Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Bagaimana pendapat anda tentang ulama tidak perlu mensholati koruptor sebagai hukuman moral, termasuk kepada keluarganya

Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Taushiyah

Sikap PBNU atas Insiden Monas
07/06/2008

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sehubungan terjadinya insiden di Monas, Jakarta, yang kemudian berbuntut pada tuntutan pembubaran Front Pembela Islam (FPI) pimpinan Habib Rizieq, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dengan ini menginstruksikan kepada seluruh jajaran kepenguruan NU di seluruh Indonesia untuk:

1. Menahan diri dan tidak melibatkan diri dalam konflik antara massa FPI dan kelompok Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang terjadi hari Minggu, 1 Juni 2008, karena hal itu tidak ada kaitannya dengan NU sebagai organisasi.

2. Waspada dan tidak terprovokasi oleh mereka yang sengaja mengumpankan warga NU bentrok dengan massa FPI, khususnya, dan warga masyarakat lain pada umumnya. Penyelesaian terhadap kekerasan yang dilakukan oleh anggota FPI kita serahkan kepada pihak yang berwajib sesuai dengan ketentuan hukumyang berlaku.

3. Mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon pertolongan-Nya agar rakyatdan bangsa Indonesia diselamatkan dari bahaya perpecahan dan diberikan kemampuan untuk menyelesaikan persoalan bangsa dan negaranya tanpa campur-tangan pihak lain.

4. Berkaitan dengan adanya anggota masyarakat warga NU yang mempunyai sudut pandang berbeda tentang Ahmadiyah, PBNU menegaskan bahwa ulama NU sudah menetapkan bahwa Ahmadiyah adalah menyimpang dari ajaran Islam. Masalah Ahmadiyah bukan soal kebebasan beragama dan berkeyakinan, tapi soal penodaan ajaran Islam. Kepada pemerintah, diharapkan untuk segera mengambil langkah-langkah hukum untuk mencegah timbulnya tindakan masyarakat yang anarkis.

Demikian instruksi PBNU untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya

Wallahhul muwafiq ila aqwamit thariq
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Jakarta,     29 Jumadil Awal 1429 H
                 4 Juni 2008 M

Rais Syuriyah: Prof Dr KH Chotibul Umam               
Ketua: Drs H Ahmad Bagdja       
Sekretaris Jenderal: Dr H Endang Turmudi, MA

« Kembali ke arsip Taushiyah | Print| Share


Komentar:


zibrax menulis:
gus dur dan statemenmya slalu memicu bentrokan antar umat islam diindonesia oleh karena itu gw sedih serta prihatin atas statemen yg gus dur lontarkan....
smoga gus dur dibukakan mata hatinya mn yg harus dibela dan mn yg harus diperangi
Azka menulis:
Alhamdulillah, sikap seperti itulah yang harus kita dukung. Agar massa NU jangan terjebak permainan musuh2 islam dan kaum munafik. Semoga umat islam bisa mengambil hikmah dari insiden monas ini.
fatchan menulis:
BRAVO gus dur
Aan menulis:
kecewa berat dengan PBNU, mereka tidak bisa memahami dan meneladani apa yang sudah diperjuangkan oleh pendahulu mereka soal dasar bernegara. PBNU sepertinya sudah kehilangan akal sehatnya dalam menyikapi persoalan ini, ini membuktikan bahwa virus islam trans sudah sedemikian akut menjangkiti PBNU. Hasyim Muzadi sudah tidak pantas lagi mimpin NU. Hanya karena berseberangan dengan GD soal PKB, HM memindah konflik itu pada medan yang maha penting. Jadi nyesel punya pimpinan NU seperti ini. Masak kalah sama DS di muhammadiyah. Jika ada yang menggalang dukungan untuk memosi tidak percaya PBNU, saya daftar.
M. Ali Maksum, menulis:
Menyitir apa yang disampaikan gus mus dalam salah satu ungkapan beliau tentang NU "NU TIDAK BERBAJU PUN AKAN TETAP SAYA BELA", NU Jiwaku, NU Ragaku, NU Harapanku. sampai kapanpun kami akan membela NU

Abdurahman bila wahid menulis:
Ass. Sikap PBNU saat ini adalah sikap yang paling moderat dan paling mewarisi semangat ukhuwah dan perjuangan NU. kita jangan sempit hati menjadi orang NU, termasuk menyebarluaskan mengenai 'virus islam trans'. jika tidak islam trans, tidak mungkin kita mengikuti Nabi Muhammad SAW melalui Imam Syafi'i yang jelas-jelas berasal dari negara luar. Hati... buat saudara kami Aan dalam berkomentar... mari kita ikuti pimpinan kita yang mengajak pada rahmatan lil alamin bukan pada kultus individu yang membuat kita orang-orang merdeka dan cerdas menjadi BUTA MATA & BUTA HATI...
Buat KH. Hasyim Muzadi dan pimpinan kita yang lain... Mari menggapai ridho Allah dan selamatkan NU dari menyakiti Saudara sendiri.
NU awam menulis:
Adakah sikap PBNU tentang sepak terjang Gus Dur?

Yang ada kok cuma sikap tentang Insiden Monas dan Ahmadiyah doang?
isman menulis:
Nggak tau deh sapa yg mau mbaca keluh kesahku.

NU yg skg ini udah berbeda jauh dgn NU era dulu. Coba aja baca sejarahnya dari era wali songo KH Hasyim Ashari. NU era itu memang punya budaya yang agung, tetapi aqidah tetap dipertahankan? bahkan seperti umat Islam lainya, NU pernah mengalami proses marjinalisasi oleh berbagai pihak. seolah2 umat Islam memang ditakdirkan tdk akan pernah berlama2 hidup makmur berjaya disertai dgn budaya luhur.

Tetapi lihatlah skg kelompok2 yg disebut dgn NU MODERN itu menyusup melakukan liberalisasi NU dgn cara menggunakan sosok Gus Dur yang populer. Tidak kurang tidak lebih ini merupakan kemunduran massal terhadap intelektualitas warga Nadhliyin sen

Org NU harus sangat waspada liberalisasi NU pada tahap sekarang ini sudah mencapai titik paling rawan yg sewaktu2 akan menjadi bom waktu yg meledak sangat kuat.

PESAN PENTING untuk semua Ulama NU, bentuk bentuk Liberalisme NU dari NU MODERN merupakan suatu PENGHIANATAN thdp "TEKS TEKS KITAB KUNING".!
Muhammad Ridhollah menulis:
Sy sangat setuju dengan KH. Hasyim Muzadi yang menyatakan 4 butir pernyataanya untuk warga NU, karena kita sbg warga NU ya sepatutnya tunduk terhadap Ketua PBNU, karena pernyataanya tidak lain adalah kesepakatan para alim ulama yang mewakili seluruh warga NU. kalaupun Gusdur membela Ahmadiyah, itu dari pemikiran pribadi beliau, bukan atas nama NU, karena beliau bukan lagi Ketua PBNU.. Jadi Warga NU jgn terpancing oleh Statment GusDur, karena apa yang di yakini Gusdur justru seringkali bertentangan dengan para Kyai dan Alim Ulama.
gus gun menulis:
Setuju dengan PBNU... NU jangan mau diadu domba oleh Ahmadiyah dan kelompok pendukungnya. Kalau umat Islam sudah terpecah-belah maka kelompok mereka dan kaum kuffar yg dapat keuntungan. Waspadalah... waspadalah...!!!
hafiz menulis:
Rapatkan barisan dan jalin ukhuwah jgn terpecah belah, jgn menganggap gusdur atau yg lain sbg uswah ttp jadikan Rasulullah SAW sbg uswah dan pimpinan dunia akherat waspada thd yahudi dan nashrani yg memanfaatkan org islam/intelektual yg sdh dicuci otaknya sbg pengadu domba yg tergabung dlm JIL alias jaringan iblis laknatullah alaih
brahmanawisnu menulis:
Assalaamu'alaikum wr.wb

Kepada Seluruh Warga NU kami menghimbau utk tidak mengikuti langkah2 Gus Dur yg sudah kelewat batas apalagi sekarang dekat Zionis Laknatullah ingat Al-Baqoroh ayat 120..kalau menurut saya Gus Dur itu dikeluarkan saja dari keanggotaan NU sebab sepak terjangnya sangat melukai umat Islam...lihatlah umat Islam yg saat ini sedang ditimpa tekanan ekonomi yg berat gara2 naiknya BBM..dimana SBY sudah tdk bisa diharapkan lagi kepemimpinannya yg selalu mengekor Tuannya, Amerika Serikat dan sekutunya...

NU maniac menulis:
yah...kalian tuh sama dengan pasukan berani matinya gus dur....sama-sama ndak punya otak (buktinya situ hanya menjalankan pikiran abdurrahman wahid so..artinya nggak bisa berpikir sendiri, nggak punya otak kan ?) hahaha.........
Tapi kalau gus dur bilang nggak boleh liat situs porno, que yakin kalihan nggak akan mematuhinya hehehe............
lokojoyo menulis:
tp emang sulit untuk menyadarkan seluruh warga NU, untuk bisa melihat secara jernih, mana yang harus d ikuti, soal keputusan PBNU atau pendapat gusdur
iman menulis:
masing" punya pemikiran sendiri" kita hargai semuanya.
kang slamet blitar menulis:
buat kang aan, tidak semua orang nu seperti yang kang aan katakan, kita harus menghormati pimpinan kita, kalau kang aan bener warga nahdhiyin. bahwa kebijakan pimpinan nu pasti sudah dipikir secara matang. toh semua itu pasti ada pertanggung jawabannya. oke kang. sukron.
wisdin menulis:
SUBHANALLAH.
Seperti dlm etika Sholat berjama'ah.
Panjenengan yg di depan adalah Imam sedangkan saya makmum. Karena saya lekaki maka cara mengingatkan manakala IMAM lupa/salah saya cukup megucab dg keras "SUBHANALLAH". Ibu saya cukup dg menepuk saja. Tunutunan sdh jelas. Sikap Imam sudah benar. Tetapi begitu saya sampai di rumah mendengar statemen ulama panutan saya di TV tentang sempalan sesat dari Pakistan yg kesohor hsl kontemplasi Gulam Ahmad ini, saya hanya bisa mengucap "ASTAGFIRULLAHAL AZHIM" Pertanyaan saya. Apakah benar analogi dan gaya berfikir saya ini ?

Dhani menulis:
Alhamdulillah,
Saya lebih senang pendapat dari NU, telah dewasa mengahadapi persoalan umat. Mari kita tegakkan Islam yang hakiki, kembalikan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Jauhkan dari penyakit SEPILIS.
Kita boleh beda jubah (organisasi), tetapi kita satu Akidah, ahlusunnah wal jama'ah.
Selamat buat NU, saya sangat menghargai pendapat pimpinan kalian daripada pimpinan di organisasi kami Muhammadiyah
senja menulis:
Saya kagum dengan pendiri NU, tetapi dengan NU yg sekarang saya kecewa,hanya masalah karena cucu pendiri NU, tidak ada satupun ulama di NU yg berani mengingatkan Gus Dur yg jelas2 merupakan antek yahudi dan kafir.Sebagai ulama merupakan kewajiban untuk mengingatkan agar kembali ke jalan yg di ridhoi oleh Allah SWT.Buktikan bahwa NU tidak mengenal pengkultusan, karena Nabi Muhamad SAW mengharamkan yang namanya peng-kultusan.
gus Lazim menulis:
NU harus tetap tawasuth (moderat) karena itlah salah satu prinsip NU,
jangan sampai terjebak kedalam Liberalisme ataupun dalam Fundalisme,
hati-hati dengan JIL (jaringan Islam Liberal) mupun Islam Radikal.
jadika NU sebagai jembantan dalam mengumandangkan Islam rahmatan Lil 'alamin

[1 of 4]   1, 2, 3, 4 >|

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (4-Habis)
Penjelasan Sahabat Umar Tentang Bid'ah yang Baik (31/08/2010)
» FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (3)
Lebih Utama Mana Shalat Tarawih Berjamaah Atau Sendiri? (24/08/2010)
Arsip
» Mengenal Asuransi Syariah (15/06/2010)
» Hukum Sadap Telepon (31/05/2010)
Arsip
» Komitmen Keaswajaan dan Kebangsaan (28/08/2010)
» Hilangnya para Penggede (29/07/2010)
Arsip
» REKOMENDASI
Lokakarya Nasional Pengembangan Rumah Sakit NU dalam Era Globalisasi (13/03/2010)
» Rekomendasi Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia (25/12/2009)
Arsip
» Arah Kiblat dari Indonesia (18/07/2010)
» Gerakan Peduli Roshdul Kiblat (27/05/2010)
Arsip
» Kepemimpinan Kiai Anwar Musaddad (23/07/2010)
» Kiai Machfudz Siddiq Sang Pemula (22/06/2010)
Arsip
» MEMBANGUN KEDAULATAN PANGAN
Rekonstruksi Kiblat Kebijakan Ekonomi Politik Nasional (31/08/2010)
» Pesantren dan Wajah Islam Indonesia (24/08/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku