Simak berbagai info NU Online melalui twitter dan facebook. Follow @nu_online dan like www.facebook.com/situsresminu :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Bela Negara Kaum Sufi

Bela Negara Kaum Sufi

Para kiai dan santri, yang menjadi simpul gerakan sufi, menggerakkan perlawanan terhadap rezim kolonial. Prinsip 'hubbul wathan minal Iman' (cinta tanah air merupakan bagian Iman) yang digelorakan Kiai Abdul Wahab Chasbullah, menjadi bagian utama untuk menguatkan ruhul jihad (semangat perjuangan) warga muslim negeri ini.
Bela Negara Kaum Sufi
Jumat, 29/07/2016 20:00Opini

Bela Negara Kaum Sufi

Para kiai dan santri, yang menjadi simpul gerakan sufi, menggerakkan perlawanan terhadap rezim kolonial. Prinsip 'hubbul wathan minal Iman' (cinta tanah air merupakan bagian Iman) yang digelorakan Kiai Abdul Wahab Chasbullah, menjadi bagian utama untuk menguatkan ruhul jihad (semangat perjuangan) warga muslim negeri ini.
Tak Ada Pembenaran bagi Perang Ofensif dalam Islam
Jumat, 29/07/2016 19:02Nasional

Tak Ada Pembenaran bagi Perang Ofensif dalam Islam

Merujuk kepada pandangan sejumlah ulama klasik, perang tak bisa dilakukan begitu saja hanya karena sasaran adalah nom-Muslim. Ia menegaskan, kebebasan beragama dijunjung tinggi oleh Islam. Bahkan perang di zaman Nabi pun di antara pemicunya lantaran jaminan kebebasan tersebut sedang dalam keadaan diserang.
Kala Sayyidina Ali Berdagang dengan Allah
Jumat, 29/07/2016 16:00Hikmah

Kala Sayyidina Ali Berdagang dengan Allah

Lalu Ali bin Abi Thalib datang sowan kepada Rasulullah. Ia menceritakan seluruh kronologi kejadian. Dan Baginda Nabi memberikan penjelasan, "Hai Ali, penjual itu adalah Jibril, pembelinya adalah Mikail. Unta tersebut adalah kendaraan Fatimah kelak saat hari kiamat."
Terkini
Ini Bedanya Jihad Sekarang dengan Masa Rasulullah SAW

Ini Bedanya Jihad Sekarang dengan Masa Rasulullah SAW

Sayangnya, kata Ahmed, para penafsir melakukan hal yang mereka anggap sebagai aksi jihad melihat ayat ini hanya secara sepotong-sepotong. Padahal dalam menafsirkan suatu ayat seseorang harus paham tata aturan bahasa Arab dan aturan penafsiran lainnya. Itu tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang