Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Kemampuan apa yang paling penting dimiliki oleh jajaran kepengurusan tanfidziyah NU

Manajerial
Berdakwah atau orasi di lapangan
Keilmuan agama
Lobby-lobby politik
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Warta

CATATAN AKHIR TAHUN GUS DUR
Khawatirkan Kebijakan Nasional Disetir Barat
Senin, 31 Desember 2007 08:09

Jakarta, NU Online
Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid yang akrab dikenal dengan nama Gus Dur, di Jakarta, Minggu, benar-benar mengkhawatirkan berbagai kebijakan nasional terjebak pada arah keliru karena terjebak disetir pihak barat.

"Yang miskin makin melarat, yang kaya makin kaya. Kebijakan (pemerintahan) selama ini disetir oleh ’super power’ AS," ujarnya lagi.

Semua ini, menurutnya, terjadi karena pemerintah seperti kehilangan orientasi pembangunan.

Dalam catatan akhir tahunnya, Gus Dur dengan jelas mengungkapkan rasa kekecewaan mendalam terhadap berbagai kondisi bangsa yang semakin tidak jelas belakangan ini, terutama menyangkut sikap pemerintah menghadapi beragam problem serius, sehingga terkesan cenderung tunduk pada order asing.

Ia juga amat khawatir dengan kemiskinan akan semakin merajalela di negeri ini. Semua ini, menurutnya, terjadi karena pemerintah seperti kehilangan orientasi pembangunan.

Orasi catatan akhir tahun Gus Dur ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, seperti Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Soetrisno Bachir, Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, Sutrisno Bachir, Ketua Komisi Yudisial (KY), Busyro M Moqodas, aktor dan politisi Dede Yusuf serta juga Wimar Witoelar.

Selain soal penyetiran oleh pihak Barat, utamanya dari AS, problem kemiskinan yang terus menganga, dan kehilangan orientasi pembangunan, Gus Dur juga mengatakan perlu ditentangnya kekerasan yang mengatasnamakan agama. "Ada yang hilang dalam diri bangsa Indonesia," katanya.

Dalam bagian awal, Gus Dur menyatakan, ada dua hal penting dicatatnya di tahun 2007 ini. Yakni, pertama, kita kehilangan orientasi pembangunan nasional. Dan yang kedua, kata Gus Dur, berlangsungnya kekerasan yang mengatasnamakan agama. (ant/mad)

« Kembali ke arsip Warta | Print| Share


Komentar:

Belum ada komentar.

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) (02/02/2010)
» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1) (26/01/2010)
Arsip
» Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010)
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
Arsip
» Dari Peran Kebangsaan Menuju Peran Kesejagatan (25/01/2010)
» Fenomena Gus Dur (13/01/2010)
Arsip
» Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010)
» Pujian Muktamirin untuk H Zainul Arifin (25/11/2009)
Arsip
» Islah PKB Pasca Gus Dur (02/02/2010)
» Membaca Konflik al-Qaeda dan (Pemerintah) Yaman (26/01/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku