Watawa Shau Bil Haq Watawa Shou Bil Shobr. Orang lebih suka bergadang semalam merapal wirid itu adalah berdzikir, justru itu dianjurkan dalam Islam. Orang lebih mantap mengunjungi makam tertentu karena untuk zuhud terhadap dunia dan ingat akhirat. Orang lebih mantap menyimpan barang2 dari kyainya karena untuk mengingat jasa-jasa sang kiyai agar terbetik dalam hati minimal untuk ingin menjadi seperti kiyai baik dalam ilmu dan amal. Jadi istilahnya sebagai suport Biasanya tabarukan itu berisi ceramah agama, dzikrullah, dan silaturahmi bukan yang di luar Islam. Mari kita Husnudzon sesama muslim dan da'wah yang bijak.
ginginginawan@yahoo.co.id

Aulia A. Lesmana menulis:
wat anda2 yang lg pd berdebat janganlah saling menjatuhkan satu sama lain, kalau ada yg berbicara barokah itu ada atau tidak? itu terserah yang punya mulut.. g ad yg menyalahkan!! begitu juga kalau ada yamg meyakini barokah itu ad ya Alhamdulillah tp saya pribadi beri'tiqad bahwa barokah itu memang ada...

[1 of 2]   1, 2 >|

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) (02/02/2010)
» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1) (26/01/2010)
Arsip
» Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010)
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
Arsip
» Dari Peran Kebangsaan Menuju Peran Kesejagatan (25/01/2010)
» Fenomena Gus Dur (13/01/2010)
Arsip
» Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010)
» Pujian Muktamirin untuk H Zainul Arifin (25/11/2009)
Arsip
» Islah PKB Pasca Gus Dur (02/02/2010)
» Membaca Konflik al-Qaeda dan (Pemerintah) Yaman (26/01/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku